Gelas sampanye di tanganku sudah tidak lagi dingin, namun aku tetap menggenggamnya kuat-kuat hingga buku-buku jariku memutih. Riuh rendah suara tawa di ballroom hotel ini terasa seperti desing peluru yang lewat di dekat telinga dalam gimβmengganggu, memicu adrenalin, dan membuatku waspada. Tapi musuhku malam ini bukan pemain dengan *rank* tinggi atau *sniper* yang bersembunyi di balik semak. Musuhku adalah seorang pria berjas abu-abu yang saat ini berdiri terlalu dekat dengan Ara.
Aku memperhatikan dari kejauhan, bersandar pada pilar marmer yang dingin. Ara tampak sangat kecil di balik gaun satin biru pucatnya. Dia terus menunduk, sesekali memainkan jemarinyaβkebiasaan yang aku tahu persis dia lakukan saat merasa terpojok. Pria itu, salah satu sepupu jauh Adrian kalau aku tidak salah ingat, tertawa lebar sambil sesekali menyentuh lengan Ara.
Rahangku mengeras. Di dunia digital, Ara adalah sosok yang memerintah medan perang dengan suara tegas, menentukan kapan kami harus maju dan kapan harus bertahan. Namun di sini, di bawah lampu kristal yang menyilaukan ini, dia tampak seperti mangsa yang kebingungan. Dan pria itu tidak tahu kapan harus berhenti.
Saat pria itu mengulurkan tangan seolah ingin merapikan anak rambut Ara yang terlepas, sesuatu di dalam dadaku patah. Aku meletakkan gelas di meja terdekat dengan denting yang c**up keras, lalu melangkah membelah kerumunan.
"Dia sedang tidak ingin diganggu."
Suaraku keluar lebih rendah dan tajam dari yang kupikirkan. Ara tersentak, kepalanya mendongak cepat, matanya yang besar menatapku dengan campuran antara terkejut dan lega. Si pria berjas abu-abu itu mengerutkan kening, menatapku dari atas ke bawah.
"Kami hanya sedang mengobrol, Zayden. Jangan terlalu serius," kata pria itu dengan nada meremehkan.
Aku tidak menjawabnya. Aku bahkan tidak memandangnya. Fokusku sepenuhnya pada Ara, yang napasnya mulai terlihat tidak beraturan. Tanpa kata, aku meraih pergelangan tangannya. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan telapak tanganku yang panas karena amarah yang tertahan.
"Kita perlu bicara," ujarku pada Ara. Bukan sebuah permintaan, melainkan perintah.
Aku menariknya keluar dari area *ballroom*, mengabaikan tatapan bertanya-tanya dari beberapa tamu dan gumaman protes pria tadi. Kami melewati lorong panjang yang menuju ke arah balkon luar yang lebih sepi. Begitu udara malam yang dingin menerpa wajah, aku melepaskan genggamanku, tapi aku tidak memberi jarak. Aku memaksanya untuk tetap berada di antara tubuhku dan pagar balkon.
"Zayden, apa yang kamu lakukan? Itu tadi sangat tidak sopan," bisik Ara, suaranya gemetar. Dia tidak berani menatap mataku.
"Tidak sopan?" Aku tertawa hambar, sebuah suara yang kering dan penuh sarkasme. "Yang tidak sopan adalah membiarkan orang asing menyentuhmu sementara kamu jelas-jelas merasa tidak nyaman. Kenapa kamu diam saja, Ra? Mana sosok yang selalu meneriakiku kalau aku salah mengambil posisi di gim? Mana *shot-caller* yang tidak punya rasa takut itu?"
Ara merapatkan gaunnya, pundaknya merosot. "Ini bukan gim, Zayden. Ini dunia nyata. Di sini, aku tidak punya *armor*. Aku tidak bisa bersembunyi di balik layar."
"Kamu tidak perlu bersembunyi kalau kamu bisa melawan," sahutku, melangkah satu tindak lebih dekat hingga aroma parfum vanilanya yang lembut memenuhi indra penciumanku. "Tapi kamu malah membiarkannya. Kamu membiarkan dia mendekat seolah-olah siapa pun boleh memilikimu."
Ara akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca karena emosi yang meluap. "Kenapa kamu peduli? Kamu sendiri yang bilang kita harus menjaga jarak di depan keluarga! Kamu yang bersikap seolah kita tidak saling kenal selama berminggu-minggu ini!"
Kalimatnya menghantamku tepat di dada. Benar. Aku yang membangun dinding itu. Aku yang takut jika kakakku, Adrian, atau kakaknya, Maya, mengetahui bahwa adik-adik mereka sudah menjalin hubungan emosional yang intim lewat kabel *headset* selama dua tahun terakhir. Tapi melihatnya disentuh orang lain menyadarkanku bahwa dinding yang kubangun justru menjadi penjara bagiku sendiri.
"Aku peduli karena aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun di ruangan itu!" suaraku naik satu oktav, bergema di kesunyian balkon. "Aku tahu kamu benci keramaian. Aku tahu kamu memakai gaun itu hanya karena Maya memaksamu. Aku tahu kamu ingin sekali memakai *headset*-mu sekarang dan menghilang dari sini. Aku tahu semua itu karena aku Zero, Ara! Dan Zero tidak akan pernah membiarkan rekan setimnya terluka."
Napas Ara tertahan. Keheningan jatuh di antara kami, hanya menyisakan suara musik sayup-sayup dari dalam dan deru angin malam.
"Tapi di sini kamu bukan Zero," bisik Ara lirih, air mata setetes jatuh melewati pipinya. "Di sini kamu Zayden, adik dari calon kakak iparku. Dan di dunia ini, kita tidak punya tempat, bukan?"
Aku menatapnya, rasa sakit yang familier kembali merayap. Aku ingin merengkuhnya, menghapus jarak yang bukan lagi sekadar angka kilometer, melainkan tatanan sosial yang rumit. Aku ingin mengatakan padanya bahwa di dunia mana pun, digital atau nyata, dia tetaplah pusat gravitasi bagi duniaku.
Aku mengulurkan tangan, jemariku gemetar saat menyentuh pipinya, menghapus sisa air mata itu. Ara tidak menjauh. Dia justru memejamkan mata, seolah meresapi sentuhanku yang jarang dia dapatkan tanpa perantara sinyal internet.
"Bagaimana kalau aku tidak mau menjadi Zayden malam ini?" bisikku tepat di depan bibirnya. "Bagaimana kalau aku hanya ingin menjadi orang yang memenangkan pertempuran ini untukmu?"
Ara membuka matanya, ada binar pemberontakan yang mulai muncul di sanaβbinar yang sama yang kulihat setiap kali dia berhasil melakukan *clutch* di saat-saat terakhir gim. Dia hendak menjawab, namun suara langkah kaki yang berat dari arah pintu balkon mengejutkan kami berdua.
"Zayden? Ara? Apa yang kalian lakukan di sini?"
Suara bariton Adrian memecah suasana. Aku membeku, tanganku masih berada di pipi Ara, sementara bayangan kakakku berdiri di ambang pintu, menatap kami dengan kening berkerut dan ekspresi yang sulit diartikan.
Pintu rahasia yang selama ini kami jaga rapat-rapat, kini terasa seolah baru saja didob**k paksa.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!