Lampu ruang tengah sudah temaram, hanya menyisakan pendar redup dari lampu sudut yang menerangi tumpukan suvenir pernikahan Kak Maya yang belum selesai dikemas. Aku menghela napas, jemariku terasa kaku setelah dua jam berkutat dengan pita-pita satin berwarna sampanye. Di seberang meja rendah, Zayden duduk dengan punggung tegak, ekspresinya sedingin es yang membeku di puncak gunung, kontras dengan kecepatan tangannya yang dengan efisien menyusun kotak-kotak kecil itu.
Jika aku tidak mengenal suaranya, jika aku tidak tahu bahwa dia adalah 'Zero', aku mungkin akan lari ke kamar sejak satu jam yang lalu. Namun, keheningan ini terasa berbeda sekarang. Ada frekuensi yang hanya kami berdua pahami, sebuah getaran yang biasanya tersalur melalui kabel *headset*, kini merambat di udara yang tipis.
"Zay," panggilku pelan. Suaraku hampir tertelan sunyi.
Dia tidak mendongak, namun gerakan tangannya berhenti sejenak. "Hm?"
"Kenapa waktu pertama kali kita bertemu di rumah ini—maksudku, sebagai manusia asli, bukan sebagai karakter gim—kamu terlihat sangat... tidak setuju dengan pernikahan ini?"
Aku tahu aku mengambil risiko besar dengan menanyakan itu. Zayden selalu menyimpan rapat-rapat apa pun yang berkaitan dengan emosinya. Namun, rasa penasaran ini sudah seperti *debuff* yang terus mengurangi *health point*-ku secara perlahan.
Zayden meletakkan satu kotak yang sudah rapi, lalu menatapku. Matanya tajam, namun ada kilatan ragu yang jarang ia tunjukkan. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti desis uap.
"Bukan tidak setuju dengan Kak Maya," koreksinya dengan suara bariton yang berat—suara yang selalu menenangkanku saat kami sedang dikepung musuh di area *final zone*. "Aku hanya tidak yakin dengan Adrian."
Jantungku berdegup lebih kencang. "Maksudmu? Adrian sangat mencint** Kak Maya. Dia memperlakukannya seperti ratu."
Zayden tersenyum miring, sebuah senyum pahit yang tidak mencapai matanya. "Adrian memang pandai memainkan peran itu. Dia selalu pandai menjadi apa yang orang inginkan." Ia terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu. "Lima tahun lalu, Adrian hampir menikah. Namanya Elena."
Aku tersentak. Pita di tanganku terlepas begitu saja. "Dia pernah bertunangan?"
Zayden mengangguk kecil. "Bukan hanya tunangan. Persiapan sudah sembilan puluh persen. Undangan sudah disebar, gedung sudah dibayar lunas. Dan seminggu sebelum hari-H, Adrian menghilang. Tanpa jejak, tanpa kabar. Dia pergi ke Singapura, mematikan ponselnya, dan membiarkan orang tua kami menanggung malu di depan ratusan tamu."
Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Bayangan Adrian yang selalu tersenyum ramah dan tampak sangat bertanggung jawab seketika retak di kepalaku. "Kenapa dia melakukan itu?"
"Ketakutan," jawab Zayden singkat. "Begitu tekanan mencapai puncaknya, Adrian punya kecenderungan untuk melarikan diri. Dia tidak bisa menghadapi konflik nyata. Dia lebih suka menghapus seluruh *save data* daripada mencoba memperbaiki *error* di tengah permainan."
Analogi gim itu menghantamku tepat di ulu hati. Aku menatap foto Kak Maya dan Adrian yang terpajang di atas bufet. Kak Maya terlihat sangat bahagia, matanya berbinar penuh harapan. Dia sudah merencanakan masa depan ini sejak lama. Dia mencint** Adrian dengan seluruh jiwanya.
"Lalu kenapa kamu diam saja sekarang?" tanyaku, suaraku sedikit gemetar. "Kalau kamu tahu dia punya sejarah seperti itu, kenapa kamu membiarkan dia mendekati kakakku?"
Zayden menatapku dalam-dalam. "Karena dia bersumpah dia sudah berubah. Dia menjalani terapi, dia meminta maaf pada Elena, dan dia bilang Maya adalah alasannya untuk tidak pernah lari lagi. Aku ingin mempercayainya, Ara. Dia kakakku satu-satunya. Tapi setiap kali aku melihat persiapan yang makin matang ini, aku merasakan *déjà vu* yang menyesakkan."
