Layar monitor yang menyala di kegelapan kamar adalah satu-satunya sumber cahaya yang menerangi wajahku. Kursor tetikus bergerak tanpa arah, melintasi ikon-ikon aplikasi yang tak ingin kubuka. Pikiranku justru tertuju pada lobi gim *Zero Distance*, tempat karakterku berdiri diam dalam balutan zirah perak yang biasanya terlihat gagah, namun malam ini tampak kesepian.
Sudah tiga hari aku menghindari *login*. Tiga hari sejak aku mengetahui bahwa pria di balik nama 'Zero' adalah Zayden, adik dari calon kakak iparku sendiri. Dinginnya Zayden di dunia nyata sangat kontras dengan kehangatan Zero yang selalu menungguku di medan tempur virtual. Namun, malam ini, keheningan di kamar ini terasa mencekik. Aku merindukan suara itu. Bukan suara kaku Zayden saat makan malam keluarga, melainkan suara berat dan tenang yang selalu tahu kapan aku sedang merasa tertekan oleh tuntutan skripsi atau ekspektasi Ibu.
Jemariku gemetar saat menekan tombol *Connect*. Begitu layar memuat, sebuah notifikasi langsung muncul di pojok kanan bawah.
*Zero is online.*
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah aku baru saja berlari maraton. Belum sempat aku memutuskan untuk bersembunyi atau keluar, sebuah undangan *party* ma**k. Aku menatap layar itu selama satu menit penuh. Haruskah aku menolaknya? Ego dalam diriku ingin berteriak bahwa dia telah membohongiku, bahwa dia membiarkanku bercerita panjang lebar tentang 'adik Adrian yang menyebalkan' sementara dia adalah orangnya.
Namun, rasa haus akan pelarian ini jauh lebih besar. Aku mengklik tombol 'Terima'.
Ikon mikrofon di sebelah nama Zero berkedip. Aku memasang *headset*, merasakan bantalan busanya menekan telingaku, mengisolasi dunia luar.
"Kau datang," suara itu terdengar. Rendah, tenang, dan entah bagaimana, terdengar lega.
Aku tidak langsung menjawab. Aku membenahi posisi duduk, meremas ujung kaus oblongku yang sudah mulai pudar warnanya. "Aku butuh poin untuk naik peringkat," sahutku sarkastik, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. "Bukan karena aku ingin bicara denganmu."
Zayden terkekeh pelan. Itu bukan tawa ejekan, melainkan tawa kecil yang biasa ia berikan saat aku berhasil melakukan *headshot* dari jarak jauh. "Aku tahu. Tapi aku tetap menunggumu sejak jam tujuh."
"Jangan mulai, Zayden. Atau Zero. Atau siapapun namamu sekarang."
"Maafkan aku, Ara." Kata-kata itu meluncur begitu saja, memotong keteganganku. "Aku seharusnya memberitahumu sejak awal di kafe itu. Tapi melihatmu begitu nyaman bercerita sebagai 'Ra', aku takut jika aku mengaku sebagai Zayden, kenyamanan itu akan hilang. Aku tidak ingin kehilangan rekan mabar terbaikku."
Aku menggigit bibir bawahku, menatap avatar pria tinggi dengan jubah hitam yang berdiri di samping karakterku. Di dunia digital ini, dia tidak tampak seperti pria kaku yang mengenakan kemeja rapi dan tatapan tajam yang membuatku terintimidasi. Di sini, dia hanya Zero. Orang yang menyelamatkan nyawaku berkali-kali di zona merah.
"Kau pembohong yang payah," gumamku, meski aku tahu aku mulai luluh. "Tapi aku juga salah. Aku bicara terlalu banyak tentang hal-hal buruk soal... ya, soal dirimu di dunia nyata."
"Aku tidak keberatan disebut 'kulkas berjalan'," candanya, merujuk pada salah satu julukan yang pernah kuberikan padanya bulan lalu. "Setidaknya sekarang aku tahu apa yang harus kuperbaiki kalau kita bertemu lagi di rumah kakakmu."
Aku menghela napas panjang, membiarkan kemarahan yang tersisa menguap bersama udara malam. "Satu syarat. Di dalam gim, kau tetap Zero. Jangan bawa-bawa soal pernikahan Kak Maya atau urusan keluarga. Di sini, kita cuma dua orang yang berusaha memenangkan pertandingan. Mengerti?"
