Ujung jemariku bergetar pelan saat menyentuh permukaan gelas kopi yang mulai berembun. Di seberang meja, Zayden duduk dengan punggung tegak, matanya tertuju pada layar ponsel, namun aku tahu dia menyadari setiap gerak-gerikku. Kami berada di sebuah kafe kecil di sudut kota yang jarang dikunjungi orang-orang dari lingkaran sosial Kak Maya atau Adrian. Di sini, di balik pilar beton yang dingin, kami adalah dua orang asing yang sedang bersembunyi.
"Bernapaslah, Ara. Kamu terlihat seperti sedang membawa bom waktu di tasmu," suara Zayden terdengar rendah, nyaris seperti bisikan yang biasa kudengar melalui *headset* saat kami sedang mengatur strategi di dalam gim.
Aku mendongak, menatap mata tajamnya yang kini tampak sedikit lebih lembut. "Bagaimana kalau ada yang lihat? Kak Maya bilang dia mau mencari dekorasi bunga tambahan di sekitar area ini tadi pagi."
Zayden meletakkan ponselnya di meja, lalu mengulurkan tangan. Untuk sesaat, dia ragu, sebelum akhirnya jemarinya menyentuh punggung tanganku. Sentuhan itu singkat, hanya beberapa detik, tapi sanggup mengirimkan sengatan listrik yang membuat napas yang sedari tadi kutahan terlepas begitu saja.
"Kita hanya sedang mendiskusikan daftar tamu dari pihak keluarga Adrian. Itu alasan resminya jika ada yang bertanya," katanya dengan nada datar yang menjadi ciri khas 'Zayden' di dunia nyata. Namun, sorot matanya yang intens adalah milik 'Zero'. "Tapi di sini, di bawah meja ini, tidak ada yang perlu tahu."
Aku menarik tanganku pelan, memilin ujung kemejaku. "Ini terasa... salah, tapi juga sangat benar. Kamu tahu kan betapa sempurnanya pernikahan Kak Maya dan Adrian di mata semua orang? Mereka adalah pasangan ideal. Jika mereka tahu adiknya mabar selama dua tahun dan sekarang punya hubungan sembunyi-sembunyi... mereka akan menganggap kita aneh. Atau lebih buruk lagi, mereka akan mengira aku mengganggu privasimu sebagai calon adik ipar."
Zayden menyandarkan punggungnya ke kursi, memperhatikanku dengan seksama. "Kau terlalu banyak berpikir, Shot-caller. Di gim, kau selalu punya rencana cadangan. Kenapa di sini kau hanya melihat jalan buntu?"
Aku mendengus, tawa sarkastik yang biasa kugunakan di *voice chat* muncul secara alami. "Karena di gim, jika aku mati, aku bisa *respawn*. Di dunia nyata, kalau aku merusak reputasi Kak Maya atau membuat suasana canggung di keluarga besar kita, tidak ada tombol *undo*."
Zayden terdiam. Dia mengambil cangkir kopinya, menyesapnya perlahan tanpa melepaskan pandangan dariku. "Aku sudah mengenalmu sebagai Zero selama dua tahun. Aku tahu ketakutanmu bukan soal reputasi Maya. Kau takut mereka tidak akan menerimamu apa adanya jika mereka tahu sisi 'liar'-mu di gim, kan?"
Kata-katanya menghantam tepat di sasaran. Aku membuang muka, menatap jalanan di luar jendela yang mulai diguyur gerimis tipis. Di rumah, aku adalah Ara yang pendiam, adik yang penurut, dan mahasiswa yang tidak banyak bicara. Bersama Zero, aku adalah pemimpin yang berani, strategis, dan bicara apa adanya. Zayden mengenal kedua sisi itu, dan fakta bahwa dia tetap di sini, memegang rahasia ini bersamaku, membuatku merasa aman sekaligus terancam.
Tiba-tiba, ponselku di atas meja bergetar hebat. Nama 'Kak Maya' berkedip di layar. Jantungku mencelos. Aku menatap Zayden dengan mata terbelalak, seolah ponsel itu adalah granat yang siap meledak.
"Angkat," perintah Zayden tenang.
Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau. "Halo, Kak?"
"Ara! Kamu di mana? Aku di butik, Adrian bilang Zayden pergi membawa daftar tamu cadangan yang harusnya aku periksa. Apa dia bersamamu? Tadi pagi kulihat kamu juga pamit mau ke perpustakaan." Suara Kak Maya terdengar ceria namun penuh selidik, jenis nada yang selalu membuatku merasa terpojok.
Aku melirik Zayden. Dia hanya mengangkat alisnya, menunggu reaksiku.
"Eh, iya Kak. Aku... aku tadi tidak sengaja bertemu Zayden di jalan dekat perpustakaan. Dia bilang ada daftar yang harus dipastikan, jadi kami mampir sebentar untuk duduk dan memeriksanya," jawabku, suaraku terdengar sedikit terlalu tinggi di telingaku sendiri. "Hanya sebentar, Kak. Ini juga mau pulang."
"Oh, syukurlah kalau kalian mulai akrab! Adrian sempat khawatir Zayden bakal terlalu kaku padamu. Ya sudah, cepat pulang ya, kita makan malam bersama malam ini."
Klik. Sambungan terputus.
Aku menyandarkan dahi ke permukaan meja yang dingin. "Aku benci berbohong padanya, Zay."
"Kita tidak berbohong sepenuhnya. Kita memang sedang membahas daftar tamu," sahut Zayden. Dia berdiri, lalu merogoh saku celananya dan meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. "Ayo, aku antar pulang sebelum gerimisnya makin deras."
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, keheningan menyelimuti kami. Namun, itu bukan keheningan yang menyesakkan. Itu adalah jenis keheningan yang penuh dengan kata-kata yang tidak terucap. Saat mobil berhenti di depan gerbang rumahku, Zayden tidak langsung membuka kunci pintu.
Dia menoleh ke arahku, cahaya lampu jalan yang remang menerangi separuh wajahnya. "Ara."
"Ya?"
"Sampai kapanpun kita menyembunyikan ini, ingat satu hal. Aku memilihmu bukan karena kau adik Maya. Aku memilihmu jauh sebelum aku tahu siapa namamu di dunia nyata."
Dia mendekat, aroma parfumnya yang segar bercampur dengan bau kopi samar menyeruak di indra penciumanku. Untuk sesaat, kupikir dia akan menciumku. Jantungku berpacu g***-g***an. Namun, dia hanya mengulurkan tangan, merapikan anak rambut yang menutupi mataku, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Ma**klah. Jangan biarkan mereka melihat wajahmu yang tegang itu."
Aku mengangguk lemah dan keluar dari mobil. Aku berjalan menuju pintu rumah dengan perasaan campur aduk. Namun, langkahku terhenti tepat di depan pintu utama. Kak Maya berdiri di sana, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sampingnya, Adrian berdiri dengan ekspresi yang sama seriusnya.
"Ara," suara Kak Maya tidak lagi ceria seperti di telepon. "Zayden bilang dia ketemu kamu di dekat perpustakaan, kan?"
Aku mengangguk kaku. "Iya, kenapa Kak?"
Maya menunjukkan sebuah tablet ke arahku. "Seorang teman baru saja mengirimkan foto ini dari kafe di ujung jalan. Kalian tidak terlihat seperti sedang membahas daftar tamu, Ara. Kenapa kalian bergandengan tangan?"
Duniaku serasa berhenti berputar. Di layar tablet itu, terdapat foto buram kami berdua dari arah samping, saat Zayden menyentuh tanganku di atas meja kafe tadi. Skakmat. Strategiku runtuh total.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!