**Bab 8: Sinyal yang Bikin Overthinking**
"...gue selalu matiin kompor, Sarah. Sumpah. Bahkan gue sering foto kompornya biar nggak kepikiran di jalan," gumam Elian, suaranya parau.
Namun, senyum Sarah di ujung koridor fiktif itu perlahan memudar. Wajahnya yang semula cantik berkedip-kedip kasar, memancarkan pikselasi warna merah darah sebelum akhirnya meledak menjadi ribuan partikel cahaya yang melayang di udara.
*BZZZZT!*
Sengatan listrik mikro yang c**up menyakitkan menghantam pangkal tengkorak Elian. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas, bagaikan ditarik tali elastis yang putus. Koridor putih steril Orion-9 lenyap. Berganti dengan pemandangan kokpit *Aetheris* yang kacau balau, dipenuhi kilatan lampu darurat berwarna merah menyala dan kepulan asap tipis beraroma kabel terbakar.
"Uhukk! Uhukk! Astaga, cip si****!" Elian mengumpat sambil menggeplak bagian belakang kepalanya sendiri, berharap aksi barbar itu bisa mendinginkan cip navigasi yang tertanam di kepalanya. "Ra! Gue barusan liat Sarah. Sumpah, resolusinya mendingan dibanding mimpi minggu lalu, tapi tetap aja bikin jantungan!"
"Itu namanya halusinasi akibat radiasi, Elian pintarrr," sahut Aura dari pengeras suara. Proyeksi avatar hologramnya muncul di dasbor, kali ini dengan filter wajah cemas yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Dan kalau Anda tidak segera mengembalikan fokus Anda ke tuas manual, kita akan segera bertemu Sarah secara fisik di akhirat. Belok kanan sekarang!"
Elian reflek membanting kemudi manual ke kanan. Lambung *Aetheris* berderit keras, bergesekan tipis dengan pecahan asteroid yang melintas cepat. Napas Elian memburu, keringat dingin membasahi dahi dan kaus oblongnya yang sudah mulai dekil.
Namun, sebelum ia sempat melontarkan candaan sarkas untuk menenangkan diri, sistem audio *Aetheris* yang setengah mati mendadak mengeluarkan suara statis yang aneh. Bukan sekadar suara *noise* badai ion, melainkan frekuensi yang berpola.
*Krrr-syeet... Eli... an...*
Elian membeku. Tangannya yang mencengkeram tuas kemudi mendadak kaku. "Ra? Lo denger itu?"
"Mendeteksi anomali pada frekuensi radio darurat jalur pendek," jawab Aura, nada bicaranya mendadak berubah datar dan mekanis. "Tapi itu tidak mungkin. Kita berada di sektor mati. Tidak ada sinyal transmisi yang bisa menembus badai ion ini kecuali—"
*“Elian... tolong aku...”*
Suara itu memotong ucapan Aura. Kali ini, suaranya jauh lebih jelas. Sangat jelas hingga membuat bulu kuduk Elian meremang. Itu bukan suara Sarah. Ini adalah suara Lily—gadis misterius yang sinyalnya telah ia kejar melintasi separuh Nebula ini. Suaranya terdengar begitu dekat, seolah-olah dia sedang berbisik tepat di samping telinga Elian, di dalam kokpit yang sempit itu.
*“Di sini gelap... dingin banget... Elian, tolong... aku nggak bisa napas...”*
"Lily?" Elian m****ik, kepalanya menoleh liar ke sekeliling kokpit yang kosong. Rasa panik yang murni, yang selama ini selalu berhasil ia tutupi dengan humor-humor garing, mendadak meledak di dadanya. "Lily! Lo di mana? Jawab gue! Ra, lacak sumber suaranya! Sekarang!"
"Elian, tenang! Itu bisa jadi pantulan sinyal hantu atau interferensi psikologis dari cip saraf Anda yang kepanasan!" Aura memperingatkan, suaranya naik satu oktav.
"Gak! Itu suara dia! Dia ketakutan, Aura!" Elian mulai berteriak, jemarinya dengan gemetar menekan tombol-tombol di konsol yang sebagian besar sudah tidak berfungsi. "Dia minta tolong ke gue! Gue harus cari koordinatnya. Si****, kenapa panel navigasinya mati?! Hidup dong, ba******!"
Elian menggeb**k konsol kendali dengan frustrasi. Napasnya pendek-pendek dan cepat. Bayangan masa lalu saat ia gagal menyelamatkan kru stasiun lamanya mendadak tumpang tindih dengan suara rintihan Lily. Di dalam kepalanya, suara Lily dan memori tentang Sarah berbaur menjadi satu simfoni keputusasaan yang bising. Tangannya gemetar hebat, saking hebatnya hingga ia tidak bisa memegang tuas kemudi dengan stabil lagi.
Akibatnya fatal. Gerakan tak beraturan Elian membuat *Aetheris* oleng. Mesin kapal yang sudah sekarat mulai mengeluarkan suara dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.
