Lampu meja di sudut kamarku berpijar redup, melemparkan bayangan panjang yang tampak menari-nari di dinding yang dipenuhi tempelan jadwal kuliah dan coretan strategi gim. Di luar pintu, rumah ini bernapas dengan ritme yang asingβsuara tawa sepupu yang baru datang dari luar kota, denting piring dari dapur tempat Ibu menyiapkan jamuan terakhir sebelum hari besar, dan gumaman doa yang sesekali terdengar. Besok, Maya akan melangkah menuju altar. Besok, hidup kami semua akan berubah.
Namun, di sini, di depan layar monitor yang cahayanya menyakitkan mata, aku merasa seperti berada di dalam ruang hampa udara.
Tanganku meraih headset, benda plastik hitam yang selama dua tahun ini menjadi satu-satunya pelindungku dari dunia nyata. Aku memakainya, membiarkan bantalan telinganya membungkam kebisingan dari ruang tamu. Begitu ma**k ke lobi gim, mataku langsung menyisir daftar teman di pojok kanan bawah.
*Zero β Offline.*
Status itu masih sama sejak enam jam yang lalu. Aku menghela napas, jemariku mengetuk-ngetuk meja kayu dengan ritme yang tidak beraturan. Aku mencoba mengirim satu pesan lagi di kolom obrolan pribadi, meski aku tahu itu sia-sia.
*Ra: Lu di mana? Latihan buat turnamen minggu depan gimana?*
Tidak ada balasan. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang mengetik. Aku beralih ke ponsel, membuka aplikasi WhatsApp dan menatap nanar pada deretan pesan hijau yang semuanya hanya berakhir dengan satu centang abu-abu.
"Zayden, jangan sekarang," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar serak, tenggelam oleh deru kipas CPU yang bekerja keras.
Sulit dipercaya bahwa pria yang selama ini menjadi tempatku mengadu, pria yang suaranya bisa menenangkan badai di kepalaku hanya dengan satu kalimat sarkastik, adalah orang yang sama dengan pria kaku yang berdiri di samping Adrian kemarin sore. Zayden, adik calon kakak iparku. Kenyataan itu menghantamku seperti serangan mendadak di zona *blind spot*. Dia tahu siapa aku. Dia tahu bahwa 'Ra' adalah Ara, adik perempuan dari calon kakak iparnya. Dan dia merahasiakan itu dariku.
Pintu kamarku terbuka sedikit, membiarkan aroma melati dan bau setrikaan uap ma**k. Maya melongokkan kepalanya, wajahnya terlihat lelah namun berseri. "Ra? Belum tidur? Besok kita harus bangun jam empat pagi untuk *makeup*."
Aku segera mengecilkan kecerahan monitor, seolah-olah sedang menyembunyikan rahasia terlarang. "Iya, Mbak. Bentar lagi."
Maya ma**k sepenuhnya, duduk di pinggir tempat tidurku yang tertutup oleh tumpukan kain seragam keluarga. Dia menatapku lembut, tipe tatapan yang selalu membuatku merasa te*******. "Kamu oke? Kamu kelihatan pucat sejak gladi resik kemarin."
"Cuma kurang tidur aja, Mbak. Banyak tugas," dustaku pelan.
"Jangan terlalu diforsir. Besok aku butuh kamu di sampingku, ya?" Maya mengulurkan tangan, merapikan anak rambutku. "Adrian bilang Zayden juga agak aneh hari ini. Dia nggak bisa dihubungi sejak sore. Katanya ada urusan mendadak, tapi dia janji bakal datang besok pagi."
Jantungku mencelos. "Dia... nggak bisa dihubungi juga?"
Maya mengangguk, tidak menyadari kepanikan yang mulai merayapi nada suaraku. "Mungkin dia gugup. Adrian bilang adiknya itu memang agak sulit ditebak. Ya sudah, tidur ya, Ara. *Good night*."
Setelah pintu tertutup kembali, kesunyian di kamarku terasa berkali-kali lipat lebih menyesakkan. Jadi, Zayden benar-benar menghilang. Bukan hanya dari gim, tapi juga dari jangkauan kakaknya sendiri.
Aku kembali menatap layar monitor. Pikiran buruk mulai bermunculan seperti *pop-up* iklan yang mengganggu. Apakah dia merasa muak karena aku sudah tahu identitasnya? Apakah dia merasa kedekatan kami di dunia digital adalah sebuah kesalahan yang bisa merusak tatanan keluarga yang sedang dibangun ini? Atau yang lebih buruk... apakah dia sengaja menghilang agar tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa 'Zero' dan 'Ara' seharusnya tidak pernah bertemu di dunia nyata?
Aku mencoba ma**k ke dalam pertandingan *quick match* sendirian, berharap kesibukan jari-jariku di atas keyboard bisa mengalihkan rasa cemas ini. Namun, setiap kali karakterku bergerak, aku secara otomatis menunggu instruksi lewat suara berat di headset-ku. Aku menunggu dia mengejek cara aku melempar granat, atau memuji ketepatanku membidik musuh.
Hening. Hanya ada suara tembakan digital yang terasa hambar.
Aku menyerah. Aku melepas headset dan melemparkannya ke atas meja. Rasa sesak di dadaku mulai berubah menjadi kemarahan yang bercampur dengan ketakutan. Dia tidak bisa melakukan ini padaku. Dia tidak bisa membuatku bergantung pada kehadirannya selama dua tahun hanya untuk meninggalkanku tepat saat identitas kami menyatu di dunia nyata.
Aku meraih ponselku lagi, jariku bergetar saat mengetik pesan terakhir sebelum aku memutuskan untuk menyerah malam itu.
*Ra: Kalau besok lu nggak muncul, gue bakal anggap semua yang kita obrolin selama dua tahun ini cuma sampah. Gue butuh lu, Zero. Bukan cuma di gim.*
Aku menekan tombol kirim, lalu mematikan ponsel dan meletakkannya di bawah bantal. Aku berbaring, menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba mengatur napas yang memburu. Di luar, suara tawa keluarga masih terdengar sayup-sayup, namun aku merasa seperti seorang prajurit yang ditinggalkan sendirian di medan perang tanpa senjata.
Besok adalah hari pernikahan kakakku. Besok, aku harus tersenyum di depan kamera, memakai kebaya yang sempit, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Namun, di dalam hati, aku hanya memikirkan satu hal.
Bagaimana jika kursi pengiring pria di samping Adrian besok kosong?
Tepat saat aku mulai memejamkan mata, ponsel di bawah bantalku bergetar pendek. Hanya sekali. Jantungku berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Dengan gerakan secepat kilat, aku menyambar ponsel itu dan menyalakannya.
Ada satu notifikasi pesan ma**k. Bukan dari WhatsApp, melainkan dari aplikasi pesan internal gim yang terhubung ke ponselku.
*Zero: Buka jendela lu.*
Napas pertamaku tertahan di tenggorokan. Kamarku berada di lant** dua, menghadap langsung ke jalan samping rumah yang remang-remang karena lampu jalan yang sering berkedip. Dengan tangan gemetar, aku bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju jendela.
Aku menyibakkan gorden tipis itu sedikit, dan di sana, di bawah bayang-bayang pohon mangga tua, berdiri sebuah siluet tinggi yang mengenakan jaket *hoodie* gelap. Cahaya dari lampu jalan yang redup sesekali menyorot wajahnya, menunjukkan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Itu Zayden. Dan dia tidak terlihat seperti orang yang siap untuk menghadiri pesta pernikahan besok pagi. Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja melarikan diri dari sesuatu yang besarβatau seseorang yang siap menghancurkan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!