Keheningan kembali menyergap, kali ini terasa jauh lebih berat. Aku merasa seolah baru saja diberikan sebuah bom waktu yang detikannya terus berdenyut di telingaku. Rahasia ini bukan sekadar gosip masa lalu; ini adalah peringatan bahaya yang nyata.
"Kamu harus memberitahu Kak Maya," bisikku.
Zayden menggeleng tegas. "Jangan. Adrian akan merasa dikhianati jika aku membukanya. Dia ingin memulai lembaran baru tanpa bayang-bayang kegagalan itu. Jika Maya tahu, keraguan akan merusak segalanya sebelum dimulai. Kamu tahu kakakmu, dia pemikir yang berat. Sekali dia tahu, dia tidak akan pernah bisa melihat Adrian dengan cara yang sama lagi."
"Tapi dia berhak tahu siapa pria yang akan dia nikahi, Zayden!" suaraku naik satu oktav karena frustrasi. "Bagaimana kalau Adrian lari lagi? Bagaimana kalau dia meninggalkan Kak Maya di depan altar?"
"Aku akan memastikannya tidak terjadi," potong Zayden cepat, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas. "Itu sebabnya aku ada di sini. Untuk menjaganya tetap di jalur."
Zayden bangkit berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia menatapku sejenak, memberikan tatapan yang biasa ia berikan saat kami menyusun strategi mustahil di dalam gim. "Ara, anggap saja ini misi rahasia. Jangan katakan sepatah kata pun pada Maya. Biarkan mereka bahagia."
Ia berjalan pergi menuju pintu depan, meninggalkanku terpaku di tengah tumpukan suvenir yang kini tampak seperti tumpukan masalah yang menunggu untuk meledak.
Aku menoleh saat mendengar langkah kaki ringan dari arah tangga. Kak Maya muncul dengan piyama sutranya, wajahnya tampak lelah namun berseri.
"Zayden sudah pulang, Ra?" tanyanya sambil tersenyum manis. Ia menghampiriku, lalu memegang salah satu kotak suvenir. "Bagus sekali hasilnya. Kamu memang yang terbaik. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa bantuan kalian. Adrian sangat beruntung punya adik ipar sepertimu, dan aku beruntung punya Adrian."
Aku menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. Lidahku kelu. Di kepalaku, suara Zayden sebagai 'Zero' dan kenyataan tentang Adrian bertarung dengan hebat. Aku melihat binar di mata kakakku—binar yang mungkin akan padam seketika jika aku membuka mulut.
"Iya, Kak," jawabku pendek, mencoba memaksakan senyum yang kurasa terlihat sangat canggung. "Adrian... dia pria yang penuh kejutan, ya?"
Maya tertawa kecil, tidak menyadari nada sarkastik yang terselip dalam suaraku. "Benar. Dia selalu membuatku merasa aman."
*Aman,* batinku. Kata itu terasa begitu ironis sekarang.
Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Aku meraih ponselku, membuka aplikasi pesan gim yang biasa kami gunakan. Jariku gemetar saat mengetik pesan untuk 'Zero', meskipun orangnya baru saja meninggalkan rumahku.
*Ara: Kamu yakin kita bisa menyimpan rahasia ini sampai hari pernikahan? Bagaimana kalau ini bukan sekadar misi, Zay? Bagaimana kalau ini adalah 'bug' yang akan menghancurkan seluruh sistem kita?*
Ponselku bergetar hampir seketika. Sebuah balasan ma**k dari Zero.
*Zero: Percayalah padaku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun terluka. Fokus saja pada permainanmu, Ara. Jangan lakukan manuver berbahaya.*
Aku menatap layar ponsel yang menyala di kegelapan kamar. Zayden mungkin seorang pemain pro yang hebat dalam mengatur strategi, tapi di dunia nyata, tidak ada tombol *restart*. Satu langkah salah, dan seluruh keluarga kami akan menanggung akibatnya. Aku melirik ke arah pintu kamar Kak Maya, lalu kembali ke layar ponsel. Di satu sisi, ada kesetiaanku pada Zayden dan rahasianya. Di sisi lain, ada masa depan kakakku yang sedang dipertaruhkan.
Tepat saat aku hendak mematikan ponsel, sebuah notifikasi baru muncul. Bukan dari Zayden, melainkan sebuah pesan anonim yang dikirim ke akun media sosialku. Isinya hanya sebuah foto lama: Adrian, sedang berdiri di depan sebuah bandara dengan koper besar, di samping seorang wanita yang menangis tersedu-sedu.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Ternyata, bukan hanya Zayden yang menyimpan rahasia ini. Seseorang di luar sana sedang memperhatikan, dan mereka siap untuk menghancurkan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!