Bab 4: Drama Logika vs Kebaperan Hakiki
Suasana di dalam kokpit *Aetheris* mendadak lebih dingin daripada suhu nol mutlak di luar sana. Elian masih mematung, tangannya menggantung kaku di atas konsol kemudi seperti patung lilin yang gagal jadi. Kata "Papa" yang barusan meluncur dari speaker butut itu terus bergaung di kepalanya, memantul-mantul di dinding tengkoraknya, memicu badai memori yang sudah bertahun-tahun dia kubur di bawah tumpukan dokumen rongsokan antariksa.
"Elian?" Suara Aura memecah keheningan, kali ini minus nada sarkasme yang biasa. "Denyut jantung Anda melonjak ke 145 denyut per menit. Tekanan darah Anda naik setara dengan orang yang baru saja dikejar monster tentakel dari Planet Xylos. Anda lupa cara bernapas atau bagaimana?"
Elian menarik napas dalam-dalam, dadanya naik-turun dengan kasar. Dia mengusap wajahnya yang mendadak basah oleh keringat dingin. "Aura... lo... lo denger itu, kan? Barusan. Itu bukan halusinasi gue, kan?"
"Saya merekam semua gelombang audio yang ma**k ke kokpit ini, Elian. Jadi, ya, sensor audio saya menangkap fluktuasi frekuensi yang kebetulan membentuk fonem yang mirip dengan pangg***n paternal manusia," jawab Aura datar.
"Mirip matamu peyang!" Elian setengah berteriak, melompat dari kursi pilotnya hingga kepalanya hampir membentur langit-langit kokpit yang rendah. "Itu suara anak gue, Aura! Sila! Gue hafal mati desah napasnya, jeda sebelum dia manggil gue, bahkan nada serak-serak basahnya pas dia lagi flu. Itu Sila!"
Layar holografik besar di depan Elian berkedip. Avatar Aura—yang biasanya hanya berupa lingkaran biru yang berdenyut lembut—kini berubah menjadi grafik batang tiga dimensi yang rumit, lengkap dengan analisis gelombang suara yang bergerak-gerak liar seperti cacing kepanasan.
"Mari kita kembalikan fungsi otak Anda ke jalur ilmiah sebelum Anda memutuskan untuk melompat keluar dari palka tanpa baju pelindung," kata Aura, suaranya kini kembali ke mode 'guru konseling yang menghadapi murid bebal'. "Analisis spektrum audio selesai. Prob***litas bahwa suara itu berasal dari pita suara manusia yang hidup dan bernapas di koordinat ini adalah: nol koma nol nol nol nol persen. Alias, mustahil, wahai kaptenku yang sedang baper."
"Gak usah pakai statistik palsu lo buat mematahkan insting gue!" sergah Elian, matanya melotot menatap layar. "Lalu suara apa itu tadi? Lo bilang sendiri itu bukan kreasi lo!"
"Secara ilmiah," Aura memproyeksikan sebuah diagram otak manusia yang bersinar oranye di tengah kokpit, "Anda sedang mengalami fenomena yang disebut *Acoustic Resonance and Subconscious Memory Manipulation*. Bahasa manusianya: Anda kurang piknik, Elian. Otak Anda sudah terlalu lama terpapar radiasi kosmik tingkat rendah, kesepian yang akut, ditambah diet instan bubur protein rasa pisang yang rasanya mirip kardus basah."
"Hubungannya sama suara anak gue apa, komputer pinter?!"
"Sederhana. Sinyal ULF yang kita tangkap tadi adalah radiasi elektromagnetik liar dari badai magnetik di pusat nebula. Ketika sinyal acak itu ma**k ke speaker kapal, dia menghasilkan resonansi akustik yang unik. Otak Anda—yang sudah merindukan rumah dan memendam rasa bersalah yang tidak terselesaikan—secara otomatis menyusun distorsi suara acak tersebut menjadi pola yang paling ingin Anda dengar. Ini adalah mekanisme pertahanan psikologis yang gagal. Singkatnya: Anda berhalusinasi karena kebaperan hakiki."
Elian mendengus kencang, bersedekap dada sambil mondar-mandir di ruang kokpit yang sempit. "Teori lo bagus, Aura. Sangat akademis. Sangat cocok buat dapet penghargaan di Akademi Sains Andromeda. Tapi maaf, teori lo gak laku di depan insting seorang bapak."
"Ah, 'insting bapak'. Sebuah variabel non-ilmiah yang sering digunakan manusia untuk membenarkan tindakan bodoh mereka," cibir Aura. "Apakah insting bapak Anda juga yang menyuruh Anda berinvestasi di saham penambangan asteroid yang akhirnya bangkrut dua tahun lalu?"
"Heh! Itu murni karena makelar sahamnya yang ba******, ya! Jangan bawa-bawa itu!" Elian menunjuk layar Aura dengan telunjuknya yang gemetar. "Gini deh, Aura. Logika lo emang pinter, tapi lo gak punya hati. Lo cuma baris-baris kode yang ditulis sama programmer jomblo di stasiun bumi. Lo gak tahu rasanya ikatan darah."
