Lampu neon di studio vendor dekorasi digital itu berkedip-kedip, seolah-olah ikut merasakan kegugupan yang merayap di tengkukku. Di hadapanku, Pak Gunawan, sang manajer teknis, tampak pucat pasi. Tangannya yang gemetar berkali-kali menyeka keringat di dahi sambil menatap layar monitor raksasa yang menampilkan pesan eror berwarna merah menyala: *System Failure. Data Corrupted.*
"Ini tidak mungkin," bisik Pak Gunawan, suaranya parau. "Seluruh konsep *mapping* 3D untuk pelaminan Mbak Maya dan Mas Adrian ada di sana. Besok pagi sudah harus dikirim ke lokasi untuk *loading*, tapi servernya malah mengunci semua akses."
Aku melirik ke samping. Zayden berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan dada dengan ekspresi yang sulit dibaca. Kemeja hitamnya yang rapi tampak kontras dengan kekacauan di ruangan ini. Ia tetap diam, sosoknya yang jangkung seolah menjadi tembok es yang tidak tertembus. Namun, aku bisa melihat rahangnya mengeras. Sebagai adik dari mempelai pria, dia seharusnya hanya memantau, tapi aku tahu dia tidak akan tinggal diam jika menyangkut kesempurnaan acara kakaknya.
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya secara manual?" tanya Zayden. Suaranya rendah, dingin, dan berwibawaβtipe suara yang selalu membuatku menciut di dunia nyata, namun sekaligus membuatku merasa aman saat mendengarnya lewat *headset* tiap malam.
"Paling cepat sepuluh jam, Mas. Dan itu pun kalau strukturnya tidak berantakan," jawab Pak Gunawan putus asa.
Aku mendekat ke meja operator, mengabaikan rasa canggung yang biasanya menghimpitku. Mataku memindai barisan kode yang berkejaran di layar monitor kedua. Ini bukan sekadar eror biasa. Ini adalah masalah sinkronisasi *node*. Logika strategiku sebagai *shot-caller* di gim tiba-tiba menyala seperti sakelar yang ditekan paksa.
"Pak, ini masalah di *gateway* penyimpanannya, bukan di file aslinya," kataku, suaranya sedikit bergetar namun tegas. "Kalau kita membagi *traffic* datanya ke dua terminal berbeda, kita bisa melewati *firewall* yang mengunci sistem itu."
Zayden menoleh ke arahku. Tatapannya tajam, menyelidik, seolah sedang membedah isi kepalaku. "Kau tahu cara melakukannya?"
Aku menelan ludah, meremas ujung sweterku. "Aku... aku sering menghadapi masalah *lag* dan *server crash* saat menyusun modul simulasi di kampus. Logikanya sama."
Zayden tidak membuang waktu. Dia menarik kursi di sebelahku dan duduk, jari-jarinya yang panjang mulai menari di atas *keyboard* mekanis. Bunyi klik-klik yang ritmis segera memenuhi ruangan. "Aku akan menangani *back-end* dan membuka jalurnya. Kau urus sinkronisasi visualnya. Kita lakukan serentak."
Aku terpaku sejenak. Cara dia memerintah, cara dia membagi tugas... itu sangat mirip dengan caranya memimpin *raid* di gim.
"Ara, fokus," tegurnya tanpa menoleh.
Aku tersentak, segera menarik kursi lain dan duduk di sisi satunya. Jantungku berdegup kencang, bukan hanya karena tekanan waktu, tapi karena posisi kami yang sangat dekat. Aku bisa mencium aroma parfumnyaβcampuran kayu cendana dan dinginnya udara malam.
"Oke," bisikku, jemariku mulai menyentuh tuts *keyboard*. "Aku butuh akses ke *layer* kedua. Beri aku *clearance* dalam tiga detik."
"Diterima. Tiga... dua... satu... *Go*."
Dalam sekejap, dunia di sekitarku memudar. Studio yang pengap dan Pak Gunawan yang mondar-mandir tidak lagi ada. Yang tersisa hanyalah aku, Zayden, dan labirin data di depan kami. Kami bekerja dalam keheningan yang aneh namun sinkron. Setiap kali aku menemui hambatan, Zayden seolah sudah tahu dan langsung membuka jalan sebelum aku sempat meminta.
