Udara di dalam Hutan Kerang Purba hari ini terasa lebih berat, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh serbuk gergaji logam yang siap mengoyak paru-paru. Raka menarik kain penutup wajahnya lebih erat, merasakan perih yang familier di punggung tangannya—hasil dari gesekan fragmen cangkang mikroskopis yang dibawa angin. Di depannya, sosok itu berdiri tegak, sebuah gunung hijau yang berdenyut pelan dalam keremangan hutan.
Raksasa Lumut.
Makhluk itu bukan sekadar tumpukan vegetasi. Tingginya mencapai sepuluh meter, dengan sulur-sulur tebal yang merayap di permukaan tanah seperti ular piton yang kelaparan. Setiap kali raksasa itu bergerak, bunyi gesekan antarcangkang yang tertanam di balik lapisan lumutnya menciptakan suara parau yang menyayat telinga.
"Analisis," bisik Raka pelan. Di sudut matanya, antarmuka semi-transparan muncul, menampilkan barisan data digital yang berkedip merah.
**[Target: Raksasa Lumut Purba (Varian Inti)]**
**[Status: Regenerasi Aktif (Tingkat Maksimal)]**
**[Kelemahan: Titik pusat di balik lapisan ke-4 pelindung lumut.]**
Raka menggenggam hulu belati hitamnya hingga buku jarinya memutih. Dia tahu, satu-satunya cara untuk bertahan hidup dari ab**si atmosfer hutan ini adalah dengan mengambil Skill Regenerasi Instan milik monster ini. Tanpa itu, dalam tiga hari, tubuhnya akan terkikis menjadi tumpukan daging tanpa kulit oleh angin cangkang.
"Maafkan aku, makhluk besar," gumam Raka, lebih kepada dirinya sendiri untuk memantapkan hati. "Aku harus pulang."
Dengan satu sentakan kaki, Raka melesat. Gerakannya efisien, hasil dari berbulan-bulan bertahan hidup di neraka ini. Dia menghindari sulur besar yang menghantam tanah, menciptakan kawah kecil yang dipenuhi serpihan tajam. Raka melompat, memijak tonjolan akar, dan mendarat tepat di atas bahu raksasa itu.
Lumut di bawah kakinya terasa kenyal dan licin, mengeluarkan lendir hijau yang berbau seperti tanah basah dan besi tua. Raka mulai bekerja. Dia menghujamkan belatinya berkali-kali ke satu titik. *Zrak! Zrak!*
Lapisan pertama terkoyak, namun dalam hitungan detik, serat-serat hijau itu merayap kembali, menjahit luka yang dibuat Raka. Inilah kemampuan regenerasi yang dia incar—sesuatu yang sangat menakjubkan sekaligus mengerikan.
"Sial, terlalu cepat!" Raka mengumpat. Dia beralih ke botol kecil berisi cairan korosif hasil ekstraksi asam serangga hutan. Dia menuangkannya ke area yang baru saja dia lukai. Asap putih mengepul, mengeluarkan aroma menyengat yang membuat matanya pedih. Lapisan lumut itu menghitam dan mengerut, memberi Raka jendela waktu tiga detik.
Dia menghujamkan belatinya lebih dalam. Lapisan kedua tembus. Lapisan ketiga terasa lebih keras, seperti menusuk ban truk yang tebal. Raka bisa merasakan getaran dari dalam tubuh monster itu—sebuah detak jantung yang lambat dan berat.
Namun, tepat saat dia bersiap untuk menembus lapisan keempat—lapisan terakhir sebelum mencapai inti—gerakan Raka terhenti mendadak.
Sebuah getaran halus merambat dari belatinya ke telapak tangannya. Bukan getaran mesin, bukan pula getaran amarah monster. Itu adalah getaran yang terasa seperti... suara.
"Kak... Raka...?"
Suara itu sangat lirih, hampir tenggelam oleh desis angin cangkang di luar sana. Raka membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Suara itu tidak berasal dari udara, melainkan beresonansi langsung dari balik lapisan lumut yang sedang dia robek.
"Tidak mungkin," bisik Raka, napasnya memburu. "Itu hanya halusinasi. Efek spora."
Dia mencoba mengangkat belatinya lagi, memaksa logika praktisnya untuk mengambil alih. Dia sedang bertarung melawan monster. Dia butuh skill itu. Dia harus selamat. Namun, tangannya gemetar hebat.
"Kak... dingin... gelap..."
Kali ini suara itu lebih jelas. Lembut, penuh kerapuhan, dan membawa nada ketakutan yang sangat dikenal Raka. Itu adalah nada suara yang sama yang dia dengar tujuh tahun lalu, saat jemari kecil adiknya terlepas dari genggamannya di tengah badai dimensi yang membawa mereka ke tempat ini.
"Mia?" Suara Raka pecah. Dia menjatuhkan lututnya ke atas punggung monster yang kasar itu. "Mia, apakah itu kau?"
Raksasa Lumut itu tiba-tiba berhenti menyerang. Sulur-sulur yang tadinya agresif kini melunglai, seolah-olah monster itu sendiri sedang tertegun atau sedang berusaha mendengarkan sesuatu. Bagian tengah punggungnya, tepat di bawah posisi Raka, mulai memancarkan cahaya biru pucat yang remang-remang dari balik lapisan terdalam.
Raka merobek lumut yang sudah menghitam dengan tangan kosong, mengabaikan duri-duri kecil yang menusuk ujung jarinya. Dia terus menggali, mengesampingkan semua taktik dan prosedur keselamatan yang selama ini dia agungkan. Di balik lapisan keempat yang transparan, dia melihatnya.
Bukan sebuah batu kristal atau organ hewan. Di sana, terbungkus dalam serat-serat saraf tanaman yang bercahaya, tampak siluet seorang gadis kecil yang meringkuk seperti posisi janin. Wajahnya tenang, seolah sedang tidur dalam mimpi buruk yang panjang.
"Mia..." Raka menyentuh lapisan transparan itu. Air mata jatuh dari pipinya, membasahi permukaan lumut yang dingin.
Pada saat yang sama, sensor sistem di sudut matanya mendadak berubah menjadi warna ungu pekat, mengeluarkan peringatan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
**[PERINGATAN: Anomali Terdeteksi!]**
**[Inti Kehidupan memiliki gelombang otak manusia yang identik dengan Subjek: MIA.]**
**[Pilihan Tersedia: Ekstraksi Inti (Membunuh Wadah) atau Sinkronisasi (Risiko Kematian Pengguna 99%).]**
Raka terpaku. Tangannya masih memegang belati, sementara di depannya adalah wajah adiknya yang hilang, yang kini menjadi jantung dari monster yang harus dia bunuh untuk bisa pulang.
Tiba-tiba, mata Raksasa Lumut yang besar di bagian depan tubuhnya terbuka lebar, memancarkan cahaya merah darah. Monster itu mengeluarkan raungan yang bukan berasal dari pita suara hewan, melainkan jeritan kolektif dari ribuan jiwa yang tersiksa. Bumi di bawah mereka berguncang hebat, dan sulur-sulur di bawah mulai melilit kaki Raka dengan kencang, menariknya ma**k ke dalam dekapan maut sang raksasa.
Raka harus memilih sekarang, atau dia akan menjadi bagian dari hutan ini selamanya. Belatinya terangkat tinggi, namun matanya terkunci pada wajah damai Mia di balik dinding tipis itu.
"Apa yang harus kulakukan, Mia?" bisiknya di tengah gemuruh hutan yang ingin menelannya bulat-bulat.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!