Suara ketukan bolpoin mahal milik Adrian di atas meja jati itu terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu eksekusiku. Aku duduk di kursi kulit di seberangnya, bahuku terasa kaku, seolah-olah ada beban tak kasatmata yang menekan seluruh tubuhku ke lant**. Di ruangan ini, udara selalu terasa lebih tipis. Setiap kali aku berhadapan dengan kakakku, aku merasa seperti oksigen yang kuhirup harus dibayar dengan pencapaian yang tidak pernah sanggup kuraih.
"Zayden, kamu dengar aku?"
Suara Adrian berat, stabil, dan penuh wibawa. Suara seorang pria yang sudah memiliki segalanya di usia tiga puluh: karier cemerlang, reputasi tanpa cela, dan sekarang, seorang tunangan yang sempurna seperti Maya.
Aku mengerjapkan mata, melepaskan pandanganku dari rak buku yang berjejer rapi di belakangnya. "Ya. Cabang di Surabaya. Kamu mau aku mulai memantau laporan mingguannya."
Adrian menghela napas, suara yang lebih mirip desisan kekecewaan yang tertahan. Ia menyandarkan punggungnya, menatapku dengan mata tajam yang selalu seolah sedang membedah isi kepalaku. "Bukan cuma memantau, Zay. Aku ingin kamu memimpin tim di sana setelah pernikahan ini selesai. Aku butuh orang yang bisa kupercaya, dan kamu satu-satunya darah dagingku."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja, kuku-kukuku menekan telapak tangan. "Aku belum siap untuk itu, Kak. Masih banyak yang harus kupelajari di kantor pusat."
"Sampai kapan?" Adrian memotong cepat. "Kamu sudah dua puluh empat tahun. Di usiamu, aku sudah menutup kesepakatan bernilai miliaran. Kamu punya potensi, tapi kamu terlalu banyak bersembunyi di balik layar. Kamu terlalu... diam."
Diam. Kata itu menghantamku lebih keras dari yang seharusnya. Dia tidak tahu bahwa dalam diamku, ada dunia yang kubangun sendiri. Sebuah dunia di mana aku tidak perlu menjadi 'Adik Adrian yang Jenius'. Di dunia itu, aku hanyalah Zero. Seorang pemimpin, seorang pengatur strategi yang suaranya dipatuhi tanpa perlu melihat setelan jas mahal atau saldo rekening.
Tapi di sini, di bawah lampu gantung kristal yang berkilau ini, aku hanyalah bayangan kabur dari kesuksesan Adrian.
"Aku akan memikirkannya," jawabku pendek, kalimat andalanku untuk mengakhiri percakapan yang mencekik.
Adrian berdiri, merapikan kemejanya yang bahkan tidak memiliki satu lipatan pun yang salah. "Jangan terlalu lama memikirkan hal-hal yang sudah seharusnya kamu ambil, Zay. Hidup ini tentang momentum. Lihat Maya dan Ara. Mereka keluarga yang baik. Kita harus menunjukkan bahwa kita adalah pasangan yang sepadan bagi mereka."
Nama itu disebut. *Ara.*
Seketika, bayangan gadis itu muncul di benakku. Ara yang asli, yang duduk kaku di meja makan keluarga dengan wajah pucat dan mata yang terus menghindari kontak mata. Berbeda jauh dengan Ara yang kukenal melalui mikrofon headsetβgadis yang berani memaki musuh, yang tertawa lepas saat strategi kami berhasil, dan yang suaranya selalu menjadi penenang saat dunia nyataku terasa terlalu bising.
"Aku tahu," gumamku.
"Bagus. Malam ini ada makan malam sant** dengan keluarga mereka. Pastikan kamu tidak hanya duduk di pojokan dan memainkan ponselmu. Ajak Ara bicara. Dia adik Maya, setidaknya cobalah untuk ramah."
