Zero Distance: Rahasia di Balik Headset

Bab 1: Bab 1 - Menunjukkan kedekatan emosional Ara dan Zero sa...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari monitor setinggi dua puluh empat inci itu adalah satu-satunya matahari di kamar Ara. Di luar sana, jam dinding sudah berdetak melewati angka satu pagi, menyisakan kesunyian yang hanya dipecahkan oleh dengung kipas CPU dan bunyi klik mekanis dari tetikusnya. Peluh tipis membasahi telapak tangan Ara, namun matanya tidak berkedip. Di sudut kanan atas layar, jumlah pemain yang tersisa tinggal empat.

Dua lawan dua.

"Zero, mereka di balik bebatuan arah jam dua. Jangan *peek* dulu, mereka pegang *sniper*," bisik Ara ke arah mikrofon yang menggantung di depan bibirnya. Suaranya yang biasanya rendah dan ragu saat memesan kopi di kafe, kini terdengar tajam dan penuh otoritas. Di dunia ini, dia bukan Ara yang kikuk; dia adalah 'Arachne', sang *shot-caller*.

"Roger. Tunggu aba-abamu, *Little Bird*," sahut sebuah suara bariton di seberang sana.

Suara itu rendah, tenang, dan memiliki getaran yang entah bagaimana selalu berhasil menstabilkan detak jantung Ara yang mengg***. Zero. Laki-laki yang selama dua tahun terakhir menjadi sosok paling konstan dalam hidupnya, meski ia tidak tahu seperti apa rupa wajahnya atau di mana ia tinggal.

Ara menarik napas dalam, jemarinya menari di atas *keyboard*. "Sekarang! Lempar granat asap ke kiri, aku flaking dari kanan."

Ledakan virtual menyusul, kepulan asap abu-abu memenuhi layar. Ara bergerak cepat, karakternya melompat dan menembak dengan presisi yang mematikan. Dua notifikasi eliminasi muncul beruntun. Layar kemudian berubah terang dengan tulisan besar: *VICTORY*.

Ara menyandarkan punggungnya ke kursi empuk, membiarkan paru-parunya kembali menghirup oksigen dengan normal. Senyum tipis terkembang di bibirnya yang pucat.

"Kerja bagus, Ara. Strategi asapi sisi kiri itu cerdas," puji Zero. Ara bisa mendengar suara gesekan kain di seberang sana, seolah Zero juga baru saja meregangkan tubuh. "Kita baru saja memenangkan turnamen komunitas ketiga berturut-turut bulan ini. Kau seharusnya bangga."

"Hanya karena bidikanmu tidak meleset, Zero. Kalau kau meleset satu peluru saja, kita sudah jadi rongsokan di lembah tadi," balas Ara, bumbu sarkasme yang menjadi ciri khasnya muncul secara alami. Hanya pada Zero dia berani bersikap seperti ini.

"Dan kau tahu aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu," sahut Zero. Ada jeda sejenak, sebuah keheningan yang terasa lebih intim daripada sekadar rekan satu tim. "Kau terdengar lelah. Apa kuliahmu sedang berat?"

Ara menatap tumpukan buku referensi skripsi yang tergeletak berdebu di sudut meja, kontras dengan gemerlap lampu RGB *keyboard*-nya. "Seperti biasa. Dosen pembimbingku sepertinya punya hobi baru: mencoret paragraf yang kutulis dengan tinta merah sampai kertasnya terlihat seperti korban pembunuhan."

Tawa kecil Zero meledak. "Kau selalu punya perumpamaan yang tragis. Istirahatlah. Jangan sampai matamu berubah jadi merah seperti tinta dosenmu."

"Kau juga, Zero. Jangan sampai besok kau ketiduran di depan bosmu lagi."

"Selamat malam, *Little Bird*."

"Malam, Zero."

Klik. Sambungan terputus.

