Angin menderu di celah-celah pilar kalsium yang menjulang, membawa serta partikel cangkang yang berkilau namun mematikan. Raka merapatkan jubah kulitnya yang sudah compang-camping, merasakan perih yang menusuk di pipi kanannya. Satu serpihan tajam baru saja menggores kulitnya, meninggalkan jejak darah yang langsung mengering karena udara yang gersang. Di depannya, lembah hijau yang kontras dengan sisa hutan yang abu-abu membentang sunyi.
Di tengah lembah itu, ia ada. Raksasa Lumut.
Raka berjongkok di balik bongkahan cangkang purba seukuran mobil, menahan napas. Ia mengaktifkan skill *[Thermal Sight]* tingkat rendah yang ia curi dari monster melata dua hari lalu. Dunianya berubah menjadi gradasi biru dan abu-abu, kecuali sosok di depannya yang berpendar dengan warna hijau emerald yang pekat dan hangat.
Sosok itu sangat besar—setinggi pohon cemara dewasa—dengan tubuh yang seolah-olah terjalin dari akar gantung, lumut tebal yang lembap, dan bunga-bunga pucat yang mekar di sela-sela persendiannya. Setiap kali raksasa itu bernapas, spora bercahaya keluar dari pori-pori kulit organiknya, menciptakan aura pelindung yang menetralisir ab**si atmosfer di sekitarnya.
"Regenerasi Instan," bisik Raka, tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir. "Kunci untuk bertahan hidup di sini."
Ia sudah menyiapkan belati tulang di tangan kanannya dan botol berisi cairan korosif di tangan kirinya. Raka telah membayangkan pertempuran berdarah. Ia berekspektasi akan menghadapi predator puncak yang haus darah, makhluk yang akan menghancurkan apa pun yang ma**k ke wilayahnya. Namun, setelah dua jam mengamati dari balik bayang-bayang, kenyataan yang ia temukan mulai mengikis tekadnya.
Seekor *Shell-Runner*—predator kecil berbentuk seperti an**** tanpa kulit yang ditutupi kepingan tajam—mendekat ke arah Raksasa Lumut dengan gerakan agresif. Makhluk lapar itu melompat, taringnya yang terbuat dari kalsit mencoba merobek kaki sang raksasa.
Raka menegang, mengira raksasa itu akan mengayunkan tangannya yang seberat beton untuk menghancurkan si pengganggu. Namun, Raksasa Lumut itu hanya berhenti melangkah. Ia tidak memukul. Ia tidak menggeram. Makhluk besar itu hanya diam, membiarkan *Shell-Runner* merobek sebagian lumut di betisnya.
Dalam hitungan detik, luka di kaki raksasa itu menutup kembali seolah-olah tidak pernah ada. Spora hijau mengerumuni si predator kecil, bukan untuk membunuhnya, melainkan seperti mengusir lalat dengan lembut. *Shell-Runner* itu tampak bingung, kehilangan minat karena targetnya tidak menunjukkan reaksi defensif yang berarti, lalu pergi menjauh.
"Dia... tidak menyerang?" gumam Raka. Tangannya yang memegang belati sedikit gemetar.
Ia bergeser sedikit untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih baik. Melalui lensa analisis sistem yang berkedip di sudut matanya, Raka mencoba memfokuskan pandangan pada dada raksasa itu. Di sana, di balik jalinan akar yang paling tebal, terdapat sebuah inti cahaya yang berdenyut tidak beraturan.
Itu bukan sekadar mesin energi. Itu adalah wadah.
Jantung Raka berdegup kencang saat ia melihat siluet samar di dalam inti tersebut. Seorang gadis kecil dalam posisi meringkuk, seolah-olah sedang tidur di dalam rahim alam yang megah. Rambutnya yang panjang melayang di dalam cairan kental transparan.
"Mia..."
Nama itu keluar sebagai embusan napas yang menyakitkan. Ingatan tentang malam di mana Mia tersedot ke dalam celah dimensi hutan ini menghantamnya seperti palu godam. Bertahun-tahun ia mencari, dan kini ia menemukan adiknya menjadi jantung dari sebuah entitas yang bahkan tidak memiliki kemauan untuk menyakiti seekor serangga.
Raka menunduk, menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh luka. Sistem di kepalanya terus berkedip, memberikan notifikasi dingin: *[Target Terdeteksi: Raksasa Lumut. Drop Item: Inti Regenerasi Abadi. Peluang Keberhasilan Keluar dari Zona: 98.7%].*
"Kalau aku mengambilnya, aku bisa pulang," Raka berbicara pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan sisi pragmatisnya yang biasanya dominan. "Kalau aku membunuhnya, aku bisa membalaskan dendam pada mereka yang membuangku ke sini. Aku bisa hidup."
Namun, matanya kembali pada Raksasa Lumut. Makhluk itu sekarang sedang berlutut di tanah, menyentuh sebatang tunas kecil yang mencoba tumbuh di antara retakan cangkang yang gersang. Dari ujung jarinya yang besar, setetes cairan bening jatuh, memberi kehidupan pada tumbuhan kecil itu.
Raksasa itu bukan monster. Ia adalah pelindung. Dan Mia adalah nyawanya.
Tiba-tiba, sebuah suara retakan keras terdengar dari arah belakang Raka. Ia tersentak, memutar tubuhnya dengan sigap. Sekelompok *Armor-Cracker*—predator kelas berat yang menyerupai badak dengan cangkang berlapis baja—muncul dari balik kabut. Mereka tidak tertarik pada Raka yang kecil; mata merah mereka tertuju langsung pada Raksasa Lumut.
Mereka lapar akan energi regenerasi. Mereka adalah pemangsa yang sesungguhnya.
Raka melihat Raksasa Lumut itu bangkit berdiri. Ia tidak mengambil posisi bertarung. Ia hanya berdiri tegak, merentangkan tangannya seolah ingin melindungi seluruh lembah kecil itu, terma**k tunas pohon yang baru saja ia sirami. Ia tampak pasrah, siap untuk dikoyak demi mempertahankan apa yang ia jaga.
Raka menggertakkan gigi, merasakan dilema yang menyayat jiwanya. Jika ia membiarkan *Armor-Cracker* itu menyerang, raksasa itu akan melemah, dan ia bisa mengambil inti itu dengan lebih mudah tanpa harus mengotori tangannya sendiri secara langsung. Itu adalah kesempatan yang paling logis.
Namun, saat salah satu predator itu mulai menyerjang dengan tanduk tajamnya, Raka melihat pantulan cahaya di dalam inti dada raksasa itu—siluet Mia yang tampak meringis seolah merasakan ketakutan sang raksasa.
"Si****!" Raka mengumpat keras.
Ia tidak melompat mundur untuk melarikan diri. Sebaliknya, ia mencengkeram belatinya erat-erat dan melompat turun dari tempat persembunyiannya, mendarat tepat di antara para predator dan Raksasa Lumut.
Sistem di matanya berubah merah, mengeluarkan peringatan bahaya yang m****akkan telinga, tapi Raka tidak peduli. Ia kini berdiri melindungi monster yang seharusnya ia bunuh, sementara para predator mulai mengurungnya dengan tatapan haus darah.
"Jangan sentuh dia," desis Raka, auranya meledak dalam kegelapan yang pekat. "Atau aku akan meratakan hutan ini dengan bangkai kalian."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!