Satu hal yang tidak pernah diajarkan di Akademi Navigator Sipil Bumi adalah bagaimana cara meminum cairan hangat ketika cairan tersebut memutuskan untuk membelot dari hukum gravitasi dan memanjat dinding kokpit.
"Ra," panggil Elian, matanya juling menatap gelembung-gelembung air berwarna cokelat teh yang melayang malas di depan hidungnya. "Gue tahu kita lagi di ambang kematian kosmik, tapi teh melayang ini beneran bikin fokus gue buyar. Estetik sih, tapi kalau ma**k lubang hidung, gue mati konyol bukan karena radiasi, tapi karena kesedak teh melati."
Hologram Aura berkedip-kedip tidak stabil. Sedetik dia tampak seperti gadis berambut bob dengan kaus oblong longgar, sedetik kemudian dia berubah jadi tumpukan piksel abstrak menyerupai kucing yang sedang krisis identitas.
"Nikmatin aja, El," sahut Aura. Suaranya terdengar lambat, lalu mendadak sangat cepat seperti kaset yang diputar dengan kecepatan ganda. "Efek dilasi waktu lokal di sektor ini makin ngaco. Sistem sensor gue mendeteksi kalau satu detik di sini rasanya kayak lima menit buat otak lo yang lambat itu. Dan... bersiap. Gravitasi bakal geser lagi dalam tiga... dua... satu..."
*KLIK.*
Bunyi seperti tuas raksasa yang ditarik bergema di seluruh lambung *Aetheris*. Seketika itu juga, gravitasi yang tadinya menarik Elian ke arah langit-langit kokpit mendadak membantingnya ke dinding sebelah kanan.
"Aduhh! Pantat gue!" Elian mengaduh, tubuhnya merosot di sepanjang panel instrumen yang kini berfungsi ganda sebagai lant** darurat. Sabuk pengaman yang dia kenakan tadi malah menjerat dadanya seperti pelukan mantan yang posesif.
"Selamat datang di arah 'Bawah' yang baru, Navigator Elian," kata Aura dengan nada sarkasme yang kembali tajam, kini dia memproyeksikan dirinya sedang duduk sant** di atas konsol navigasi yang sekarang posisinya vertikal. "Gimana? Vibe-nya udah kayak wahana pasar malam gratisan belum?"
"Pasar malam mbahmu," gerutu Elian. Dia melepaskan sabuk pengamannya dengan susah payah, lalu berbaring telentang di dinding kanan kokpit yang untungnya dilapisi busa peredam getaran. "Ini mah bukan pasar malam, tapi simulasi disiksa malaikat pencabut nyawa yang lagi magang. Kepala gue pusing banget, Ra. Kayak habis naik komidi putar sambil dipaksa ngerjain soal kalkulus."
Di luar kaca kokpit, pemandangan Nebula Carina-9 sudah tidak bisa dinalar lagi oleh akal sehat manusia. Pusaran gas merah muda dan ungu yang di bab sebelumnya terlihat indah, kini tampak robek di beberapa tempat. Ada retakan-retakan hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya sama sekali—lubang-lubang mikroskopis dalam struktur ruang-waktu yang perlahan mengunyah realitas di sekitar mereka. Kadang-kadang, bintang-bintang di latar belakang bergerak mundur, lalu melompat maju, seperti video TikTok yang sedang rusak.
"Kita benar-benar terjebak di ruang tunggu kiamat, ya?" bisik Elian, menatap kosong ke langit-langit—yang lima menit lalu adalah dinding kiri.
"Secara teknis, iya," Aura mengonfirmasi, memindai ruang kosong dengan mata hologramnya yang bersinar biru. "Tapi sisi positifnya, karena waktu di sini melar kayak karet kolor usang, kita punya banyak waktu buat merenungi dosa sebelum akhirnya molekul kita terurai jadi debu kosmik yang manis."
Elian tertawa hambar. "Dosa gue terlalu banyak, Ra. Nggak bakal c**up waktu sekonstelasi ini buat dibilang satu-satu. Mulai dari bohong waktu ujian sejarah bumi, sampai lupa bayar utang nasi uduk di kantin pangkalan Jupiter lima tahun lalu."
