Udara di sekelilingku tidak lagi sekadar berdesing; ia menjerit. Serpihan cangkang purba yang setajam silet menghantam pelindung bahuku, menciptakan percikan api kecil dan suara berderit yang menyakitkan telinga. Aku terengah, paru-paruku terasa seperti diisi oleh debu kaca. Di depanku, Raksasa Lumut itu tumbang. Tubuhnya yang setinggi bangunan tiga lant** kini meringkuk, luruh menjadi gundukan vegetasi busuk yang berdenyut lemah.
"Sedikit lagi," bisikku pada diri sendiri, meskipun suaraku nyaris hilang ditelan badai cangkang. "Hanya satu tusukan lagi."
Pedang pendek di tanganku bergetar. Bukan karena beratnya, tapi karena apa yang terpampang di tengah dada monster itu. Di balik jalinan akar yang mulai mengering dan lumut yang meredup cahayanya, sebuah inti kristal berwarna zamrud berdetak pelan. Dan di dalam beningnya kristal itu, aku melihatnya. Wajah yang menghantuiku selama lima tahun terakhir. Mia.
Matanya terpejam, rambutnya melayang di dalam cairan kental inti tersebut seolah ia berada di dalam rahim yang salah. Dia tidak menua sehari pun sejak hari dia terjatuh ke celah dimensi itu.
*TING!*
Sebuah jendela antarmuka transparan muncul di depan mataku, cahayanya yang biru neon kontras dengan kegelapan hutan yang mencekam.
***
[KONDISI TARGET: KRITIS (HP 1.2%)]
[PILIHAN TERSEDIA:]
1. **BUNUH UNTUK KELUAR**: Hancurkan Inti Raksasa Lumut. Dapatkan Skill: 'Regenerasi Instan (SSS)' dan akses gerbang keluar menuju Dunia Manusia.
2. **ASIMILASI UNTUK BERTAHAN**: Satukan sirkuit energi Anda dengan Inti. Selamatkan kesadaran di dalamnya, namun Anda akan kehilangan status manusia dan menjadi entitas Hutan Kerang Purba.
***
"Si****," umpatku. Air mata yang sudah lama kering kini mendesak keluar, mengaburkan pandanganku. "Kau memberikan pilihan ini sekarang? Setelah semua yang kulalui?"
Aku melangkah maju, kakiku menginjak permukaan tanah yang licin oleh cairan hijauβdarah sang monster. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang sangat berat. Logika pragmatisku, sisi diriku yang telah membant** ratusan predator di hutan ini untuk bertahan hidup, berteriak kencang: *Pilih opsi pertama! Kau sudah berjanji untuk membalas dendam pada mereka yang membuangmu ke sini! Kau butuh regenerasi itu agar kulitmu tidak terkelupas habis oleh angin si**** ini!*
Namun, saat aku sampai tepat di depan kristal itu, tangan mungil Mia di dalam sana tampak bergerak. Jemarinya seolah berusaha menggapai permukaan kaca, mencari kehangatan yang tidak mungkin ada di neraka ini.
"Raka..."
Suara itu bukan berasal dari telingaku. Itu adalah getaran psikis yang merambat langsung ke sumsum tulang belakangku. Lemah, rapuh, dan penuh kerinduan.
"Mia? Kau bisa mendengarku?" Aku menjatuhkan pedangku. Denting logamnya saat menghantam batu terdengar seperti lonceng kematian. Aku menempelkan telapak tanganku yang kasar dan penuh luka ke permukaan kristal yang dingin. "Maafkan Kakak. Aku terlambat. Aku sangat terlambat."
Badai di luar sana semakin mengamuk. Sebuah serpihan cangkang berukuran besar menghantam dahan di atasku, mematahkannya seketika. Hutan ini ingin aku mati. Jika aku tidak segera memutuskan, Raksasa Lumut ini akan mati dengan sendirinya karena luka-lukanya, dan Mia akan ikut lenyap menjadi abu data.
Sistem kembali berkedip merah, memberikan peringatan waktu.
