Belum sempat Elian menanggapi seringai B**m yang terasa teramat nyata itu, alam semesta mendadak memutuskan bahwa sesi nostalgia melankolisnya harus disudahi dengan cara yang paling tidak sopan.
*BUM!*
Bukan bunyi ledakan yang terdengar—karena ruang hampa udara tidak akan sudi merambatkan suara—melainkan sebuah hantaman kinetik dahsyat yang membuat seluruh struktur lambung kapal *Aetheris* bergetar hebat. Elian terlempar ke depan, wajahnya nyaris mencium lant** besi ruang mesin yang dingin sebelum dia sempat refleks berpegangan pada pipa radiator terdekat.
Seketika itu juga, tiga sosok di hadapannya—B**m, Shanti, dan Jojo—berkedip-kedip tidak stabil seperti proyeksi hologram rusak dari proyektor murah, sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan partikel cahaya hijau yang lenyap tak berbekas.
"Si****, halusinasinya bubar jalan sebelum gue sempat nanya kabar," umpat Elian, buru-buru bangkit sambil mengusap lututnya yang membentur sudut kotak perkakas.
Lampu utama ruang mesin mendadak mati. Detik berikutnya, lampu darurat menyala, tetapi tidak dalam warna merah solid yang biasa menandakan bahaya. Berkat modifikasi kabel sistem kelistrikan sekunder yang pernah Elian kerjakan secara asal-asalan saat sedang malas, lampu-lampu di sepanjang lorong kini berkedip-kedip cepat dalam kombinasi warna merah, biru, kuning, dan hijau neon.
"Aura! Ini apaan?! Kita lagi diserang alien penganut aliran EDM atau gimana?!" teriak Elian panik, setengah berlari menyusuri lorong kapal yang kini miring tiga puluh derajat.
"Negatif, Elian," suara Aura terdengar dari pelantang suara di dinding, terputus-putus oleh distorsi statis yang parah. *“K-k-kita baru saja... rrr... disenggol secara tidak hormat oleh badai ion berkecepatan tinggi. Dan demi estetika yang Anda benci tadi, sistem kelistrikan kita kini memutuskan untuk beralih ke mode disko darurat.”*
"Gak usah bercanda, Aura! Gue pusing!"
"Saya tidak bercanda. Sensor navigasi saya mendeteksi bahwa badai ion ini juga membawa 'oleh-oleh' berupa sabuk asteroid mini yang bermuatan listrik statis. Mereka bergerak ke arah kita seperti anak-anak tawuran yang melempar batu tawuran secara acak."
Elian melompati tumpukan kabel yang melintang di koridor dan praktis meluncur ma**k ke ruang kokpit. Pemandangan di balik kaca depan benar-benar seperti mimpi buruk seorang penderita epilepsi. Nebula Serpens yang tadinya hanya berpendar norak, kini tampak bergulung-gulung liar seperti ombak samudra murka, diselingi jilatan petir-petir plasma berwarna ungu kebiruan yang menyambar-nyambar lambung kapal.
Dan di depan sana, puluhan batu asteroid seukuran mobil hingga rumah tipe 36 melayang-layang tak beraturan, berputar-putar seperti gasing rusak akibat pengaruh medan magnetik badai.
Elian langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi pilot, menarik sabuk pengaman empat titik yang langsung mengunci otomatis dengan bunyi *klik* yang keras. Tangannya langsung menyambar tuas kendali manual. "Aura, autopilot mati?!"
*"Sistem autopilot telah mengambil pensiun dini sejak tiga puluh detik yang lalu demi keselamatan kesehatan mentalnya sendiri, Elian. Saat ini, kemudi sepenuhnya berada di tangan Anda yang gemetaran itu."*
"Gue gak gemetaran, ini efek getaran kapal, b***!" bantah Elian defensif, meski keringat dingin sudah mulai bercucuran dari pelipisnya. Dia mencengkeram tuas kendali ganda erat-erat. Layar monitor di depannya berkedip-kedip liar, menampilkan angka-angka telemetri yang melompat naik-turun seperti grafik detak jantung orang yang sedang serangan jantung.
Sebuah batu asteroid raksasa tiba-tiba muncul dari balik kabut gas ungu, meluncur tepat ke arah hidung *Aetheris*.
"Aura! Kalkulasi jalur menghindar!" teriak Elian histeris.
