Suara itu bukan lagi sekadar desau angin. Di Hutan Kerang Purba, angin tidak membawa kesejukan, melainkan simfoni kematian yang terdengar seperti ribuan pisau silet yang beradu di dalam tabung logam. Aku meringkuk di balik batang pohon yang sudah memfosil, menekan punggungku kuat-kuat ke permukaan yang kasar dan sepuc** putih tulang.
Satu embusan angin kencang menyapu area terbuka di depanku. Serpihan cangkang mikroskopis yang terbawa badai menggores permukaan batu hingga memercikkan bunga api.
[Peringatan: Ab**si Atmosferik Level 4 terdeteksi.]
[Daya tahan armor (Kulit Badak Mentah) menurun: 12/100]
[HP: 442/650 (Berkurang 5 poin per detik)]
Angka merah itu berkedip di sudut penglihatanku, menuntut perhatian yang sebenarnya tidak ingin kuberikan. Setiap napas yang kuhirup terasa seperti menelan serbuk kaca. Paru-paruku panas, dan rasa besiβdarahβmulai memenuhi pangkal lidahku.
"Sial," desis perih keluar dari celah bibirku yang pecah. Aku melirik lengan kiriku. Jubah kulit tebal yang kuhargai mahal di pasar luar kini compang-camping, menyisakan gurat-gurat luka halus yang merembeskan cairan merah di sepanjang kulit.
Aku tidak boleh diam di sini. Diam berarti terkelupas sampai ke tulang.
Aku mengatur napas, mencoba menenangkan jantungku yang berdegup liar. Berdasarkan pemetaan taktis yang sempat kubaca, badai cangkang di zona ini memiliki ritme. Ada jeda tiga detik setiap kali angin berputar arah. Aku menghitung dalam hati.
Satu. Dua. Tiga.
Aku melompat keluar dari balik pohon, menerjang debu putih yang membutakan. Pandanganku terbatas, hanya sekitar dua meter ke depan. Dunia di sekitarku adalah labirin pilar-pilar kalsium raksasa yang dulunya mungkin adalah pepohonan, namun kini lebih mirip taring-taring bumi yang mencuat ke langit abu-abu.
*Sret!*
Sesuatu yang tajam menyayat pipiku. Aku tidak berhenti. Aku terus berlari, sepatu botku berderit di atas tanah yang tertutup lapisan cangkang pecah.
[HP: 410/650]
"Ayo, Raka. Berpikir!" perintahku pada diri sendiri. Pikiranku bekerja seperti mesin, memindai setiap celah di antara akar-akar batu. Aku membutuhkan perlindungan yang lebih permanen, atau setidaknya sesuatu yang bisa menghentikan pendarahan ini sebelum aku kehilangan kesadaran karena *anemia status*.
Tiba-tiba, tanah di bawah kakiku bergetar. Bukan karena gempa, melainkan sesuatu yang jauh lebih masif. Sebuah raungan rendah, seperti suara gesekan batu besar, bergema dari arah lembah di depan.
[Pendeteksi Entitas: Raksasa Lumut (Elite) terdeteksi di radius 500 meter.]
Jantungku mencelos. Dia ada di sana. Tujuan utamaku, sekaligus mimpi burukku. Raksasa Lumut adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengabaikan hukum ab**si di hutan ini. Sel-sel tubuhnya beregenerasi lebih cepat daripada kecepatan angin memotong dagingnya. Jika aku bisa mendapatkan inti kristalnya, aku bisa mengasimilasi Skill Regenerasi Instan itu. Itulah satu-satunya tiketku untuk tetap hidup dan mencari jalan keluar dari neraka ini.
Namun, penglihatanku mulai kabur. Garis-garis merah di pandanganku semakin banyak.
[Peringatan: Luka Terbuka Terinfeksi Partikel Kalsium. Debuff 'Pendarahan Lambat' aktif.]
[HP: 365/650]
"Belum... belum sekarang," gumamku, suaraku parau. Tanganku merogoh kantong di pinggang, mencari botol ramuan terakhir yang kupunya. Jariku yang gemetar menyentuh botol kaca dingin, tapi saat aku hendak menariknya keluar, sebuah pusaran angin mendadak menghantam dari samping.
Aku terlempar ke samping, menghantam dinding batu dengan keras. Pandanganku memutih sesaat. Botol ramuan itu terlepas dari genggamanku, berdenting di atas tanah, dan dalam hitungan detik, hancur berkeping-keping dig***s oleh partikel tajam yang berputar di udara.
Aku terengah, memegangi dadaku yang sesak. Di depanku, badai semakin mengg***, menciptakan dinding debu yang seolah-olah hidup. Di balik dinding debu itu, aku melihat siluet hijau raksasa yang bersinar redup. Raksasa Lumut itu bergerak lambat, setiap langkahnya menggetarkan bumi, dikelilingi oleh aura penyembuhan yang tampak seperti uap hijau yang menenangkan.
Begitu dekat, namun begitu mematikan.
Aku melihat tanganku sendiri. Kulitnya mulai mengelupas, menampakkan jaringan otot yang berdenyut. Rasa sakitnya kini melampaui batas ambang yang bisa ditoleransi manusia biasa. Namun, bukan rasa sakit itu yang membuat dadaku sesak.
Saat Raksasa Lumut itu berbalik, di dalam rongga dadanya yang transparan, aku melihat sesuatu yang membekukan darahku. Bukan sekadar inti kristal mati. Di sana, terbungkus dalam serat-serat akar dan cahaya zamrud, ada sesosok tubuh mungil yang sangat kukenali. Rambut panjangnya yang hitam melayang-layang di dalam cairan kental, dan wajahnya... wajah yang telah menghantui mimpiku selama tiga tahun terakhir.
"Mia?" bisikku, hampir tak terdengar di tengah raungan badai.
Sistem berdenting keras di telingaku, memberikan peringatan terakhir yang paling mengerikan.
[HP: 150/650. Kondisi Kritis.]
[Satu-satunya sumber energi regenerasi ditemukan dalam jarak dekat. Eliminasi target diperlukan untuk bertahan hidup.]
Aku mencengkeram gagang pedangku yang sudah tak tajam lagi. Air mata yang mulai mengalir langsung mengering dan mengkristal karena tajamnya udara. Aku harus membunuhnya untuk hidup. Aku harus menghancurkan jantung monster itu jika ingin paru-paruku kembali bernapas.
Tapi jika aku melakukannya, apakah aku baru saja menemukan adikku hanya untuk membunuhnya dengan tanganku sendiri?
Langkah kaki Raksasa Lumut itu semakin dekat, dan badai cangkang di sekelilingnya mulai merobek sisa-sisa pertahananku. Aku berdiri dengan sisa tenaga yang ada, menatap lurus ke arah mata monster yang bercahaya hijau itu, sementara angka HP-ku terus merosot menuju nol.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!