Lant** hutan ini bukan terdiri dari tanah, melainkan tumpukan jutaan cangkang purba yang telah hancur menjadi serpihan tajam. Setiap kali Raka melangkah, bunyi gemeretak konsisten di bawah sol sepatunya terdengar seperti tulang yang patah. Di atas sana, kanopi pohon raksasa yang tertutup lumut tebal menghalangi cahaya matahari, menyisakan keremangan hijau yang mencekam.
Angin berdesis. Raka segera menarik tudung jubahnya lebih rapat. Detik berikutnya, *shring!* Sebuah serpihan cangkang seukuran kuku meluncur terbawa angin, menggores permukaan bahunya.
**[Peringatan: Ketahanan Jubah Pelindung berkurang 2%. Sisa: 38%]**
Raka mendesis pelan, mengabaikan notifikasi biru transparan yang melayang di sudut matanya. Dia harus terus bergerak. Radar di antarmuka sistemnya menunjukkan denyut merah yang samarβtanda bahwa dia berada sangat dekat dengan area teritorial Raksasa Lumut.
Langkah Raka terhenti di depan sebuah akar raksasa yang meliuk seperti ular sanca. Di sela-sela akar yang lembap dan berbau tanah busuk itu, ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sesuatu yang warnanya tidak hijau atau kelabu.
Dia berlutut, mengabaikan rasa perih saat lututnya menekan serpihan cangkang. Jemarinya yang kasar menyibak helaian lumut panjang yang menjunt**. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia menarik sebuah benda dari balik kegelapan akar tersebut.
Sebuah tas punggung kecil berwarna kuning kusam. Warnanya sudah hampir hilang tertutup noda lumpur dan jamur, tapi Raka akan mengenali benda itu bahkan dalam kegelapan total. Ada gantungan kunci kucing kayu yang kehilangan satu telinganyaβhasil pahatan asal-asalan Raka saat ulang tahun Mia yang kesepuluh.
"Mia..." bisik Raka. Suaranya pecah, hilang ditelan kesunyian hutan.
Seketika, realita di sekelilingnya memudar.
*Hawa dingin hutan berganti dengan aroma hangat masakan ibu di dapur. Dia melihat Mia, dengan rambut dikuncir dua, berlari ke arahnya sambil memamerkan tas kuning itu. "Kak! Lihat, gantungan kuncinya pas banget di sini!" Mia tertawa, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Janji ya, kalau kita pergi ke taman hiburan nanti, Kakak yang pegang tasku kalau aku naik rollercoaster!"*
*Lalu, pemandangan itu retak. Langit biru berubah menjadi merah darah. Retakan dimensi terbuka di tengah kota, menyedot apa pun yang ada di dekatnya. Raka melihat tangannya sendiri yang gemetar, menjangkau ujung jari Mia yang terhisap ma**k. "Kakak! Tolong!" Teriakannya tenggelam oleh deru angin yang membawa serpihan tajam, sebelum akhirnya tangan mungil itu terlepas dari genggamannya.*
**[Peringatan: Stabilitas Mental menurun drastis. Efek status 'Trauma' aktif!]**
**[Akurasi Serangan berkurang 30%. Kecepatan Reaksi berkurang 20%.]**
"Sial," Raka mengerang, mencengkeram kepalanya yang berdenyut hebat. Kenangan itu bukan sekadar ingatan; itu adalah luka terbuka yang dipaksa menganga oleh atmosfer Hutan Kerang yang korosif terhadap jiwa.
Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun udara yang ma**k ke paru-parunya terasa seperti bubuk kaca. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah ketakutan Mia kembali muncul, menuntut jawaban mengapa dia membiarkannya pergi.
Raka membuka tas kuning itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, selain beberapa botol air yang sudah pecah, ada sebuah buku harian kecil dengan sampul yang sudah hancur. Dia membuka halaman secara acak, berharap menemukan sesuatu, apa pun yang bisa memberinya kekuatan.
