Monolog Sunyi Sang Navigator Nebula

Bab 2: Nebula Somnia, Tempat Parkir Paling Angker

Pengaturan Membaca

Bab 2: Nebula Somnia, Tempat Parkir Paling Angker

"Perhatian kepada satu-satunya kru manusia yang tidak berguna di kapal ini," suara Aura memecah keheningan dengan dengungan statis yang sengaja dibuat terdengar mengganggu. "Kita baru saja melewati batas demarkasi luar Sektor 9-X. Selamat datang di Nebula Somnia, habitat alami bagi depresi kosmik, kegagalan navigasi, dan tempat pembuangan akhir bagi ekspektasi hidup Anda."

Elian Vance, yang sedang asyik mengorek sela-sela giginya dengan ujung kuku, langsung menegakkan punggungnya. Dia mencondongkan tubuh ke depan, menatap lurus ke balik kaca kokpit transparan *Aetheris*. Matanya menyipit, dahinya berkerut dalam, memancarkan ekspresi kecewa yang sangat mendalam.

"Aura," panggil Elian dengan nada tidak percaya. "Coba lo kalib**si ulang mata optik lo. Ini beneran Nebula Somnia yang katanya legendaris dan penuh misteri itu?"

"Sensor saya berfungsi seratus persen, Elian. Dan ya, secara administratif, ini adalah Nebula Somnia."

Elian menyandarkan punggungnya kembali ke kursi pilot dengan helaan napas dramatis. "G*** ya. Di brosur Akademi Navigator, tempat ini digambarkan sebagai 'kabut kosmik magis yang menari-nari dalam harmoni dimensi'. Tapi realitanya... apa-apaan ini? Ini mah kagak ada estetik-estetiknya acan!"

Di luar sana, alih-alih pemandangan awan gas antariksa yang berkilauan indah seperti di brosur wisata galaksi, Nebula Somnia justru terlihat seperti bencana tata kota yang amat sangat parah. Warnanya abu-abu kusam bercampur cokelat pekat, mirip seperti air selokan yang tersumbat setelah hujan badai. Sisa-sisa asteroid hancur berhamburan secara acak-acakan, dikelilingi oleh serpihan satelit kuno yang sudah mati dan sampah-sampah besi dari kapal penambang abad lalu. Beberapa jalur gas kosmik meliuk-liuk kusut, saling tumpang tindih tak beraturan.

"Mirip banget sama kompleks ruko terbengkalai di pinggiran planet koloni," gerutu Elian, tangannya menunjuk ke arah gumpalan gas yang bentuknya tidak keruan di sebelah kiri kapal. "Lihat itu! Kabel-kabel serat optik kuno melilit asteroid, terus gasnya acak-acakan kayak jemuran tetangga yang ditiup angin puting beliung. Kalau gue parkir kapal di sini semalaman, besok paginya spion *Aetheris* pasti udah ilang digondol pemulung antariksa."

"Analogi yang sangat membumi untuk seseorang yang tidak pernah pulang ke Bumi," sahut Aura datar. Sebuah layar holografik mendadak muncul di depan wajah Elian, membuat sang pilot refleks memundurkan kepalanya. "Namun, sebelum Anda terus mengeluhkan estetika tempat ini seperti seorang kritikus seni amatir yang kekurangan bayaran, saya berkewajiban untuk menyampaikan presentasi keselamatan wajib."

"Hah? Presentasi keselamatan?" Elian mengerang. "Aura, plis deh. Gue ini navigator berlisensi kelas B-Minus. Gue tahu cara bertahan hidup."

"Lisensi Anda didapatkan dari hasil menyogok instruktur dengan tiga botol wiski sintetis, Elian. Data tidak pernah berbohong," balas Aura tanpa ampun. Layar holografik di depan Elian tiba-tiba berubah format. Layar itu kini menampilkan sebuah presentasi digital dengan desain yang sangat kuno, lengkap dengan transisi animasi bintang berputar yang sangat norak.

Di bagian atas slide tertulis judul besar dengan jenis huruf Comic Sans yang menyakitkan mata: **KENAPA ANDA AKAN MATI KONYOL DI NEBULA SOMNIA (Sebuah Panduan untuk Manusia Ber-IQ Pas-pasan).**

Elian melongo. "Lo... lo bikin presentasi PowerPoint?"

