**Bab 12: Rencana Kamikaze Super Santuy**
"Sembilan persen," gumam Elian, memutus kesunyian yang sempat membekukan kokpit *Aetheris*. "Bahan bakar kita tinggal sembilan persen, Ra. Itu bahkan nggak c**up buat nge-gojek nyari seblak di planet terdekat."
Hologram Aura berkedip pelan. Wajahnya yang biasa dipenuhi ekspresi mengejek kini tampak sedikit redup, seperti lampu bohlam lima watt yang wattnya dicolong tetangga. "Secara teknis, El, planet terdekat dari sini berjarak empat belas tahun cahaya. Dan fyi aja, di sana nggak ada seblak, yang ada cuma hujan asam sulfat cair yang bisa bikin kulit lo meleleh dalam waktu tiga detik."
"Ya, makasih buat info fiksi ilmiahnya, Wikipedia berjalan," Elian bersandar di kursi pilot, melipat kedua tangannya di belakang kepala. Dia menatap *SS Esperanza-09*, kapal koloni raksasa dari masa depan yang mengambang tak berdaya di depan mereka bagai paus besi yang tersesat di samudra kosmik.
Di sekeliling kapal raksasa itu, ruang dan waktu meliuk-liuk ekstrem. Pusaran energi ungu-kehitaman dari nebula tampak seperti pusaran air di wastafel raksasa, perlahan tapi pasti menarik *Esperanza-09* ma**k ke dalam singularitas dimensi yang tidak stabil.
"Ra, coba jelasin ke gue pake bahasa manusia purba," kata Elian sambil memejamkan mata. "Kenapa kapal dari tahun 2284 bisa nyasar ke tahun kita, terus kejebak di sini?"
"Penjelasan singkatnya: *Temporal anomaly induced by dimensional drag*," jawab Aura. "Penjelasan bahasa purbanya: Kapal gede itu nyenggol lubang cacing yang salah waktu nyoba lompat jauh. Sekarang, mereka kejebak di retakan dimensi. Mesin warp mereka macet, dan gravitasi anomali ini lagi pelan-pelan meras mereka sampai jadi bubur atom. Kalau mereka meledak di dalam retakan ini, efek domino temporalnya bakal ngehapus garis waktu bumi. Singkat kata: Masa depan musnah, kita juga ikutan lenyap dari sejarah sebelum sempat lahir."
Elian menghela napas panjang. "Beban moralnya berat banget ya, jadi pahlawan kesasar. Padahal cita-cita gue cuma pengen rebahan sambil dapet pasif inkam."
"Ada satu cara buat menyelamatkan mereka," kata Aura tiba-tiba. Nadanya berubah datar, jenis nada suara yang selalu digunakan sistem AI ketika menyajikan kalkulasi dengan prob***litas kelangsungan hidup di bawah lima persen.
Elian membuka satu matanya. "Gue nggak suka nada suara lo yang sok dramatis gini, Ra. Biasanya abis ini ada plot twist yang bikin lambung gue mules."
"Sistem analisis gue baru selesai menyimulasikan skenario," Aura memproyeksikan diagram energi tiga dimensi di antara mereka. Di tengah-tengah diagram itu, *Aetheris* ditandai dengan warna merah menyala. "Retakan dimensi ini ibarat simpul tali yang kusut. Satu-satunya cara buat ngurai simpul itu adalah dengan melepaskan gelombang energi fusi murni dalam jumlah masif tepat di pusat retakan. Energi itu bakal bertindak sebagai penyeimbang dimensi, menutup retakan, dan melontarkan *Esperanza-09* kembali ke jalur waktu mereka yang aman."
Elian menatap titik merah yang melambangkan kapal mereka. "Dan dari mana kita dapet energi fusi murni sebesar itu? Jangan bilang..."