Seketika itu juga, kehangatan yang tadi menyelimuti kamar Ara menguap. Ia melepas *headset* besarnya, meninggalkan bekas kemerahan di telinga. Sunyi menyergap. Kamarnya yang sempit terasa semakin menghimpit. Ara menatap pantulan dirinya di layar monitor yang kini hitam. Rambutnya berantakan, lingkaran hitam di bawah mata, dan kaos kebesaran yang sudah dicuci berkali-kali.

Inilah realitasnya. Seorang mahasiswi tingkat akhir yang lebih mahir bicara dengan kode biner dan strategi perang digital daripada menyapa tetangga sebelah rumah. Di dunia maya, dia adalah jenderal yang disegani. Di dunia nyata, dia hanyalah figuran yang berusaha tidak terlihat.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan, membuat Ara terlonjak. Cahaya lampu lorong merangsek ma**k, menampakkan sosok Maya, kakaknya, yang masih mengenakan pakaian kerja lengkap dengan riasan yang masih sempurna meski hari sudah berganti.

"Belum tidur lagi? Mabar terus sampai pagi," sindir Maya sambil bersandar di kosen pintu. Matanya menatap tajam ke arah komputer Ara.

"Ini cuma hobi, Kak," gumam Ara, suaranya kembali mengecil, nyaris seperti cicitan. Keberanian yang ia miliki saat bersama Zero tadi lenyap tak berbekas.

Maya menghela napas panjang, melangkah ma**k dan duduk di pinggir tempat tidur Ara yang berantakan. "Ara, dengerin Kakak. Besok malam itu penting. Adrian akan datang ke rumah untuk makan malam resmi bareng orang tuanya. Ini soal rencana pernikahan kami."

Ara hanya mengangguk pelan, jemarinya memainkan ujung kabel *mouse*.

"Dan Adrian bilang dia bakal ajak adiknya," lanjut Maya dengan nada yang lebih bersemangat. "Katanya adiknya itu seumuran sama kamu. Pendiam, tapi pintar. Siapa tahu kamu bisa nyambung sama dia daripada terus-terusan mengurung diri di kamar dengan komputer ini. Namanya Zayden."

"Aku nggak butuh dijodoh-jodohkan, Kak," protes Ara pelan.

"Nggak ada yang menjodohkan. Cuma kenalan. Lagipula, keluarga Adrian itu sangat terpandang. Kamu harus dandan yang cantik, oke? Jangan sampai kamu terlihat seperti hantu yang kurang tidur di depan calon adik ipar Kakak."

Maya berdiri, menepuk bahu Ara dua kali sebelum melangkah keluar. "Jam tujuh malam. Jangan telat, atau Kakak sita semua kabel komputermu."

Pintu tertutup rapat. Ara kembali dalam kegelapan. Ia menarik napas berat, merasakan beban yang mulai menumpuk di dadanya. Besok ia harus mengenakan topeng lagiβ€”menjadi adik yang manis, memakai gaun yang tidak nyaman, dan berusaha tidak gagap saat diajak bicara oleh orang asing.

Ia melirik *headset*-nya yang tergeletak di meja. Seandainya saja dunia nyata semudah saat ia berada di dalam gim bersama Zero. Di sana, ia tidak perlu berdandan. Di sana, suaranya didengar.

Ara tidak tahu bahwa di tempat lain, di sebuah apartemen mewah yang hanya berjarak beberapa kilometer darinya, seorang pria sedang menatap layar yang sama. Pria itu baru saja meletakkan *headset*-nya, mendengarkan gema suara Ara yang masih terngiang di telinganya.

Besok, pikir Ara sambil mematikan saklar listrik, semuanya akan berjalan seperti biasa. Makan malam yang canggung, senyum palsu, dan keinginan untuk segera kembali ke dunia digitalnya.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa suara bariton yang baru saja mengucapkan selamat malam padanya, adalah suara yang sama yang akan ia dengar besok malam di meja makan keluarganya. Dan rahasia yang selama ini tersimpan aman di balik kabel serat optik, akan segera berbenturan dengan kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca