Aroma melati yang menyeruak di aula hotel bintang lima ini seharusnya menenangkan, tetapi bagiku, bau itu justru terasa menyesakkan. Aku meremas pinggiran kebaya kutubaru berwarna *champagne* yang kupakai, merasakan tekstur payetnya menusuk telapak tanganku yang mulai berkeringat. Di depanku, ribuan kelopak mawar putih ditaburkan di sepanjang *aisle*, menciptakan ilusi jalan menuju kebahagiaan yang sempurna.
Maya tampak luar biasa cantik. Kakakku itu tersenyum lebar di pelaminan, jemarinya bertautan erat dengan jemari Adrian. Mereka adalah gambaran pasangan ideal yang diimpikan semua orang. Namun, pandanganku tidak tertuju pada pengantin. Mataku terus mencuri pandang ke arah deretan kursi keluarga mempelai pria, tepat di mana Zayden duduk.
Dia mengenakan setelan jas hitam yang memeluk tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya yang biasa berantakan kini ditata rapi ke belakang, menonjolkan rahangnya yang tegas dan sorot mata dingin yang selalu berhasil membuatku merasa te*******βseolah dia bisa melihat menembus topeng "adik pengantin wanita yang sopan" yang sedang kugunakan.
"Dan sekarang, mari kita dengarkan sepatah kata dari adik kandung mempelai pria, sekaligus *best man* kita malam ini, Zayden Malik," suara MC bergema melalui *sound system* berkualitas tinggi.
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah aku sedang berada di detik-detik terakhir *match* penentuan. Aku melihat Zayden berdiri. Gerakannya tenang, efisien, dan penuh wibawa. Saat dia melangkah menuju podium, keheningan menyergap aula. Semua mata tertuju padanya, terma**k aku yang hampir lupa cara bernapas.
Dia menyesuaikan mikrofon, suara gesekannya terdengar tajam. Lalu, dia mulai berbicara.
"Selamat malam semuanya," ucapnya. Suaranya bariton, rendah, dan memiliki getaran yang sangat kukenal. Itu adalah suara yang selama dua tahun ini menemaniku setiap malam melalui *headset*. Suara yang memberikan instruksi tenang saat tim kami terjepit, suara yang mendengarkan keluh kesahku tentang dosen pembimbing yang menyebalkan.
"Adrian adalah kakak yang... tangguh," Zayden memulai, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum tipis yang jarang terlihat. "Dia selalu tahu kapan harus maju dan kapan harus bertahan. Melihatnya di sana bersama Maya, aku menyadari bahwa hidup terkadang seperti sebuah peta yang sangat luas. Kita sering tersesat di area yang gelap, mencari-cari di mana 'Safe Zone' kita sebenarnya berada."
Aku tersentak. *Safe Zone*. Istilah itu terlalu umum untuk dicurigai orang lain, tapi bagiku, itu adalah kata kunci.
Zayden mengalihkan pandangannya dari kakaknya. Perlahan, matanya menyapu kerumunan hingga akhirnya berhenti tepat di mataku. Aku ingin memalingkan wajah, tapi tatapannya mengunci seluruh saraf motorikku.
"Banyak orang berpikir bahwa jarak adalah musuh terbesar dalam sebuah hubungan," lanjut Zayden, suaranya kini terdengar lebih dalam, lebih personal. "Mereka pikir, jika kita tidak bisa melihat wajah seseorang atau menyentuh tangannya, maka perasaan itu tidak nyata. Tapi aku belajar dari seseorang... bahwa koneksi yang paling kuat justru sering kali dibangun di balik layar. Di tempat di mana nama asli tidak penting, tetapi kejujuran adalah segalanya."
Tanganku yang memegang tas kecil gemetar. Zayden sedang berbicara padaku. Dia sedang melakukan *shot-calling* di tengah keramaian ini, dan aku adalah satu-satunya pemain yang menerima sinyalnya.
"Ada saat-saat di mana kita harus bermain sebagai 'Support', menyembuhkan luka tanpa harus terlihat," Zayden melanjutkan, matanya masih belum lepas dariku. "Dan ada saatnya kita harus berhenti bersembunyi di balik 'Fog of War'. Aku menghabiskan waktu lama untuk mengamati dari kejauhan, menjaga jarak agar tatanan yang ada tidak hancur. Tapi malam ini, melihat kakakku menemukan pelabuhannya, aku sadar satu hal."
Dia menjeda kalimatnya. Suasana aula terasa begitu sunyi hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang mengg***.
"Jarak nol atau *zero distance* bukanlah tentang seberapa dekat kita berdiri secara fisik," bisiknya, namun terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan. "Tetapi tentang keberanian untuk melepaskan *headset* dan berhadapan dengan realitas, betapa pun rumitnya itu. Karena pada akhirnya, kemenangan yang paling berarti bukanlah saat kita menghancurkan markas lawan, melainkan saat kita berani mengakui bahwa kita tidak ingin lagi bermain sendirian."
Zayden mengangkat gelas sampanyenya ke arah pelaminan, tapi sudut matanya tetap terkunci padaku. "Untuk Adrian dan Maya. Semoga kalian tidak pernah takut pada kegelapan, karena kalian sudah menemukan rekan mabar seumur hidup."
Tepuk tangan meriah membahana. Orang-orang di sekitarku tampak tersentuh oleh pidato yang mereka anggap puitis dan metaforis itu. Namun bagiku, itu bukan sekadar pidato pernikahan. Itu adalah sebuah ultimatum. Itu adalah pengakuan yang disiarkan secara nasional di hadapan kedua keluarga besar kita.
Zayden turun dari podium dengan langkah pasti. Bukannya kembali ke kursinya, dia justru berjalan lurus ke arah tempat dudukku. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman *ultimatum* dalam gim yang tidak bisa kuhindari.
Aku berdiri dengan kaku saat dia berhenti tepat di depanku. Wangi parfumnya yang maskulin bercampur aroma hutan pinus kini memenuhi indra penciumanku, mengalahkan aroma melati yang tadi menyesakkan.
"Kau terlihat cantik dengan warna itu, Ara," ucapnya rendah, hanya bisa didengar olehku. Tak ada lagi nada dingin yang biasa dia tunjukkan di depan keluarga. Ini adalah nada suara 'Zero'.
"Zayden, apa yang kau lakukan?" bisikku panik, melirik ke arah Maya dan orang tuaku yang mulai memperhatikan interaksi kami.
Zayden sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telingaku. Napas hangatnya membuat bulu kudukku berdiri.
"Permainan sembunyi-sembunyinya sudah berakhir," gumamnya pelan namun tajam. "Aku sudah menekan tombol 'Ready', Ara. Sekarang pertanyaannya... apakah kau akan tetap berada di lobi, atau kau akan ikut ma**k ke dalam *game* denganku?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. Di pelaminan, Maya melambaikan tangan padaku, memberi isyarat agar aku bergabung untuk foto keluarga besar. Di depanku, Zayden menunggu jawaban dengan binar mata yang menantang. Aku tahu, jika aku melangkah bersamanya sekarang, tidak ada jalan kembali ke persembunyian digital yang nyaman itu. Rahasia kami terancam pecah tepat di hari paling bahagia kakakku.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!