Layar ponsel di genggamanku menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi ruang tengah apartemen Adrian masih terasa panas, bukan karena suhu udara, melainkan karena ketegangan yang nyaris meledak. Kakakku berdiri di dekat jendela, bahunya kaku, sementara napasnya memburu pendek-pendek. Di seberangnya, Mayaβkakak perempuan Araβberdiri dengan mata sembab dan melipat tangan di dada, sebuah pertahanan diri yang sangat kukenal.
"Kalau memang pekerjaan itu lebih penting daripada komitmen kita minggu depan, kenapa kita harus repot-repot menyiapkan semua ini, Adrian?" Suara Maya bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang ditahan.
Adrian mengusap wajahnya kasar. "Ini cuma tiga hari di Singapura, Maya. Proyek ini krusial untuk posisi direkturku nanti. Aku melakukan ini untuk masa depan kita!"
"Masa depan yang mana kalau di masa sekarang saja kamu tidak ada?"
Aku bersandar di pilar, mengamati mereka. Di sudut lain ruangan, aku melihat Ara. Gadis itu duduk meringkuk di sofa tunggal, jemarinya bertautan erat sampai buku-bukunya memutih. Dia tampak seperti karakter *support* yang kehilangan arah karena *tanker* dan *damage dealer*-nya sibuk bertengkar sendiri. Aku bisa melihat kecemasan yang nyata di matanyaβketakutan bahwa tatanan keluarganya akan runtuh sebelum sempat bersatu.
Aku menegakkan tubuh, lalu melangkah mendekat ke arah Ara. Dia mendongak, matanya bertemu mataku. Ada sebuah pesan tersirat di sana, sebuah sandi yang biasa kami bagi di dunia gim saat tim kami hampir kalah. *Lakukan sesuatu, Zero.*
Aku memberikan isyarat kecil dengan kepala, memintanya mengikutiku ke dapur yang hanya berjarak beberapa langkah dari ruang tengah. Begitu kami terlindung oleh dinding pembatas, aku berbisik, "Mereka cuma bicara lewat ego masing-masing. Tidak akan ada yang mau mengalah kalau tidak ada yang menarik rem darurat."
Ara menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang selalu dia lakukan saat gugup. "Maya tidak marah soal Singapura, Zayden. Dia takut. Ayah kami dulu sering meninggalkan rumah dengan alasan pekerjaan sebelum akhirnya tidak pulang sama sekali. Baginya, kepergian Adrian minggu ini adalah dejavu yang buruk."
Aku tertegun. Informasi itu tidak ada dalam berkas formal keluarga manapun. Itu adalah sisi manusiawi yang hanya diketahui oleh orang terdekat. "Dan Adrian merasa dia tidak c**up layak untuk Maya kalau dia tidak sukses secara finansial. Dia merasa harus membuktikan sesuatu pada ayahmu."
Kami terdiam sejenak. Di luar, suara perdebatan masih terdengar, meski volumenya mulai menurun menjadi gumaman pahit.
"Strategi?" tanyaku pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Ara.
Ara menarik napas panjang, bahunya sedikit tegak. Sisi *shot-caller*-nya mulai mengambil alih. "Kamu bawa Adrian keluar. Dinginkan kepalanya. Katakan padanya bahwa Maya tidak butuh direktur, dia butuh kepastian. Aku akan bicara pada Maya. Aku akan mengingatkannya bahwa Adrian bukan Ayah."
Aku mengangguk kecil. "Oke. *Synchronize* dalam sepuluh menit?"
"Sepuluh menit," jawabnya mantap.
Aku melangkah kembali ke ruang tengah, memotong kalimat Adrian yang baru saja akan keluar. "Mas, ikut aku sebentar. Ada berkas di mobil yang harus kamu lihat sekarang. Penting."