Aku hanya mengangguk, meski di dalam hati aku ingin tertawa getir. Ramah? Adrian tidak tahu bahwa aku sudah bicara lebih banyak dengan Ara dalam dua tahun terakhir daripada dia bicara dengan calon istrinya sendiri. Namun, semua itu terjadi di frekuensi yang berbeda. Frekuensi yang tidak tersentuh oleh ekspektasi keluarga.
Setelah Adrian keluar, aku tetap duduk di sana untuk beberapa saat. Ruangan itu terasa makin sunyi. Aku merogoh saku, mengeluarkan ponselku. Jariku secara otomatis menyentuh ikon aplikasi gim yang menjadi pelarianku.
Hanya di sana aku merasa memiliki kendali. Di sana, aku bukan lagi Zayden yang selalu dianggap kurang, yang selalu dibandingkan, yang selalu harus mengikuti jejak langkah orang lain. Di sana, aku adalah Zero. Dan Zero tidak pernah gagal.
Namun, kenyataan mulai merembes ma**k. Aku teringat raut wajah Ara saat pertemuan keluarga kemarin. Dia tampak ketakutan, seolah-olah dia sedang berdiri di tepi jurang. Aku tahu perasaan itu. Aku merasakannya setiap hari. Tapi ada bagian dari diriku yang merasa bersalahβsebuah ego yang egois. Aku tahu rahasianya, tapi dia hanya mengenal suaraku. Dia mencint** 'Zero', tapi apakah dia bisa menoleransi 'Zayden'?
Aku berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman. Di luar, persiapan pesta mulai terlihat. Tenda-tenda putih didirikan, bunga-bunga mulai dipesan. Semua ini adalah awal dari persatuan dua keluarga besar, namun bagiku, ini terasa seperti tembok yang perlahan-lahan mengurungku.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar.
*Ara: "Zero, kau ada waktu nanti malam? Aku butuh 'pelarian' sebentar. Semuanya terasa menyesakkan di sini."*
Jantungku berdegup kencang. Aku melihat pantulan diriku di kaca jendelaβZayden yang memakai kemeja mahal, tampak rapi dan patuh. Tapi di tanganku, aku memegang kunci menuju dunia di mana Ara membutuhkanku.
Aku mulai mengetik balasan, jariku sedikit gemetar.
*Zero: "Aku akan ada di sana. Pukul sepuluh?"*
Saat aku menekan tombol kirim, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Malam ini adalah makan malam keluarga. Aku harus berada di meja makan yang sama dengannya, menatap matanya secara langsung, sambil pura-pura tidak tahu bahwa dialah orang yang baru saja mengirimiku pesan minta tolong.
Aku harus berperan sebagai orang asing yang kaku bagi gadis yang sebenarnya paling mengenalku di dunia ini. Dan saat aku melihat Adrian di bawah sana sedang memberikan instruksi pada para pekerja, aku menyadari bahwa rahasia ini bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah bom waktu.
Jika aku terus menjadi Zero untuk melindunginya, aku akan kehilangan kesempatanku sebagai Zayden. Tapi jika aku menunjukkan siapa aku sebenarnya, aku mungkin akan menghancurkan satu-satunya tempat aman yang Ara miliki.
Ketukan pintu kembali terdengar. "Tuan Muda Zayden, mobil sudah siap untuk keberangkatan ke restoran."
Aku mematikan layar ponsel, mema**kkannya kembali ke saku. Napasku terasa berat. Aku harus memakai topengku lagi sekarang. Topeng seorang adik yang penurut, seorang pria dingin yang membosankan.
Aku berjalan keluar ruangan, melewati foto keluarga besar kami yang terpajang di lorong. Adrian di tengah, selalu di tengah, dengan senyum kemenangannya. Aku hanya berada di tepian, hampir tidak terlihat.
Malam ini, aku akan duduk di seberang Ara. Dan aku bertanya-tanya, apakah dia akan bisa mendengar detak jantungku yang keras melampaui suara denting garpu dan pisau, atau apakah rahasia ini akan mencekik kami berdua sebelum sepatah kata pun sempat terucap?
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!