"...mati total, Elian! Silakan gunakan sisa-sisa tenaga maskulin Anda untuk mengendalikan kemudi manual sebelum kita semua berakhir menjadi dekorasi penyet di lambung asteroid!"
Suara Aura melengking di antara derit logam *Aetheris* yang berjuang keras melawan tarikan gravitasi tak beraturan. Elian tidak sempat membalas dengan sarkasme andalannya. Kedua tangannya langsung mencengkeram tuas kendali manual yang terasa sedingin es dan seberat dosa-dosa masa lalu.
"G***, ini setir atau masa depan? Berat banget!" umpat Elian, urat-urat di lehernya menegang saat ia memaksa *Aetheris* berbelok tajam ke kiri, menghindari sebuah batu luar angkasa seukuran rumah ruko yang melintas hanya beberapa meter dari kaca kokpit.
Namun, hantaman badai ion di luar sana rupanya tidak hanya mengacaukan mesin kapal. Radiasi elektromagnetik dosis tinggi itu menembus pelindung lambung, langsung menghantam cip saraf navigasi yang tertanam di pangkal tengkorak Elian. Cip itu mulai memanas, mengirimkan gelombang kejut listrik mikro yang langsung mengacaukan persepsi sensorik otaknya.
*BZZZZT.*
Pandangan Elian mendadak kabur. Warna-warni lampu disko darurat di kokpit perlahan memudar, meleleh, lalu menyusun kembali diri mereka menjadi pemandangan yang sama sekali berbeda. Bau oli terbakar dan udara pengap kabin *Aetheris* lenyap, digantikan oleh aroma disinfektan steril dan embusan udara dingin beraroma pinus sintetis.
Kokpit yang sempit itu melar, dinding-dinding besinya yang penuh coretan berubah menjadi koridor putih bersih berpola heksagonal dengan lant** polimer yang meng***t.
"Lho... kok gue balik ke Orion?" bisik Elian. Tangannya masih memegang tuas kendaliβyang kini dalam pandangannya berubah wujud menjadi besi pembatas koridor stasiun luar angkasa Orion-9.
"Elian?"
Suara itu lembut, sangat familier, dan seketika membuat jantung Elian berdegup dua kali lebih cepat.
Elian menoleh perlahan. Di ujung koridor bayangan itu, berdiri seorang wanita berambut cokelat sebahu yang dikuncir asal-asalan. Ia mengenakan baju montir khas kru teknis Orion, lengkap dengan noda pelumas hitam di pipi kirinya.
Sarah. Istrinya.
"Aduh, Gusti..." Elian mengusap matanya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap mencengkeram tuas kemudi tak kasat mata. "Kalau mau hantuin gue, minimal pakai resolusi 4K dong, Sayang. Ini kenapa muka kamu agak pecah-pecah kayak video YouTube kesendat sinyal Edge?"
Sarah tidak menjawab dengan logis. Wajahnya tersenyum manis, teramat manis, namun senyum itu tampak mengerikan karena sesekali berkedip-kedip tidak stabil. Garis-garis retakan hologram berwarna hijau neon menjalar di sepanjang leher hingga pipinya, seolah-olah dia adalah vas porselen retak yang dipaksakan berdiri.
"Kamu masih suka lupa matiin kompor sebelum terbang, ya?" tanya Sarah, suaranya terdengar ganda, seperti ada efek gema dari speaker rusak.
"Heh, fitnah itu!" Elian tertawa, tawa yang dipaksakan sekadar untuk mengisi kesunyian yang mencekik dadanya. "Gue selalu matiin kompor. Cuma kadang lupa kalau pancinya masih di atas sana sampai gosong. Lagian, sekarang gue masak pakai generator induksi, gak pakai api. Lebih futuristik, tahu."
Sementara Elian asyik mengobrol dengan kekosongan, di dunia nyata, tubuhnya sedang gemetar hebat di kursi pilot. Matanya melotot menatap ruang hampa, sementara tangannya melakukan manuver-manuver g*** yang hampir membuat *Aetheris* menab**k asteroid lain.