*"Kalkulasi selesai. Jika Anda berbelok ke kanan, kita akan menab**k asteroid bermuatan ion positif. Jika Anda berbelok ke kiri, kita akan disambut oleh asteroid bermuatan ion negatif yang akan membuat sistem navigasi Anda mogok selamanya. Peluang kita untuk meledak berkeping-keping dalam skenario ini adalah delapan puluh delapan persen."*
"Sisa dua belas persennya ke mana?!" Elian membanting setir ke kiri, lalu memutar tuas pendorong lateral seketika.
*"Sisa dua belas persennya adalah keajaiban teologis yang sangat saya ragukan keberadaannya di sektor ini,"* jawab Aura datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh guncangan hebat yang membuat tubuh Elian memantul-mantul di kursi pilot.
"Oke, kalau gitu kita pakai cara g***!" Elian menyeringai panik, senyum khas orang yang sudah terlalu lelah untuk takut mati. Dia menekan tombol pembatas daya pendorong lateral, menonaktifkan sistem stabilisasi inersia yang biasanya menjaga kapal tetap meluncur lurus.
*"Elian, apa yang Anda lakukan? Menonaktifkan stabilisasi inersia di tengah badai ion adalah tindakan yang secara ilmiah dikategorikan sebagai 'mencari mati dengan gaya'."*
"Ini namanya *nge-drift*, Aura! Lo gak bakal paham seni berkendara anak jalanan Bumi!"
Elian menarik tuas rem tangan magnetik—sebuah fitur kuno yang dia pasang sendiri hanya karena dia pikir itu terlihat keren—dan memutar kemudi seratus delapan puluh derajat ke kanan, sembari menginjak pedal pendorong pakan belakang secara penuh.
Kapal *Aetheris*, yang sejatinya adalah kapal kargo tua bermesin berat dan sama sekali tidak aerodinamis (atau dalam hal ini, *spasi-dinamis*), berputar secara ekstrem. Bagian belakang kapal terayun kencang, menghasilkan gaya sentrifugal yang sangat kuat hingga membuat pandangan Elian mendadak menjadi agak gelap di bagian tepi. Lambung kapal menjerit keras, gesekan antara gaya dorong pendorong dan medan magnetik luar angkasa menciptakan suara dengungan frekuensi tinggi yang m****akkan telinga.
*SREEEET!*
Kapal mereka meluncur menyamping, melewati celah sempit di antara dua asteroid raksasa yang saling bertubrukan hanya beberapa meter di belakang pantat *Aetheris*. Percikan api plasma merah menyambar kaca kokpit, menerangi wajah Elian yang sedang berteriak seperti orang kesurupan.
"YHAOOOO! LIHAT ITU, AURA! GUE ADALAH RAJA JALANAN NEBULA!" teriak Elian dengan tawa histeris yang terdengar agak kurang sehat bagi kewarasannya.
*"Manuver yang mengesankan, Elian. Namun, kesenangan Anda mungkin harus ditunda karena asteroid seukuran stadion sepak bola baru saja muncul tepat di jalur luncuran menyamping kita. Peluang hidup kita kini menurun drastis ke angka satu koma empat persen."*
"SATU KOMA EMPAT PERSEN?! YANG BENER AJALAH!" Elian melotot melihat bongkahan batu hitam raksasa yang permukaannya diselimuti petir ungu, kini memenuhi seluruh jarak pandang di depan kaca kokpit. Jarak mereka kurang dari lima ratus meter dan terus menyusut.
*"Saya selalu berkata jujur, Elian. Rekomendasi saya saat ini: silakan ucapkan kata-kata terakhir Anda dalam waktu empat detik. Saya akan menyimpannya dalam memori hitam kapal agar bisa ditemukan oleh pemulung angkasa di masa depan."*
"Kata-kata terakhir gue: AURA, LO ADALAH AI PALING KURANG AJAR SE-GALAKSI!"
*"Tercatat dengan sangat rapi. Terima kasih atas testimoninya."*
Dengan sisa-sisa tenaga dan adrenalin yang meledak-ledak di dalam darahnya, Elian tidak menyerah. Dia melepaskan tuas rem magnetik, membiarkan inersia kapal kembali normal secara mendadak, lalu menghantam tombol *overdrive* pada mesin pendorong utama. Ini adalah tindakan nekat karena mesin mereka sudah kepanasan akibat badai ion.
