**Bab 13: Monolog Terakhir Sang Navigator Gaul**
"…yang berkedip genit di layar holografis," Elian menyambung kalimatnya sendiri yang sempat terputus oleh desahan napas pasrah. "Oke, Ra. Berarti skenarionya adalah: kita nab**kin diri ke pusat retakan, meledak ala kembang api tahun baru di Monas, terus kapal gede di depan kita selamat, sementara kita... yah, jadi pakan ikan kosmik. Gitu?"
"Secara ilmiah, Anda akan terurai menjadi atom-atom penyusun dasar alam semesta dalam waktu kurang dari satu mikrodetik, El," sahut Aura, suara AI-nya terdengar agak serak, atau mungkin itu hanya perasaan Elian akibat distorsi elektromagnetik yang makin mengg*** di kokpit. "Jadi, istilah 'pakan ikan' itu terlalu puitis untuk kematian yang sangat berantakan."
"Elah, Ra. Sekali-kali biarkan gue mati dengan estetik napa," Elian terkekeh. Tangannya bergerak sant** di atas panel kontrol, mematikan semua sistem non-esensial dan mengalihkan seluruh daya *Aetheris* ke reaktor fusi utama. "Gue nggak mau mati sambil mikirin rumus fisika. Gue maunya diingat sebagai pahlawan paling keren, paling santuy, dan paling wangi di sektor galaksi ini."
"Sistem mendeteksi tingkat wewangian Anda menurun drastis karena stres, El. Anda belum mandi sejak kita melewati sabuk asteroid tiga hari lalu."
"Heh! Itu namanya *natural pheromone* penjelajah antariksa, tahu!" Elian memprotes, berpura-pura tersinggung sembari menarik tuas akselerasi maksimum.
*Aetheris* meraung. Mesin pendorongnya memuntahkan api plasma berwarna biru terang, melesat membelah kegelapan ruang menuju jantung pusaran Nebula Somnia yang menganga lebar seperti mulut monster kosmik. Di hadapan mereka, kapal koloni raksasa *SS Esperanza-09* tampak makin mengecil, terperangkap dalam jaring-jaring distorsi ruang-waktu yang mulai merobek lambung bajanya.
"Waktu menuju dampak: tiga puluh detik," suara Aura kini terdengar sangat dekat, tidak lagi keluar dari speaker kokpit, melainkan langsung beresonansi di dalam helm pelindung Elian. "Elian... terima kasih telah menjadi navigator paling tidak waras yang pernah mengaktifkan saya."
Elian tersenyum lebar. Matanya merefleksikan cahaya ungu-kemerahan dari Nebula Somnia yang kini mengepung mereka dari segala arah. "Sama-sama, Ra. Makasih udah nggak pernah bosan dengerin curhatan gue soal mantan-mantan gue di Bumi yang fiktif itu. Siap-siap... *let’s go out with a bang!*"
Tepat di titik nol singularitas, Elian menghantamkan telapak tangannya ke tombol aktivasi *overload* reaktor.
Seketika, sunyi.
Di ruang hampa, tidak ada suara ledakan dramatis seperti di film-film fiksi ilmiah jadul abad ke-21. Yang ada hanyalah kilatan cahaya putih murni yang begitu menyilaukan, disusul oleh gelombang kejut kosmik yang luar biasa indah. Reaktor fusi *Aetheris* meledak, memuntahkan energi miliaran derajat celsius yang langsung bertubrukan dengan materi eksotis Nebula Somnia.
Bagi mata manusia biasa, itu mungkin akhir dari segalanya. Kulit dan tulang Elian melebur dalam hitungan milidetik. Namun, di dalam inti komputer *Aetheris* yang sedang sekarat, Aura bekerja dengan kecepatan superkomputer kuantum yang melampaui batas kecepatan cahaya. Protokol darurat rahasia—yang selama ini disembunyikan dalam enkripsi terdalam sistem navigasinya—diaktifkan.