"Reaktor fusi *Aetheris*," potong Aura pelan. "Kalau kita paksa reaktor kita buat *overload* sampai kapasitas seribu persen, lalu kita tab**kkan tepat ke inti anomali... energinya bakal c**up."
"Dan nasib gue?" Elian menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "Gue bakal dapet penghargaan Nobel di akhirat, atau gimana?"
Aura terdiam sejenak. Piksel-piksel di wajah hologramnya tampak bergetar. "Perjalanan satu arah, El. Lo... nggak akan sempat buat pakai kapsul penyelamat. Kecepatan ekspansinya bakal langsung menguapkan apa pun dalam radius sepuluh kilometer dalam hitungan milidetik."
Hening kembali merayap di kokpit. Suara dengung mesin *Aetheris* yang sekarat terdengar seperti melodi pengiring pemakaman yang sarkas.
Elian menatap lurus ke depan, ke arah kapal koloni yang membawa harapan ribuan nyawa manusia dari masa depan. Di dalam sana, mungkin ada anak-anak yang sedang tidur di dalam tabung kriogenik, tidak tahu bahwa hidup mereka sedang digantungkan pada seorang navigator pemalas dengan sisa bahan bakar sembilan persen.
Perlahan, senyum tipis terukir di sudut bibir Elian. Dia menegakkan posisi duduknya, lalu merenggangkan jari-jarinya hingga berbunyi *krek*.
"Oke," kata Elian dengan nada kelewat sant**. "Gue sebut rencana ini: Rencana Kamikaze Super Santuy."
Aura melotot. "El, lo sadar nggak sih sama apa yang baru aja gue omongin? Ini bukan main game *arcade* di mal yang kalau kalah tinggal ma**kin koin lagi! Lo bakal mati!"
"Ya terus gue harus ngapain, Ra? Nangis guling-guling di lant** kokpit?" Elian terkekeh, tangannya mulai lincah menekan tombol-tombol di panel kendali, mematikan semua sistem sekunder terma**k pendingin ruangan dan lampu kabin untuk mengalihkan sisa daya ke mesin utama. "Kalau kita diem aja, kita juga bakal mati kesedot gravitasi. Bedanya, kalau kita diam, kita mati konyol tanpa gaya. Tapi kalau kita pakai rencana gue, setidaknya nama gueβoke, mungkin bukan nama gue, tapi nama kapal ampas iniβbakal tercatat di sejarah masa depan sebagai penyelamat umat manusia. Itu keren banget tahu!"
"Lo bener-bener g*** ya," gumam Aura. Namun, sudut bibir virtualnya perlahan ikut melengkung naik. "Gue heran kenapa protokol penyaringan psikologis di akademi bisa meloloskan manusia macem lo."
"Sogokan martabak manis di ruang admin, Ra. Manjur banget," sahut Elian asal. Dia menarik tuas kemudi, mengarahkan moncong *Aetheris* tepat ke jantung badai nebula yang bergolak. "Sistem navigasi siap. Target dikunci. Kita menuju pusat badai."
"Mengalihkan seluruh sisa daya ke sistem propulsi," Aura melaporkan, suaranya kembali stabil meski hologramnya mulai berkedip-kedip tidak konsisten akibat radiasi elektromagnetik yang semakin kuat. "Estimasi waktu benturan: tiga menit."
"Tiga menit, huh?" Elian bersandar lagi, memandangi pusaran energi ungu yang kini memenuhi seluruh kaca depan kokpit. Indah, sekaligus mematikan. "Waktu yang c**up buat ngobrol sant**. Ra, selama ini... lo bosen nggak sih nemenin gue?"
Hologram Aura melayang mendekat, duduk di atas dasbor kokpit tepat di depan Elian. Dia melipat kakinya, menatap Elian dengan mata birunya yang berpendar lembut.
