Bab 5: Nostalgia Rasa Halusinasi
Jika ada satu hal yang paling Elian benci dari luar angkasa, itu adalah selera estetika alam semesta yang kadang kelewat norak.
Saat kapal *Aetheris* meluncur lebih dalam ke jantung Nebula Serpens, pemandangan di balik kaca kokpit mendadak berubah menjadi panggung disko tahun 80-an yang gagal total. Gas hidrogen dan helium di sekitar mereka berpendar dalam warna merah jambu menyala, ungu janda, dan hijau stabilo yang saling tab**k lari. Sungguh sebuah polusi visual tingkat galaksi.
"Aura, matiin layar depan atau gue bakal muntah bubur protein rasa pisang ini ke atas konsol kemudi," keluh Elian sambil menutup matanya dengan satu tangan. Tangan satunya lagi masih memegang tuas kemudi manual dengan malas.
"Sensor optik saya mendeteksi peningkatan kadar estetika sebesar delapan ratus persen, Elian. Namun, jika Anda lebih memilih kegelapan absolut yang sesuai dengan jiwa melankolis Anda, saya bisa meredupkan layarnya," sahut Aura. Suara sang AI terdengar agak kresek-kresek, terdistorsi oleh badai elektromagnetik dari nebula di luar.
"Ini bukan melankolis, Aura. Ini norak. Siapa pun Tuhan yang menciptakan nebula ini pasti sedang mabuk anggur kosmik saat memilih palet warna."
Elian menghela napas, mencoba mengabaikan denyut di pelipisnya. Sisa-sisa rekaman suara "Sila" dari babak drama sebelumnya masih menyisakan gema aneh di kepalanya. Dia butuh kopi. Atau alkohol berkadar tinggi yang bisa membakar sel-sel otaknya yang terlalu aktif berfantasi.
Dia bangkit dari kursi pilot, mengabaikan protes Aura tentang "protokol keselamatan navigasi dalam zona radiasi tinggi", lalu melangkah gont** menuju ruang mesin di bagian belakang kapal. Lorong *Aetheris* yang sempit terasa berayun lembut, efek samping dari medan gravitasi nebula yang tidak stabil.
Begitu Elian menggeser pintu hidrolik ruang mesin yang berdecitβkarena dia belum sempat meminyakinya selama tiga bulanβlangkahnya mendadak terhenti.
Di sana, di antara pipa-pipa pembuangan plasma yang bergetar hangat dan tumpukan kotak perkakas yang berantakan, ada tiga orang yang sangat dia kenal sedang nongkrong sant**.
"G***, El, lo lama banget sih? Ini kopi keburu dingin," celetuk B**m.
B**m, kepala mekanik berbadan seperti beruang kutub dengan tato jangkar kapal kuno di lengan kanannya, sedang duduk sant** di atas generator cadangan. Di sebelahnya ada Shanti, sang ahli astrofisika bertubuh mungil yang selalu memakai kacamata berbingkai bulat besar, sedang asyik mengunyah apa yang tampak seperti keripik singkong dari bumi. Dan di sudut, bersandar pada tabung radiator, ada Jojo, navigator cadangan yang tewas paling pertama saat tragedi Gerbang Orion tiga tahun lalu.
Mereka semua memakai seragam dinas lama mereka. Bersih, tanpa noda darah, tanpa robekan akibat dekompresi ruang hampa yang Elian saksikan sendiri saat itu.
Elian berkedip tiga kali. Dia menampar pipinya sendiri sampai berbunyi *plak* yang c**up keras.
B**m masih di sana, malah terkekeh melihat tingkah Elian. "Kenapa lo? Kesurupan s**** nebula?"
"Oke," Elian bergumam pada diri sendiri, suaranya tenang tapi agak gemetar. "Ini radiasi gamma tingkat sedang. Otak gue sedang memproyeksikan memori jangka panjang untuk mengisi kekosongan stimulasi sensorik. Klasik. Sangat klasik."
"Sains mulu lo, kayak Shanti," cibir Jojo dari sudut, melemparkan sebuah mur logam ke arah Elian.
Anehnya, dalam pandangan Elian, mur itu melayang dan memantul di dadanya sebelum jatuh ke lant** besi dengan bunyi dentang yang nyata. Otak Elian benar-benar melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam memalsukan realitas.
"B**m," panggil Elian, melangkah mendekat dan dengan sant** duduk di atas kotak perkakas kosong di seberang mereka. "Lo tahu gak kalau lo semua udah mati?"
"Tahu," jawab B**m enteng sambil menyodorkan sebuah cangkir mug seng usang berisi cairan hitam pekat yang mengepulkan asap beraroma Toraja Arabika. "Tapi kan mumpung kita lagi reuni, gak usah bahas yang sedih-sedih. Nih, minum. Gratis, gak pakai motong jatah logistik."
Elian menerima cangkir imajiner itu. Tangannya merasakan kehangatan porselen yang sangat meyakinkan, meskipun dia tahu telapak tangannya sebenarnya hanya menggenggam udara kosong. Dia menyesapnya. Rasa pahit, asam khas kopi, dan aroma gosongnya langsung memenuhi indra pengecapnya. Efek plasebo dari halusinasi ini benar-benar bintang lima.
"Kalian tahu gak," Elian memulai curhatnya, mengabaikan fakta bahwa dia sedang mengobrol dengan hantu-hantu ciptaan radiasi di ruang mesin yang pengap. "Hidup setelah kalian gak ada itu... ampas banget. Terutama soal finansial."
Shanti mendengus, membenarkan posisi kacamatanya yang melorot. "Masa sih? Bukannya lo dapet uang santunan a**ransi dari konsorsium?"
