Udara di sekitarku terasa seperti ribuan silet mikro yang menari-nari. Setiap kali aku menarik napas, tenggorokanku perih, seolah-olah aku baru saja menelan bubuk kaca. Aku merapatkan jubah kulit *Shell-Cracker* yang mulai terkikis di bagian bahu, memperhatikan angka digital merah di sudut penglihatanku yang terus berkedip memperingatkan kondisi *armor* yang kritis.
Di depanku, sosok itu berdiri diam. Raksasa Lumut.
Tingginya hampir sepuluh meter, sebuah gundukan vegetasi purba yang tampak seperti bukit kecil yang bangkit dari tidur panjangnya. Tubuhnya tidak terdiri dari daging, melainkan jalinan akar yang sangat rapat dan lapisan lumut zamrud yang bersinar redup. Namun, di balik keindahan yang menyesakkan itu, aku tahu ada detak jantung yang tidak semestinya ada di sana. Ada Mia di dalam sana.
"Satu serangan telak," bisikku pada diri sendiri. Suaraku parau, pecah oleh atmosfer hutan yang kering dan tajam. "Ambil intinya, dapatkan skill regenerasi, dan aku bisa membawanya pulang."
Tanganku gemetar saat menggenggam hulu pedang *Obsidian Fang*. Logikanya sederhana: sistem di kepalaku menjanjikan satu halβ*Skill [Regenerasi Instan]* hanya bisa didapatkan dengan mengekstrak inti dari entitas ini. Tanpa skill itu, paru-paruku akan hancur terab**si oleh udara hutan ini dalam hitungan jam. Aku tidak punya pilihan.
Aku memacu langkah. Kakiku menghantam lant** hutan yang tertutup cangkang kerang pecah, menimbulkan suara gemeretak yang m****akkan telinga.
*[Skill Activated: Phantom Dash]*
Tubuhku melesat, meninggalkan jejak bayangan tipis di belakangku. Raksasa Lumut itu bereaksi. Gerakannya lambat, namun masif. Sebuah lengan yang terbuat dari jalinan akar raksasa mengayun ke arahku. Aku meluncur di bawah ayunan itu, merasakan hembusan angin yang membawa aroma tanah basah dan kematian.
"Sekarang!" teriakku, melepaskan seluruh energi manaku ke mata pedang.
Aku melompat, memijak tonjolan akar di paha makhluk itu, lalu melenting tinggi ke arah dadanya. Bilah pedangku bersinar dengan cahaya biru elektrik saat aku menghujamkannya tepat ke area di mana aku menduga 'inti' itu berada.
*SLASH!*
Pedangku merobek lapisan lumut setebal tiga puluh sentimeter. Cairan kental berwarna hijau neon menyemprot keluar, membasahi wajahku. Rasanya dingin, kontras dengan udara hutan yang membakar. Aku menarik pedangku ke bawah, menciptakan luka menganga sepanjang satu meter. Aku bisa melihat serat-serat kayu yang berdenyut di dalamnya.
Namun, sebelum aku sempat mendarat, keajaiban yang mengerikan terjadi.
Luka itu tidak berdarah. Serat-serat yang baru saja kupotong seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Mereka menggeliat seperti cacing yang kelaparan, saling menggapai satu sama lain di udara. Dalam hitungan detikβbahkan sebelum kakiku menyentuh tanahβcelah menganga di dada raksasa itu merapat kembali. Lumut baru tumbuh dengan kecepatan yang tidak ma**k akal, menutupi bekas tebasanku tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun.
"Apa...?" gumamku, mendarat dengan tidak stabil.
Aku kembali menyerang. Kali ini dengan rentetan tebasan memb*** buta. Kiri, kanan, atas, diagonal. Aku mencabik-cabik bagian lengannya hingga nyaris putus. Namun, setiap kali pedangku meninggalkan permukaan tubuhnya, jaringan itu langsung menyambung kembali. Seolah-olah aku sedang mencoba memotong air dengan pisau.
