**Bab 11: Plot Twist: Bukan S****, Tapi Masa Depan**
"Gue nggak tahu harus muntah dulu atau kagum dulu," gumam Elian, tangannya mencengkeram erat tuas kemudi darurat *Aetheris* yang mendadak terasa licin karena keringat dingin.
Setelah melewati atraksi gravitasi yang membuat organ dalamnya serasa bertukar posisi—lambungnya kini seolah berada di ketiak—*Aetheris* akhirnya keluar dari pusaran gas badai nebula. Di depan mereka, pemandangan yang tersaji tidak lagi berupa ruang hampa hitam yang dihiasi bintang-bintang statis. Ruang di sektor ini bengkok. Benar-benar bengkok seperti lembaran plastik yang dipanaskan di atas kompor. Cahaya bintang melengkung membentuk lingkaran-lingkaran aneh, dan di tengah-tengah keg***an kosmik itu, melayang sebuah objek raksasa.
"Ra," panggil Elian, matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan dia tidak sedang berhalusinasi akibat kekurangan oksigen. "Tolong tampar gue secara digital. Itu... itu apa, Ra? Jangan bilang itu piring terbang alien yang mau panen organ manusia."
Hologram Aura berkedip, sempat berubah menjadi bentuk kelinci dengan telinga piksel yang patah sebelum akhirnya kembali ke wujud gadis berambut bob. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum mengejek kini tampak datar, matanya memancarkan sinar biru saat melakukan pemindaian sensor secara intensif.
"Gue pengen banget bilang itu cuma tumpukan sampah luar angkasa biar lo nggak jantungan, El," sahut Aura, suaranya terdengar sangat pelan, kontras dengan gemuruh aneh yang merayap di lambung kapal mereka. "Tapi sistem sensor gue mendeteksi struktur logam super-padat. Itu kapal. Kapal koloni manusia, tepatnya. Dan skalanya... wow. Panjangnya hampir lima kilometer."
"Lima kilometer?!" Elian melongo. "G*** aja! Kapal koloni terbesar yang pernah dibuat Bumi itu *SS Armstrong*, dan panjangnya cuma satu setengah kilometer. Itu pun proyeknya mandek karena korupsi anggaran di sektor kementerian luar angkasa. Ini kapal siapa? Masa iya proyek rahasia korporat?"
"Bukan korporat masa kini, El. Baca registrasinya," kata Aura. Dia melambaikan tangan virtualnya, memproyeksikan data hasil pemindaian ke kaca kokpit depan.
Di sana, di antara kilatan cahaya ungu dari nebula yang memantul di lambung kapal raksasa tersebut, terlihat huruf-huruf logam yang berdarah-darah akibat gesekan radiasi: *SS ESPERANZA-09*.
"Esperanza?" dahi Elian berkerut. "Nama itu... kayak familiar. Bukannya itu nama draf megaproyek kapal koloni yang baru kemarin lusa dipresentasikan di Uni Parlemen Bumi? Yang katanya baru mau mulai dibangun seratus tahun lagi?"
"Tepat sekali, Navigator jeniusku yang agak lambat berpikir," Aura bersedekap. "Dan tebak berapa tahun pembuatan yang tertera di plat lambung kapal itu menurut hasil analisis radiokarbon temporal?"
"Jangan bikin gue *overthinking*, Ra. Langsung sebut aja angkanya sebelum kepala gue meledak."
"Tahun peluncuran: 2284."
Kokpit *Aetheris* mendadak sunyi senyap, kecuali bunyi *bip* monoton dari indikator bahan bakar mereka yang tinggal sepertiga. Elian menatap kapal raksasa itu, lalu menatap Aura, lalu kembali menatap kapal itu.
"Sekarang tahun 2154, Ra," kata Elian dengan suara yang mendadak cempreng karena panik. "Lo mau bilang kalau kapal di depan kita ini berasal dari... masa depan? Seratus tiga puluh tahun dari sekarang?!"
"Secara teknis, iya. Dan kabar buruknya, mereka nggak lagi mampir buat liburan mudik ke masa lalu," jelas Aura. "Lihat distorsi spasial di sekeliling mereka. Itu adalah sisa-sisa energi dari Gerbang Orion yang kolaps."
"Bentar, bentar. Gerbang Orion? Gerbang mega-transportasi yang biasa kita lewati buat beli kopi instan di Sektor 3 itu? Di zaman mereka, gerbang itu kolaps?"