"Santunan pala lo peyang!" umpat Elian emosional. "Uang santunannya habis dipotong pajak birokrasi, biaya sewa hanggar di Stasiun Sektor 7, sama biaya servis pendorong utama *Aetheris* yang rewelnya melebihi pacar posesif. Lo tahu berapa harga paking silinder antimateri sekarang?"
B**m mengernyitkan dahi tebalnya, tampak tertarik. "Berapa emangnya? Zaman gue dulu cuma lima puluh kredit dapet tiga pasang."
"Tiga ribu kredit, B**m! Tiga! Ribu!" Elian berteriak, mengacungkan tiga jarinya ke depan wajah B**m yang transparan. "Itu pun barang tiruan buatan sistem bintang sebelah yang kalau dipasang sering bikin mesin batuk-batuk kayak kakek-kakek kena TBC. Kemarin gue tawar dua ribu delapan ratus, tengkulaknya malah ngat**n gue miskin lewat saluran komunikasi nirkabel. Si**** banget."
"Wah, parah sih," Jojo menimpali, menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. "Harusnya lo rampok aja depo logistik di Sektor 9. Kan gue udah pernah ajarin cara nge-hack proteksi pintunya."
"Gue ini penyelamat rongsokan terhormat, Jo. Bukan bajak laut," sahut Elian pamer, walau sebenarnya dia pernah memikirkan ide itu setidaknya tiga kali seminggu.
Sementara Elian sedang asyik berdiskusi tentang inflasi harga suku cadang cadangan dengan tiga hantu masa lalunya, di kokpit, suasana justru mendekati level siaga satu.
"Elian!" Suara Aura menggelegar dari interkom ruang mesin, memecah kehangatan reuni imajiner tersebut. "Bisa tolong jelaskan mengapa sensor biometrik Anda mendeteksi bahwa Anda sedang berjongkok di sudut ruang mesin, memegang cangkir kosong, dan berbicara dengan tangki pembuangan oli bekas dengan nada sangat emosional?"
Elian mendesah kesal. Dia menatap B**m, Shanti, dan Jojo yang tampak menahan tawa. "Biasa, asisten rumah tangga gue yang bawel mulai lagi," bisik Elian pada mereka.
"Saya mendengar itu, Elian," potong Aura tajam. "Dan saya bukan asisten rumah tangga. Saya adalah sistem kecerdasan buatan kelas militer yang saat ini sedang berusaha setengah mati mencegah kita berdua menab**k asteroid berlapis kristal padat di luar sana! Indeks pembiasan cahaya di nebula ini membuat sensor navigasi saya mengalami disorientasi parah. Saya butuh kalib**si manual dari pilot manusia saya yangβsayangnyaβsaat ini sedang menderita skizofrenia temporer."
Elian berdiri dari kotak perkakas, menaruh cangkir kopi imajinernya di atas generator (yang sebenarnya hanya udara kosong, membuat cangkir itu "lenyap" dari pandangannya begitu dilepaskan).
"B**m, Shanti, Jo. Gue harus kerja dulu. Aura kalau udah ngomel bisa bikin speaker kokpit jebol," kata Elian berpamitan.
"Sant**, El. Selesaikan urusan lo. Kita bakal tetap di sini kok," kata B**m sambil menepuk bahu Elian. Elian merasakan sensasi dingin yang menggelitik di bahunya, seolah-olah ada angin es yang berembus melewatinya.
"Jangan lupa beli paking yang asli, El. Yang palsu rawan bikin kita meledak lagi," tambah Shanti dengan senyum tipis yang mendadak membuat dada Elian terasa sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. *Meledak lagi.* Kalimat itu seperti pisau yang mengiris halus kesadarannya.
Elian berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang mesin sebelum halusinasi itu berubah menjadi mimpi buruk yang penuh dengan api dan pecahan kaca.
Begitu kembali ke kokpit, lampu-lampu indikator berwarna merah berkedip-kedip seirama dengan kepalanya yang pening. Layar holografik Aura menampilkan ribuan baris kode galat yang berjalan cepat seperti air terjun digital.
"Selamat kembali ke dunia nyata, Kapten," sambut Aura dengan nada sarkastik yang kental. "Bagaimana reuni dengan klub minum kopi imajiner Anda? Apakah mereka mengirimkan salam untuk saya?"
"Mereka bilang lo harusnya ganti suara pakai filter yang lebih s****, Aura. Suara lo sekarang mirip mesin kasir rusak," balas Elian, menjatuhkan dirinya ke kursi pilot dan langsung menyambar keyboard fisik di bawah konsol. Jarinya menari dengan cepat, mema**kkan koordinat koreksi untuk menyelaraskan gyro-kompas kapal dengan medan magnet nebula.
"Saran ditolak. Suara saya didesain untuk merangsang kewaspadaan kognitif Anda. Terbukti berhasil menghentikan sesi curhat Anda tentang harga suku cadang dengan tangki oli," sahut Aura tenang. "Sekarang, miringkan kapal lima belas derajat ke kanan. Ada fluktuasi energi tinggi tepat di depan kita."
"Gue tahu, gue tahu," gumam Elian. Tangannya menarik tuas kemudi, membuat *Aetheris* berguling anggun di antara awan gas merah jambu yang berpendar norak.
Meskipun matanya fokus pada layar navigasi yang rumit, di sudut hatinya yang paling sunyi, Elian berharap radiasi nebula ini bertahan sedikit lebih lama. Setidaknya, sampai dia bisa menyelesaikan secangkir kopi imajiner keduanya bersama B**m.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!