Gaun sifon berwarna salem ini terasa mencekik, meski Maya bersumpah ukurannya sudah pas di tubuhku. Aku berkali-kali merapikan ujung rok yang jatuh tepat di bawah lutut, merasa seperti alien yang dipaksa menyamar sebagai manusia normal. Di cermin ruang tamu, aku melihat bayanganku sendiriβseorang gadis yang biasanya bersembunyi di balik tudung *hoodie* kebesaran, kini dipoles riasan tipis yang terasa berat di kulit.
"Ara, berhenti menarik-narik bajumu. Kamu terlihat cantik," tegur Maya sambil menata taplak meja untuk kesekian kalinya. Kakakku itu tampak bersinar. Kebahagiaan memancar dari wajahnya, kontras dengan kegugupan yang membuat perutku mulas.
Malam ini adalah makan malam formal pertama keluarga kami dengan keluarga calon suaminya, Adrian. Bagiku, ini adalah zona perang sosial yang ingin kuhindari dengan cara apa pun. Aku lebih suka menghadapi *boss level* tersulit di gim daripada harus berbasa-basi di meja makan.
Suara bel rumah berbunyi, mengirimkan sengatan listrik ke tulang belakangku. Ayah dan Ibu bergegas menuju pintu depan dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat. Aku berdiri mematung di sudut ruangan, meremas jemariku sendiri sampai memutih.
"Selamat datang! Silakan ma**k," suara Ayah terdengar hangat.
Adrian melangkah ma**k lebih dulu. Dia persis seperti yang diceritakan Mayaβramah, tampan, dan memiliki aura 'pria sempurna' yang membuat siapa pun merasa nyaman. Dia menyalami orang tuaku dengan sopan sebelum memberikan kecupan singkat di kening Maya.
"Dan ini adikku," suara Adrian kembali terdengar, mengalihkan perhatian kami ke sosok yang berdiri di belakangnya, yang sejak tadi terhalang bayangan pintu. "Zayden. Dia baru saja menyelesaikan urusannya di kantor, jadi kami berangkat bersama."
Seorang pria melangkah ma**k ke dalam terangnya lampu ruang tamu. Dia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh. Perawakannya tinggi, jauh lebih tinggi dari Adrian, dengan rahang yang tegas dan sepasang mata yang sedingin es. Dia tidak tersenyum. Dia hanya mengangguk singkat, ekspresinya datar seolah dia lebih suka berada di tempat lain daripada di sini.
"Malam," ucapnya pendek.
Duniaku mendadak berhenti berputar.
Suara itu.
Itu bukan sekadar suara pria yang rendah dan bariton. Ada getaran unik di ujung kalimatnya, sebuah resonansi yang telah mengisi telingaku selama ribuan jam melalui *headset* kesayanganku. Itu adalah suara yang menenangkanku saat aku kalah telak dalam turnamen. Itu adalah suara yang membisikkan strategi dengan tenang di tengah kekacauan medan tempur digital.
Itu adalah suara Zero.
Aku merasakan darahku berdesir hebat, membuat telingaku berdenging. Tidak mungkin. Zayden, pria yang tampak seperti model majalah bisnis yang angkuh ini, tidak mungkin adalah Zero yang sering menertawakan lelucon sarkastikku di Discord. Zero adalah pelarianku, satu-satunya orang yang mengenali sisi asliku tanpa melihat wajahku.
"Ara?" Suara Maya memecah lamunanku. Dia menatapku dengan alis berkerut, memberi isyarat agar aku mendekat. "Kenalkan, ini Zayden. Zayden, ini adikku, Ara."
Aku melangkah maju dengan kaki yang terasa seperti jeli. Aku tidak berani menatap matanya, jadi aku hanya memfokuskan pandanganku pada simpul dasinya yang rapi. "Halo," bisikku nyaris tak terdengar. Suaraku tercekat di tenggorokan.
Zayden tidak segera menyahut. Aku bisa merasakan tatapannya yang intens menguliti wajahku. Suasana di ruangan itu mendadak terasa sangat tipis, seolah oksigen terserap habis ke arahnya.
"Senang bertemu denganmu, Ara," katanya.
Jantungku mencelos. Kali ini, tanpa gangguan koneksi internet, tanpa kompresi audio, suara itu terdengar sepuluh kali lebih nyata. Itu dia. Benar-benar dia. Intonasi saat dia menyebut namaku... itu persis seperti saat Zero memanggilku di dalam gim untuk memberikan *buff* kesehatan.