"Peringatan!" Suara Aura melengking, kali ini diiringi bunyi sirene merah yang berkedip lebih cepat. "Emosi Navigator tidak stabil! Fluktuasi gelombang otak Anda mengirimkan sinyal kacau ke sistem kemudi saraf! Suhu reaktor inti meningkat 15% dalam sepuluh detik! Elian, Anda merusak kapal ini dari dalam!"
"Bodo amat! Gue harus denger suara dia lagi! Lily! Ngomong lagi, plis!" Elian mencengkeram kepalanya, meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke kegelapan ruang angkasa di balik kaca kokpit. "Gue nggak mau telat lagi... gue nggak mau ada yang mati lagi gara-gara gue cuma diam..."
"Elian!"
Sebuah sengatan listrik kecil—kali ini sengaja dilepaskan oleh Aura melalui kursi pilot—membuat Elian tersentak.
Hologram Aura melayang tepat di depan wajah Elian. Tidak ada lagi ekspresi menyebalkan atau senyum meremehkan di wajah piksel biru itu. Yang ada hanyalah sepasang mata digital yang menatapnya dengan kehangatan yang tidak biasa.
"Dengerin saya, manusia paling keras kepala se-Galaksi," kata Aura. Suaranya melembut, kehilangan nada sarkasme yang biasa ia gunakan untuk me-roast Elian, digantikan oleh nada yang begitu tulus, hampir terasa... manusiawi. "Kalau Anda terus-terusan panik kayak emak-emak kehilangan diskonan begini, kita berdua bakal meledak jadi debu kosmik dalam waktu tiga menit. Dan tebak apa? Kalau kita mati, siapa yang bakal nolongin Lily? Hantu Anda?"
Elian terdiam, dadanya masih naik turun dengan cepat, menatap avatar Aura dengan mata yang berkaca-kaca.
"Saya tahu Anda merasa bersalah tentang masa lalu. Saya punya semua data memori Anda, ingat?" Aura melanjutkan, tangannya yang berupa proyeksi cahaya seolah-olah menyentuh bahu Elian yang tegang. "Tapi Anda bukan dewa yang bisa menyelamatkan semua orang sekaligus dengan cara bunuh diri. Sekarang, tarik napas. *Inhale*, embuskan. Bayangkan Anda sedang menghirup udara segar stasiun Orion, bukan bau oli terbakar ini."
Elian memejamkan mata erat-erat. Ia mencoba mengikuti instruksi Aura. *Inhale... exhale...*
"Nah, bagus. Terus begitu," bimbing Aura lembut, meskipun di sudut layar konsolnya, indikator suhu mesin masih berada di zona merah. "Pikirkan hal-hal bodoh yang biasa Anda lakukan. Pikirkan betapa konyolnya Anda yang mencoba merayu robot AI tercantik di sektor ini. Pikirkan utang-utang Anda yang belum lunas di kantin stasiun. Rileks..."
"Gue... gue nggak mau kehilangan lagi, Ra," bisik Elian, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh deru mesin. "Suara Lily... dia kedengaran nyata banget. Kayak dia ada di luar sana, sendirian di dalam gelap."
"Saya tahu. Dan kita akan mencarinya. Saya janji," kata Aura, memberikan senyum kecil yang menenangkan. "Tapi pertama-tama, kita harus bertahan hidup dulu dari badai si**** ini. Oke? Sekarang, Navigator Elian, bisakah Anda menggunakan sisa-sisa ketampanan standar Anda untuk kembali memegang kemudi dengan benar? Sebelum sasis logam saya yang mulus ini penyet kena asteroid?"
Mendengar roast halus itu, sudut bibir Elian sedikit terangkat. Rasa sesak di dadanya perlahan mulai mengurai. Ia membuka mata, menatap panel instrumen yang perlahan kembali stabil seiring dengan detak jantungnya yang menurun.
"Nah, gitu dong. Senyumnya agak dipaksakan, tapi lumayanlah daripada muka panik Anda yang mirip pantat panci gosong tadi," kelakar Aura, berusaha mengembalikan atmosfer sant** di antara mereka, meskipun sensor internalnya sendiri masih mendeteksi anomali frekuensi radio yang aneh dari luar kapal.
Elian menarik napas dalam-dalam untuk terakhir kalinya, lalu mencengkeram kembali tuas manual *Aetheris* dengan mantap. "Oke, Ra. Mari kita selesaikan permainan g*** ini. Tapi habis ini, lo harus bantu gue menganalisis sinyal tadi. Kalau nggak, gue bakal beneran *overthinking* sampai ubanan sebelum umur tiga puluh."
"Tenang saja, Navigator. Menghadapi *overthinking* Anda adalah spesialisasi saya. Sekarang, awas! Ada batu gede di depan!"
"An****! Kenapa nggak bilang dari tadi, Auraaaa!"
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!