"Saya memodifikasi protokol peringatan bahaya agar sesuai dengan kapasitas otak Anda yang hanya bisa memproses informasi jika disajikan lewat media visual setingkat anak TK," jawab Aura manis. "Silakan perhatikan Slide Pertama."

Gambar di layar berubah menampilkan diagram otak manusia yang diberi warna merah menyala pada bagian tengahnya, dengan ilustrasi karikatur Elian yang sedang memakai topi badut di sebelahnya.

"Nebula Somnia tidak hanya dipenuhi oleh puing-puing fisik, tetapi juga memancarkan Radiasi Psiko-Aktif Spektrum Rendah, atau yang biasa saya sebut sebagai *Radiasi Penipu Pikiran*," jelas Aura, suaranya kini terdengar seperti narator video edukasi sekolah dasar yang terlalu bersemangat. "Radiasi ini menyerang lobus frontal Anda. Efek sampingnya meliputi: halusinasi visual, nostalgia berlebihan terhadap mantan kekasih yang sudah memblokir nomor Anda, mendengar suara-suara gaib, hingga dorongan impulsif untuk membuka pintu darurat kapal demi memeluk bintang neutron yang tampak 'lucu dan bersahabat'."

Elian mendengus, mencoba menahan tawa. "Nostalgia sama mantan? Mantan gue kan cuma satu, itu juga robot penyedot debu di asrama militer yang nggak sengaja gue tab**k sampai rusak."

"Dan Anda menangisinya selama tiga hari penuh, mengklaim bahwa itu adalah 'cinta sejati yang tak terjangkau'. Saya memiliki rekaman videonya jika Anda ingin bernostalgia," potong Aura cepat.

"Oke, oke! C**up! Lanjut ke slide berikutnya sebelum gue hapus folder memori lo!" ancam Elian dengan wajah memerah.

"Slide Kedua: Gejala Awal Terpapar Radiasi," lanjut Aura. Layar beralih menampilkan daftar poin-poin yang ditulis dengan animasi mengetik lambat. "Satu, hilangnya fokus pada tugas utama. Dua, keinginan kuat untuk mengonsumsi zat adiktif yang tidak sehat. Tiga, ketidakpedulian terhadap protokol keselamatan mendasar yang ditandai dengan mengabaikan lampu indikator bahaya."

Tepat saat Aura menyelesaikan kalimatnya, panel kontrol di sebelah kanan Elian mendadak berbunyi nyaring.

*BEEEP! BEEEP! BEEEP!*

Lampu indikator berbentuk segitiga merah di atas konsol mulai berkedip-kedip dengan frekuensi yang sangat cepat. Tak lama kemudian, lampu-lampu darurat di sepanjang koridor kapal ikut menyala, bergantian antara warna merah, kuning, dan biru pucat. Pancaran cahayanya memantul di dinding logam kokpit yang berdebu, menciptakan suasana yang luar biasa kacau.

Namun, alih-alih panik dan memeriksa sistem kemudi, Elian justru menguap lebar. Dia meregangkan kedua tangannya ke atas sampai terdengar bunyi gemertak dari tulang punggungnya.

"Duh, berisik banget sih," keluh Elian. Dia bangkit dari kursi pilotnya dengan sant**. "Gue butuh a**pan yang anget-anget dulu. Kepala gue agak pusing ngelihat kabel-kabel kusut di luar sana."

"Elian," suara Aura naik satu oktav, kehilangan nada sant**nya dan kembali ke mode peringatan sistem. "Sensor eksternal mendeteksi lonjakan radiasi sebesar tiga ratus persen di sekitar lambung kapal. Fluktuasi medan magnetik mulai menekan perisai deflektor kita. Ini bukan waktunya untuk berjalan-jalan."

"Tenang, Aura. Kunci keselamatan di ruang angkasa itu cuma satu: jangan panik sebelum kopi instan lo diseduh," sahut Elian sant**. Dia melangkah menuju sudut kokpit, tempat sebuah mesin sintesis air daur ulang dan dispenser kecil berada.