***
[PERINGATAN: STABILITAS INTI MENURUN!]
[WAKTU TERSISA: 15 DETIK]
***
"Kalau aku membunuhmu, aku bebas," bisikku, dahiku menempel pada kristal. "Aku bisa kembali ke rumah. Aku bisa menghirup udara yang tidak membunuhku. Aku bisa tidur di ka**r yang empuk lagi."
Aku melihat bayangan diriku di permukaan kristal. Seorang pria yang kotor, penuh luka parut, dengan mata yang telah kehilangan cahayanya. Jika aku membiarkan Mia mati untuk kedua kalinya demi keselamatanku sendiri, apakah yang tersisa dari diriku masih bisa disebut manusia?
"Tapi jika aku menyelamatkanmu..." suaraku bergetar, "aku tidak akan pernah bisa pulang. Aku akan menjadi bagian dari kutukan ini. Aku akan menjadi monster yang selalu aku benci."
Mia membuka matanya. Pupilnya yang berwarna hijau jernih menatap langsung ke mataku. Tidak ada ketakutan di sana. Hanya ada penerimaan. Dia seolah mengatakan bahwa tidak apa-apa jika aku memilih untuk pergi.
***
[WAKTU TERSISA: 5 DETIK]
***
"Tidak," geramku. Tanganku mengepal kuat. "Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi di tempat gelap ini. Pers**** dengan dunia luar. Pers**** dengan dendam."
Aku menjangkau antarmuka sistem dengan tangan yang gemetar. Jariku melayang di atas pilihan kedua. Opsi yang berarti hukuman mati bagi kemanusiaanku, namun satu-satunya jalan hidup bagi adikku.
"Maafkan aku, Ayah, Ibu," bisikku dalam hati. "Aku tidak akan pulang hari ini. Atau selamanya."
Aku menekan tombol **[ASIMILASI UNTUK BERTAHAN]**.
Seketika, cahaya zamrud dari kristal itu meledak, menelan seluruh tubuhku. Rasa sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya menyerang setiap sel di tubuhku. Aku merasa tulang-tulangku patah, lalu tumbuh kembali dalam bentuk yang aneh. Akar-akar dari bawah tanah merayap naik, melilit kaki dan lenganku, menarikku ma**k ke dalam pelukan sang raksasa yang sedang sekarat.
Darahku berhenti mengalir merah; aku bisa merasakan cairan hijau yang kental dan dingin mulai mengalir di nadiku. Kesadaranku mulai kabur, menyatu dengan bisikan ribuan pohon di hutan ini. Aku bisa merasakan setiap serpihan cangkang yang melayang di udara, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari kulit baruku.
Di tengah transformasi yang menyiksa itu, aku merasakan sebuah tangan kecil menggenggam tanganku.
"Terima kasih, Kak," bisik suara itu, kini lebih jelas dan hangat.
Namun, sebelum aku bisa menjawab, sebuah notifikasi baru muncul di layar visiku yang mulai menghijau. Sebuah notifikasi yang tidak pernah kuduga akan muncul setelah memilih jalur pengorbanan ini.
***
[PROSES ASIMILASI DIMULAI...]
[PERINGATAN: ENTITAS ASING TERDETEKSI DI DALAM HUTAN!]
[STATUS BARU: PENJAGA ABADI (LEVEL 1)]
[MISI PERTAMA: MUSNAHKAN TIM EKSPEDISI MANUSIA YANG BARU SAJA MEMA**KI ZONA!]
***
Jantungkuβatau apa pun yang sekarang berdetak di dadakuβterhenti sejenak. Melalui akar-akar hutan yang kini menjadi sarafku, aku bisa merasakan kehadiran mereka. Sepuluh manusia. Berpakaian lengkap dengan perlengkapan tempur tercanggih. Dan di depan mereka, memimpin barisan, adalah pria yang paling kubenci di dunia. Orang yang mendorongku dan Mia ke dalam lubang ini lima tahun lalu.
Dia ada di sini. Dan sekarang, tugasku adalah membunuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!