Dengung statis memenuhi udara, lebih nyaring daripada gesekan jutaan serpihan cangkang yang beterbangan di luar sana. Di hadapanku, Raksasa Lumut itu—atau apa pun yang tersisa dari Mia—bergetar hebat. Inti kehidupan di dadanya yang biasanya berdenyut hijau lembut, kini berkedip merah darah. Cahaya itu memantul di bola mataku, membawa rasa perih yang bukan berasal dari atmosfer tajam Hutan Kerang.
[PERINGATAN: ANOMALI DATA TERDETEKSI PADA SUBJEK #044]
[STATUS: KEGAGALAN INTEGRASI JIWA]
[PROTOKOL PEMBERSIHAN DIMULAI...]
Suara itu datar, mekanis, dan dingin. Suara yang selama ini kuanggap sebagai panduan bertahan hidup kini terdengar seperti vonis mati.
"Tidak," bisikku. Suaraku parau, tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan bubuk kaca. Aku melangkah maju, merentangkan tangan di depan gumpalan lumut raksasa yang mengerang pelan itu. "Dia bukan anomali. Dia adikku."
Tanah di bawah kakiku bergetar. Udara yang tadinya penuh dengan serpihan cangkang tajam mendadak membeku, lalu terhisap ke satu titik di depanku. Cahaya biru elektrik berpendar, membentuk retakan di realitas. Dari sana, muncul sesosok entitas yang tampak begitu asing di tengah hutan purba ini. Ia tidak memiliki wajah, hanya topeng perak datar dengan satu lensa vertikal di tengahnya. Tubuhnya terbungkus jubah cahaya yang bergerak seperti algoritma cair.
[Guardian Sistem: Unit Likuidasi 0-A1]
"Target teridentifikasi: Massa Organik Terkontaminasi," suara Guardian itu bergema langsung di dalam kepalaku. "Minggir, User Raka. Jangan menghalangi proses pemeliharaan zona."
"Pemeliharaan?" Aku tertawa sumbang, sambil menghunus pedang pendekku yang sudah bergerigi akibat ab**si. "Kalian yang menyeretnya ke sini. Kalian yang mengubahnya menjadi jantung dari monster ini!"
Guardian itu tidak menjawab dengan kata-kata. Lensa di wajahnya bersinar terang. Dalam sekejap, sebuah tombak cahaya melesat ke arahku.
[Skill Aktif: Analisis Taktis!]
Dunia di sekitarku melambat. Garis-garis merah—prediksi lintasan serangan—muncul di pandanganku. Aku memutar tubuh ke samping, merasakan panas tombak itu membakar ujung jubahku. Ledakan di belakangku membuat Raksasa Lumut itu meraung kesakitan.
"Mia!" teriakku. Aku melihat air mata—atau mungkin cairan kental mirip getah—merembes dari sela-sela lumut yang menyelimuti inti pusatnya.
Aku tidak punya waktu untuk berduka. Guardian itu bergerak dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Ia seolah melakukan teleportasi dalam jarak pendek, meninggalkan jejak piksel yang pecah di udara. Setiap kali ia muncul, bilah cahaya menebas ke arahku.
Aku menangkis serangan berikutnya dengan sisa tenagaku. Benturan itu mengirimkan gelombang kejut yang membuat tulang lenganku terasa retak. Aku terlempar ke belakang, punggungku menghantam kaki Raksasa Lumut yang empuk namun kokoh.
[Peringatan: Integritas Senjata Menurun (12%)]
[Peringatan: Stamina di Bawah Ambang Batas!]
"Analisis selesai," ucap Guardian itu. Suaranya tidak memiliki emosi, seolah ia hanya sedang mencentang daftar belanjaan. "User Raka menunjukkan perilaku menyimpang. Mengaktifkan Mode Penertiban."
Dua lengan tambahan tumbuh dari bahu Guardian itu, masing-masing memegang cakram energi yang berputar dengan suara mendesing yang menyakitkan telinga. Hutan di sekitar kami seolah merespons keberadaannya; pohon-pohon kerang purba melengkung menjauh, seolah-olah alam semesta sendiri takut pada algoritma penghancur ini.
"Kau pikir aku peduli dengan sistemmu?" Aku bangkit berdiri, menyeka darah yang mengalir dari pelipisku. Aku bisa merasakan denyut nadi Mia di belakang punggungku. Denyut itu lemah, tidak stabil, tapi itu adalah satu-satunya hal yang nyata bagiku di dunia digital yang g*** ini. "Aku sudah kehilangan dia sekali karena ketidakberdayaanku. Aku tidak akan membiarkan sebaris kode menghapusnya lagi."
Aku mengaktifkan *Skill* terakhir yang kusimpan untuk keadaan darurat. *Overdrive: Sinapsis Terbakar*.
Visi pandanganku berubah menjadi merah. Rasa sakit menusuk otakku seolah-olah ada ribuan jarum yang dipanaskan merobek saraf. Namun, gerakan Guardian itu kini terlihat jelas. Aku bisa melihat celah di antara pergeseran datanya.
Aku menerjang. Bukan ke arah tubuhnya, tapi ke arah fondasi cahaya tempat ia berpijak. Dengan satu ayunan penuh amarah, aku menghantamkan pedangku ke lant** sistem yang berpendar di bawah kaki Guardian tersebut.
*Krak!*
Retakan terjadi. Bukan pada tanah, tapi pada realitas di bawah kami. Guardian itu goyah sesaat, lensanya berkedip tidak stabil.
"Kesalahan terdeteksi... Integritas zona terancam..."
"Pergi dari sini!" raungku, sambil melompat dan mengayunkan tinjuku yang sudah dilapisi sisa-sisa energi regenerasi Raksasa Lumut yang kuserap secara paksa.
Hantamanku mendarat tepat di topeng peraknya. Retakan menjalar di wajah tanpa mata itu. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu di balik topeng itu—bukan mesin, bukan cahaya, tapi kehampaan hitam yang tak berdasar.
Namun, keberhasilanku hanya bertahan sesaat. Guardian itu tidak hancur. Ia justru berhenti bergerak sama sekali. Udara di sekitar kami mendadak menjadi sangat dingin, sampai-sampai uap napasku membeku seketika.
[Otoritas Level 2 Diberikan]
[Memulai Prosedur: Penghapusan Total Sektoral]
"Apa?" gumamku.
Di langit hutan yang tertutup cangkang tajam, sebuah lingkaran cahaya raksasa terbentuk. Ukurannya meliputi seluruh area di mana Raksasa Lumut itu berada. Ini bukan lagi pertarungan satu lawan satu. Mereka berniat menghapus seluruh koordinat ini dari peta.
"Raka..."
Sebuah suara tipis, begitu rapuh hingga hampir tenggelam oleh deru sistem, terdengar dari dalam tumpukan lumut. Itu bukan suara monster. Itu suara Mia.
Aku menoleh dengan cepat. Di balik lapisan serat hijau, sebuah tangan kecil manusia mencoba menggapai keluar. Tapi di saat yang sama, pilar cahaya dari langit mulai turun, siap menghanguskan apa pun yang dianggap sebagai 'kesalahan'.
Aku hanya punya waktu tiga detik. Menyelamatkan Mia berarti membiarkan diriku terhapus bersamanya, atau tetap hidup namun melihatnya dilenyapkan oleh sistem yang tidak punya hati ini.
"Mia, pegang tanganku!" teriakku, sambil melompat ke tengah-tengah badai cahaya yang turun menghujam.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!