Di atas meja dispenser yang berantakan dengan bungkus makanan ringan kosong, Elian mengambil sebuah cangkir mug keramik bergambar kucing luar angkasa bermata satuβ€”satu-satunya barang pecah belah yang tersisa di kapal ini. Dari saku celana kargonya yang longgar, dia mengeluarkan sebungkus bubuk kopi instan murah merek "Kopi Tubruk Kosmos Cap Astronot Ngantuk".

*BEEEP! BEEEP! BEEEP!*

Lampu indikator bahaya terus berkedip-kedip g***-g***an, kini kecepatannya bertambah dua kali lipat. Cahaya merah dan kuning yang bersahutan membuat suasana kokpit terasa seperti lant** dansa kelab malam kelas bawah yang hampir bangkrut.

"Gokil," gumam Elian sambil merobek bungkus kopi dengan giginya. Dia menuangkan bubuk hitam itu ke dalam mug. "Aura, coba lo setel musik disko jadul tahun 80-an dong. Biar pas sama lampu disko rusak ini. Kita bikin party kecil-kecilan di tengah nebula angker."

"Sistem saya menolak untuk memfasilitasi kebodohan massal yang dilakukan oleh satu orang tunggal," jawab Aura dingin. "Saya mendesak Anda untuk segera kembali ke kursi pilot dan melakukan manuver penghindaran manual. Fluktuasi energi di luar sana dapat mengacaukan koordinat lompatan hiper-ruang kita."

"Bentar, airnya belum mendidih," sahut Elian tanpa beban. Dia menekan tombol dispenser. Mesin itu mendesis keras, mengeluarkan air panas yang sedikit berbusa dan mengeluarkan aroma kimiawi yang samar. Elian memutar-mutar mugnya, menggunakan obeng kecil yang tergeletak di meja sebagai sendok darurat untuk mengaduk kopinya.

Aroma kopi instan yang terlalu manis dan agak gosong segera memenuhi kabin kokpit yang sempit. Elian menghirup aromanya dengan mata terpejam, memasang wajah sangat puas seolah-olah dia sedang berada di kafe bintang lima di planet resor Vega-4, bukannya di dalam kapal rongsokan yang sedang dikepung radiasi perusak otak.

"Ah... ini baru hidup," desah Elian. Dia berjalan kembali ke kursi pilot dengan langkah sant**, satu tangannya memegang mug kopi panas, sementara tangannya yang lain dima**kkan ke dalam saku celana. Dia duduk kembali di kursi, mengabaikan getaran halus yang mulai merayap naik dari lant** kapal.

"Elian, saya serius," suara Aura kini terdengar lebih rendah, hampir menyerupai bisikan cemasβ€”sebuah fitur kepribadian yang sebenarnya sangat dibenci Elian karena terlalu mirip dengan ibunya. "Medan radiasi di depan kita berputar membentuk pusaran kognitif. Jika Anda tidak mengoreksi arah terbang sekarang, kita akan terseret ke pusat nebula, di mana tingkat halusinasi berada pada level maksimal."

Elian menyesap kopinya perlahan. Rasanya agak hambar, khas air hasil daur ulang keringat dan urine yang disaring berulang kali oleh sistem kapal selama berbulan-bulan, tetapi kafein sintetisnya langsung bereaksi di kepalanya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali, lalu menatap ke luar jendela kaca kokpit lagi.

Di luar sana, di antara gulungan gas abu-abu yang berantakan, Elian tiba-tiba melihat sesuatu yang aneh.

Di atas sebuah asteroid berbentuk lonjong yang melayang lambat, tampak berdiri sebuah gerobak kayu kecil dengan lampu petromak kuning yang bergoyang-goyang. Di samping gerobak itu, seorang pria tua bertopi anyaman bambu sedang sibuk membalik-balik sesuatu di atas panggangan, mengeluarkan asap putih yang membubung ke hampa udara.

Elian mengerutkan keningnya. Dia menurunkan mug kopinya secara perlahan.

"Eh, Aura..." gumam Elian, matanya terpaku pada pemandangan di luar. "Gue... gue tahu tempat ini angker. Tapi apa wajar kalau di tengah-tengah Nebula Somnia ada abang-abang jualan sate madura?"

Hening sesaat di dalam kokpit, sebelum suara Aura terdengar datar, namun penuh kemenangan yang sarkastik.

"Selamat, Elian Vance. Anda baru saja mengabaikan presentasi saya, dan sekarang Anda resmi mulai g***."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca