Udara di Hutan Kerang Purba tidak pernah sekadar oksigen; ia adalah kumpulan ribuan bilah mikroskopis yang menari-nari dalam setiap embusan angin. Raka merapatkan syal kumalnya yang sudah koyak ke hidung, mencoba menyaring serpihan kalsit tajam yang mulai melukai paru-parunya. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan serbuk kaca.
Dia bersandar pada batang pohon yang permukaannya lebih mirip tumpukan karang daripada kayu. Di hadapannya, sebuah layar semi-transparan berwarna biru redup berkedip di udara, seolah mengejek kondisinya yang menyedihkan.
**[Status Karakter]**
**Nama: Raka**
**Level: 4 (EXP: 185/200)**
**Kesehatan: 32/100**
**Stamina: 14/100**
**Skill Tersedia: -**
**Syarat Skill [Hardened Skin]: Mencapai Level 5.**
"Tinggal sedikit lagi," bisik Raka, suaranya parau dan kering. "Satu mangsa lagi, dan kulit ini tidak akan terus-menerus robek."
Dia melihat lengannya sendiri. Luka sayatan halus menghiasi kulitnya yang pucat, darah merah merembes perlahan sebelum segera mengering karena ab**si atmosfer yang ekstrem. Jika dia tidak mendapatkan skill *Hardened Skin* dalam satu jam ke depan, infeksi atau kehilangan darah akan membunuhnya sebelum dia sempat menemukan jejak Mia.
Tiba-tiba, suara gemerisik muncul dari balik semak-semak kristal di sebelah kirinya. Bukan suara langkah kaki yang berat, melainkan bunyi gesekan benda keras yang bergerak sangat cepat. *Srak! Srak! Srak!*
Raka segera mencabut belati pendeknya yang terbuat dari patahan capit monster. Instingnya berteriak. Dia merendahkan tubuh, menahan napas agar tidak batuk.
Dari kegelapan vegetasi purba itu, muncul sepasang antena panjang yang bergetar hebat. Kemudian, satu per satu, mereka keluarβ*Serangga Cangkang Perak*. Ukurannya sebesar kucing dewasa, tetapi tubuh mereka dilapisi oleh lempengan cangkang yang berkilau metalik. Mata majemuk mereka memantulkan cahaya redup hutan dengan warna merah yang haus darah.
Satu, dua... lima... sepuluh.
"Sial," umpat Raka pelan. "Mereka tidak biasanya berburu dalam kelompok sebesar ini."
Tanpa peringatan, serangga terdepan melesat. Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan perak di mata Raka. *Clang!* Raka menangkis serangan itu dengan belatinya, tetapi benturan itu membuat tangannya mati rasa. Serangga itu memantul di batang pohon dan segera bersiap menyerang lagi.
Kawanan itu mulai mengepung. Mereka bergerak melingkar, menciptakan suara berisik dari kaki-kaki tajam mereka yang beradu dengan lant** hutan yang keras. Mereka tahu Raka terluka. Mereka bisa mencium bau besi dari darahnya yang menguap di udara.
Dua serangga melompat secara bersamaan dari arah berlawanan. Raka berguling ke depan, menghindari serangan yang nyaris memenggal kepalanya. Namun, serangga ketiga sudah menunggu di titik ia mendarat. *Srat!* Cangkang tajam serangga itu menyayat paha Raka.
"Agh!" Raka mengerang, lututnya nyaris menyentuh tanah.
**[Peringatan: Kesehatan di bawah 25%. Efek 'Bleeding' meningkat.]**
Raka memaksakan diri untuk berdiri. Matanya mencari celah. Dia harus bersikap taktis. Hutan ini tidak memberikan ampun pada mereka yang hanya mengandalkan otot. Dia melihat sebuah celah di antara dua akar pohon raksasa yang menyempitβsebuah jalan buntu alami.
"Ayo, kemari kalian kutu-kutu si****!" tantang Raka sambil melemparkan sepotong kecil batu karang ke arah kelompok tersebut.
Provokasi itu berhasil. Kawanan serangga itu mendesis nyaring dan menerjang secara memb*** buta. Raka berlari menuju celah akar tersebut. Ruangnya sangat sempit, hanya c**up untuk satu orang. Begitu dia ma**k, dia berbalik dan memosisikan belatinya di depan.
Kini, keunggulan jumlah mereka sirna. Serangga-serangga itu hanya bisa menyerang satu per satu karena sempitnya ruang.
Serangga pertama mencoba merangsek ma**k. Raka tidak menunggu. Dia menghujamkan belatinya tepat di sela-sela sambungan leher serangga yang tidak terlindungi cangkang. Cairan hijau kental menyemprot wajahnya.
**[EXP +5]**
"Belum c**up!" teriak Raka di tengah deru napasnya yang sesak.
Dua serangga berikutnya mencoba ma**k sekaligus, membuat mereka terjepit di antara akar. Raka memanfaatkan momentum itu dengan menikam mata mereka secara beruntun. Tangannya gemetar karena kelelahan, tetapi bayangan wajah Mia yang tersenyum di ingatannya menjadi satu-satunya bahan bakar yang tersisa. Dia tidak boleh mati di sini. Tidak sebelum dia meminta maaf karena telah melepaskan tangan Mia bertahun-tahun lalu.
*Crach!* Belati Raka patah setelah menusuk cangkang keras serangga keempat, tetapi dia menggunakan patahan itu sebagai belati genggam untuk merobek bagian perut lawan kelima.
Dunia di sekitar Raka mulai berputar. Oksigen semakin menipis, dan pandangannya mengabur oleh keringat dan darah. Serangga terakhir, yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang lain, melompat ke arah dadanya, menjatuhkan Raka ke tanah. Mandibel tajam serangga itu hanya berjarak beberapa inci dari lehernya.
Raka menahan kepala serangga itu dengan kedua tangan te*******nya. Cangkang tajam di kaki serangga itu mulai menyayat telapak tangannya, mengiris daging hingga ke tulang.
"Mati... kamu... ba******!" Raka menggeram, mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya untuk memutar kepala serangga itu hingga terdengar bunyi *krak* yang memuaskan.
Tubuh serangga itu terkulai lemas di atasnya. Keheningan tiba-tiba menyergap, hanya menyisakan suara angin yang bersiul di antara celah cangkang.
**[EXP +10]**
**[Selamat! Anda telah mencapai Level 5.]**
**[Skill Pasif Terbuka: Hardened Skin (Rank E)]**
**[Deskripsi: Mengubah struktur epidermis secara permanen untuk menahan ab**si atmosfer level rendah dan serangan fisik ringan.]**
Raka merasakan sensasi panas yang menjalar dari tulang belakang ke seluruh permukaan kulitnya. Rasa perih akibat sayatan angin perlahan mereda, digantikan oleh lapisan kulit yang terasa lebih tebal dan keras, seperti sensasi mengenakan baju zirah yang menyatu dengan daging. Dia terengah-engah, mencoba mendorong bangkai serangga di atasnya.
Namun, saat dia berhasil bangkit, keheningan hutan itu pecah oleh suara yang jauh lebih mengerikan. Bukan lagi desis serangga, melainkan suara dentum langkah berat yang menggetarkan tanah. *Dugh... Dugh...*
Dari balik kabut spora di kejauhan, sebuah bayangan raksasa setinggi pohon muncul. Tubuhnya diselimuti lumut hijau tua yang bercahaya redup, bergerak lambat namun pasti. Setiap kali makhluk itu melangkah, tanaman di sekitarnya seolah-olah tumbuh dengan kecepatan yang tidak wajar sebelum layu kembali.
Jantung Raka berhenti berdetak sejenak. Itu adalah Raksasa Lumut. Target utamanya.
Namun, bukan ukuran makhluk itu yang membuat Raka terpaku hingga menjatuhkan sisa belatinya. Melalui rongga transparan di bagian dada monster tersebut, di dalam inti kristal yang berdenyut pelan, Raka melihat sesuatu yang mustahil.
Seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua, tampak tertidur lelap di dalam cairan kental di dalam tubuh sang raksasa.
"Mia?" bisik Raka, suaranya hilang ditelan angin yang kini membawa aroma kehidupan dan kematian secara bersamaan.
Raksasa Lumut itu berhenti, kepalanya yang tak bermata seolah menoleh tepat ke arah persembunyian Raka, dan sebuah raungan rendah yang terdengar seperti tangisan manusia bergema di seluruh penjuru hutan. Raka baru saja mendapatkan kulit untuk bertahan hidup, tetapi sekarang dia menyadari bahwa untuk tetap hidup, dia mungkin harus menghancurkan satu-satunya alasan baginya untuk pulang.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!