Gaun brokat berwarna *nude* yang kupakai terasa seperti sangkar yang mencekik. Berkali-kali aku membetulkan letak kain yang terasa gatal di leher, sambil sesekali melirik pantulan diriku di cermin besar aula hotel ini. Aku hampir tidak mengenali perempuan di sana. Rambutku yang biasanya diikat asal-asalan saat sedang mabar, kini disanggul modern dengan beberapa helai sengaja dijatuhkan untuk membingkai wajah. Riasannya tipis, tapi c**up untuk menyembunyikan lingkaran hitam di bawah mataku akibat begadang di *server* semalam.
"Ara, berhenti menarik-narik bajumu. Kau terlihat cantik, Sayang," bisik Mama, sambil tersenyum lebar ke arah tamu-tamu yang mulai berdatangan. Senyum itu adalah senyum 'siaga satu', kode agar aku tidak melakukan hal-hal yang memalukan martabat keluarga di hari pertunangan kakakku.
Di tengah ruangan yang dipenuhi aroma lili dan melati, Maya tampak bersinar. Ia berdiri anggun di samping Adrian, calon suaminya yang terlihat sangat mapan dengan setelan tuksedo gelap. Namun, perhatianku justru tersedot pada sosok yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Zayden.
Dia mengenakan kemeja hitam di balik jas abu-abu gelap yang dipotong sempurna. Wajahnya sedingin es, ekspresinya datar seolah dia lebih suka berada di mana pun selain di sini. Namun, saat tatapan kami bertemu sesaat, ada kilatan yang kukenali. Itu adalah tatapan tajam yang sama yang sering kualami saat kami sedang menyusun strategi mengepung musuh di gim. Di sini, dia adalah Zayden yang angkuh. Di balik *headset*, dia adalah Zero, tempatku mengadu segala lelah.
"Nah, ini dia yang kutunggu-tunggu!" Suara melengking Tante Sari, sahabat Mama, memecah lamunanku. Dia datang menyeret seorang pria muda berkacamata dengan kemeja batik sutra yang terlihat sangat mahal. "Jeng, kenalkan, ini anakku, Dion. Dia baru pulang ambil spesialis di Jerman."
Mama langsung berubah sumringah. "Oh, Dion! Wah, makin gagah saja. Ara, ingat Dion? Teman mainmu waktu kecil dulu."
Aku memaksakan senyum tipis, meski perutku mual. "Halo, Mas Dion."
"Ara sekarang sudah besar ya, Tante. Cantik sekali," ujar Dion dengan nada yang terlalu dibuat-buat. Dia mengulurkan tangan, menatapku dengan cara yang membuatku ingin segera lari ke kamar dan memakai *hoodie* kebesaran.
Aku merasakan kehadiran seseorang di dekatku sebelum aku benar-benar melihatnya. Aroma kayu cendana dan *mint* yang samar tercium. Zayden berpindah posisi, kini dia berdiri c**up dekat hingga aku bisa merasakan radiasi panas tubuhnya. Dia tidak bicara, hanya memegang gelas *champagne* dengan jemari panjang yang sangat lincah saat menekan tombol *keyboard*.
"Dion ini masih *single*, lho, Jeng," lanjut Tante Sari tanpa basa-basi, suaranya c**up keras hingga beberapa orang di sekitar kami menoleh. "Sepertinya cocok sekali kalau sama Ara. Sama-sama pintar, sama-sama kalem. Adrian dan Maya kan sudah mau sah, masa adiknya mau dibiarkan sendiri terus?"
Mama tertawa renyah, sebuah tawa yang bermakna persetujuan mutlak. "Benar juga. Ara ini terlalu banyak di kamar, jarang bergaul. Mungkin Mas Dion bisa mengajaknya jalan-jalan kapan-kapan?"
Aku mengepalkan tangan di balik lipatan gaun. Di dunia maya, aku bisa membalas ucapan seperti itu dengan sarkasme tajam yang membuat lawan bicaraku bungkam. Namun di sini, lidahku kelu. Aku hanya bisa menunduk, menatap ujung sepatuku.
"Saya dengar Ara suka main gim, ya?" tanya Dion, mencoba membuka percakapan. "Sayang sekali, ya. Padahal perempuan secantik kamu lebih bagus kalau hobinya yang lebih... berkelas. Main piano, mungkin? Atau koleksi tas?"
Aku tersedak napas sendiri. Berkelas?
