Bab 3: Halo, Siapa di Sana? Ada Paket?
"Aura, plis banget, kalau presentasi keselamatan lo itu ujung-ujungnya cuma mau bilang 'Jangan buang puntung rokok elektrik ke reaktor antimateri', gue udah hafal di luar kepala," potong Elian cepat, mencoba menghentikan proyektor holografik yang mulai menampilkan ikon tanda seru berwarna kuning menyala. "Lagian, siapa juga yang mau ngerokok di dekat benda yang bisa bikin kita jadi debu kosmik dalam seperseribu detik? Gue masih pengen pensiun tenang di planet resor tropis, ya."
"Tingkat kepatuhan Anda terhadap protokol keselamatan adalah minus lima persen, Elian. Saya hanya menjalankan fungsi bawaan pabrik untuk mencegah Anda mati konyol sebelum kontrak kerja saya selesai," balas Aura. Suara asisten AI itu terdengar seperti seorang guru konseling yang sudah terlalu lelah menghadapi murid paling bandel di sekolah.
Namun, sebelum Aura sempat melanjutkan slide kedua yang kemungkinan besar berisi diagram organ tubuh yang meledak akibat dekompresi ruang angkasa, lampu kokpit *Aetheris* mendadak berkedip.
*Bzzzt.*
Warna biru tenang yang mendominasi panel instrumen mendadak berubah menjadi oranye redup. Suara dengung statis yang sangat rendahβjenis suara yang membuat bulu kuduk berdiri dan gigi terasa ngiluβmulai merayap keluar dari pengeras suara kokpit.
Elian yang tadinya sedang selonjoran sant** langsung menegakkan punggung. "Aura? Lo lagi masang efek suara bioskop? Gak usah sok-sokan bikin atmosfer horor deh, suasana di luar udah mirip tempat pembuangan jin begini."
"Bukan saya, Elian," sahut Aura. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada nada sarkasme dalam suaranya. "Sensor eksternal menangkap fluktuasi elektromagnetik yang sangat tidak biasa. Mengisolasi frekuensi... Ini adalah sinyal ultra-low frequency (ULF). Sangat rendah, hampir tidak terdeteksi oleh sistem standar jika kita tidak sedang diam di tempat."
"Sinyal? Di tengah kuburan rongsokan ini?" Elian mengerutkan kening. Tangannya mulai lincah menari di atas keyboard fisik di konsol tengah, mematikan fungsi hiburan dan mengalihkan seluruh daya ke antena penerima. "Palingan juga sisa-sisa transmisi dari satelit kuno yang tangki bahan bakarnya bocor. Sering kan kayak gitu?"
"Tidak. Sinyal ini aktif. Dan polanya... terarah langsung ke kapal kita."
Dengung statis di pengeras suara semakin keras, berubah menjadi suara desis seperti pasir yang diseret di atas lant** semen. Elian menahan napas. Di tengah-tengah desis liar itu, sebuah gelombang suara mulai terbentuk. Nada suaranya naik-turun, tidak stabil, terpotong-potong oleh interferensi kosmik, namun perlahan-lahan mengkristal menjadi sebuah artikulasi yang sangat jelas.
*"P... pa... Papa...?"*
Elian membeku. Tangannya yang baru saja hendak menekan tombol kalib**si radar mendadak kaku di udara, gemetar hebat. Seluruh sel di tubuhnya seolah berhenti berfungsi. Dingin yang menjalar dari ujung jari kakinya langsung naik ke dada, mencengkeram jantungnya hingga dia lupa caranya bernapas.
Suara itu.
Suara seorang anak perempuan berumur sekitar delapan tahun. Nada suaranya bergetar, ketakutan, dan terdengar sangat kesepian.
*"Papa... dingin... Gelap banget di sini... Papa di mana?"*
"Li... Lily...?" bisik Elian. Suaranya nyaris tidak keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering kerontang. Matanya melebar, menatap kosong ke arah visualisator gelombang suara di layar utama yang kini melonjak-lonjak membentuk grafik yang tidak beraturan.
Itu suara Lily. Lily-nya yang ceria. Lily yang selalu menyambutnya di pintu hanggar setiap kali dia pulang dari misi navigasi panjang. Lily yang... sudah meninggal lima tahun lalu dalam kecelakaan fatal di stasiun transit Sektor 4.
"Elian, detak jantung Anda melonjak hingga seratus empat puluh kali per menit. Tekanan darah Andaβ"
"Aura, diem!" bentak Elian, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan pada AI-nya. Napasnya memburu. "Putar ulang suara tadi. Bersihkan noise-nya. Sekarang!"
*"Papa... ada... ada orang di luar pintu... Dia bawa... paket..."* Suara bocah itu kembali terdengar, kali ini diikuti oleh suara ketukan perlahan yang terdengar sangat nyata. *Tok... tok... tok...* di sela-sela desis statis. *"Katanya... paket buat Papa..."*
Elian mencengkeram rambutnya dengan kedua tangan. Kepalanya pusing luar biasa. Logika dan emosinya bertab**kan seperti dua asteroid raksasa yang hancur berkeping-keping. Ini tidak mungkin. Lily sudah tidak ada. Dia sendiri yang menghadiri upacara kremasinya di Mars. Dia sendiri yang melarung abunya ke sabuk asteroid fajar.
