Jari-jariku masih gemetar saat aku menutup pintu kamar Zayden dengan sangat pelan, seolah-olah bunyi klik pada slot kunci bisa memicu ledakan di seluruh penjuru rumah. Di dalam sana, aroma kopi pahit dan wangi maskulin yang tipis masih tertinggal di ujung indra penciumanku. Aku baru saja menghabiskan tiga puluh menitβyang terasa seperti tiga detik sekaligus tiga abadβduduk di tepi tempat tidur Zayden, menatap layar monitornya sementara kami mendiskusikan strategi untuk turnamen *weekend* ini.
Di sana, di dalam kamar itu, dia bukan Zayden yang kaku dan irit puji. Dia adalah Zero. Suaranya yang rendah dan tenang menyusup ke telingaku tanpa perantara *headset*, menciptakan getaran yang jauh lebih nyata dan berbahaya di dadaku.
"Ara?"
Suara itu datang dari arah tangga, membuatku tersentak hingga hampir menjatuhkan ponsel. Aku berbalik dengan cepat, mencoba mengatur napas yang mendadak berantakan. Maya berdiri di sana, mengenakan daster satin berwarna krem, memegang setumpuk majalah vendor pernikahan. Matanya yang tajam menyipit, menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu beralih ke pintu kamar Zayden yang baru saja kututup.
"Kamu ngapain di depan kamar Zayden?" tanya Maya. Nada suaranya tidak tinggi, tapi ada tekanan penuh selidik yang membuat nyaliku menciut.
Aku menelan ludah, berusaha mencari alasan yang ma**k akal. "Tadi... tadi aku cuma mau nanya soal... itu, kabel HDMI. Laptopku nggak mau nyambung ke TV di bawah."
Maya berjalan mendekat, langkah kakinya tidak terdengar di atas karpet bulu koridor, tapi bagiku setiap langkahnya terdengar seperti dentum genderang perang. Dia berhenti tepat di depanku, jaraknya c**up dekat hingga aku bisa melihat kerutan halus di dahinya.
"Nanya kabel sampai ma**k ke dalam?" Maya menaikkan sebelah alisnya. "Aku lihat kamu keluar dari sana, Ra. Dan kamu di dalam lama banget."
"Nggak lama, Kak. Zayden tadi lagi nyari kabelnya di laci, jadi aku nunggu sebentar," bohongku. Ujung jariku bertautan di balik punggung, sebuah kebiasaan lama jika aku sedang merasa terpojok.
Maya tidak langsung menjawab. Dia malah melongok, mencoba mengintip celah di bawah pintu kamar Zayden sebelum kembali menatapku dengan tatapan yang jauh lebih serius. "Ra, dengerin Kakak. Zayden itu orangnya beda sama Adrian. Dia tertutup, dingin, dan sejujurnya, agak sulit ditebak. Adrian bahkan bilang adiknya itu jarang banget ngebiarin orang ma**k ke ruang pribadinya. Bahkan Adrian pun kalau mau ma**k harus ketuk pintu berkali-kali."
"Masa, sih? Mungkin dia lagi baik aja tadi," ucapku pelan, berusaha bersikap acuh tak acuh meski jantungku berdegup kencang.
"Bukan soal baiknya, Ra," potong Maya cepat. Dia meletakkan tumpukan majalah itu di meja konsol di samping kami, lalu menyilangkan tangan di dada. "Ini soal batasan. Kita ini tamu di rumah keluarga Adrian sampai acara pernikahan selesai. Aku nggak mau ada gosip aneh-aneh. Kamu tahu sendiri gimana mamanya Adrian sangat menjaga tata krama."
Aku menunduk, menatap pola karpet yang mendadak terlihat sangat menarik. "Aku cuma nanya kabel, Kak. Nggak ada yang aneh."
"Nggak ada yang aneh?" Maya tertawa hambar, nada yang membuat bulu kudukku meremang. "Kamu itu introvert, Ra. Kamu bahkan jarang mau bicara sama sepupu-sepupu kita kalau nggak terpaksa. Tapi sekarang, kamu mendadak akrab sama Zayden? Laki-laki yang bahkan nggak pernah senyum kalau kita lagi makan malam bareng?"
Maya melangkah maju satu tahap lagi, membuatku terdesak ke dinding. "Atau jangan-jangan... ada sesuatu yang nggak aku tahu? Kalian sudah kenal sebelumnya?"
Pertanyaan itu menghantamku seperti godam. Aku bisa merasakan wajahku memanas. Rahasia tentang Zero dan dunia *game* kami terasa seperti beban seberat beton yang siap meruntuhkan pertahananku. Jika aku mengaku, Maya akan menganggapku aneh karena berteman dengan orang asing di internet selama dua tahun. Jika aku diam, kecurigaannya akan semakin liar.
"Nggak, Kak. Mana mungkin aku kenal dia," jawabku dengan suara yang sedikit bergetar.
Maya memegang bahuku, remasannya c**up kuat untuk menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya. Matanya menatap langsung ke manik mataku, mencari celah kebohongan. "Ra, kamu itu adikku. Aku tahu kapan kamu lagi nutupin sesuatu. Jangan main api, ya? Zayden itu sebentar lagi bakal jadi adik iparku. Jangan sampai ada drama yang ngerusak semuanya. Kamu paham, kan?"
Aku hanya bisa mengangguk kaku. Maya menghela napas panjang, memberikan tepukan terakhir di bahuku yang terasa seperti peringatan sebelum dia mengambil kembali majalahnya dan berjalan pergi menuju kamarnya.
Aku tetap berdiri di koridor yang sepi itu untuk waktu yang lama, menyandarkan punggungku ke dinding yang dingin. Napasku terasa sesak. Aku baru saja menyadari satu hal: di rumah ini, dinding-dindingnya memiliki telinga, dan kakakku memiliki mata yang jauh lebih tajam dari yang kukira.
Baru saja aku hendak melangkah menuju kamarku sendiri, ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k.
**Zero:** *Dia curiga?*
Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar. Zayden mendengar semuanya dari balik pintu. Dia tahu Maya sedang mengawasiku. Keintiman digital yang selama ini terasa aman di balik headset kini mulai berdarah-darah, merembes ma**k ke dunia nyata dan mengancam untuk menghancurkan ketenangan yang selama ini kubangun dengan susah payah.
Aku mengetik balasan dengan jari yang masih dingin.
**Ara:** *Kita harus berhenti mabar di rumah ini, Zay. Kak Maya tahu ada yang nggak beres.*
Balasannya datang hampir seketika, singkat namun membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
**Zero:** *Sudah terlambat untuk berhenti, Ra. Aku nggak bisa pura-pura nggak kenal kamu lagi.*
Aku menatap pintu kamar Zayden yang tertutup rapat, menyadari bahwa mulai saat ini, setiap langkah yang kuambil di rumah ini adalah langkah di atas seutas tali tipis yang siap putus kapan saja. Dan di bawah sana, ada jurang yang siap menelan seluruh rencana pernikahan kakakku jika rahasia ini meledak.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!