Lidah Raka mencecap rasa besi. Itu bukan darahnya sendiri, melainkan partikel cangkang mikroskopis yang memenuhi udara, menggores kerongkongannya setiap kali ia menarik napas. Ia mengeratkan lilitan kain di wajahnya, berusaha menyaring udara yang semakin berat dan lembap.
Langkah kakinya yang semula mantap di atas tanah keras penuh serpihan tajam, kini mulai terperosok. Bunyi *krak* yang biasanya berasal dari patahan ranting, berganti menjadi suara isapan yang menjijikkan. Tanah di bawah botnya berubah menjadi bubur kelabu yang kentalβsebuah perpaduan antara lumut busuk dan air payau yang berbau menyengat.
[Peringatan: Anda mema**ki wilayah Rawa Cangkang Korosif.]
[Debuff Terdeteksi: 'Napas Berat' (Stamina menurun 15% lebih cepat).]
[Debuff Terdeteksi: 'Korosi Kulit' (Pertahanan fisik berkurang secara bertahap).]
Panel hologram biru pucat berkedip di sudut visinya. Raka mendecit, menyapu layar itu dengan lambaian tangan yang tak sabar. "Aku tahu, si****. Aku tahu," desisnya. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh bunyi gemericik air yang tidak wajar di sekelilingnya.
Setiap langkah kini menjadi perjuangan hidup mati. Cairan rawa itu seolah memiliki kemauan sendiri, membelit pergelangan kakinya seperti jemari mayat yang dingin. Lumpur itu penuh dengan pecahan cangkang purba yang telah hancur menjadi serbuk kasar, bertindak layaknya amplas raksasa yang mulai mengikis sol sepatunya.
Raka berhenti sejenak, bertumpu pada sebatang pohon yang batangnya dipenuhi tonjolan tajam mirip kerang dara. Ia terengah. Peluh mengucur dari pelipisnya, membakar luka-luka kecil di pipinya yang terkena ab**si udara. Di depannya, kabut hijau kekuningan menggantung rendah, menyembunyikan apa pun yang ada di balik batas cakrawala hutan ini.
"Sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri. Tangannya meraba saku dadanya, menyentuh sebuah liontin perak yang sudah kusamβsatu-satunya benda yang tersisa dari Mia. "Aku tidak akan membiarkanmu membusuk di tempat seperti ini, Mia. Tidak lagi."
Ia memaksakan kakinya bergerak kembali. Namun, rawa itu semakin rakus. Lumpur yang tadinya hanya setinggi mata kaki, kini sudah mencapai betis. Raka merasakan sensasi panas yang membakar di kulitnya. Cairan itu mulai menembus pori-pori pakaian pelindungnya.
[Stamina: 38/100 β Peringatan: Kelelahan Akut.]
Pandangan Raka mulai berbayang. Ia melihat siluet-siluet besar di kejauhanβakar-akar raksasa yang meliuk-liuk seperti ular piton purba, diselimuti oleh lumut yang bersinar redup dengan cahaya kehijauan yang sakit. Itu adalah pertanda. Ia sudah dekat. Lumut itu bukan lumut biasa; itu adalah bagian dari ekosistem sang penguasa wilayah ini.
Tiba-tiba, permukaan rawa di depannya meletup. Gelembung gas beracun pecah, menyemburkan aroma belerang yang membuat Raka mual. Ia terhuyung, kehilangan keseimbangan. Tangan kanannya terjerembap ke dalam lumpur cair.
"Ahhh!" Raka m****ik pelan, menarik tangannya secepat kilat. Telapak tangannya memerah, tergores oleh jutaan serpihan cangkang yang bersembunyi di balik lumpur. Rasa perihnya seperti disiram air keras.
Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, meski kakinya gemetar hebat. Di tengah kabut yang mulai menipis karena hembusan angin kencang, ia melihatnya. Sebuah gerbang alami yang terbentuk dari dua pohon purba yang saling melilit, tertutup sepenuhnya oleh permadani lumut yang sangat tebal dan lembap. Lumut itu berdenyut, seirama dengan detak jantung yang samar namun terasa hingga ke tanah yang dipijakinya.
Dunia di sekitar Raka mendadak sunyi. Angin tajam yang biasanya menderu di Hutan Kerang seolah segan untuk mema**ki area ini.
[Anda telah mencapai Perbatasan Domain: Raksasa Lumut.]
[Misi Terdeteksi: Temukan Inti Kehidupan.]
Raka menelan ludah. Rasa pahit kembali memenuhi mulutnya. Ia tahu, di balik gumpalan lumut hijau yang tampak tenang itu, ada sesuatu yang sangat berharga sekaligus mengerikan. Sesuatu yang meminjam wajah adiknya untuk tetap hidup.
Baru saja ia hendak melangkah maju menuju gerbang tersebut, tanah di bawah kakinya bergetar hebat. Lumpur rawa yang tadinya diam kini mulai berputar, membentuk pusaran air kecil di sekelilingnya. Dari kejauhan, sebuah raungan rendah yang terdengar seperti gesekan batu besar bergema, menggetarkan tulang rusuk Raka.
Raka menghunus pisaunya, meski tangannya masih bergetar karena kelelahan. Matanya menyipit, menembus kabut. Di sana, di antara celah akar-akar raksasa, sepasang mata besar dengan pendar cahaya kuning pucat terbuka perlahan. Itu bukan mata monster biasa. Ada sesuatu yang sangat akrab di balik tatapan dingin itu, sesuatu yang membuat jantung Raka mencelos.
"Mia?" bisiknya, nyaris tak terdengar.
Namun, jawaban yang ia terima bukanlah suara manusia. Dari balik kabut, sebuah lengan raksasa yang terbuat dari jalinan akar dan lapisan kerang keras melesat ke arahnya, siap meremukkan apa pun yang berani mengusik ketenangan sang penjaga abadi. Raka hanya punya waktu kurang dari sedetik untuk menghindar, atau perjalanan ini akan berakhir di sini, terkubur di bawah lumpur korosif yang tak pernah memaafkan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!