"Oke, oke, bentar. Ini pasti prank," kata Elian, suaranya naik satu oktav, mencoba tertawa meskipun terdengar sangat hancur dan dipaksakan. Dia memaksakan dirinya untuk kembali ke mode 'sant**' yang biasa dia gunakan sebagai tameng pelindung diri. "Sumpah, ini gak lucu. Siapa nih? Alien tetangga sebelah? Alien dari peradaban Alpha Centauri yang iseng? Woi! Kalau mau nge-prank, minimal riset dulu kek! Masa bawa-bawa kurir paket segala? Emangnya Go-Send nyampe ke Nebula Somnia?!"
Dia menunjuk-nunjuk ke arah jendela kokpit yang gelap gulita, seolah-olah ada orang yang sedang menertawakannya di luar sana.
"Halo? Siapa di sana? Ada paket? Kalau ini kiriman paket salah alamat, gue gak mau bayar COD ya! Tolong dibalikin ke pengirimnya aja!" teriak Elian ke arah mikrofon konsol, dadanya naik-turun, mencoba menepis rasa takut dan rindu yang bercampur aduk menjadi satu rasa sakit yang tak tertahankan.
"Elian, tenanglah," suara Aura kembali terdengar, kali ini dengan frekuensi yang sengaja dirancang untuk menenangkan saraf manusia. "Saya telah menyelesaikan analisis spektral terhadap sinyal tersebut. Ini bukan lelucon. Dan ini... sangat aneh."
Elian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di tangannya. Dia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap layar holografik yang disajikan Aura. "Aneh gimana? Lo mau bilang itu beneran hantu anak gue yang gentayangan di luar angkasa? Aura, lo itu program komputer berharga miliaran kredit, jangan ikutan b*** dong."
"Secara matematis, prob***litas hantu itu nol koma nol persen," jelas Aura, menampilkan grafik frekuensi yang rumit. "Namun, perhatikan ini. Sinyal suara yang baru saja kita dengar tidak dipancarkan dari pemancar radio, satelit, atau kapal lain. Tidak ada jejak termal atau aktivitas mesin di sekitar kita dalam radius sepuluh satuan astronomi."
"Terus? Itu suara dari mana? Masa setelannya dari radio gaib?"
"Sinyal itu dihasilkan langsung dari interaksi atomik di dalam Nebula Somnia," jawab Aura serius. Di layar, gambar simulasi awan gas nebula yang berwarna abu-abu kusam itu tampak berputar. "Partikel gas di luar sana mengalami polarisasi instan yang meniru gelombang suara manusia. Sederhananya, nebula ini sendiri yang sedang memancarkan suara tersebut."
Elian mengernyitkan dahi. "Bentar, maksud lo... awan gas rongsokan di luar sana lagi ngomong sama gue? Pake suara anak gue?"
"Tepatnya, nebula ini tampaknya sedang merekonstruksi memori Anda," sahut Aura datar. "Sinyal suara tersebut memiliki struktur data akustik yang identik dengan rekaman suara Lily Vance yang tersimpan di dalam memori lokal komputer kapal *Aetheris*βmemori pribadi yang Anda kunci di folder tersembunyi berlabel 'Jangan Dibuka'."
Mendengar itu, Elian langsung terdiam. Wajahnya yang tadi sempat memerah karena panik kini berubah pucat. "Dia... membaca memori kapal gue?"
"Atau membaca pikiran Anda langsung saat kita melewati batas medan magnet sektor ini," tambah Aura. "Nebula Somnia terkenal dengan fenomena anomali kognitifnya. Beberapa laporan navigasi kuno menyebutkan tentang 'pangg***n pulang' yang sering didengar oleh para kru kapal yang tersesat. Tapi federasi selalu menganggapnya sebagai halusinasi akibat terlalu lama menghirup oksigen daur ulang."
"Tapi ini bukan halusinasi, Aura. Lo juga mendengarnya. Sensor lo merekamnya!" cetus Elian, suaranya bergetar lagi.
"Ya. Dan itu yang membuat ini menjadi sangat berbahaya," kata Aura. Tiba-tiba, sebuah titik merah berkedip di radar tak jauh dari posisi *Aetheris* terparkir. "Sesuatu baru saja muncul di radar jarak dekat kita, Elian. Tepat di koordinat arah jam dua belas."
Elian refleks menatap lurus ke depan, ke balik kaca kokpit transparan.
Di antara kabut abu-abu kusam yang berputar lambat, di antara puing-puing asteroid dan sampah satelit mati, ada sesuatu yang melayang perlahan mendekati hidung kapal mereka. Ukurannya kecil, tidak lebih besar dari sebuah kotak kargo standar.
Benda itu berwarna hitam legam, berbentuk kubus sempurna tanpa ada satu pun lampu indikator atau logo manufaktur yang menempel. Benda itu melayang diam, seolah-olah sengaja diletakkan di sana agar mereka bisa melihatnya.
Dengung statis di pengeras suara kembali terdengar, kali ini jauh lebih lirih, namun sangat jelas mengirimkan satu kalimat terakhir sebelum sinyalnya benar-benar putus:
*"Paketnya... sudah sampai, Papa..."*
Elian menatap kubus hitam di luar sana dengan perasaan campur aduk. Di dalam dadanya, rasa takut yang luar biasa kini bertarung dengan rasa penasaran yang amat sangat dalam. Siapa yang mengirim benda itu? Dan mengapa Nebula Somnia ini tahu persis cara untuk membuatnya tidak bisa berpaling?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!