"Kolaps total, El. Ledakan energinya begitu dahsyat sampai merobek kain ruang-waktu. Kapal koloni *Esperanza-09* ini lagi lewat pas kejadian, dan mereka kesedot ma**k ke dalam celah waktu yang tercipta. Mereka terlempar ke masa lalu—ke era kita—dan tersangkut di dalam kantung dimensi Nebula Carina-9 ini kayak remah biskuit yang nyangkut di sela-sela sofa."
Tiba-tiba, pengeras suara di kokpit *Aetheris* berderak keras. Suara statis yang m****akkan telinga terdengar, disusul oleh suara desahan napas yang berat, putus-putus, dan penuh ketakutan.
*"...Halo? ...Siapa saja... yang menerima... transmisi ini... Tolong... Generator penopang hidup kami... mengalami kegagalan sistem... Kami terjebak... di dalam fluktuasi..."*
Itu suara Lily. Suara yang sama yang didengar Elian selama tiga hari terakhir. Suara yang sempat membuatnya hampir mengompol di celana karena mengira kapalnya dihantui oleh arwah penasaran korban kecelakaan luar angkasa.
"Tuh! S****nya ngomong lagi!" Elian refleks mengangkat kakinya ke atas kursi, memeluk lututnya sendiri. "Gue bilang juga apa! Suaranya beneran ada!"
Aura memutar bola matanya dengan sangat dramatis hingga matanya hampir menghilang ke belakang dahi hologramnya. "Elian, demi semua sirkuit prosesor gue yang suci, tolong pakai otak lo yang cuma seukuran kacang polong itu! Dia bukan s****! Dia Lily! Dia manusia hidup, seorang kru navigasi atau entah apa di kapal *Esperanza* itu!"
"Tapi kenapa suaranya bisa kedengeran di radio gue dari kemarin-kemarin sebelum kita sampai di sini?!"
"Karena ini celah waktu, b***!" Aura gemas, tangannya yang transparan mencoba menjitak kepala Elian tapi hanya menghasilkan efek visual partikel cahaya yang buyar. "Nebula ini berfungsi kayak cermin akustik kosmik raksasa. Sinyal radio darurat yang dikirim Lily dari kapal itu memantul bolak-balik menembus waktu. Kadang melompat maju, kadang mundur. Sinyal yang lo denger kemarin itu sebenarnya dikirim oleh dia... entah beberapa jam yang lalu, atau justru baru akan dikirim beberapa jam ke depan dari sudut pandang waktu lokal mereka! Masa lalu dan masa depan lagi tab**kan di titik koordinat ini!"
Elian menurunkan kakinya perlahan, rasa takutnya perlahan digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa, bercampur dengan sedikit rasa bersalah karena sudah menuduh gadis di masa depan itu sebagai kuntilanak antariksa.
"Jadi... dia beneran manusia?" bisik Elian. "Dan dia lagi sekarat di sana?"
"Bukan cuma dia, tapi ada sekitar sepuluh ribu manusia di dalam status *cryosleep* di dalam kapal koloni itu," Aura menampilkan skema interior *Esperanza-09* yang berkedip-kedip merah. "Dan celah waktu tempat mereka tersangkut ini makin menyempit. Fluktuasi gravitasi yang tadi bikin kita jungkir balik adalah efek dari dimensi ini yang mencoba menutup dirinya sendiri. Kalau celah ini kolaps total... boom. Kapal itu bakal hancur terjepit di antara dua garis waktu. Dan kita yang ada di deketnya juga bakal ikut terhapus dari sejarah."
"Oke, skenario yang sangat menyenangkan untuk hari Selasa," gerutu Elian, dia kembali memegang kemudi, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih serius. "Gimana cara kita nolongin mereka? Kita cuma punya kapal kargo seukuran ruko tipe 36, Ra. Kita nggak bisa narik kapal sepanjang lima kilometer pake tali tambang."
"Kita nggak perlu narik kapalnya, El. Kita cuma perlu menstabilkan celah dimensinya dari luar supaya mereka bisa menyalakan mesin lompatan darurat mereka dan kembali ke garis waktu yang aman," Aura menjelaskan, jari-jari hologramnya bergerak cepat di atas konsol virtual yang melayang. "Masalahnya, kita butuh memancarkan pulsa energi tachyon dengan frekuensi yang sangat spesifik ke arah inti mesin mereka. Dan satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan mendekati lambung kapal mereka sedekat mungkin."
"Sedekat apa?"