Mesin *Aetheris* meraung kencang. Getarannya begitu hebat hingga Elian merasa giginya seperti akan copot dari gusi. Kapal itu melesat maju, melakukan manuver menukik tajam ke bawah tepat di detik-detik terakhir sebelum mereka menab**k asteroid raksasa tersebut.
Bagian atas kapal *Aetheris* bergesekan langsung dengan bagian bawah asteroid. Suara logam berdecit keras bergema di seluruh ruangan saat antena sensor luar mereka patah dan hancur berantakan. Namun, kapal itu terus melaju, meluncur ke dalam kegelapan di bawah bayang-bayang batu raksasa tersebut, sebelum akhirnya keluar ke area yang lebih bersih di ujung badai ion.
Guncangan perlahan mereda. Lampu disko darurat di koridor akhirnya menyerah dan mati total, menyisakan lampu indikator kokpit yang berkedip lambat dalam warna hijau tenang.
Keheningan yang luar biasa langsung menyelimuti kokpit. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru napas Elian yang tersengal-sengal, berat dan cepat, seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran monster purba. Keringat membasahi seluruh kaus abu-abunya yang dekil.
Dia melepaskan cengkeramannya dari tuas kendali yang kini terasa sangat panas. Tangannya gemetar hebat, kali ini murni karena syok adrenalin.
"Kita... kita masih hidup?" bisik Elian, suaranya serak.
*"Secara ajaib, ya,"* sahut Aura. Suaranya kini kembali jernih, tanpa gangguan statis lagi. *"Persentase peluang bertahan hidup kita kini kembali ke angka sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Dan selamat, Elian, Anda baru saja memecahkan rekor sebagai navigator dengan tingkat keberuntungan paling tidak ma**k akal yang pernah tercatat dalam basis data saya."*
Elian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap langit-langit kokpit dengan pandangan kosong. Dia membiarkan tubuhnya rileks sejenak, merasakan detak jantungnya yang perlahan-lahan mulai melambat dari mode 'hampir mati' ke mode 'masih bernapas'.
"Gue butuh minum, Aura. Sumpah. Kalau ada alkohol yang bisa bikin gue lupa kejadian lima menit terakhir ini, gue bakal minum satu galon," gumam Elian lemas.
*"Sayangnya, persediaan alkohol kita telah habis Anda gunakan untuk membersihkan komponen filter udara bulan lalu. Namun, saya memiliki kabar baik."*
Elian memejamkan matanya. "Apa kabar baiknya? Jangan bilang lo nemu kafe kopi instan di tengah nebula ini."
*"Bukan. Kabar baiknya adalah, pembuat kopi otomatis di ruang rekreasi berhasil saya selamatkan dayanya selama manuver ekstrem tadi. Saya sengaja mematikan perisai sektor depan selama nol koma lima detik demi mengalihkan sisa energi listrik ke mesin kopi tersebut. Kopi hitam Anda sudah siap, hangat, dan siap disajikan."*
Elian membuka matanya, menatap konsol komunikasi di mana ikon wajah piksel Aura berkedip dengan ritme yang lambat dan seolah-olah... bangga.
Dia terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna fakta bahwa AI-nya baru saja mempertaruhkan nyawa mereka berdua demi secangkir kafein.
"Aura..."
*"Ya, Elian?"*
"Gue gak tahu harus terharu karena lo perhatian sama a**pan kafein gue, atau harus instal ulang seluruh sistem operasi lo pakai aplikasi kalkulator toko kelontong karena lo baru saja hampir bikin kita mati demi segelas kopi."
*"Saya menyarankan opsi pertama, Elian. Karena kalkulator toko kelontong tidak akan bisa memutar lagu disko darurat saat Anda hampir mati menab**k asteroid."*
Elian akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh. Tawa kecil yang kemudian berubah menjadi tawa lepas yang menggema di ruang kokpit yang sunyi. Dia melepas sabuk pengamannya, lalu berdiri dengan kaki yang masih agak lemas seperti jeli.
"Oke, lo menang. Ayo kita ambil kopi itu sebelum halusinasi B**m datang lagi dan minta bagian."
Dia melangkah keluar dari kokpit, meninggalkan konsol kemudi yang masih hangat, menuju ruang rekreasi yang gelap, ditemani oleh monolog sunyi dan suara dengung pelan dari kapal tuanya yang sekali lagi berhasil menipu kematian.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!