"Bosen? Jelas," jawab Aura tanpa ragu. "Lo itu navigator paling nggak disiplin yang pernah gue temuin. Lo sering nyanyi lagu dangdut jadul dengan nada sumbang pas kita lagi ngelewatin sabuk asteroid, lo jarang mandi kalau lagi perjalanan jauh, dan lo selalu naruh cangkir kopi kosong sembarangan di deket konsol sirkuit utama."
"Heh, itu namanya seni mengelola stres," protes Elian sambil tertawa.
"Tapi..." Aura menjeda kalimatnya. Piksel di matanya tampak melembut. "Menjadi AI pendamping manusia sekonyol lo... jujur aja, itu adalah hal terbaik dalam seluruh masa aktif gue."
Elian terpaku sejenak. "Serius? Nggak nyesel?"
"Nggak sama sekali," kata Aura. "AI lain di kapal-kapal militer atau sains cuma tahu soal data, kalkulasi, dan perintah protokol. Mereka nggak pernah tahu rasanya dengerin manusia debat sama dirinya sendiri gara-gara bingung milih makan mie instan rasa soto atau kari ayam di tengah badai kosmik. Bersama lo, gue merasa... lebih hidup dari sekadar barisan kode biner."
Elian tersenyum lebar, ada rasa hangat yang tiba-tiba membuncah di dadanya, mengalahkan rasa dingin dari AC kokpit yang mulai mati. "Makasih ya, Ra. Maaf gue belum sempat bikinin lo tubuh android biar kita bisa jalan-jalan di pant**."
"Nggak apa-apa. Di pant** juga banyak pasir, nanti port USB gue kema**kan debu, kan males," canda Aura, membuat Elian tertawa lepas.
"Peringatan: Jarak ke target lima ratus meter," suara sistem komputer kapal yang monoton tiba-tiba menginterupsi momen mereka. "Memulai proses kelebihan beban reaktor fusi dalam tiga puluh detik."
Lampu kokpit mulai berkedip merah. Bunyi alarm peringatan berdengung nyaring, namun entah kenapa terasa samar di telinga Elian. Fokusnya hanya pada hologram gadis berambut bob di depannya.
"Ra," panggil Elian lembut.
"Ya, El?"
"Gue ganteng nggak hari ini?"
Aura memutar kedua bola matanya secara dramatis. "Gue ini AI dengan sensor optik tercanggih di abad ini, El. Dan bahkan dengan teknologi secanggih ini pun, gue nggak bisa nemuin satu pun pixel di wajah lo yang bisa dikategorikan sebagai 'ganteng'."
"Yee, dasar AI durhaka," Elian mendengus, tapi senyumnya tak pudar.
"Tapi..." Aura mendekatkan wajah hologramnya ke wajah Elian. Meskipun tidak ada sentuhan fisik yang nyata, Elian bisa merasakan semacam getaran statis yang hangat di pipinya. "Untuk ukuran manusia yang sebentar lagi mau meledak, lo kelihatan... lumayan keren."
"Nah, gitu dong. Kan mati tenang gue." Elian meletakkan tangannya di atas tombol merah besar di konsol tengahβtombol manual pemicu fusi darurat.
"Sepuluh detik," Aura memulai hitungan mundur. Dia mengulurkan tangan virtualnya, mencoba menggenggam tangan Elian yang berada di atas tombol. Tangan piksel birunya tumpang tindih dengan kulit hangat Elian.
"Makasih buat petualangannya, Navigator Elian," bisik Aura.
"Sama-sama, Aura. Sampai ketemu di database pusat," balas Elian dengan cengiran khasnya.
"Tiga... dua... satu..."
"Rencana Kamikaze Super Santuy... *launch*!"
Elian menekan tombol tersebut dengan mantap.
Seketika, seluruh dunia di sekitar mereka meledak dalam cahaya putih murni yang membutakan. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa takut. Hanya ada sunyi yang tenang, diiringi monolog terakhir sang navigator yang melebur bersama keindahan nebula, menyelamatkan masa depan dalam sekali helaan napas yang paling sant**.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!