"Data *rendering* mulai ma**k, tapi *bandwidth*-nya tidak kuat," lapor kuku, dahi mulai berkeringat. "Zay, aku butuh kau mengalihkan beban prosesor ke unit cadangan."
"Sedang dilakukan," jawabnya cepat. "Tahan posisimu. Jangan biarkan *frame rate*-nya turun di bawah enam puluh."
"Aku tahu. Aku bukan pemula," balasku sarkastik, sebuah kebiasaan yang biasanya hanya keluar saat aku berada di balik akun gimku.
Zayden sempat terhenti sejenak. Sudut bibirnya berkedutβhampir menyerupai senyum tipis yang sangat langka. "Aku tahu kau bukan pemula, Ara. *Cover* sisi kiri, aku akan ma**k dari tengah."
Istilah itu. *Cover sisi kiri*. Itu adalah instruksi yang selalu dia berikan padaku setiap kali kami terpojok oleh tim lawan di arena digital. Rasanya seperti ada sengatan listrik yang menjalar di jemariku. Di sini, di bawah lampu studio yang redup, Zayden bukan lagi adik ipar yang kaku dan menyebalkan. Dia adalah Zero. Dan aku adalah rekannya.
Dua puluh menit berlalu seperti simulasi pertempuran yang intens. Kami saling mengisi, saling melengkapi tanpa perlu banyak bicara. Saat aku merasa ragu, ketukan jarinya yang stabil di meja memberikan ritme yang menenangkan. Kami adalah tim yang sempurna, sebuah mesin yang bekerja dengan presisi tinggi.
"Selesai," desahku saat bilah proses di layar mencapai angka seratus persen dan berubah warna menjadi hijau.
Layar raksasa di depan kami kembali menyala, menampilkan animasi bunga-bunga yang mekar dengan anggun, transisi visual yang sempurna untuk pernikahan kakakku. Pak Gunawan hampir terjatuh dari kursinya karena lega.
Aku menyandarkan punggung, napas seolah baru saja kembali ke paru-paruku. Kesadaran mendadak menghantamku. Aku menoleh ke arah Zayden, dan ternyata dia sudah lebih dulu memperhatikanku. Matanya tidak lagi sedingin tadi. Ada binar pengakuan di sana, sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar ucapan terima kasih.
"Kerja bagus," katanya rendah.
"Terima kasih," jawabku, mendadak kembali menjadi Ara yang pemalu. Aku segera mengalihkan pandangan, mencari-cari tas di bawah meja. "Aku hanya... tidak ingin pernikahan Kak Maya berantakan."
Zayden berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Dia melangkah mendekat, membuatku tertahan di antara kursi dan meja operator. Dia membungkuk sedikit, suaranya kini hanya setinggi bisikan yang hanya bisa kudengar sendiri.
"Logika strategimu tadi... mengingatkanku pada seseorang yang sangat kukenal di dunia lain," ucapnya pelan, matanya mengunci mataku.
Jantungku serasa berhenti berdetak. "Zayden, akuβ"
"Jangan khawatir, Ara. Rahasiamu aman denganku," potongnya. Dia kemudian menegakkan tubuh dan berbalik menuju pintu keluar. "Tapi jangan harap aku akan melepaskanmu semudah itu di arena nanti malam. Kita masih punya urusan yang belum selesai."
Aku terpaku di tempat, melihat punggungnya yang menjauh. Dia tahu. Dia benar-benar tahu bahwa aku adalah rekan mabarnya selama ini. Dan yang lebih menakutkan dari kenyataan bahwa dia tahu, adalah fakta bahwa aku mulai tidak keberatan jika dia terus memperhatikanku seperti itu.
Namun, lamunanku terbuyar saat ponselku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari Maya.
*Ara, kau di mana? Cepat ke hotel sekarang. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan soal Adrian... dan Zayden. Ini darurat.*
Tanganku mendadak dingin. Pesan itu terasa seperti firasat buruk yang baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!