Rasa dingin itu tidak datang dari udara, melainkan dari dalam sumsum tulangku sendiri. Akar-akar halus berwarna hijau zamrud, yang awalnya hanya membelit pergelangan kakiku, kini telah merambat naik, menembus pori-pori kulit, dan menjalin diri dengan jaringan ototku. Rasanya seperti ribuan jarum es yang disuntikkan secara bersamaan, namun anehnya, rasa sakit itu segera berganti dengan sensasi mati rasa yang menenangkan.
Di hadapanku, sosok Raksasa Lumut itu berdenyut pelan. Di dalam rongga dadanya yang transparan, aku bisa melihat gumpalan cahaya yang merupakan inti kehidupan Mia. Gadis kecil itu—atau setidaknya sisa-sisa kesadarannya—tampak meringkuk seperti janin, terbungkus dalam lapisan energi yang stabil berkat pengorbananku.
[Peringatan Sistem: Proses Asimilasi ‘Pelindung Abadi’ mencapai 82%.]
[Peringatan: Kehilangan sinkronisasi memori manusia terdeteksi. Apakah Anda ingin melanjutkan?]
Layar biru transparan yang melayang di depan mataku berkedip-kedip tidak stabil, seolah ikut merasakan pergulatan batin yang mengoyak jiwaku. Aku mencoba menggerakkan jemariku, namun yang kulihat bukan lagi kulit sawo matang yang kasar karena latihan pedang, melainkan serat kayu berwarna kelabu yang mengeras seperti cangkang purba.
"Raka... Kakak..."
Suara itu halus, seperti gesekan daun kering, tapi bergema begitu kencang di dalam kepalaku. Aku menatap mata Raksasa Lumut itu—mata yang kini memantulkan bayanganku sendiri.
"Aku di sini, Mia," bisikku. Suaraku parau, berat oleh beban yang tak kasat mata. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi. Tidak angin cangkang, tidak juga sistem ini."
Aku memejamkan mata, dan seketika itu juga, memori tentang aroma masakan ibu di dapur yang sempit meredup. Aku mencoba mengingat warna langit sore di kota kelahiranku, tapi yang muncul hanyalah gambaran kanopi hutan yang dipenuhi kabut hijau dan kilatan tajam serpihan cangkang. Nama-nama temanku, wajah-wajah orang yang pernah kucint**, semuanya mulai terkikis, digantikan oleh peta topografi Hutan Kerang Purba yang meresap ke dalam ingatanku layaknya tinta di atas kertas basah.
[Proses Asimilasi: 90%.]
[Skill Aktif: 'Regenerasi Instan' sedang diubah menjadi 'Otoritas Wilayah: Hutan Kerang'.]
"Tidak... jangan yang itu," erangku. Aku mencengkeram dadaku yang kini terasa kaku. Kehilangan identitas ini lebih mengerikan daripada kematian. Jika aku melupakan siapa diriku, apakah janjiku pada Mia masih akan berarti? Atau aku hanya akan menjadi monster lain yang menjaga rahasia hutan ini tanpa tahu mengapa?
Tiba-tiba, sebuah sentuhan hangat terasa di kesadaranku. Itu Mia. Dia tidak berbicara, tapi dia mengirimkan sebuah rasa—rasa syukur yang murni dan kepedihan yang mendalam. Dia tahu apa yang kuberikan untuknya. Dia memintaku untuk bertahan, bukan sebagai Raka sang pemain, tapi sebagai sesuatu yang baru.
"Aku tetap kakakmu," gumamku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya. "Bahkan jika aku lupa cara menangis, aku akan tetap berdiri di sini."
Aku menekan telapak tanganku ke permukaan batang pohon induk yang menjadi pusat ritual ini. Kulitku menyatu sempurna dengan kulit kayu itu. Cahaya hijau terang meledak dari titik sentuhan kami, merambat ke seluruh penjuru hutan. Aku bisa merasakan setiap getaran di tanah, setiap pergerakan predator cangkang yang mengint** di balik bayang-bayang, dan setiap hembusan angin tajam yang biasanya kutakuti. Kini, angin itu terasa seperti napasku sendiri.
[Proses Asimilasi Selesai.]
[Selamat. Anda bukan lagi 'Pemain'.]
[Status Baru: Pelindung Abadi Hutan Kerang Purba.]
Pandanganku berubah. Dunia tidak lagi terdiri dari bentuk dan warna, melainkan aliran energi dan data. Aku melihat status Mia di dalam Raksasa Lumut telah berubah menjadi 'Entitas Terlindungi: Stabil'. Aku menghembuskan napas panjang, dan tanpa kusadari, partikel lumut keluar dari mulutku.
Aku berdiri dengan tegak, meskipun tubuhku kini terasa seberat gunung. Aku tidak lagi merasa lapar, tidak lagi merasa lelah, dan rasa takut yang biasanya menghantuiku telah lenyap, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan tak berperasaan. Aku menyentuh wajahku; permukaannya keras, berpola seperti ukiran kuno, dan tidak lagi memiliki suhu tubuh manusia.
Tiba-tiba, telingaku menangkap suara yang asing bagi penghuni hutan ini. Suara langkah kaki yang berat, denting logam yang beradu, dan aroma ambisi yang busuk.
Di batas penglihatanku, sekelompok pemain—para pemburu yang dulunya adalah rekanku—muncul dari balik kabut. Mereka memegang pedang besar dan perisai berlapis sihir, mata mereka berkilat penuh ketamakan saat menatap sosok Raksasa Lumut di belakangku.
"Lihat! Itu intinya! Jika kita menghancurkan pelindungnya, kita bisa mendapatkan Skill Regenerasi Instan itu!" teriak pemimpin mereka, seorang pria dengan zirah emas yang sangat kukenali. Itu adalah kapten regu yang dulu meninggalkanku sebagai umpan.
Dia menatapku, tapi dia tidak mengenaliku. Baginya, aku hanyalah bos baru, rintangan terakhir menuju harta karun yang mereka dambakan.
Aku perlahan mengangkat tanganku. Udara di sekitarku mulai berputar, mengumpulkan serpihan cangkang yang paling tajam dari atmosfer. Sebagian dari diriku ingin berteriak, memberi tahu mereka untuk pergi sebelum terlambat. Namun, bagian lain dari diriku—bagian yang kini menyatu dengan hutan—hanya merasakan satu hal: ancaman terhadap Mia harus dimusnahkan.
"Kalian salah ma**k rumah," suaraku keluar sebagai geraman rendah yang menggetarkan bumi di bawah kaki mereka.
Saat mereka mulai berlari menyerang, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku tidak lagi membenci mereka karena ingin membunuhku. Aku merasa kasihan, karena aku tahu persis seberapa tajam badai yang akan segera kulepaskan atas nama kesetiaan yang sudah tidak lagi kumengerti secara manusiawi. Namun, di tengah amarah hutan yang meluap, sebuah pertanyaan muncul di sela-sela kode sistem yang menguasai otakku: jika aku membant** mereka semua, apakah Mia akan tetap melihatku sebagai kakaknya, atau sebagai monster yang telah menelan jiwanya?
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!