Suara denting itu bukan berasal dari lonceng atau musik indah, melainkan simfoni maut. Ribuan serpihan cangkang purba, sekecil pasir hingga sebesar belati, berdenting saat angin kencang menyeret mereka menghantam batang-batang pohon batu. Di telinga Raka, suara itu terdengar seperti jutaan mata pisau yang sedang diasah secara bersamaan.
"Sial," umpat Raka pendek. Dia menyeka darah yang merembes dari pipi kirinya. Luka itu tipis, hanya goresan kecil dari serpihan cangkang yang melayang searah angin, tapi perihnya seperti disiram air c**a.
Di sudut pandangannya, sebuah jendela hologram semi-transparan berkedip dengan warna merah peringatan.
**[PERINGATAN: Efek Ab**si Atmosfer meningkat (Level 3). Health Point (HP): 74/100 – Berkurang 1 poin setiap 5 menit.]**
Raka mengatur napasnya yang mulai memburu. Udara di Hutan Kerang Purba semakin padat dan tajam. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serbuk kaca. Jika dia tidak segera menemukan tempat berlindung sebelum badai cangkang mencapai puncaknya, tubuhnya akan terkoyak habis sebelum dia sempat menemukan jejak Mia.
"Analisis area," bisik Raka, mengaktifkan salah satu fungsi dasar sistemnya.
Matanya menyapu sekeliling, memindai struktur batuan kapur yang menjulang di antara pepohonan aneh yang batangnya menyerupai tumpukan kerang mati. Sekitar lima puluh meter ke arah jam dua, sistemnya menangkap celah gelap di kaki tebing.
**[Terdeteksi: Struktur Gua Alami. Potensi Perlindungan: Tinggi.]**
Tanpa membuang waktu, Raka memacu kakinya. Sepatu botnya yang sudah compang-camping menghantam permukaan tanah yang keras dan bersisik. Angin semakin kencang, membawa serta kabut putih yang sebenarnya adalah debu kalsium yang mematikan. Pandangannya mengabur, namun fokusnya tetap pada lubang gelap di depan sana.
Begitu dia melompat ma**k ke dalam gua, suara raungan angin di luar mendadak teredam, digantikan oleh gema napasnya yang berat. Raka jatuh bertumpu pada lututnya, terengah-engah. Di luar, badai benar-benar pecah. Dia bisa melihat melalui mulut gua bagaimana langit berubah menjadi badai putih yang ganas; pepohonan batu di luar sana tampak terkikis habis-habisan oleh kecepatan angin yang membawa cangkang-cangkang tajam itu.
"Satu masalah selesai," gumamnya sambil menyandarkan punggung pada dinding gua yang dingin.
Raka meraba kantong sabuknya, mengeluarkan botol air yang tinggal sepertiga. Dia meminumnya sedikit, hanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan berpasir. Matanya mulai terbiasa dengan kegelapan di dalam gua. Bau lembap yang menyengat mulai menusuk hidungnya—bau tanah basah bercampur dengan aroma amis yang samar, mirip bau laut yang membusuk.
Sesuatu terasa aneh. Raka mengusap permukaan dinding gua di belakangnya. Cairan kental dan lengket menempel di telapak tangannya. Dia menyalakan senter kecil dari *interface* sistemnya.
Cahaya biru pucat itu menyinari dinding gua. Raka tersentak. Dinding itu tidak terbuat dari batu biasa. Permukaannya dilapisi oleh memb**n tipis yang berdenyut pelan, ditumbuhi oleh lumut-lumut berpendar yang mengeluarkan cahaya kehijauan redup. Dan di lant** gua, terdapat tumpukan tulang belulang—beberapa milik makhluk hutan yang aneh, tapi ada satu tengkorak yang bentuknya sangat dia kenali. Tengkorak manusia.
Jantung Raka berdegup kencang. Dia segera berdiri, menggenggam gagang belati besinya dengan erat.
"Sistem, pindai suhu dan aktivitas biologis di dalam gua," perintahnya dengan suara tertahan.
**[Memproses...]**
**[Peringatan! Terdeteksi anomali suhu di bagian dalam gua. Terdapat tanda kehidupan masif.]**
**[Tingkat Ancaman: Tier 4 – Predator Puncak (Lethal)]**
Udara di dalam gua mendadak terasa lebih dingin. Dari kedalaman lorong yang gelap, terdengar suara gesekan yang berat—suara sesuatu yang besar sedang merayap di atas permukaan yang kasar. *Srak... srak... srak...*
Raka mundur selangkah demi selangkah menuju mulut gua. Namun, badai di luar masih mengamuk dengan hebatnya. Keluar berarti mati dicacah angin, bertahan di dalam berarti menjadi santapan entitas yang belum dia lihat.
Tiba-tiba, sepasang mata besar terbuka di kegelapan ujung gua. Mata itu tidak memiliki pupil, hanya dua bola cahaya berwarna kuning pucat yang bersinar tajam. Makhluk itu mulai menampakkan dirinya ke area yang terjangkau cahaya senter Raka.
Itu adalah seekor kelabang raksasa, namun tubuhnya dilapisi oleh cangkang-cangkang kerang purba yang tersusun rapi seperti zirah baja. Setiap kaki-kakinya berbentuk seperti sabit yang bergerigi, berkilat-kilat memantulkan cahaya biru dari sistem Raka. Kepalanya memiliki rahang ganda yang terus bergetar, mengeluarkan lendir hijau yang membakar lant** gua begitu menetes.
**[Nama Makhluk: Myriapod Shell-Eater (Elite)]**
**[Level: 35]**
**[Status: Lapar / Agresif]**
"Kau bercanda..." Raka berbisik, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Levelnya saat ini baru menyentuh angka 12. Melawan makhluk level 35 di ruang sempit seperti ini adalah bunuh diri.
Kelabang itu mengangkat bagian depan tubuhnya, berdiri tegak setinggi dua meter di hadapan Raka. Ia mengeluarkan pekikan melengking yang menggetarkan seluruh isi gua, membuat beberapa serpihan batu jatuh dari langit-langit.
Raka mencengkeram belatinya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia melirik ke belakang, ke arah badai cangkang yang masih menutup jalan keluar, lalu kembali menatap monster di depannya yang mulai melesat maju dengan kecepatan yang mustahil bagi ukuran tubuhnya.
"Baiklah," napas Raka memburu, matanya menatap tajam pada celah di antara zirah cangkang makhluk itu. "Mari kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!