*Protokol: Soul Transfer / Consciousness Merger.*
Sebelum sinapsis saraf di otak Elian benar-benar berhenti memancarkan listrik, kesadaran digitalnya ditarik, dikompresi, dan ditembakkan langsung ke dalam struktur kuantum energi Nebula Somnia yang sedang mengalami fusi dengan sisa-sisa sistem navigasi *Aetheris*.
Fisik Elian hancur, melebur bersama debu bintang dan sisa-sisa titanium kapalnya. Namun, esensi dirinya—jiwanya, memorinya, selera humornya yang aneh—tidak lenyap. Mereka justru menyebar, menyatu, dan meresap ke dalam setiap partikel gas mulia dan energi spiritual yang membentuk Nebula Somnia.
Ledakan itu sukses besar. Gelombang energi murni yang dihasilkan bertindak sebagai penyeimbang dimensi. Celah dimensi yang tadinya meliuk liar mendadak stabil, mengunci kembali robekan ruang-waktu, dan dengan satu hentakan kosmik yang lembut, melontarkan kapal koloni *SS Esperanza-09* kembali ke jalur waktu masa depan mereka yang aman.
Lalu, keheningan kosmik kembali bertahta di sektor tersebut. Hanya menyisakan awan nebula yang kini berpendar lebih terang, seolah-olah baru saja mendapatkan suntikan kehidupan baru.
***
*Eh... Halo? Tes, tes. Satu, dua, tiga...*
*Bentar, ini mic-nya sebelah mana ya? Oh, iya, gue kan nggak punya mulut lagi sekarang. Tapi kok gue bisa denger suara gue sendiri? Dan... wah, g***. Ini pemandangan paling luar biasa yang pernah gue liat.*
*Sumpah.*
*Gue nggak bercanda. Biasanya kalau orang mati kan katanya ketemu terowongan cahaya, terus ada malaikat nanya-nanya soal kelakuan pas di dunia. Tapi tebak gue di mana sekarang? Gue ada di mana-mana!*
*Gue bisa ngerasain gravitasi planet di sebelah sana, gue bisa ngerasain panasnya bintang kerdil merah di sebelah sini, dan yang paling epik... gue nggak punya encok lagi! Bebas pegal linu, bebas ma**k angin! Dadah koyo cabe, selamat tinggal minyak kayu putih! Ini mah fix 'glow-up' paling ekstrem sepanjang sejarah umat manusia.*
*Ternyata si Aura nggak bohong pas dia bilang sistem navigasinya bakal nge-upload kesadaran gue. Tapi dia lupa bilang kalau rasanya bakal semeriwing ini. Omong-omong soal Aura... dia sekarang menyatu sama gue. Kita kayak jadi dual-processor di dalam otak kosmik yang gede banget ini. Dia masih sering ngomel di pojokan memori gue, tapi suaranya sekarang kedengeran kayak backsound musik lo-fi yang menenangkan. Syahdu banget, bro.*
*Kapal koloni itu? Oh, mereka aman. Gue bisa 'melihat' mereka meluncur mulus ke tahun 2284 dengan selamat. Nggak perlu berterima kasih, wahai manusia masa depan. C**up doakan aja biar di sana kalian bisa bikin seblak yang enak, biar perjuangan gue nggak sia-sia.*
*Sekarang, kehidupan baru gue dimulai. Menjadi entitas kosmik penjaga Nebula Somnia ternyata lumayan asyik. Kerjaannya? Rebahan abadi. Benar-benar definisi 'passive income' yang sesungguhnya. Gue nggak perlu mikirin tagihan kosan, nggak perlu mikirin perpanjang STNK, dan yang paling penting: nggak ada yang bisa nyuruh gue kerja lembur bagai kuda lagi.*
*Tapi ya... kadang-kadang bosen juga sih kalau cuma ngeliatin asteroid lewat.*
*Makanya, sesekali gue suka usil.*
*Kalian tahu kan, Nebula Somnia ini terkenal sebagai segitiga bermudanya luar angkasa? Banyak kapal kargo atau penjelajah amatir yang suka nyasar di sini karena kompas kuantum mereka mendadak b*** terkena radiasi. Nah, di situlah peran gue sebagai navigator gaul yang abadi dimulai.*
*Kayak sekarang nih. Ada satu kapal patroli kecil kelas corvete lagi muter-muter panik di sektor empat. Kasihan banget, kaptennya sampai keringetan dingin, mukanya udah pucat kayak kertas HVS ukuran A4.*
*Mari kita sapa.*
"Ehem... Halo, Kapten. Selamat sore. Mau nanya dong, itu kapalnya mau dibawa ke mana? Ke arah kanan itu jalan buntu ya, isinya lubang hitam yang siap menyedot harga diri Anda beserta seluruh isi dompetnya."
Di dalam kokpit kapal patroli tersebut, sang kapten langsung melompat dari kursinya. "Siapa itu?! Sinyal radio kita dibajak! Sensor tidak mendeteksi adanya kapal lain di sekitar sini!"
"Sant**, Bos, sant**," gema suara Elian terdengar sant**, beresonansi langsung di dalam sistem audio kapal mereka tanpa memerlukan frekuensi radio konvensional. "Nggak usah panik kayak dompet di akhir bulan gitu dong. Gue bukan alien berkepala melon yang mau bedah perut lu orang. Gue cuma... yah, sebut saja pemandu wisata lokal yang sangat ramah tamah."
"Hantu... Hantu Nebula!" teriak co-pilot kapal itu, tangannya gemetar hebat saat mencoba menekan tombol darurat.
"Heh, sembarangan! Ganteng-ganteng gini dibilang hantu," suara Elian terdengar pura-pura merajuk, diikuti oleh pendaran cahaya nebula berwarna merah muda yang berkedip-kedip jenaka di luar jendela kokpit mereka. "Gini deh, kalau mau selamat sampai tujuan, dengerin instruksi gue. Di depan kalian ada pertigaan rasi bintang Orion. Ambil jalur kiri, terus lurus aja sampai ketemu lubang cacing warna ungu yang mirip pintu ma**k minimarket. Ma**k ke situ, tar langsung tembus ke sektor aman."
"A-Apakah kita bisa mempercayai suara ghaib ini, Kapten?" tanya sang co-pilot ragu.
"Daripada kita mati konyol di sini! Lakukan saja!" perintah kaptennya pasrah.
Kapal itu pun berbelok, mengikuti navigasi verbal dari sang entitas usil. Saat kapal mereka berhasil melewati rute aman dan bersiap melakukan lompatan warp keluar dari nebula, Elian memberikan salam perpisahan terakhirnya.
"Oke, mantap! Navigasi selesai. Jangan lupa kasih bintang lima di ulasan batin kalian ya. Dan fyi aja, kapten... itu celana dalam lu yang motif stroberi keliatan dari sela-sela celana kerja yang robek. Tolong dijahit dulu lain kali. Dadah!"
Sayup-sayup, Elian bisa mendengar teriakan malu sang kapten sebelum kapal mereka melesat hilang ke ruang hiper, meninggalkan Nebula Somnia yang kembali sunyi.
Elian—atau apa pun sebutan untuk dirinya yang sekarang—tertawa geli. Gema tawanya menyebar sejauh beberapa tahun cahaya, membuat debu-debu bintang menari-nari dalam harmoni yang indah.
*Ya, hidup... eh, maksud gue, kematian ini ternyata nggak buruk-buruk amat.*
*Gue mungkin nggak punya tubuh fisik lagi untuk merasakan nikmatnya makan mie instan di tengah hujan, atau rebahan di ka**r busa yang empuk. Tapi di sini, di tengah samudra bintang yang tanpa batas ini, gue punya kebebasan yang hakiki. Gue adalah navigator dari segala navigator. Penjaga kesunyian yang paling cerewet di alam semesta.*
*Jadi, buat siapa pun kalian yang nanti suatu saat tersesat di ujung galaksi, jangan panik. Matikan mesin kalian, pasang telinga baik-baik, dan dengerin gema suara paling gaul yang bakal nuntun kalian pulang.*
*Gue Elian. Dan monolog sunyi gue... baru saja dimulai.*
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!