Udara di Hutan Kerang Purba tidak pernah membiarkanmu bernapas dengan tenang. Setiap kali aku menarik oksigen, tenggorokanku terasa seperti digores oleh ribuan serpihan kaca mikroskopis. Aku menyandarkan punggung pada batang pohon yang permukaannya tertutup kerak kalsium tajam, membiarkan jubah kulitku yang sudah compang-camping menerima beban gesekan. Di hadapanku, atmosfer hutan tampak berkabut, namun itu bukan uap air; itu adalah debu cangkang yang beterbangan, berkilauan mematikan di bawah cahaya remang yang menembus kanopi fosil.
"Satu jam lagi," bisikku, suaraku parau. "Kalau aku tidak menemukan koordinatnya dalam satu jam, paru-paruku akan robek dari dalam."
Aku menatap pergelangan tangan kiriku. Di sana, di bawah lapisan kulit yang memar, sebuah pola geometris kuno berdenyut redup. Itu adalah *Ancient Interface*, satu-satunya peninggalan teknologi atau sihir—aku bahkan tidak tahu lagi bedanya di tempat terkutuk ini—yang bisa membimbingku menuju Raksasa Lumut. Masalahnya, sistem ini adalah parasit. Ia tidak memakan energi mana yang melimpah, ia memakan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Aku meraba sebuah altar kecil di antara akar-akar pohon yang membatu. Altar itu berbentuk seperti cangkang kerang raksasa yang terbuka, dengan lekukan di bagian tengah yang seolah-olah dirancang pas untuk telapak tangan manusia.
[SISTEM TERDETEKSI: ANTARMUKA PURBA – HUB KOORDINAT]
[STATUS: NON-AKTIF]
[SYARAT AKTIVASI: PERSEMBAHAN ESENSI HIDUP (DARAH)]
Aku mendengus masygul. "Selalu saja begitu. Tidak ada yang gratis di neraka ini."
Tanpa membuang waktu, aku mencabut pisau belati pendek dari pinggangku. Logamnya sudah mulai kusam karena ab**si atmosfer, namun matanya masih c**up tajam untuk merobek kulit. Aku menatap telapak tangan kananku yang gemetar, bukan karena takut, tapi karena tubuhku sudah mencapai batas ambang kelelahan. Bayangan Mia melintas sekilas di benakku—senyumnya yang cerah sebelum kabut si**** itu menelannya bertahun-tahun lalu. Itu adalah bahan bakar utamaku.
*Srak!*
Aku menyayatkan mata pisau di sepanjang telapak tanganku. Rasa perih yang panas menjalar seketika, membuat rahangku mengatup rapat. Aku segera menempelkan luka yang mengucur itu ke pusat lekukan altar.
Seketika, altar itu bergetar. Cairan merahku tidak meluap, melainkan tersedot dengan rakus ke dalam pori-pori batu kalsium yang putih pucat. Garis-garis cahaya biru pucat mulai menjalar dari bawah telapak tanganku, merambat ke seluruh permukaan altar, membentuk peta topografi tiga dimensi yang melayang di udara.
[PROSES EKSTRAKSI DIMULAI...]
[KESEHATAN (HP): 85%... 78%... 70%...]
Kepalaku mulai berdenyut. Setiap detak jantung terasa seperti hantaman palu godam di dalam tengkorak. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhku berpindah ke dalam sistem, mengubah suhu tubuhku menjadi dingin yang menusuk. Pandanganku mulai mengabur, bintik-bintik hitam menari-nari di pinggir penglihatan.
"Cepatlah..." geramku, gigiku bergemeletuk.
Peta di hadapanku mulai fokus. Titik-titik cahaya menunjukkan lokasi predator-predator cangkang di sekitar, namun aku mengabaikannya. Mataku mencari satu titik hijau besar—sinyal kehidupan yang masif.
[PENGUATAN SINYAL MEMBUTUHKAN ESENSI TAMBAHAN...]
[PERINGATAN: TINGKAT KESEHATAN DI BAWAH 50%. RISIKO GAGAL JANTUNG.]
"Terus hisap!" teriakku, meski suaraku hanya berupa bisikan pecah. Aku menekan tanganku lebih keras ke atas batu yang kini terasa panas membara.
Rasa sakitnya kini melampaui batas fisik. Aku merasa seolah jiwaku sedang ditarik keluar melalui lubang jarum. Di dalam kabut kesadaran yang menipis, sistem itu tiba-tiba memberikan umpan balik suara—suara yang dingin, mekanis, namun memiliki gema purba yang membuat bulu kuduk berdiri.
*“Pencari... apa yang kau pertaruhkan untuk sang penjaga?”*
Aku tidak menjawab. Aku hanya terus memberikan darahku. Di layar virtual yang memudar, sebuah titik hijau terang akhirnya muncul. Ia berada di jantung Lembah Kalsium, sekitar tiga kilometer ke arah utara dari posisiku. Namun, ada sesuatu yang aneh. Di samping simbol Raksasa Lumut, sistem menampilkan sebuah *tag* data yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
[SUBYEK TERDETEKSI: ORGANISME SIMBIOTIK – KODE JIWA: M.I.A.]
Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat, bukan karena kehilangan darah, tapi karena keterkejutan yang menghantam seluruh sarafku. Namanya. Itu kode namanya dalam database federasi dulu.
[KESEHATAN: 32%]
[AKSES BERHASIL. LOKASI TERKUNCI.]
Tekanan hisap pada tanganku tiba-tiba menghilang. Aku jatuh terduduk, terengah-engah seperti ikan yang dilemparkan ke daratan. Telapak tanganku masih mengeluarkan darah, namun lukanya tertutup oleh lapisan kristal tipis—mekanisme perlindungan paksa dari sistem agar inangnya tidak mati sebelum misi selesai.
Aku menatap peta yang perlahan menghilang itu dengan tatapan kosong. Lututku lemas, dan setiap inci ototku memprotes saat aku mencoba berdiri. Aku merasa sangat lemah, bahkan untuk sekadar menggenggam belatiku saja rasanya sulit. Namun, informasi tadi mengubah segalanya.
Raksasa Lumut itu... bukan hanya sekadar monster yang memegang kunci regenerasiku. Jika sistem tidak salah baca, monster itu *adalah* Mia. Atau setidaknya, apa yang tersisa darinya.
Aku menyeka keringat dingin di dahiku, meninggalkan jejak darah di sana. Di kejauhan, aku mendengar suara gemeretak keras—bunyi gesekan cangkang-cangkang besar yang bergerak. Sesuatu yang besar sedang menuju kemari, tertarik oleh bau darah segar yang baru saja kuberikan pada altar.
Aku menatap ke arah utara, ke arah lembah yang diselimuti kabut putih mematikan. Aku harus bergerak sekarang dalam kondisi sekarat ini, atau aku akan menjadi pupuk bagi hutan ini sebelum sempat meminta maaf pada adikku.
Suara geraman rendah bergema di antara pepohonan batu. Sepasang mata kuning berpendar muncul dari balik kabut debu cangkang, menatapku dengan rasa lapar yang murni. Aku mencabut kembali belatiku, meski tanganku bergetar hebat.
"Jangan sekarang," desisku pada kegelapan. "Aku belum siap untuk mati sebelum membunuhnya... atau menyelamatkannya."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!