Hutan Kerang Purba: Dilema Sang Pelindung Abadi

Bab 2: Bab 2 - Mendapatkan senjata dasar dari bangkai monster ...

Pengaturan Membaca

Napas yang keluar dari mulutku terasa seperti pasir kasar yang menggesek tenggorokan. Setiap kali angin berhembus, ribuan serpihan cangkang mikroskopis menghantam kulitku, meninggalkan goresan-goresan halus yang mulai merembeskan darah. Aku meringkuk di balik batang pohon yang teksturnya lebih mirip tumpukan karang mati daripada kayu, berusaha mengatur detak jantung yang berpacu liar.

Hutan Kerang Purba bukan sekadar tempat; ini adalah mesin penggiling raksasa yang hidup.

"Sial," desisiku, menatap telapak tanganku yang gemetar. Kulit di sela-sela jariku mulai mengelupas, efek dari ab**si atmosfer yang si****nya sangat agresif ini. Jika aku tidak menemukan cara untuk melindungi diri—atau setidaknya mendapatkan senjata—aku akan mati dikuliti oleh angin bahkan sebelum sempat bertemu dengan predator apa pun.

Mataku menyipit, memindai area di depan. Sekitar sepuluh meter dari tempatku berlindung, tergeletak bangkai seekor *Cangkang Belati*—sejenis gastropoda raksasa yang sudah membusuk. Cangkangnya yang memanjang dan runcing tampak berkilau di bawah cahaya remang hutan yang berwarna kebiruan. Itu dia. Patahan cangkang itu akan menjadi belati yang c**up tajam untuk merobek apa pun di sini.

Namun, ada masalah. Seekor Kepiting Cangkang Kaca sedang berpesta di atas bangkai itu.

Makhluk itu seukuran meja kopi, dengan delapan kaki yang tajam seperti jarum jahit raksasa. Seluruh tubuhnya dilapisi lapisan chitin transparan yang memantulkan cahaya dengan cara yang menyakitkan mata. Capit kanannya yang besar berderak, mematahkan bagian dari bangkai itu dengan suara *krak* yang membuat nyaliku menciut.

[Analisis Taktis Dimulai...]

Suara dingin dan monoton itu bergema di kepalaku. Pandanganku tiba-tiba berubah; garis-garis merah mulai memetakan gerakan sang kepiting.

[Target: Kepiting Cangkang Kaca (Level 3)]

[Titik Lemah: Sambungan sendi kaki belakang dan celah di bawah cangkang dada.]

[Peluang Keberhasilan Tanpa Senjata: 12%]

"Dua belas persen?" aku mendengus pahit. "Persentase yang bagus untuk mati konyol."

Aku tidak punya pilihan. Menunggu berarti membiarkan angin si**** ini mengikis dagingku sampai ke tulang. Aku harus bergerak sekarang. Aku meraih sebuah batu sebesar kepalan tangan—benda tumpul satu-satunya yang bisa kutemukan—dan mulai merangkak memutar, memanfaatkan bayangan dari tanaman mirip anemon yang menjunt** dari langit-langit hutan.

Tanah di bawahku berderit. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca. Saat aku berada hanya tiga meter di belakang makhluk itu, sang kepiting tiba-tiba berhenti mengunyah. Antenanya yang panjang bergetar, menangkap getaran di udara yang tidak seharusnya ada di sana.

*Krak!*

Makhluk itu berputar dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Capit besarnya menyambar ke arah kepalaku. Aku menjatuhkan diri ke tanah, merasakan hembusan angin tajam saat capit itu hanya meleset beberapa sentimeter di atas rambutku.

"Oke, oke! Kita lakukan ini!" teriakku, lebih untuk memacu adrenalin sendiri daripada menggertak lawan.

Aku melompat berdiri, melempar batu di tangan kananku sekuat tenaga. Batu itu menghantam cangkang kerasnya dengan bunyi *thud* yang tumpul. Tidak ada kerusakan berarti, tapi itu c**up untuk membuatnya marah. Sang kepiting mengeluarkan suara mendesis yang melengking, lalu menerjang maju.

Aku tidak lari menjauh. Sebaliknya, aku merunduk dan menerjang ke bawah tubuhnya.

Duniaku seakan melambat. Bau anyir laut yang busuk menusuk hidungku. Di atasku, perut kepiting itu terlihat—bagian yang paling sedikit terlindungi oleh lapisan kaca. Dengan tangan kosong, aku meraih salah satu kaki belakangnya dan menariknya sekuat tenaga ke arah berlawanan dari sendinya.

*KREEK!*

Cairan kehijauan muncrat, membasahi wajahku. Rasanya perih seperti asam. Sang kepiting menjerit, tubuhnya miring ke satu sisi karena kehilangan keseimbangan. Ini kesempatanku. Aku berguling ke samping, meraih potongan cangkang runcing dari bangkai *Cangkang Belati* yang berada dalam jangkauan tanganku.

Rasanya dingin dan sangat tajam. Tanganku seketika teriris saat menggenggam pangkalnya, tapi aku tidak peduli. Rasa sakit adalah bukti bahwa aku masih hidup.

Sang kepiting mencoba berbalik, capitnya yang besar mengayun liar dalam keputusasaan. Aku melompat ke punggungnya, mengabaikan duri-duri kecil yang menusuk lututku. Aku mengangkat patahan cangkang itu tinggi-tinggi dengan kedua tangan.

"Mati kau, br******!"

Aku menghujamkan senjata darurat itu tepat ke celah lunak di antara kepala dan cangkang punggungnya. Aku mendorongnya dengan seluruh berat tubuhku, merasakan perlawanan dari daging yang liat sebelum akhirnya... *jleb*.

Cairan kental menyembur keluar. Tubuh kepiting itu kejang hebat, kaki-kakinya menggaruk tanah dengan liar selama beberapa detik sebelum akhirnya terkulai lemas.

Aku ambruk di samping bangkai itu, dadaku naik turun dengan hebat. Paru-paruku terasa seperti terbakar. Aku menatap patahan cangkang di tanganku yang kini berlumuran darah hijau dan merah—darahku dan darahnya menyatu.

[Pemberitahuan Sistem: Target Tereliminasi.]

[Item Diperoleh: Belati Patahan Cangkang (Grade: Biasa).]

[Statistik Meningkat: Ketahanan +1, Ketangkasan +1.]

Aku tertawa pendek, tawa yang terdengar lebih seperti rintihan. Senjata dasar. Aku akhirnya memilikinya. Tapi saat aku mulai bangkit untuk membersihkan diri, angin tiba-tiba berhenti berhembus. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti hutan.

Lalu, sebuah suara bergema dari kejauhan. Bukan suara angin, bukan suara gesekan cangkang. Itu adalah suara langkah kaki yang sangat berat, getarannya membuat permukaan tanah yang dipenuhi cangkang meloncat-loncat kecil.

*Grummmm...*

Aku menoleh ke arah sumber suara. Di balik kabut spora dan pepohonan karang, sebuah bayangan kolosal mulai terbentuk. Sesuatu yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kubayangkan. Dan yang membuat darahku membeku bukanlah ukurannya, melainkan aura hangat yang seolah memanggil-manggil namaku dari balik rimbunnya lumut yang menyelimuti raksasa itu.

"Mia...?" bisikku lirih, tenggorokanku tiba-tiba tercekat bukan karena debu, melainkan karena harapan yang bercampur dengan kengerian murni.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca