Lampu indikator pada *keyboard* mekanikku masih berkedip biru, seolah-olah sedang bernapas di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari monitor. Aku baru saja akan mengklik tombol 'Ready' untuk sesi *ranked* sore ini ketika pintu kamarku berderit terbuka tanpa ketukan.
"Ara! Ya ampun, kamu belum ganti baju juga?"
Suara Ibu melengking, memecah kesunyian yang biasanya menjadi pelindungku. Aku tersentak, tanganku refleks melepas *headset* dan membiarkannya tergantung lemas di leher. Di ambang pintu, Ibu berdiri dengan tangan di pinggang, mengenakan kebaya modern berwarna salem yang tampak terlalu kaku untuk sekadar makan malam di rumah.
"Sepuluh menit lagi mereka sampai, Ara. Tolong, simpan dulu mainanmu itu," Ibu melangkah ma**k, matanya menyapu tumpukan kabel dan dua monitor yang baginya terlihat seperti sampah elektronik. "Ini hari penting buat Kak Maya. Jangan bikin Ibu malu dengan rambut berantakan dan kaos oblong seperti itu."
Aku menghela napas panjang, jemariku masih gatal ingin menyentuh *mouse*. "Hanya makan malam, Bu. Lagipula, ini calon suami Kak Maya, bukan penguji sidang skripsiku."
"Ini tentang kesan pertama, Ara! Keluarga Adrian itu orang terpandang. Dan kabarnya, adiknya juga ikut datang. Bayangkan kalau mereka melihatmu seperti ini, seperti orang yang tidak pernah melihat sinar matahari." Ibu mendekat, lalu dengan gerakan cepat yang tak sempat kuhindari, ia mencabut kabel daya dari stopkontak.
Layar monitorku seketika hitam pekat. Duniamu, tempat di mana aku adalah seorang pemimpin regu yang disegani, baru saja dipaksa mati.
"Ibu!" seruku tertahan. Jantungku berdenyut nyeri membayangkan hukuman *pinalty* karena *disconnect* di tengah lobi.
"Ganti baju sekarang. Ibu sudah siapkan terusan warna *navy* di atas tempat tidurmu. Dan pakai sedikit bedak, jangan pucat begitu." Ibu menatapku dengan tatapan memohon yang lebih mematikan daripada perintah manapun. "Sekali saja, Ara. Berlakulah seperti perempuan normal seumurmu. Berhenti bersembunyi di balik layar itu."
Pintu ditutup dengan dentuman pelan namun tegas. Aku menatap pantulan diriku di layar monitor yang gelap. Mata yang lelah, rambut yang dikuncir asal, dan bibir yang terkatup rapat. Di dunia maya, bersama Zero, aku bisa bicara berjam-jam tentang strategi perang, tentang konspirasi alam semesta, atau sekadar mengeluh tentang dosen yang menyebalkan. Tapi di sini, di bawah atap rumah ini, suaraku seolah tertelan oleh ekspektasi yang tidak pernah bisa kupenuhi.
Dengan gerakan enggan, aku meraih terusan berbahan jatuh yang disiapkan Ibu. Rasanya gatal dan asing di kulitku. Aku lebih suka jaket *hoodie* yang tiga ukuran lebih besar, yang bisa menyembunyikan kecemasanku.
"Ara, kamu sudah siap?" Suara Maya terdengar dari balik pintu, kali ini lebih lembut.
Aku membuka pintu dan menemukan kakakku berdiri di sana, tampak sangat cantik. Wajahnya berseri, tipe kebahagiaan yang biasanya hanya kulihat di film-film romantis.
"Kakak gugup?" tanyaku, mencoba mengalihkan fokus dari rasa tidak nyamanku sendiri.
Maya terkekeh, merapikan tatanan rambutnya di cermin lorong. "Sedikit. Tapi aku lebih ingin kamu mengenal Adrian. Dia baik, Ra. Dan adiknya... siapa ya namanya? Zayden. Adrian bilang dia seumuran dengannmu, tapi agak tertutup."
"Baguslah," gumamku sinis. "Setidaknya aku tidak perlu repot-repot basa-basi kalau dia sama ansos-nya denganku."
"Hush! Jaga bicaramu nanti ya," Maya mencubit lenganku pelan sambil tertawa.
Kami turun ke lant** bawah. Ruang makan sudah disulap sedemikian rupa. Wangi rendang dan ayam opor memenuhi udara, aroma yang biasanya membangkitkan selera makan, tapi entah mengapa kali ini justru membuat perutku mual karena tegang. Ibu sedang menata serbet dengan presisi militer, sementara Ayah duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran, mencoba terlihat sant** meski kakinya terus bergoyang gelisah.
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar berhenti di depan pagar. Suasana rumah yang tadinya sibuk mendadak sunyi sesaat, seolah-olah kami semua sedang menahan napas secara kolektif.
"Itu mereka," bisik Ibu, suaranya naik satu oktav karena bersemangat. "Ara, berdiri di samping Kakakmu. Jangan menunduk terus!"
Aku melangkah ke dekat pintu ma**k, meremas ujung gaun *navy*-ku sampai kusut. Aku benci situasi ini. Aku benci harus tersenyum pada orang asing yang harus kupanggil 'keluarga' dalam waktu dekat. Pikiranku melayang pada Zero. Kalau saja dia ada di sini, dia pasti akan membisikkan lelucon sarkastik di telingaku untuk meredakan ketegangan ini. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu betapa aku benci keramaian.
Pintu depan dibuka oleh Ayah.
"Selamat malam, Pak Hendra," sebuah suara bariton yang hangat menyapa. Itu pasti Adrian. Dia tampak persis seperti di foto; rapi, tampan, dan memiliki aura 'pria baik-baik' yang disukai semua orang tua.
Lalu, sesosok bayangan lain melangkah ma**k dari balik punggung Adrian. Seorang pemuda jangkung dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Kulitnya pucat, rambutnya sedikit berantakan namun tertata, dan tatapan matanya... dingin. Dia tampak seperti seseorang yang lebih suka berada di perpustakaan gelap daripada di pesta makan malam ini.
"Dan ini adik saya, Zayden," Adrian memperkenalkan pemuda itu.
Zayden mengangguk singkat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Namun, saat matanya bertemu denganku, ada kilatan aneh yang melintas di sanaβsesuatu yang lebih tajam dari sekadar rasa ingin tahu.
"Malam," ucap Zayden pelan.
Jantungku berhenti berdetak selama satu detik penuh. Suara itu. Rendah, sedikit serak, dan memiliki intonasi yang sangat spesifik saat mengucapkan huruf 'm' di akhir kata. Suara yang selama dua tahun ini menemaniku setiap malam melalui *headset*. Suara yang memberikan instruksi saat kami terjepit di zona merah.
Suara Zero.
Aku mematung, tenggorokanku mendadak kering kerontang. Aku ingin lari kembali ke kamar, mengunci pintu, dan memastikan bahwa ini hanyalah halusinasi akibat kurang tidur. Namun, Zayden masih menatapku, dan kali ini, sudut bibirnya terangkat sangat tipisβsebuah seringai yang hanya bisa kulihat karena aku sudah sangat terbiasa mengamati setiap det**l kecil darinya di layar monitor.
"Senang bertemu denganmu... Ara," ucapnya, menekankan namaku dengan nada yang seolah-olah kami sudah berbagi ribuan rahasia sebelumnya.
Duniaku yang terjaga dan dunia digitalku baru saja bertab**kan dengan dentuman yang m****akkan telinga. Dan aku tahu, makan malam ini akan menjadi awal dari bencana yang paling manis.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!