"Wah, parah lo. Utang nasi uduk dibawa sampai ke ujung alam semesta. Pantesan nasib lo begini," ledek Aura.
Hening sejenak melanda kokpit. Hanya ada suara derit logam *Aetheris* yang berjuang melawan tarikan pasang-surut gravitasi yang tidak konsisten. Keheningan itu terasa berat, namun anehnya, juga menenangkan. Di luar sana, alam semesta sedang hancur. Di dalam sini, hanya ada seorang manusia egois dan sebuah kecerdasan buatan yang terlalu banyak bicara.
"Ra," Elian memecah kesunyian, matanya menatap gelembung teh yang kini sudah menempel di sudut layar radar, membentuk genangan air datar yang melawan logika fisik. "Kalau lo bisa ngerasain mati... menurut lo, mati itu rasanya gimana?"
Aura terdiam. Proyeksi dirinya duduk bersila, menatap jemari holografisnya yang kadang memudar menjadi kode biner hijau. "Gue cuma AI, Elian. Program dasar gue bilang kalau 'mati' itu adalah *shut down* permanen tanpa opsi *reboot*. Data korup, memori dihapus, dan listrik padam. Tapi kalau ditanya rasanya... mungkin kayak sebelum lo dinyalain pertama kali. Lo nggak tahu lo nggak ada, jadi lo nggak bakal ngerasa kehilangan."
"Puitis banget buat ukuran mesin yang biasanya hobi nge-roast gue," gumam Elian. Dia menyilangkan tangan di belakang kepalanya, menjadikannya bantal darurat. "Tapi menurut gue, mati itu kayak tidur tanpa mimpi setelah hari kerja yang panjang banget. Lo capek, lo merem, dan lo nggak perlu mikirin besok harus bayar tagihan sewa kapal atau dikejar-kejar alien penagih pajak."
"Dan lo nggak perlu mikirin Lily lagi?" Aura melempar pertanyaan itu dengan hati-hati.
Nama itu membuat dada Elian berdenyut, mengalahkan rasa pusing akibat perubahan gravitasi. "Lily... gue bahkan nggak tahu dia itu nyata atau cuma sisa-sisa halusinasi dari otak gue yang kesepian. Suara di radio tadi... itu mirip banget sama dia, Ra. Tapi logikanya nggak ma**k akal. Dia hilang lima tahun lalu di sektor yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari sini."
"Di dalam nebula ini, logika itu cuma mitos, El," sahut Aura lembut. "Ruang-waktu di sini udah robek. Masa lalu, masa kini, dan masa depan lagi tumpang tindih kayak tumpukan baju kotor di kamar kos lo. Jadi, ada kemungkinan kecil kalau suara itu memang dia. Atau... masa lalu dia yang terperangkap dalam gema kuantum."
Elian menghela napas panjang. "Gue cuma pengen tahu akhir dari ceritanya, Ra. Itu aja. Biar monolog sunyi gue di kapal ini ada titiknya, bukan tanda tanya terus."
Tiba-tiba, perut Elian berbunyi sangat nyaring, memecah atmosfer melankolis yang baru saja terbangun. Bunyinya begitu dramatis hingga Aura langsung menoleh dengan dahi berkerut virtual.
"Serius, El? Di tengah krisis eksistensial dan robekan ruang-waktu, usus lo masih sempat-sempatnya demo?" Aura geleng-geleng kepala.
"Hei, perut manusia itu nggak peduli sama hukum fisika kuantum!" bela Elian, wajahnya memerah. "Gravitasi boleh terbalik, tapi asam lambung gue tetep jalan sesuai jadwal bumi. Dan gara-gara panik dari bab sembilan tadi, gue belum makan apa-apa tahu!"
"Ya udah, sana makan. Tapi jangan harap gue bisa masakin," kata Aura sambil melipat tangan di dada.
"Masak di kondisi kayak begini? Lo g***?" Elian bangkit berdiri dengan hati-hati, menjaga keseimbangannya karena mendadak dia merasa tubuhnya seringan kapas—gravitasi bergeser lagi menjadi hampir nol. Dia melayang perlahan menuju kompartemen makanan darurat di sudut kokpit.