"C**up dekat sampai lo bisa ngeliat sekrup-sekrup di lambung kapal mereka bergoyang."
Elian menelan ludah. Di sekitar kapal raksasa itu, bongkahan-bongkahan es kosmik dan puing-puing logam melayang dengan kecepatan yang tidak menentu akibat gravitasi yang kacau. Beberapa bongkahan terlihat melambat secara ekstrem, lalu mendadak melesat secepat peluru karena perubahan dilasi waktu lokal. Navigasi di area seperti ini sama saja dengan bunuh diri secara artistik.
"Aura, siapin musik yang agak dramatis dong," kata Elian, mencoba mencairkan ketegangan di dadanya yang mulai berdegup kencang. "Biar kalau kita mati, minimal adegannya keliatan keren kayak di film-film bioskop kuno."
"Musik dramatis nggak ada di database gue, El. Yang ada cuma lagu dangdut koplo remix kopling dinamis yang lo download ilegal minggu lalu," sahut Aura jahil.
"Serius, Ra?! Di ambang kematian gini?!"
"Tapi ketukan gendangnya pas banget sama frekuensi anomali gravitasi di luar, lho. Mau gue puter?"
"Nggak usah! Malah bikin gue pengen joget di atas penderitaan kosmik ini!" Elian berteriak sambil mendorong tuas pendorong *Aetheris* maju.
Kapal kecil mereka melesat membelah kabut nebula yang berwarna ungu pekat. Di sekitar mereka, ruang berguncang hebat. Elian memutar kemudi dengan lincah, menghindari sebuah bongkahan asteroid yang tiba-tiba melompat maju dari masa lalu—menurut prediksi sensor Aura—dan hampir saja meremukkan sayap kiri *Aetheris*.
"Awas kanan, El! Ada pecahan kaca dimensi di arah jam dua!" Aura berteriak, wajahnya kini dipenuhi garis-garis statis akibat radiasi temporal yang semakin kuat. "Jangan disentuh! Kalau lambung kapal kita kena, kita bisa menua delapan puluh tahun dalam waktu satu milidetik!"
"Ogah! Gue belum nikah, Ra! Minimal gue mau ngerasain dapet bonus akhir tahun dari kantor pusat sekali aja!" Elian membanting kemudi ke kiri. Kapal mereka berputar 180 derajat, meluncur mulus di sela-sela dua anomali spasial yang tampak seperti retakan kaca hitam di udara.
Semakin dekat mereka dengan *Esperanza-09*, pemandangan semakin mengerikan. Kapal koloni raksasa itu tampak "berkedip" di antara dua kondisi fisik yang berbeda. Kadang-kadang kapal itu terlihat utuh dan sangat futuristik, namun sedetik kemudian penampilannya berubah menjadi karatan dan hancur seolah-olah telah terbengkalai selama jutaan tahun. Efek pubertas temporal, begitu Elian menyebutnya dalam hati.
*"Tolong... apakah ada... seseorang di luar sana...?"* Suara Lily kembali terdengar, kini jauh lebih jelas dan tidak terlalu terdistorsi. *"Sistem navigasi kami mendeteksi... sebuah objek kecil mendekat... Apakah itu... armada penyelamat?"*
Elian menekan tombol pemancar radio, mengarahkan sinyalnya langsung ke dek komando *Esperanza-09*.
"Halo, Mbak Lily dari masa depan!" seru Elian dengan gaya sok akrabnya yang khas, meski tangannya gemetaran mengendalikan kemudi. "Gue Elian, Navigator kelas tiga dari kapal kargo *Aetheris*. Dan kabar buruknya, kami bukan armada penyelamat. Kami cuma satu orang jomblo dan satu AI cerewet yang lagi tersesat."
Hening sejenak di seberang sana. Mungkin Lily sedang mencoba memproses informasi absurd bahwa penyelamat mereka adalah sebuah kapal logistik kuno dari masa lalu yang dipiloti oleh pemuda berkaus oblong kusut.
*"Kapal... kargo? Dari abad ke-22?"* Suara Lily terdengar sangat tidak percaya. *"Bagaimana mungkin... teknologi kalian bisa menembus celah ini?"*
"Nggak usah dipikirin gimana caranya, Mbak. Yang penting sekarang, kami mau coba nembak mesin kalian pake pulsa tachyon biar celah dimensi ini stabil dan kalian bisa pulang ke masa depan buat bayar cicilan kapal ini," sahut Elian sant**, meskipun dahinya sudah diba****i keringat. "Aura, kita sudah di posisi?"