Tiba-tiba, sebuah suara rendah dan berat memotong pembicaraan. Suara yang biasanya ma**k ke telingaku lewat frekuensi digital, kini terdengar begitu nyata dan bergetar di udara.
"Gim bukan soal kelas, tapi soal strategi dan ketajaman otak."
Semua orang menoleh. Zayden bicara tanpa melepaskan pandangannya dari gelasnya, namun suaranya memiliki otoritas yang tak terbantahkan.
"Dan saya ragu piano bisa melatih seseorang untuk berpikir sepuluh langkah di depan musuh seperti yang dilakukan Ara setiap malam," lanjut Zayden. Dia kemudian menoleh ke arah Dion, matanya menyipit dingin. "Lagipula, kurasa dia tidak butuh rekomendasi hobi dari orang yang bahkan tidak tahu bedanya hobi dan gengsi."
Suasana mendadak hening. Tante Sari tampak tersinggung, sementara Mama terlihat bingung dengan intervensi mendadak dari adik ipar Maya itu.
Dion berdehem, wajahnya memerah. "Maksud saya bukan begitu, Mas Zayden. Saya hanya..."
"Ara."
Zayden menyebut namaku. Hanya satu kata, tapi cara dia mengucapkannyaβdengan penekanan yang sama seperti saat Zero memanggilku di tengah pertempuran sengitβmembuat jantungku berdegup kencang.
Dia melangkah mendekat, mengabaikan tatapan bingung keluarga kami. Zayden berdiri tepat di hadapanku, mengikis jarak yang selama ini kami jaga di dunia nyata. Dia menunduk sedikit, menatap langsung ke mataku, mengabaikan Dion yang kini tampak seperti pajangan tidak berguna.
"Ada pesan ma**k di grup," ucapnya pelan, hampir berupa bisikan yang hanya bisa kudengar. "Musuh sudah mulai bergerak, dan mereka butuh *shot-caller* mereka sekarang."
Aku terpaku. Dia tidak sedang membicarakan gim. Dia sedang membicarakan situasi di ruangan ini. Dia sedang menawariku jalan keluar dari perjodohan konyol ini.
"Ma, Mas Dion, maaf... sepertinya aku harus membantu Maya di belakang sebentar," kataku cepat, tanpa menunggu jawaban. Aku berbalik, mengikuti langkah Zayden yang sudah lebih dulu berjalan menuju area balkon yang lebih sepi.
Begitu kami sampai di balkon yang gelap dan hanya diterangi lampu taman di bawah, aku melepaskan napas panjang yang sedari tadi kutahan. Angin malam menyapu wajahku, membawa sedikit kelegaan.
Zayden bersandar pada pagar balkon, menatap lurus ke depan. "Kau payah dalam urusan komunikasi langsung, ya?"
Aku mendengus, rasa sarkastikku mulai kembali sekarang setelah kami hanya berdua. "Kau sendiri tahu jawabannya, Zero. Jangan mengejekku."
Zayden terkekeh kecilβsuara langka yang belum pernah kudengar di dunia nyata. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah benda kecil dan melemparkannya padaku. Aku menangkapnya refleks. Sebuah cokelat batangan kecil yang biasa kusantap saat sedang stres mabar.
"Makan itu. Wajahmu pucat seperti baru melihat hantu," katanya dingin, namun ada nada protektif yang tidak bisa dia sembunyikan.
Aku membuka bungkus cokelat itu dengan tangan gemetar. "Kenapa kau membantuku tadi? Kau tahu kan, kalau Mama atau Adrian curiga..."
Zayden berbalik, menatapku dengan intensitas yang membuatku lupa cara bernapas. Dia melangkah maju, memerangkapku di antara pagar balkon dan tubuhnya yang tegap. Jarak kami sekarang benar-benar nol.
"Karena aku tidak suka melihat orang lain mencoba mengambil posisi yang seharusnya hanya milikku, Ara," bisiknya. Suaranya terdengar sangat berbahaya, namun di saat yang sama, sangat familiar. "Di gim, maupun di sini."
Tepat saat itu, pintu balkon terbuka. Suara Adrian memanggil nama Zayden memecah keheningan yang intim itu. Aku membeku, menyadari betapa ambigunya posisi kami saat ini jika dilihat oleh kakak-kakak kami. Zayden tidak menjauh, dia justru menatapku lebih dalam, seolah menantangku untuk memberikan reaksi sebelum rahasia kami benar-benar meledak di depan mata keluarga.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!