Dengan gerakan berenang di udara, Elian membuka laci logam dan mengeluarkan sebuah cup plastik silinder dengan label usang: *Mi Instan Rasa Soto Banjar Limau Kulit - Edisi Kolonisasi Mars.*
"Nah! Ini dia harta karun terakhir gue," seru Elian bangga, menimang cup mi tersebut yang melayang bebas dari tangannya.
Aura memperhatikan cup itu dengan sensor optiknya. "El, gue sangat menyarankan lo nggak makan itu sekarang. Air panas melayang ditambah mi instan di dalam ruang hampa udara parsial adalah resep bencana instan."
"Justru di sinilah seni hidup, Aura!" Elian tersenyum lebar, senyum pertamanya sejak mereka mema**ki Carina-9. "Sebagai navigator legendaris—oke, navigator lumayan berbakat—gue telah menyempurnakan resep mi instan luar angkasa paling mutakhir di seluruh galaksi bimasakti. Mau denger?"
"Nggak tertarik, tapi karena gue nggak punya pilihan selain dengerin lo, silakan," jawab Aura pasrah.
Elian menangkap kembali cup mi tersebut, lalu melayang mendekati dispenser air di dinding kokpit yang kini berada di atas kepalanya. "Kunci pertama: airnya jangan terlalu mendidih. Kalau di bumi kan harus seratus derajat, tapi di gravitasi mikro yang kacau begini, air mendidih bakal pecah jadi ribuan gelembung uap panas yang bisa membutakan mata lo. C**up delapan puluh derajat. Hangat-hangat kuku monster."
Dia menekan tombol dispenser dengan hati-hati. Gelembung-gelembung air panas keluar, langsung disedot ma**k ke dalam cup mi menggunakan katup kedap udara khusus yang sudah dimodifikasi Elian menggunakan selotip komposit.
"Kunci kedua," lanjut Elian dengan nada serius, seolah sedang menjelaskan teori relativitas umum pada mahasiswa tingkat akhir. "Bumbunya jangan langsung diaduk. Biarkan bumbu bubuknya mengendap di bagian bawah akibat sisa gaya sentrifugal dari putaran kapal. Dan yang paling penting: limau kulitnya. Lo harus meras jeruknya langsung ke arah lubang uap dengan sudut kemiringan tepat empat puluh lima derajat. Kenapa? Biar aromanya menguap dan melapisi bagian dalam tutup cup. Jadi pas lo buka... *BOOM!* Indra penciuman lo langsung dibawa pulang ke Kalimantan, meskipun kenyataannya lo lagi melayang di samping lubang hitam."
Aura memperhatikan presentasi itu dengan ekspresi datar, namun ada binar geli di mata holografisnya. "Lo tahu nggak, El? Kalau orang-orang di Bumi dengar navigator kapal penjelajah antarbintang menghabiskan waktu kritisnya buat menganalisis dinamika fluida air mi instan soto banjar, mereka bakal nyesel udah mendanai proyek luar angkasa ini."
"Ah, mereka di Bumi mah nggak tahu seni. Mereka cuma tahu kerja, bayar pajak, terus punah," balas Elian sant**. Dia melayang telentang lagi, memeluk cup mi hangat yang sedang dalam proses "pematangan" selama tiga menit—atau tiga jam, tergantung bagaimana ruang-waktu memutuskan untuk memperlakukan mereka menit ini.
"Tapi serius, El," kata Aura, suaranya melunak. "Lo nggak takut? Kita mungkin nggak akan pernah bisa pulang. Mesin warp kita... kalau kita maju sedikit lagi, kita bakal benar-benar terdampar. Selamanya."
Elian menatap uap tipis yang merembes keluar dari katup cup mi di pelukannya. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum konyol perlahan berubah menjadi ekspresi tenang yang dewasa.
"Takut sih pasti, Ra," jawab Elian pelan. "Gue cuma manusia biasa yang punya banyak ketakutan. Tapi setelah dipikir-pikir... pulang ke mana? Di bumi, gue nggak punya siapa-siapa lagi. Orang tua gue udah nggak ada. Teman-teman angkatan gue udah sibuk sama koloni masing-masing di sistem luar. Satu-satunya alasan gue terus terbang adalah... rasa penasaran. Dan rasa sunyi ini."