Adrian menatapku tajam, hendak membantah, tapi aku memberikan tatapan yang tidak menerima penolakan. Dengan gerutuan pelan, dia akhirnya mengikutiku keluar menuju balkon apartemen yang berangin kencang.
Di bawah langit Jakarta yang temaram, aku menyerahkan sebatang rokok yang dia tolak, lalu aku hanya berdiri di sampingnya. "Dia tidak melarangmu sukses, Mas," kataku tanpa basa-basi. "Dia cuma takut kamu menjadi orang yang tidak dia kenali setelah sukses nanti. Baginya, kamu pergi ke Singapura itu bukan soal bisnis, tapi soal prioritas."
Adrian terdiam, menatap lampu-lampu kota. "Aku hanya ingin memberikan yang terbaik, Zay."
"Yang terbaik bagimu belum tentu yang dia butuhkan. Tanyakan padanya, apa yang dia takuti, bukan apa yang dia marahi."
Di dalam, melalui pintu kaca yang sedikit terbuka, aku bisa melihat Ara. Dia sedang berlutut di depan Maya, menggenggam tangan kakaknya itu sambil berbicara dengan lembut. Wajah Ara yang biasanya tertutup dan canggung kini memancarkan empati yang luar biasa. Dia bukan lagi gadis pemalu yang bersembunyi di balik headset; dia adalah pelabuhan bagi kakaknya.
Sepuluh menit berlalu. Aku mengajak Adrian ma**k kembali. Suasana sudah jauh lebih tenang. Maya duduk di sofa dengan wajah yang masih basah, tapi matanya lebih lunak. Ara berdiri dan menepi, memberiku ruang.
Adrian mendekat, berlutut di depan calon istrinya. "Maafkan aku, Maya. Aku tidak tahu kalau ini mengingatkanmu pada Ayah. Aku akan membatalkan perjalanan itu. Direktur bisa menunggu, tapi kamu tidak."
Maya terisak kecil, lalu memeluk Adrian erat. Ketegangan yang tadinya nyaris memutus benang merah pernikahan mereka kini mengendur. Aku mengembuskan napas lega yang tidak kusadari sempat kutahan.
Aku menoleh ke arah Ara. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, tampak lelah tapi tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya di dunia nyata, aku melihat Ara yang benar-benar 'hidup'. Tanpa sadar, aku melangkah mendekatinya, memangkas jarak yang biasanya kami jaga dengan ketat.
"Kerja bagus, *Partner*," bisikku tepat di samping telinganya.
Ara tersentak kecil, semburat merah merayap di pipinya. Dia menatapku, dan untuk beberapa detik, tidak ada sarkasme atau kecanggungan. Hanya ada kami berdua di tengah rekonsiliasi kakak-kakak kami.
"Kita tim yang hebat, ya?" balasnya pelan, suaranya hampir hilang ditelan suara isak tangis bahagia Maya.
"Selalu," jawabku.
Namun, saat aku hendak mengatakan sesuatu yang lebih pribadi, ponsel di saku celana Ara bergetar hebat. Dia merogohnya, dan raut wajahnya seketika berubah pucat pasi saat membaca notifikasi yang muncul di layar. Dia menatapku dengan tatapan horor, seolah-olah rahasia terbesar kami baru saja disiarkan ke seluruh dunia.
"Zayden..." suaranya tercekat. "Grup keluarga... Maya baru saja mengunggah foto kita berdua yang sedang berbisik di dapur tadi dengan *caption* yang salah paham."
Aku merampas ponselnya dan jantungku rasanya berhenti berdetak. Di sana, di grup WhatsApp besar keluarga besar mereka dan keluargaku, foto kami berdua tampak sangat intim, jauh lebih intim daripada sekadar rekan mabar yang sedang menyusun strategi. Dan di bawahnya, Maya menulis: *'Sepertinya bukan cuma satu pernikahan yang harus kita siapkan tahun depan.'*
Duniaku mendadak terasa jauh lebih rumit daripada misi gim tersulit sekalipun.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!