"Lily?" Elian m****ik, kepalanya menoleh liar ke sekeliling kokpit yang kosong.
Sunyi melanda. Hanya ada dengung mesin *Aetheris* yang bergetar tidak stabil dan suara desis statis dari speaker yang perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang mencekam. Ketegangan di dalam kokpit begitu tebal sampai-saat rasanya bisa diiris dengan pisau mentega.
Elian mengusap wajahnya yang kuyu dengan kedua telapak tangan, mencoba mengusir sisa-sisa halusinasi—atau apa pun itu—dari kepalanya. Napasnya masih memburu. Jantungnya berdegup kencang, menabuh dada kirinya bagaikan drummer band rock alternatif yang sedang kesurupan.
"Ra... lo denger itu, kan? Bilang sama gue kalau barusan itu bukan suara s**** kosmik yang lagi iseng nyasar ke frekuensi kita," bisik Elian, matanya menatap nanar ke arah dasbor yang kini dipenuhi kedipan lampu indikator berwarna kuning dan merah.
Proyeksi hologram Aura berkedip beberapa kali sebelum akhirnya stabil. Kali ini, avatar AI itu tidak lagi memakai filter wajah sant** atau filter kucing lucu yang biasa dia gunakan untuk meledek Elian. Wajah holografisnya tampak pucat—sebuah pencapaian luar biasa untuk sebuah kecerdasan buatan yang tidak memiliki aliran darah.
"Itu transmisi nyata, Elian," jawab Aura, suaranya kehilangan nada sarkasme yang biasa menghiasinya. "Sinyal itu ditransmisikan menggunakan protokol enkripsi militer lama yang sudah usang, tapi frekuensinya sangat spesifik. Masalahnya..." Aura menggantung kalimatnya, membuat Elian semakin gemas.
"Masalahnya apa? Jangan bikin gue *overthinking* part dua, Ra. C**up mantan aja yang bikin gue begadang tiap malam, nebula ini jangan ikutan," gerutu Elian. Tangannya dengan lincah menari di atas keyboard usang *Aetheris*—yang beberapa tombolnya sudah hilang hurufnya dan diganti dengan coretan spidol permanen.
Aura menghela napas virtual. Sebuah peta holografis tiga dimensi berputar di tengah kokpit, menampilkan posisi *Aetheris* sebagai titik biru kecil yang dikelilingi oleh pusaran gas raksasa berwarna merah muda dan ungu pekat. Di tengah-tengah pusaran itu, terdapat sebuah titik merah yang berdenyut kencang.
"Sinyal itu berasal tepat dari jantung Nebula Carina-9. Di pusat anomali gravitasi," jelas Aura, seraya memperbesar visual titik merah tersebut. "Dan berdasarkan kalkulasi superkomputer gue yang super jenius ini, kalau kita maju satu tahun cahaya lagi ke arah sana..."
Aura sengaja menjeda kalimatnya untuk memberikan efek dramatis. Sebuah grafik peringatan berwarna merah menyala dengan logo tengkorak melayang di depan mata Elian.
"...mesin lompat warp kita bakal meleleh total. Kapasitor kuantumnya bakal berubah jadi bubur besi cair karena radiasi termal ekstrem. Dan tebak apa konsekuensinya? Kita nggak akan pernah bisa pulang ke bumi. Selamanya. Kita bakal terdampar di sini, jadi fosil angkasa luar yang estetik."
Elian terdiam sejenak. Dia menatap grafik peringatan itu, lalu beralih menatap hamparan nebula di balik kaca kokpit yang retak tipis di sudut kiri bawah. Nebula itu tampak begitu indah, seperti tumpahan cat akrilik raksasa yang menari-nari di kanvas hitam alam semesta. Tapi di balik keindahannya, tempat itu adalah mesin pembunuh yang dingin dan tak punya belas kasihan.
Bukannya panik, Elian malah bersandar sant** di kursi pilotnya yang busanya sudah menyembul keluar. Dia merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan kacamata hitam berdebu—aksesori yang sama sekali tidak berguna di dalam kegelapan ruang hampa, tapi sangat krusial untuk menjaga reputasinya sebagai navigator paling sant** se-galaksi.
Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat dramatis, dia memakai kacamata itu, lalu menoleh ke arah hologram Aura.