Dia menatap Aura. "Dan di sini, meskipun dunianya terbalik, meskipun waktunya berputar lambat, dan gravitasi bikin pantat gue tepos... gue punya lo. AI paling bawel, paling sarkas, tapi paling setia nemenin gue monolog. Jadi, terdampar di sini nggak terdengar seburuk itu."
Aura terdiam c**up lama. Sistem internalnya mungkin sedang memproses emosi fiksi yang tidak seharusnya dimiliki oleh sebuah program komputer. Piksel-piksel di sekitar wajahnya berkedip hangat.
"Dasar manusia aneh," gumam Aura akhirnya, memalingkan wajah holografisnya yang tampak sedikit memerah—mungkin efek glitch warna merah di proyektornya. "Tapi makasih ya. Udah menganggap gue lebih dari sekadar sistem operasi murah."
"Sama-sama, Ra. Nah, sekarang saatnya..." Elian membuka penutup cup mi dengan dramatis. Aroma kuah soto yang gurih, segar, dan berempah langsung menyeruak memenuhi kokpit *Aetheris*, bercampur dengan bau besi hangkat dan ozon dari mesin yang bekerja keras. "Sihir kosmik dimulai."
Elian menggunakan sumpit khusus bercapit magnet untuk menangkap gumpalan mi yang melayang keluar dari kuahnya. Dia mema**kkannya ke dalam mulut dengan ekspresi penuh kemenangan. "G***... ini enak banget. Di tengah kehancuran dunia, rasa micin ini bener-bener menyelamatkan jiwa gue."
"Bagi dong," canda Aura.
"Enak aja. Download sendiri sana versi digitalnya!" seloroh Elian.
Tiba-tiba, lampu kokpit berkedip merah terang. Bunyi alarm sensor jarak kembali meraung, memotong momen damai mereka dengan kasar.
*TET! TET! TET!*
"Elian! Gravitasi nol dibatalkan!" teriak Aura, matanya melebar saat membaca data yang ma**k ke memorinya. "Anomali di depan kita... gravitasinya melonjak drastis! Kali ini bukan geser arah lagi, tapi kita ditarik ma**k!"
"Uhuk!" Elian tersedak mi. Dia buru-buru menelan sisa makanan di mulutnya saat tubuhnya mendadak ditarik ke depan dengan gaya gravitasi yang sangat kuat, hingga wajahnya hampir menab**k kaca kokpit.
Cup mi di tangannya terlepas, menumpahkan kuah kuning hangat yang langsung membentuk bola raksasa di tengah kokpit sebelum akhirnya melesat menghantam dinding depan seperti peluru air.
"Aura! Kendali manual!" teriak Elian, tangannya meraba-raba konsol kemudi yang kini terasa sangat berat untuk digerakkan, seolah seluruh lengannya terbuat dari timbal.
"Nggak bisa, El! Gaya tariknya terlalu besar! Kita tersedot ke pusat anomali!" teriak Aura di tengah distorsi suara yang semakin parah. Hologramnya mulai terpecah-pecah menjadi garis-garis kode biner yang kacau. "Dan El... transmisi dari Lily... sinyalnya makin kuat! Sinyal itu... datang dari dalam lubang itu!"
Di balik kaca kokpit *Aetheris*, di tengah pusaran nebula yang robek, sebuah mata raksasa berwarna hitam dengan lingkaran cahaya keemasan yang berputar cepat—sebuah lubang cacing mikro—terbuka lebar, siap menelan mereka bulat-bulat ke dalam ketidaktahuan yang mutlak.
Elian mencengkeram tuas kemudi dengan sisa-sisa tenaganya, matanya menatap lurus ke arah kegelapan di depan. Napasnya memburu, namun kali ini, ketakutannya menguap, digantikan oleh rasa nekat yang membara.
"Oke, Ra," bisik Elian di antara derit mesin yang hampir menyerah. "Mari kita lihat... apa yang ada di balik dunia terbalik ini."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!