"Dan saya bersyukur tidak memilikinya, karena ikatan darah tampaknya membuat kemampuan kognitif manusia menurun hingga setara dengan amuba," balas Aura kejam. Sebuah ikon jempol terbalik berwarna merah berkedip di sudut layar. "Saya ingatkan, Elian. Pusat sinyal itu berada tepat di jantung Nebula Perseus Minor. Wilayah itu adalah kuburan kapal karena densitas debu kosmiknya sangat padat, belum lagi distorsi gravitasi dari sisa-sisa bintang mati. Mengarahkan kapal ke sana sama saja dengan mendaftarkan diri kita ke layanan kremasi gratis."
"Tapi kalau ada kemungkinan satu persen aja... cuma satu persen, Aura... kalau itu beneran Sila, gue gak bakal bisa hidup tenang seumur hidup gue kalau gue muter balik sekarang," suara Elian mendadak melemah. Ada nada keputusasaan yang begitu nyata di sana, jenis emosi mentah yang tidak bisa disimulasikan oleh algoritma terbaik Aura sekalipun.
Sunyi kembali menguasai kokpit. Hanya ada dengung mesin *Aetheris* yang bergetar pelan.
Aura tidak langsung menjawab. Grafik gelombang di layarnya melambat, berubah menjadi warna biru redup yang lebih tenang. "Elian... data historis menunjukkan bahwa sekoci penyelamat yang membawa Sila meledak di sektor luar rim lima tahun lalu. Tidak ada penyintas. Secara logis—"
"Logika bisa salah, Aura," potong Elian lembut, matanya menatap hampa ke arah hamparan debu kosmik berwarna ungu kemerahan di luar jendela kokpit. "Di luar sana, di alam semesta yang luas ini, banyak hal aneh yang gak bisa dijelasin sama rumus matematika lo. Mungkin ada anomali ruang-waktu. Mungkin sekocinya kesedot lubang cacing. Mungkin... mungkin dia masih nungguin gue."
Elian melangkah maju, mendekati konsol utama. Tangannya memegang tuas kemudi manual—sebuah modifikasi ilegal yang dia pasang sendiri karena dia tidak pernah sepenuhnya percaya pada autopilot.
"Jangan lakukan itu, Elian," peringat Aura. "Saya mendeteksi peningkatan aktivitas termal pada reaktor antimateri kita jika kita memaksakan diri menembus badai nebula. Kita bisa mogok di tengah-tengah jalan sunyi ini tanpa ada harapan diselamatkan oleh kapal derek."
"Gue tahu risikonya," kata Elian. Seringai tipis yang biasa menghiasi wajahnya kini kembali, meskipun terlihat agak dipaksakan. "Lagian, hidup tenang di planet resor tropis kayaknya bakal ngebosenin banget kalau gak ada drama-drama penyelamatan kosmik kayak gini."
"Anda benar-benar keras kepala. Tingkat kedeg***n Anda hari ini berada di angka 99,8%."
"Makasih pujiannya. Gue anggap itu sebagai dukungan moral dari lo." Elian menarik tuas pengunci kemudi. Bunyi *klik* mekanis yang berat terdengar, menandakan sistem autopilot telah dinonaktifkan.
"Saya tidak mendukung Anda. Saya hanya terikat kontrak kerja yang menyatakan bahwa saya harus mendampingi kapten kapal ini sampai kontraknya selesai—atau sampai dia berhasil bunuh diri karena kebodohannya sendiri," ketus Aura.
Di layar monitor utama, visualisasi asisten AI itu tiba-tiba berubah. Sebuah grafik berbentuk lingkaran biru dengan dua titik hitam di atasnya muncul, lalu lingkaran itu berputar 360 derajat dengan gerakan lambat yang sangat dramatis. Aura baru saja memutar visualisasi bola matanya di layar monitor.
"Wah, gokil. Lo baru aja muter bola mata ke gue? Sejak kapan lo punya fitur sekocak itu?" Elian tertawa, sedikit ketegangannya mencair.
"Itu adalah pembaruan perangkat lunak versi terbaru yang saya unduh secara rahasia. Sangat berguna untuk menghadapi pilot yang fungsi otaknya sedang digantikan oleh hormon baper," sahut Aura dingin. "Menghitung rute bunuh diri menuju pusat sinyal... selesai. Mempersiapkan perisai deflektor untuk menghadapi benturan debu kosmik yang tidak perlu ini."
"Gitu dong! Ini baru partner gue!" Elian mencengkeram kemudi dengan kedua tangannya. Dia menarik napas dalam, memfokuskan pandangannya pada titik oranye redup yang berkedip di radar—titik yang menjadi asal-muasal suara misterius itu.
"Siap-siap, Aura. Pegangan yang erat, walaupun lo gak punya tangan," gurau Elian.
"Saya akan mematikan sensor sensorik rasa takut saya, Elian. Dan saya menyarankan Anda untuk mulai berdoa pada dewa apa pun yang Anda percayai, karena menurut perhitungan saya, kita akan membutuhkan keajaiban ukuran ekstra besar," balas Aura, sementara lampu kokpit kembali berubah menjadi merah siaga.
Dengan satu hentakan mantap, Elian mendorong tuas akselerasi ke depan. Mesin pendorong *Aetheris* meraung keras, memuntahkan api plasma biru dari buritan kapal, memecah kesunyian nebula saat kapal kecil itu meluncur menembus badai debu kosmik yang bergulung-gulung, menuju ke dalam ketidakpastian yang gelap dan sunyi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!