"Pulang juga mau ngapain? Tagihan listrik di bumi belum lunas ini," kata Elian dengan nada sok keren ala pahlawan film aksi tahun 80-an yang siap mati demi menyelamatkan dunia.
Aura melongo. Mulut hologramnya terbuka lebar. "Hah? Elian, lo waras? Ini masalah hidup dan mati! Lo mendingan pusing mikirin token listrik bunyi jepret-jepret daripada tubuh lo terurai jadi atom hidrogen di tengah-tengah badai ion!"
"Eh, Ra, lo sebagai AI nggak akan pernah paham penderitaan organik didepak dari kontrakan sama ibu kos pas tanggal satu," balas Elian, mulai menyalakan sakelar-sakelar manual di konsol atas kepalanya dengan bunyi *klik-klik* yang mantap. "Gue mendingan adu mekanik sama lubang hitam daripada dengerin omelan ketukan pintu jam enam pagi yang saking kerasnya bisa meruntuhkan iman. Lagipula, Lily manggil gue tadi. Lo denger sendiri, kan? Dia butuh bantuan."
"Tapi kita bahkan nggak tahu Lily itu siapa, Elian! Bisa jadi itu jebakan! Bisa jadi itu sisa-sisa transmisi otomatis dari kapal hantu yang sudah hancur ratusan tahun lalu!" Aura berteriak, suaranya mulai terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik yang semakin kuat. "Kembali sekarang adalah opsi paling logis. Kita masih punya c**up bahan bakar untuk lompat ke sektor aman!"
"Logika itu buat orang-orang yang punya masa depan jelas, Ra. Sementara gue? Navigator tanpa sertifikat resmi, buronan agen penagih utang antarplanet, dan satu-satunya teman ngobrol gue adalah AI cerewet yang hobinya nge-roast gue tiap lima menit," ujar Elian sambil tersenyum lebar. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitam berkilat penuh tekad yang jarang ia tunjukkan. "Gue mau jawaban, Ra. Dan jawaban itu ada di depan sana."
"Sistem mendeteksi peningkatan kenekatan pengguna sebesar sembilan puluh sembilan persen," gumam Aura pasrah. "Protokol keselamatan otomatis diaktifkan. Memulai prosedur putar balik otomatis dalam tiga, dua—"
"Aura, *override* protokol keselamatan. Kode otorisasi: Elian-Ganteng-Maksimal-007," potong Elian cepat.
"Kode ditolak karena tingkat narsisme pilot melampaui batas toleransi sistem," balas Aura ketus.
"Oke, oke! Kode otorisasi darurat: Orion-Beta-9-Skip-Protokol!" Elian berteriak di tengah gemuruh mesin yang mulai bergetar hebat. Lambung kapal *Aetheris* berderit keras, seolah-olah memohon agar sang pilot membatalkan niat g***nya.
*BZZZZT!*
Layar dasbor berkedip merah terang sebelum akhirnya berganti menjadi hijau stabil.
"Otorisasi diterima. Sistem kemudi manual sepenuhnya berada di tangan Anda, dasar manusia keras kepala," ujar Aura. Nada suaranya berubah pasrah, namun ada sedikit getaran emosi yang aneh dalam algoritmenya. "Kalau kita mati, gue bakal hantuin cip navigasi lo di akhirat nanti."
"Itu namanya bonus, Ra. Berarti gue nggak bakal kesepian," sahut Elian seraya menyeringai.
Dia mencengkeram tuas akselerasi utama dengan kedua tangannya. Otot-otot lengannya menegang. Di depannya, badai nebula bergulung-gulung bagaikan ombak laut mati yang siap menelan *Aetheris* bulat-bulat. Kilatan petir plasma berwarna biru menyambar-nyambar di antara awan debu kosmik, menciptakan pemandangan yang mengerikan sekaligus megah.
"Gaspol terus, jangan kasih kendor!" teriak Elian, lalu mendorong tuas akselerasi maju sepenuhnya hingga mentok ke ujung kompartemen.
Mesin lompat warp *Aetheris* meraung dahsyat. Suaranya terdengar seperti monster purba yang terbangun dari tidur panjangnya. Gaya g-force langsung menghantam tubuh Elian, menekannya keras ke sandaran kursi pilot. Pemandangan di luar jendela mendadak meregang, bintang-bintang di kejauhan berubah menjadi garis-garis cahaya panjang yang berkilauan.