Aku memberanikan diri mendongak, dan saat itulah mataku bertemu dengan matanya yang gelap. Tidak ada kehangatan di sana, hanya tatapan menyelidik yang tajam. Namun, di balik topeng dingin itu, aku menangkap sesuatu yang membuat bulu kudukku merindingβsebersit kilatan pengenalan yang sangat samar.
Kami pindah ke ruang makan. Percakapan mengalir lancar antara Adrian, Maya, dan orang tua kami. Mereka membahas det**l pernikahan, lokasi, dan t**** bengek lainnya. Aku duduk tepat di seberang Zayden, mencoba mati-matian untuk fokus pada potongan steik di piringku daripada pria yang duduk tegak di hadapanku.
"Ara sedang sibuk menyusun skripsi sekarang," Ibu memulai pembicaraan, mencoba melibatkanku. "Dia jarang keluar rumah, lebih suka menghabiskan waktu di depan komputer."
Adrian tertawa kecil. "Oh, benarkah? Zayden juga sama. Meski dia sibuk di kantor, kalau sudah pulang, dia bisa mengunci diri di kamar berjam-jam dengan gimnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang dia mainkan."
Tanganku yang memegang garpu gemetar. Aku menunduk lebih dalam, berharap rambutku yang tergerai bisa menyembunyikan wajahku yang mulai memanas.
"Hanya hiburan ringan, Kak," sahut Zayden sant**. Dia kemudian memotong dagingnya dengan presisi yang mengerikan. "Meskipun belakangan ini, rekan timku sedang sering melamun. Aku jadi harus lebih sering memperhatikannya."
Aku tersedak air yang baru saja kusesap. Aku terbatuk kecil, dan Maya segera mengusap punggungku dengan cemas.
"Kamu tidak apa-apa, Ra?" tanya Maya.
Aku mengangguk cepat, menyeka bibirku dengan serbet. "Hanya... airnya terlalu dingin."
Saat aku mengangkat wajah, aku mendapati Zayden sedang memperhatikanku. Dia sedikit memiringkan kepalanya, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tidak kentaraβsebuah senyum kemenangan.
"Ngomong-ngomong, Ara," Zayden bersuara lagi, kali ini nada suaranya berubah. Lebih rendah, lebih intim, persis seperti nada yang dia gunakan saat kami hanya berdua di saluran suara pribadi setelah mabar selesai. "Aku dengar kamu ahli dalam strategi. Mungkin kapan-kapan kamu bisa mengajariku cara... mengambil keputusan yang tepat di bawah tekanan?"
Kalimat itu bukan sekadar basa-basi. Itu adalah sebuah kode. Sebuah umpan.
Pikiranku berputar hebat. Jika Zayden adalah Zero, berarti dia sudah tahu siapa aku sejak awal. Dia tahu semua keluh kesahku tentang betapa menyebalkannya Maya jika sedang cerewet, tentang betapa aku benci acara formal seperti ini, dan tentang ketakutanku akan masa depan. Dia memegang seluruh rahasia hidupku di telapak tangannya, sementara aku baru saja menyadari identitasnya lima menit yang lalu.
Aku meremas serbet di bawah meja, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Aku harus memastikan satu hal. Aku harus tahu apakah ini hanya kebetulan atau sebuah jebakan yang sudah dirancang dengan matang.
"Tergantung," jawabku, mencoba membalas tatapannya dengan keberanian yang dipaksakan. "Strategi itu sulit kalau salah satu pihak tidak jujur tentang siapa mereka sebenarnya, bukan?"
Meja makan mendadak hening selama satu detik yang terasa seperti selamanya. Adrian dan Maya saling pandang, bingung dengan ketegangan yang tiba-tiba muncul di antara kami berdua.
Zayden meletakkan garpunya dengan denting porselen yang pelan namun tegas. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya mengunci mataku dengan intensitas yang membuat napas berkumpul di dadaku.
"Kejujuran itu relatif, Ara," ucapnya dengan nada dingin yang familiar. "Terkadang, orang bersembunyi di balik layar bukan karena ingin menipu, tapi karena mereka ingin melihat apakah orang lain c**up cerdas untuk menemukan mereka tanpa harus diberi tahu."
Dia tahu. Dia benar-benar tahu. Dan yang lebih menakutkan dari kenyataan bahwa dia adalah Zero, adalah kenyataan bahwa pria yang sekarang akan menjadi bagian dari keluargaku ini, sedang menatapku seolah aku adalah mangsa yang baru saja ma**k ke dalam jaringannya.
Dan makan malam ini baru saja dimulai.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!