"Sepakat, *Shot-caller*."
Kami mulai bermain. Suasana yang awalnya canggung perlahan mencair saat kami mema**ki medan tempur. Koordinasi kami masih sempurna, seolah jeda tiga hari itu tidak pernah ada. Aku memberikan instruksi, dia mengeksekusinya dengan presisi yang mematikan. Kami adalah tim yang tak terhentikan.
Namun, ada sesuatu yang berubah. Setiap kali dia memuji gerakanku, atau saat dia berkata, "Hati-hati, Ra, aku di belakangmu," ada sensasi aneh yang menjalar di tengkukku. Itu bukan lagi sekadar kepuasan karena strategi yang berhasil. Ada getaran berbeda yang muncul saat aku menyadari bahwa suara yang sedang membisikkan instruksi di telingaku ini adalah suara pria yang sama yang beberapa hari lalu duduk hanya berjarak satu meter dariku di meja makan.
Dulu, aku hanya membayangkan seperti apa sosok di balik suara ini. Sekarang, imajinasiku sudah memiliki wajah. Aku bisa membayangkan bagaimana bibirnya bergerak saat dia berbicara, atau bagaimana matanya yang tajam itu fokus menatap layar monitor di kamarnya yang mungkin sama gelapnya dengan kamarku.
"Ra? Kau melamun?" Suara Zayden memecah fokusku. Karakterku hampir saja tertembak oleh musuh jika dia tidak segera melemparkan granat asap untuk melindungiku.
"Aku... aku cuma kelelahan," dustaku, meski pipiku terasa panas.
"Kita berhenti dulu setelah pertandingan ini," ucapnya dengan nada yang tiba-tiba melembut, lebih lembut dari biasanya. "Kau harus istirahat. Besok kau ada bimbingan skripsi, kan?"
Aku terpaku. Dia mengingat jadwal bimbinganku. Perhatian kecil itu terasa jauh lebih intim daripada sekadar memberikan *item* penyembuh di dalam gim. Aku menyadari bahwa batas yang kucoba bangunβantara Zero dan Zaydenβmulai retak.
"Zayden?" panggilku pelan setelah musuh terakhir kami tumbang dan layar menampilkan tulisan *Victory*.
"Ya?"
"Terima kasih karena... tetap menjadi Zero."
Hening sejenak di seberang sana. Aku bisa mendengar suara napasnya yang teratur lewat mikrofon. "Aku akan selalu menjadi Zero untukmu, Ara. Tapi aku juga berharap, suatu saat nanti, kau tidak keberatan melihat Zayden dengan cara yang sama."
Jantungku mencelos. Kalimat itu bukan bagian dari skenario gim manapun. Itu adalah pernyataan yang nyata, yang dikirimkan dari satu kamar ke kamar lain, menembus batasan digital yang selama ini melindungiku.
Aku segera mematikan fitur suara tanpa pamit, tanganku gemetar hebat. Aku melepaskan *headset* dan menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar dengan napas memburu. Ini berbahaya. Seharusnya aku tetap marah padanya. Seharusnya aku menjaga jarak demi ketenangan pernikahan kakakku.
Namun, bayangan wajah Zayden saat dia tersenyum tipis di pertemuan terakhir kami terus berputar di kepala. Dan yang lebih menakutkan adalah fakta bahwa aku tidak lagi hanya merindukan Zero. Aku mulai merindukan pria yang nyata, pria yang selama ini kutakuti namun ternyata paling memahamiku.
Bagaimana caranya aku menghadapi dia besok di acara fitting baju pengantin Kak Maya? Bagaimana aku harus berpura-pura tidak mengenal suaranya, sementara di kepalaku, suara itu baru saja membisikkan janji yang membuat seluruh duniaku jungkir balik?
Pintu kamarku diketuk, suara Kak Maya memanggil namaku dari luar, mengingatkanku bahwa realitas tidak akan membiarkanku bersembunyi selamanya di balik layar. Aku menatap layar monitor yang mulai meredup, menyadari bahwa permainan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak tahu apakah aku bisa memenangkannya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!