"Suhu reaktor meningkat drastis! Seratus dua puluh persen dari batas aman!" Aura berteriak, memberikan laporan di tengah kebisingan yang m****akkan telinga. Hologramnya mulai bergetar hebat, piksel-piksel tubuhnya terpecah dan menyatu kembali dengan tidak beraturan. "Pelat pelindung luar sektor sekunder mulai mengelupas!"
"Biarin! Kurang-kurangin beban kapal! Anggap aja kita lagi diet ekstrem!" sahut Elian asal-asalan, tangannya berjuang keras menahan kemudi yang bergetar liar seperti banteng mengamuk.
"Ini bukan diet, Elian! Ini namanya bunuh diri secara estetik!" balas Aura. "Tiga puluh detik lagi menuju titik tanpa kembali! Batalkan sekarang atau kita bakal jadi sejarah!"
"Nggak ada kata mundur di kamus gue, Ra! Lagian kamus gue juga udah hilang dari perpustakaan SD dulu!"
*Aetheris* melesat membelah badai plasma. Cahaya nebula yang ma**k lewat kaca kokpit begitu terang hingga membuat kacamata hitam Elian benar-benar berguna sekarang. Di sekeliling mereka, partikel-partikel debu kosmik menghantam lambung kapal dengan bunyi beruntun bagaikan hujan batu di atas atap seng.
Setiap jengkal kapal bergetar hebat. Alarm peringatan bahaya berbunyi serentak dalam berbagai nada, menciptakan simfoni kekacauan yang absurd di dalam kokpit yang sempit itu. Namun, di tengah semua keg***an itu, Elian justru merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari dirinya: gairah hidup yang murni.
Selama bertahun-tahun, dia hanya berlari. Lari dari kenyataan, lari dari masa lalu, lari dari tumpukan tagihan, dan lari dari kesunyian yang menggerogoti jiwanya. Tapi kali ini, dia tidak sedang lari. Dia sedang mengejar sesuatu.
"Suhu reaktor seratus lima puluh persen! Modul warp mulai meleleh dalam tiga... dua... satu..." Aura memejamkan mata hologramnya.
*BZZZZZZT-BOOM!*
Sebuah ledakan kecil terjadi di panel belakang kokpit, menyemburkan bunga api dan asap hitam yang pekat. Indikator mesin lompat warp di dasbor langsung padam, digantikan oleh tulisan besar berwarna abu-abu: *FATAL ERROR - SYSTEM OFFLINE*.
Mereka telah melewati batas satu tahun cahaya. Mesin warp mereka kini resmi menjadi rongsokan tidak berguna. Jalan pulang ke bumi telah tertutup rapat, hancur berkeping-keping bersama melelehnya kapasitor kuantum mereka.
Namun, di saat yang sama, getaran hebat pada kapal mendadak mereda. Kebisingan yang m****akkan telinga itu lenyap begitu saja, digantikan oleh keheningan yang luar biasa tenang.
*Aetheris* kini melayang pelan, keluar dari badai ion dan mema**ki sebuah ruang kosong di tengah-tengah jantung nebula. Tempat itu sangat sunyi, bagaikan mata badai dari sebuah topan kosmik raksasa. Di hadapan mereka, melayang sebuah struktur misterius yang memancarkan cahaya biru lembut berpola geometris yang rumit.
Elian menurunkan sedikit kacamata hitamnya ke ujung hidung, menatap pemandangan menakjubkan di depannya dengan mulut sedikit menganga.
"Well..." gumam Elian, memecah kesunyian. "Mesin warp kita emang udah jadi bubur, tapi setidaknya pemandangan di sini jauh lebih bagus daripada pemandangan tembok gang sempit di Jakarta."
Hologram Aura kembali muncul dengan perlahan, tubuhnya tampak lemas dan berkedip-kedip lemah. Dia menatap struktur misterius di depan mereka, lalu menoleh ke arah Elian dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kita resmi terjebak di sini selamanya, Elian," bisik Aura datar.
Elian tersenyum tipis, lalu menepuk dasbor kapal dengan sayang. "Nggak usah khawatir, Ra. Kita masih punya banyak persediaan mi instan di kargo belakang. Sekarang, mari kita cari tahu siapa yang manggil-manggil nama gue tadi."
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!