"Elian! Fokus, demi demi demi botol kecap kosmik!" teriak Aura. Sosok android pelayan berbalut pelat kromium itu merayap di antara lant** kokpit yang miring, mengabaikan hukum gravitasi dengan menggunakan magnet di telapak kakinya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah alat suntik pneumatik berukuran jumbo berisi cairan biru berpendar.
"Kadar dopamin dan kortisol Anda melompat seperti lumba-lumba sirkus! Anda sedang mengalami psikosis akut akibat radiasi ion! Lepaskan kemudi atau saya terpaksa melakukan tindakan kekerasan medis!"
"Aura, berisik!" bentak Elian tanpa menoleh. Di matanya, Aura hanyalah sebuah tong sampah berjalan yang berisik di koridor Orion. "Sopan dikit kek sama istri gue. Sarah, kenalin, ini Aura. AI cerewet yang hobi banget nge-judge selera humor gue. Aura, ini Sarah. Cantik kan? Walaupun sekarang dia agak *lagging* sih."
Sarah dalam halusinasi Elian melangkah mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak piksel yang perlahan memudar di udara. "El, kamu harusnya pergi waktu itu. Kenapa kamu malah lepas sekoci kirinya?"
Pertanyaan itu menghantam dada Elian lebih keras daripada asteroid mana pun. Rasa bersalah yang selama ini ia kunci rapat-rapat di sudut tergelap otaknya mendadak mendob**k keluar, berbaur dengan halusinasi yang semakin liar.
"Ah, itu..." Elian memaksakan sebuah cengiran lebar, meskipun matanya mulai berkaca-kaca. "Gue cuma pengen jadi pahlawan kesiangan aja, Sar. Lagian sekoci kiri itu warnanya norak banget, sumpah. Oranye mencolok gitu. Gak estetik buat dipakai melarikan diri."
"Kamu bohong," kata Sarah, suaranya kini terdengar distorsi, beralih dari lembut menjadi berat dan parau, seperti rekaman pita kaset yang kusut. "Kamu membiarkan aku mati di sana."
"Nggak, nggak gitu mainnya, Sayang," bisik Elian, suaranya mulai bergetar. Ia mencoba melangkah mundur, namun sabuk pengaman kursi pilot menahannya di dunia nyata, membuatnya merasa seolah-olah ia terpaku di dinding koridor Orion. "Gue... gue udah coba pencet tombol rilis manualnya. Sumpah, gue pencet sampai jempol gue keseleo. Tapi sistemnya terkunci. Kamu tahu kan protokol keamanan Orion sampah banget?"
"Elian, diam atau saya tusuk di area yang tidak estetis!" teriak Aura, yang kini sudah berhasil memanjat sandaran kursi pilot. Android itu bersiap menghujamkan jarum suntik ke pangkal leher Elian.
*BUM!*
Guncangan dahsyat kembali melanda *Aetheris*. Sebuah serpihan asteroid menghantam perisai energi bagian belakang, membuat seluruh sistem kelistrikan berkedip panik.
Dalam pandangan Elian, koridor Orion mulai runtuh. Dinding-dinding putih bersih itu retak, menampakkan kegelapan ruang hampa di baliknya. Dan Sarahβsosok yang paling ia rindukanβkini mulai terfragmentasi. Setengah dari wajah cantiknya hancur menjadi debu digital hijau, menyisakan kekosongan hitam yang mengerikan.
"Sarah! Jangan gerak-gerak, piksel kamu copot satu-satu tuh!" teriak Elian panik. Ia melepaskan satu tangannya dari kemudi, mencoba menggapai bayangan istrinya. "Nanti kalau kamu ilang semua, gue kesepian lagi di kapal rongsokan ini! Gak ada yang bisa gue ajakin debat soal teori konspirasi alien reptil di sistem Alpha Centauri!"
