Lant** hutan yang lembap bergetar di bawah telapak tanganku saat Raksasa Lumut itu mengerang pelan. Suaranya bukan sekadar geraman monster; ada frekuensi halus yang hanya bisa kudengar sebagai rintihan seorang gadis kecil yang ketakutan. Di balik lapisan vegetasi tebal dan sulur-sulur kuno itu, aku tahu Mia ada di sana. Cahaya hijau redup berdenyut dari balik dadanya yang berlubang, jantung mekanis organik yang menjadi incaran semua orang di hutan terkutuk ini.
"Keluar, Raka. Kami tahu kau ada di sana bersama tumpukan sampah hijau itu."
Suara itu kering, parau, dan membawa aroma asap tembakau murahan yang sangat kontras dengan udara hutan yang tajam oleh bau ozon. Aku memicingkan mata, mengaktifkan [Analisis Taktis]. Tiga siluet muncul dari balik kabut serpihan cangkang yang berputar-putar. Mereka mengenakan jubah berlapis plat baja yang sudah tergores parah—pakaian khas Scavenger, para pemulung nyawa yang tidak akan ragu menguliti kawan sendiri demi sepotong inti energi.
"Jaro," gumamku sambil mempererat genggaman pada gagang pedang pendekku. "Kau melangkah terlalu jauh dari zona amanmu."
Laki-laki di tengah, yang memiliki bekas luka melintang di hidungnya, terkekeh. Dia memutar-mutar sebuah tombak dengan ujung yang dilapisi serpihan cangkang hitam—jenis yang bisa menembus kulit Raksasa Lumut dalam sekali tusuk.
"Zona aman sudah tidak ada lagi, Nak. Atmosfer hutan ini semakin korosif. Tanpa inti regenerasi dari monster itu, kita semua akan jadi bubur daging dalam dua jam," Jaro melangkah maju, ujung tombaknya memercikkan bunga api saat bergeser di atas akar-akar keras. "Serahkan monster itu, dan mungkin aku akan membiarkanmu ikut kami. Kau punya bakat, tapi kau terlalu sentimental."
"Dia bukan sekadar monster," desisku. Gigiku beradu. Di sudut pandang visualku, sebuah jendela sistem berwarna merah berkedip: [PERINGATAN: Ancaman Terdeteksi. 3 Musuh Level 25-28. Peluang Kemenangan: 42%].
"Bagi kami, itu adalah tiket pulang," sahut salah satu anak buah Jaro yang bertubuh kurus, sambil menarik pelatuk busur silang mekanisnya.
*Crak!*
Anak panah itu melesat, membelah udara yang dipenuhi debu cangkang. Aku tidak menghindar. Aku mengaktifkan [Perisai Ab**si], menciptakan riak transparan di depanku. Anak panah itu meledak menjadi serpihan kayu tepat di depan wajahku.
Namun, serangan itu hanya pengalih perhatian. Jaro sudah melompat, tombaknya menyambar ke arah leher Raksasa Lumut yang masih berusaha memulihkan diri.
"Jangan sentuh dia!" teriakku.
Aku menerjang maju. Langkahku terasa berat, setiap inci kulitku terasa seperti disayat oleh ribuan silet tak kasat mata saat aku keluar dari zona perlindungan pasif sang raksasa. Aku menebaskan pedangku, membentur tombak Jaro dengan denting logam yang m****akkan telinga. Getarannya merambat sampai ke sumsum tulangku.
Raksasa Lumut di belakangku bereaksi. Merasakan ancaman, ia mengayunkan lengannya yang sebesar batang pohon jati. Namun, gerakannya lambat dan tidak terarah—ia sedang sekarat, atau lebih tepatnya, Mia di dalam sana sedang menderita. Ayunan itu luput, malah menghantam tanah dan menciptakan awan debu yang membutakan.
"Bodoh!" Jaro meludah. "Kau melindungi hal yang akan membunuhmu!"
Pertarungan pecah menjadi kekacauan tiga arah. Si kurus terus menghujani kami dengan anak panah, sementara satu Scavenger lainnya mencoba memutar untuk menusuk bagian belakang Raksasa Lumut. Aku terjepit. Aku harus menangkis serangan Jaro yang beringas, sembari memastikan monster itu—adikku—tidak terkena serangan fatal.
[Skill Aktif: Fokus Predator]
Duniaku melambat. Aku bisa melihat setiap butiran cangkang yang melayang di udara, setiap tetes keringat yang jatuh dari dahi Jaro. Aku menunduk, menghindari tebasan tombak, lalu menendang lutut Jaro hingga ia terhuyung. Tanpa membuang waktu, aku berputar dan melemparkan pisau lempar ke arah si pemanah.
Terdengar teriakan kesakitan, disusul bunyi berdebam. Satu tumbang.
Namun, harga yang harus dibayar mahal. Gangguanku membuat si Scavenger ketiga berhasil mendekati celah di dada Raksasa Lumut. Dia mengangkat sebuah belati besar, siap menghujamkannya ke inti yang bersinar itu.
"TIDAK!"
Suaraku serak, tenggorokanku terasa seperti terbakar. Saat itu, sebuah fenomena aneh terjadi. Raksasa Lumut itu mengeluarkan pekikan yang melengking tinggi, frekuensinya begitu tajam hingga membuat pembuluh darah di mataku seakan mau pecah. Gelombang kejut hijau meledak dari tubuhnya, melemparkan si Scavenger ketiga hingga menghantam pohon dan tewas seketika dengan tulang rusuk hancur.
Jaro terlempar beberapa meter, terbatuk darah. Aku sendiri terjerembap, dadaku sesak seolah baru saja dihantam palu godam.
Dalam kesunyian yang tiba-tiba mencekam, monster itu menunduk. Matanya yang biasanya hanya berupa lubang gelap tanpa dasar, kini memancarkan rona biru yang sangat kukenal. Biru yang sama dengan warna pita rambut yang dipakai Mia di hari dia menghilang.
"Ra... ka...?"
Suara itu bukan berasal dari pita suara monster. Itu adalah bisikan yang bergema langsung di dalam kepalaku. Lembut, rapuh, dan penuh penderitaan.
Jaro bangkit dengan susah payah, wajahnya merah padam karena amarah dan ketakutan. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi cairan hitam pekat—*Bisa Cangkang Hitam*, sebuah zat yang bisa membusukkan inti monster secara paksa.
"Jika aku tidak bisa memilikinya dalam keadaan utuh, maka tidak akan ada yang bisa!" teriak Jaro dengan g***. Dia bersiap melempar tabung itu tepat ke arah dada Raksasa Lumut yang terbuka lebar.
Aku mencoba berdiri, tapi kakiku mati rasa. Sistem di depan mataku berkedip merah membara: [PERINGATAN KRITIS: Inti Target dalam Bahaya. Kerusakan pada Inti akan Mengakibatkan Kematian Kesadaran di Dalamnya secara Permanen].
"Mia..." bisikku, menggapai udara kosong sementara Jaro mengayunkan lengannya untuk melempar maut itu.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!