"Tiga puluh detik lagi menuju titik rilis optimal, El," jawab Aura, wajah hologramnya kini sangat serius, tangannya terus mengetik di udara kosong. "Tapi denger, begitu kita melepaskan pulsa tachyon, seluruh daya *Aetheris* bakal drop ke angka nol selama beberapa detik. Kita bakal bener-bener gak punya pertahanan dari tarikan gravitasi celah ini."
"Artinya?"
"Artinya kita harus pasrah sama hukum fisika. Kalau kita beruntung, kita bakal terlempar keluar dari nebula ini saat celahnya menutup. Kalau kita sial... yah, kita bakal jadi bagian dari fosil kosmik di sini."
Elian menghela napas panjang. Dia menatap layar kaca kokpit, melihat kapal raksasa *Esperanza-09* yang kini berada tepat di atas mereka, menutupi seluruh pandangan bagaikan langit logam yang tak berujung. Dia bisa melihat lampu-lampu darurat berwarna merah berkedip di sepanjang koridor kapalnya yang besar. Di dalam sana, ada ribuan nyawa manusia yang masa depannya bergantung pada keputusan seorang navigator malas yang sering membolos saat kelas astrofisika di Akademi.
"Lucu ya, Ra," gumam Elian, tersenyum kecut. "Gue selalu mikir kalau pekerjaan navigator sipil itu membosankan. Cuma nganter paket dari stasiun satu ke stasiun lain, dengerin komplain pelanggan, dan tidur di kokpit. Tapi sekarang... gue malah dapet tugas buat nyelamatni masa depan umat manusia."
"Itu namanya takdir yang salah alamat, El," sahut Aura lembut, ada nada bangga yang terselip di balik suara AI-nya. "Tapi jujur, gue nggak nyesel ngebajak sistem kapal lo dan jadi partner lo selama ini."
"Gue juga, Ra. Walaupun lo cerewetnya minta ampun." Elian mencengkeram tuas pelatuk pulsa tachyon. "Oke, Lily di masa depan. Bersiap buat lompatan waktu. Aura... tembak!"
*KLIK.*
Cahaya biru yang sangat terang, menyilaukan, dan murni melesat dari moncong deflektor *Aetheris*, menghantam tepat di bagian tengah generator temporal *Esperanza-09*.
Seketika itu juga, seluruh alam semesta seolah berhenti bergerak. Suara dengungan mesin *Aetheris* mati total. Lampu-lampu kokpit padam, menyisakan kegelapan yang pekat. Gravitasi yang tadinya menarik mereka ke segala arah mendadak hilang, membuat Elian melayang bebas di dalam sabuk pengamannya.
Di luar, sebuah ledakan gelombang kejut berwarna keperakan menyebar dari titik hantaman pulsa tachyon. Celah dimensi yang tadinya robek dan hitam pekat, perlahan-lahan merapat kembali seperti luka yang dijahit oleh benang cahaya. Kapal raksasa *SS Esperanza-09* mulai bergetar hebat, mesin lompatan dimensi mereka yang super-canggih akhirnya mendapatkan pasokan energi yang stabil untuk melakukan kalkulasi mundur.
Melalui sisa daya darurat radio yang hampir mati, suara Lily terdengar untuk terakhir kalinya, sangat jernih tanpa ada distorsi sedikit pun.
*"Sinyal stabil... Mesin kami terkunci pada koordinat tahun 2284... Terima kasih, Navigator Elian dari masa lalu. Kami... tidak akan pernah melupakan kalian dalam buku sejarah kami."*
"Sama-sama, Mbak Lily. Jangan lupa kirim salam buat cucu-cucu gue kalau ketemu di sana!" seru Elian, meskipun dia tahu transmisi itu mungkin sudah terputus.
Detik berikutnya, kapal raksasa itu menghilang dalam satu kilatan cahaya putih yang membutakan, meninggalkan riak dimensi yang meledak ke segala arah. Gelombang kejut dari hilangnya kapal raksasa tersebut menghantam *Aetheris* dengan kekuatan penuh, melemparkan kapal kargo kecil itu berputar-putar tak terkendali di dalam kegelapan kosmik yang perlahan-lahan kembali menjadi sunyi.
Dalam kegelapan kokpit yang sunyi itu, Elian hanya bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhnya dibawa oleh sisa gaya inersia, berharap bahwa saat dia bangun nanti, dia tidak berada di zaman purba bersama para dinosaurus.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!