Dengung tajam dari serpihan cangkang yang bergesekan di udara terdengar seperti ribuan pisau bedah yang sedang diasah. Di hadapan Raka, Raksasa Lumut itu berdiri tegak, sebuah gunungan daging purba dan vegetasi parasit yang berdenyut pelan. Luka besar di dadanya—hasil dari pertarungan brutal beberapa saat lalu—mulai menutup dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Serabut hijau zamrud menjahit dagingnya sendiri, sebuah demonstrasi dari Skill Regenerasi Instan yang begitu diinginkan Raka.
Namun, fokus Raka bukan pada keajaiban biologis itu. Matanya terpaku pada pusat denyutan di balik rongga dada sang monster. Di sana, terbungkus dalam kristal amber organik, sesosok bayangan kecil meringkuk.
"Mia..." bisikan Raka tertelan oleh siulan angin cangkang.
Raka memejamkan mata, mengabaikan peringatan merah yang berkedip di sudut visi sistemnya: *[Peringatan: Stabilitas Mental di Bawah 60%. Risiko Sinkronisasi Jiwa Terdeteksi].* Dia menempelkan telapak tangannya yang gemetar ke kulit monster yang lembap dan kasar. Dingin, namun ada getaran frekuensi rendah yang merambat ke tulang-tulangnya.
*Aktifkan: Tautan Kesadaran.*
Dunia di sekitar Raka seketika melenyap. Hutan yang bising digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Dia kini berdiri di sebuah ruang hampa yang dipenuhi kabut hijau lumut. Bau tanah basah dan karat besi tercium sangat kuat.
Di tengah ruang itu, Mia duduk di tanah. Dia tampak persis seperti saat terakhir kali Raka melihatnya lima tahun lalu—gaun putih dengan noda tanah di lutut dan pita rambut yang miring. Namun, pemandangan itu tidak membawa kehangatan. Tubuh Mia tampak transparan, dengan garis-garis retakan hitam yang menjalar dari leher hingga pipinya.
"Mia? Ini Kak Raka," suara Raka bergema, namun terdengar asing di telinganya sendiri.
Gadis kecil itu mendongak. Matanya tidak memiliki pupil, hanya hamparan warna hijau pudar yang terus berputar. "Lapar..." bisiknya. Suaranya bukan lagi suara anak kecil, melainkan tumpang tindih dengan geraman purba yang dalam. "Sangat... lapar... Kak..."
Raka melangkah maju, namun tiba-tiba tanah di bawah kakinya berubah menjadi rahang raksasa yang terdiri dari ribuan cangkang tajam. Dia melompat mundur, jantungnya berdegup kencang. "Mia, sadarlah! Aku di sini untuk membawamu pulang. Jangan biarkan monster itu menelanmu!"
"Pulang?" Mia memiringkan kepalanya. "Hutan ini... adalah rumah. Akar-akarnya adalah urat nadiku. Cangkang-cangkangnya adalah pelindungku."
Tiba-tiba, citra Mia bergetar hebat. Wajahnya berubah-ubah antara wajah manusia dan moncong mengerikan Raksasa Lumut. Fragmentasi memori. Raka bisa melihat potongan-potongan ingatan yang melayang di udara seperti pecahan kaca: Mia yang tertawa di taman, Mia yang menangis saat terjatuh, dan kemudian... kegelapan saat akar-akar hutan ini menyeretnya ke bawah tanah.
*Lapar. Lindungi. Hancurkan penyusup.*
Insting monster itu menghantam pikiran Raka seperti ombak raksasa. Raka berlutut, memegang kepalanya yang serasa akan pecah. Dia bisa merasakan rasa haus akan darah yang bukan miliknya. Dia bisa merasakan keinginan untuk merobek setiap makhluk hidup yang berani menginjakkan kaki di hutan ini.
"Tidak! Aku bukan mangsamu!" teriak Raka, mencoba memaksakan logikanya menembus kabut insting tersebut.
"Kakak... sakit..." Mia tiba-tiba mendekat, merangkak dengan gerakan patah-patah yang tidak manusiawi. "Kenapa Kakak membawa pisau? Kenapa Kakak ingin mengambil hatiku?"
Raka tertegun. Di dunia nyata, dia memang memegang belati pendek yang siap menghujam inti monster tersebut. Sistem telah memberitahunya: *[Inti Raksasa Lumut harus diekstraksi dalam keadaan utuh untuk mendapatkan Skill Regenerasi Instan].* Dan inti itu adalah tempat di mana kesadaran Mia bersemayam.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Mia. Aku ingin menyelamatkan kita berdua," kata Raka dengan suara parau. Air mata mulai mengalir, terasa panas di tengah dinginnya ruang mental itu.
"Bohong," suara Mia berubah menjadi raungan tunggal yang m****akkan telinga. "Kakak ingin keluar dari sini. Kakak ingin hidup. Dan untuk itu, aku harus mati lagi, kan?"
Kabut hijau di sekeliling mereka mulai memadat, membentuk sulur-sulur berduri yang melilit kaki Raka. Tekanan mentalnya melonjak. *[Peringatan: Sinkronisasi Jiwa 85%. Kesadaran Subjek Mulai Terfragmentasi].*
"Mia, dengarkan aku!" Raka mencoba meraih tangan adiknya, namun jarinya justru menembus bayangan itu seolah-olah Mia hanyalah asap. "Kita bisa mencari cara lain. Aku akan melindungimu di dalam sini, aku akan—"
"Terlambat," bisik Mia, yang kini wajahnya hampir sepenuhnya tertutup oleh tekstur lumut yang kasar. "Mereka sudah datang."
"Siapa?"
Tiba-tiba, dinding ruang mental itu retak. Dari balik retakan itu, Raka melihat ribuan mata merah yang bersinar di kegelapan. Predator cangkang. Di dunia nyata, tubuh Raka yang tak berdaya saat melakukan tautan mental kini menjadi sasaran empuk bagi penghuni hutan lainnya.
Raka bisa merasakan rasa sakit fisik dari dunia luar—goresan tajam di bahunya. Seekor predator telah menemukannya. Jika dia tidak segera memutuskan tautan, dia akan mati di dunia nyata. Namun, jika dia memutuskan tautan sekarang saat kesadaran Mia sedang tidak stabil, fragmen jiwa adiknya akan hancur selamanya dan menyatu sepenuhnya menjadi insting monster yang haus darah.
"Pilih, Kakak," Mia berkata dengan nada datar, sementara sosoknya mulai meleleh ke dalam lant** yang gelap. "Nyawamu, atau sisa-sisa jiwaku yang rusak ini?"
Goncangan hebat melanda ruang mental itu. Raka terlempar, kesadarannya mulai memudar saat sistem memberikan peringatan terakhir yang berkedip merah darah di depan matanya.
*[Peringatan Kritis: Kerusakan Integritas Mental Terdeteksi. Putuskan Tautan Sekarang atau Terjadi Asimilasi Total!]*
Raka mengerang, tangannya mencengkeram kehampaan, berusaha menahan bayangan Mia yang semakin menjauh ke dalam kegelapan perut sang monster, sementara di telinganya, suara cakram cangkang yang merobek dagingnya sendiri di dunia nyata terdengar semakin nyata.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!