*[System Warning: Target menggunakan Passive Skill: Eternal Regrowth]*
*[Analisis: Tingkat regenerasi 400% lebih cepat dari output kerusakan pemain.]*
"Si****!" aku mengumpat, melompat mundur saat monster itu menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang membuat kerang-kerang tajam di sekitarku terbang seperti proyektil.
Satu serpihan cangkang menggores pipiku. Darah segar menetes, dan rasa perihnya luar biasa. Di Hutan Kerang Purba ini, luka sekecil apa pun adalah hukuman mati karena udara di sini akan terus mengikis jaringan yang terbuka. Aku butuh skill itu. Aku sangat membutuhkannya.
Raksasa Lumut itu mengeluarkan suara rendah, sebuah getaran yang lebih mirip senandung daripada raungan. Saat itulah, di tengah keputusasaanku, aku melihatnya. Di balik lapisan lumut yang baru saja menutup di bagian dada, ada sebuah cahaya yang berkedip pelan. Cahayanya bukan hijau, melainkan putih lembut. Sangat mirip dengan kalung yang selalu dipakai Mia.
Genggamanku pada pedang melemah. "Mia?"
Monster itu tidak menyerangku dengan ganas. Ia hanya berdiri di sana, menjulang seperti pelindung yang tak tergoyahkan. Setiap kali aku melukainya, ia hanya menyembuhkan diri tanpa membalas dengan niat membunuh yang nyata. Seolah-olah... ia hanya mencoba bertahan agar aku tidak mencapai apa yang ada di dalamnya.
Aku merasakan sesak yang berbeda di dadaku. Bukan karena udara tajam, tapi karena realitas yang menghantamku. Untuk mendapatkan kemampuan regenerasi yang bisa menyelamatkan nyawaku, aku harus menghancurkan inti itu. Aku harus membunuh 'rumah' yang melindungi kesadaran adikku.
"Kenapa kau tidak melawan?" teriakku pada makhluk bisu itu. Air mata mulai menggenal, mengaburkan pandanganku yang sudah terganggu oleh debu cangkang. "Pukul aku! Bunuh aku sekalian! Jangan hanya berdiri di sana dan membiarkanku melakukan ini!"
Raksasa itu hanya memiringkan kepalanya yang besar. Selembar daun gugur dari bahunya, jatuh perlahan dan hancur menjadi debu sebelum menyentuh tanah.
Aku memacu jantungku, mencoba membuang rasa kemanusiaan yang tersisa. Aku harus bertahan hidup. Jika aku mati di sini, siapa yang akan membalaskan dendam keluarga kami? Siapa yang akan mengingat Mia? Aku mengangkat pedangku lagi, bersiap untuk serangan yang lebih destruktif, meskipun tanganku kini bergetar hebat.
Namun, sistem tiba-tiba memunculkan notifikasi baru di tengah penglihatanku, sebuah bar berwarna ungu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
*[Sync Rate Detected: 88%]*
*[Peringatan: Kesadaran subjek di dalam inti mulai bereaksi terhadap keberadaan Anda.]*
Tiba-tiba, suara bisikan halus terdengar di telingaku, menembus deru angin hutan yang bising. Suara yang sudah bertahun-tahun hanya ada dalam mimpi burukku.
"Kak... Raka? Sakit..."
Aku membeku. Pedangku terlepas dari jemariku, berdenting saat menghantam tumpukan cangkang. Di hadapanku, Raksasa Lumut itu tidak lagi terlihat seperti monster atau sumber skill regenerasi. Ia terlihat seperti penjara yang terbuat dari cinta dan penderitaan.
Dan di kejauhan, dari balik kabut tebal hutan, aku mendengar suara langkah kaki berat lainnya. Bukan satu, tapi banyak. Predator cangkang yang mencium bau darahku mulai berdatangan, mengepungku yang kini berdiri tanpa perlindungan, di depan satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku namun harus kuhancurkan.
Aku terjepit di antara kematian yang mendekat dan dosa yang tak terampuni.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!