"Kamu harus lepasin aku, Elian," Sarah berbisik, kini matanya sepenuhnya hitam, memancarkan kesedihan yang tak terukur. "Kamu menyiksa diri kamu sendiri di dalam monolog sunyi ini."
"Nggak mau! Lagian lepasin kamu ke mana? Di luar dingin, gak ada tukang cilok," sahut Elian, air mata akhirnya lolos dari pelupuk matanya, mengalir melewati pipinya yang kotor oleh keringat. Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Gue... gue cuma butuh lima menit lagi. Lima menit aja buat denger suara kamu yang gak pake efek gema rusak ini."
Aura melihat tingkat keparahan halusinasi Elian sudah mencapai zona merah. Layar monitor di dada Aura berkedip-kedip menampilkan tulisan *EMERGENCY B**IN RESET*.
"Maafkan saya, Navigator Elian. Sesi terapi keluarga virtual yang sangat tidak sehat ini harus saya akhiri demi kelangsungan cicilan kapal kita," ucap Aura datar namun ada nada kepedulian mekanis di dalamnya.
Dengan satu gerakan cepat dan presisi khas mesin, Aura menghujamkan alat suntik pneumatik itu tepat ke otot trapezius di leher Elian.
*PSSSHUT!*
"Aduh! Si****, Aura! Itu rasanya kayak digigit tawon mutan!" teriak Elian spontan.
Detik berikutnya, cairan *Neuro-calm 9* bekerja dengan kecepatan cahaya di dalam aliran darahnya. Efeknya instan dan brutal. Otot-otot Elian mendadak lemas seperti jeli hangat. Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah seseorang baru saja menjatuhkan tumpukan ensiklopedia tebal tepat di atas otaknya.
Pemandangan koridor Orion yang steril perlahan-lahan menyusut, tergulung ma**k ke dalam pusaran titik hitam. Sosok Sarah melambai pelan, tersenyum dengan wajah yang kini kembali utuh untuk sesaat sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan kunang-kunang hijau yang indah, lalu lenyap tak berbekas.
Kokpit *Aetheris* kembali ke wujud aslinya yang berantakan, penuh kabel menjunt** dan lampu neon yang masih berkedip-kedip malas.
"Sarah..." gumam Elian lemah. Matanya setengah tertutup, pandangannya sayu menatap konsol kendali yang kini terasa sangat nyata, namun terasa sangat dingin tanpa kehadiran siapa pun.
"Target telah ditenangkan. Memulai prosedur stabilisasi darurat," lapor Aura, langsung mengambil alih kendali manual dengan tangan-tangan robotiknya yang cekatan. Dengan gerakan efisien, Aura memutar kemudi, membawa *Aetheris* meluncur mulus membelah sabuk asteroid, menghindari sisa-sisa badai ion yang mulai menjauh.
Elian menyandarkan kepalanya yang terasa berputar ke sandaran kursi. Efek obat penenang membuatnya tidak bisa merasakan kesedihan yang mendalam tadi, melainkan hanya rasa hampa yang tumpul dan dingin.
"Aura..." bisik Elian, suaranya parau, hampir tenggelam oleh deru mesin kapal yang mulai stabil.
"Ya, Elian?"
"Lain kali... kalau mau suntik gue... tolong bilang-bilang. Minimal kasih aba-aba 'ciamik' gitu, biar gue bersiap."
"Dicatat, Elian. Di masa depan, saya akan meneriakkan kata 'ciamik' sebelum menusuk leher Anda dengan jarum sepanjang sepuluh sentimeter. Sekarang, tidurlah. Navigator yang patah hati tidak berguna bagi keselamatan penerbangan ini."
Elian memejamkan matanya, membiarkan kegelapan obat penenang menyeretnya jatuh. Di dalam kepalanya yang mulai sunyi, ia masih bisa mendengar sayup-sayup tawa Sarah yang retak, ikut nimbrung di antara deru mesin *Aetheris* yang membelah Nebula Serpens yang dingin dan tak peduli.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!