*Hari ke-14. Dingin sekali. Sesuatu yang besar terus mengawasiku di balik pohon. Tapi dia tidak jahat, Kak. Dia memberiku lumut hangat untuk selimut. Aku merindukanmu, Kak Raka. Aku tahu Kakak pasti akan datang menjemputku.*
Cairan hangat mengalir di pipi Raka, memba**h debu cangkang yang menempel di kulitnya. Rasa bersalah itu kini bermutasi menjadi amarah yang dingin. Dia memeluk tas tua itu ke dadanya, merasakan sisa-sisa keberadaan adiknya yang terakhir.
Tiba-tiba, tanah di bawahnya bergetar. Getaran itu dalam dan ritmis, seolah-olah jantung bumi sedang berdegup kencang.
*DUM.*
Raka tersentak, insting bertahannya mengambil alih. Dia menyarungkan belatinya dan segera merunduk di balik bayangan akar raksasa. Notifikasi sistem berkedip merah terang, memenuhi pandangannya dengan peringatan bahaya level tinggi.
**[Peringatan: Entitas Elit terdeteksi dalam radius 50 meter.]**
**[Nama: Raksasa Lumut (Inang Kesadaran Fragmentasi)]**
**[Status: Agresif - Merasakan keberadaan penyusup.]**
Dari balik celah akar, Raka melihat sosok itu muncul. Tingginya hampir lima meter, seluruh tubuhnya tertutup oleh lapisan lumut tebal yang terus bergerak seolah-olah bernapas. Di beberapa bagian tubuhnya, cangkang-cangkang tajam tertanam seperti baju zirah alami.
Namun, yang membuat napas Raka tercekat bukan ukurannya. Di bagian tengah dadanya, di balik lapisan transparan yang menyerupai kristal amber, ada sebuah inti yang berdenyut dengan cahaya biru pucat yang lembut. Di dalam inti itu, Raka bisa melihat siluet samar seorang gadis kecil yang meringkuk seolah sedang tidur lelap.
Mia.
Raksasa itu berhenti tepat di depan tempat Raka menemukan tas tadi. Ia mengeluarkan suara geraman rendah, sebuah getaran yang lebih mirip dengan rintihan kesedihan daripada ancaman predator. Makhluk itu membelai akar pohon tempat tas itu tadinya berada dengan gerakan yang sangat lembut, hampir... manusiawi.
Raka mengepalkan tinjunya hingga kukunya menusuk telapak tangan. Inilah targetnya. Inilah monster yang menyimpan Skill Regenerasi Instan yang dia butuhkan untuk bertahan hidup dan keluar dari hutan ini. Namun, monster ini juga adalah peti mati yang menjaga adiknya tetap hidupβatau setidaknya, menjaga sisa-sisa kesadarannya.
Jika Raka menghunuskan senjatanya sekarang, dia akan mendapatkan kebebasannya. Dia akan mendapatkan kekuatan untuk membalas dendam pada dunia yang telah membuangnya ke neraka ini. Tapi harga yang harus dibayar adalah menghancurkan kristal di dada makhluk itu.
Saat itu juga, Raksasa Lumut itu tiba-tiba berhenti membelai akar pohon. Kepalanya yang besar, yang hanya memiliki satu rongga mata bercahaya hijau, menoleh perlahan ke arah persembunyian Raka.
Udara di sekitar Raka mendadak menjadi statis. Tekanan atmosfer meningkat tajam, membuat serpihan cangkang di udara mulai berputar-putar seperti badai kecil yang siap menyayat apa saja.
Raksasa itu meraungβsebuah suara yang tidak terdengar seperti monster, melainkan seperti ribuan suara manusia yang berteriak dalam kesakitan yang sama. Dan dalam satu hentakan kaki yang menghancurkan tanah, makhluk itu melesat ke arahnya.
Raka tahu, waktu untuk bersembunyi sudah habis. Pilihannya hanya dua: bertarung dan membunuh apa yang paling dia cint**, atau mati di tangan kenangan yang gagal dia selamatkan.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!