Zero Distance: Rahasia di Balik Headset

Bab 4: Bab 4 - Memastikan identitas Zayden dengan mengajaknya ...

Pengaturan Membaca

Jantungku berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah ada penabuh drum yang sedang melakukan latihan g***-g***an di dalam dadaku. Aku duduk di sudut sofa ruang tamu yang luas, mencoba menenggelamkan diri di balik layar ponsel, sementara di seberang ruangan, suasana riuh rendah menyelimuti persiapan pernikahan Kak Maya dan Adrian. Aroma bunga lili yang menyengat dan tumpukan undangan berwarna emas yang bertebaran di atas meja kayu jati itu seharusnya menjadi pusat perhatianku, tetapi mataku terus-menerus mencuri pandang ke arah satu orang.

Zayden.

Dia duduk di kursi tunggal dekat jendela, tangannya memegang sebuah buku tebal yang tampaknya sama sekali tidak dia baca. Wajahnya datar, sekeras pahatan marmer, dengan rahang yang tegas dan tatapan yang seolah selalu menjaga jarak dari dunia. Jika saja aku tidak mendengar suaranya tadi pagi—saat dia mengucapkan sepatah kata pada kakaknya—aku tidak akan pernah curiga. Suara itu memiliki resonansi rendah yang sama, jeda napas yang identik, dan ketenangan yang menghanyutkan yang selama dua tahun ini menemaniku melalui *headset* setiap malam.

"Ara, kamu melamun lagi?" Suara Kak Maya memecah lamunanku. Dia sedang mencocokkan kain *bridesmaid* ke arahku dengan wajah sumringah. "Bagaimana menurutmu? Warna *sage green* ini cocok untuk kulitmu, kan?"

"Bagus, Kak. Cocok kok," jawabku singkat, berusaha memberikan senyum yang paling tidak mencurigakan.

Kak Maya mendesah pelan, menyadari pikiranku sedang melayang, lalu kembali sibuk berdiskusi dengan Adrian. Aku menghela napas panjang. Aku harus memastikannya. Ketidakpastian ini terasa seperti duri di dalam sepatu—kecil, tapi membuat setiap langkahku terasa menyakitkan.

Aku membuka aplikasi gim yang sudah menjadi rumah keduaku. Ikon kecil berbentuk sayap perak itu terbuka, menampilkan antarmuka gelap yang familier. Jemariku gemetar saat aku mencari nama 'Zero' di daftar teman. Statusnya: *Online*.

Aku melirik Zayden lagi. Dia masih dalam posisi yang sama. Ponselnya tergeletak di atas meja kecil di sampingnya, layarnya menghadap ke bawah. Dia sama sekali tidak menyentuhnya.

Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, aku mengetikkan pesan di kolom obrolan pribadi.

*Ara: "Zero, kau di sana? Aku butuh bantuan untuk push rank sekarang. Musuh di sektor utara terlalu kuat."*

Ini adalah kode yang sering kami gunakan. Jika itu benar-benar Zayden, dan jika dia benar-benar sedang 'hadir' di dunia digital itu, dia pasti akan merespons. Aku menatap layar ponselku dengan intens, lalu sesekali melirik ke arah kursi di dekat jendela itu.

Zayden tidak bergerak. Tangannya tetap memegang buku. Matanya tidak beralih ke ponsel yang tergeletak diam.

*Mungkin aku salah,* pikirku dengan rasa kecewa yang anehnya juga bercampur dengan lega. *Mungkin hanya suaranya saja yang mirip. Mana mungkin si dingin Zayden ini adalah Zero yang bisa tertawa sarkastik bersamaku sampai jam tiga pagi?*

Namun, tepat saat aku hendak menutup aplikasi itu, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar.

*Zero: "Jangan gegabah. Sektor utara memang jebakan. Tunggu aku di koordinat biasanya. Aku akan melindungimu."*

Darahku seolah membeku. Aku segera mendongak. Zayden masih di sana. Masih tidak menyentuh ponselnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Sudut bibirnya yang biasanya lurus sempurna kini tampak sedikit—hanya sedikit sekali—terangkat. Dan yang paling mengejutkan, dia tidak menatap bukunya lagi.

Dia menatapku.

Sepasang mata tajam itu mengunci pandanganku. Ada kilat geli di sana, sebuah tantangan yang tersembunyi di balik ketenangan yang membosankan. Aku menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana mungkin? Ponselnya ada di meja, jaraknya setidaknya tiga puluh sentimeter dari tangannya. Bagaimana dia bisa membalas pesanku secepat itu tanpa bergerak?

Aku memutuskan untuk melakukan satu percobaan terakhir. Aku tidak akan mengirim pesan teks. Aku akan melakukan sesuatu yang lebih berisiko. Aku menekan ikon panggil suara di dalam aplikasi tersebut.

Di ruang tamu yang mulai hening karena Kak Maya dan Adrian baru saja berpindah ke ruang makan, bunyi getaran halus terdengar. Bukan dari ponsel di atas meja, melainkan dari saku kemeja hitam yang dikenakan Zayden.

Zayden tidak terkejut. Dia tidak panik. Dengan gerakan yang sangat lambat dan disengaja, dia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah *earbud* nirkabel yang sedari tadi tersembunyi di balik rambutnya yang sedikit berantakan, lalu memasangnya ke telinga.

Dia menekan tombol di *earbud* tersebut tanpa sekali pun mengalihkan pandangan dariku.

"Suaramu terdengar gemetar di sana, Ara," bisiknya.

Suara itu tidak datang dari ponselku. Suara itu datang langsung dari bibirnya yang bergerak tepat di depanku, namun dengan nada yang hanya pernah kudengar di balik kegelapan kamarku saat malam hari. Nada yang intim, penuh rahasia, dan mematikan.

Aku terpaku, ponsel hampir saja terlepas dari genggamanku yang berkeringat. "Zayden..." suaraku nyaris tidak keluar, hanya berupa bisikan parau yang hilang diterpa angin dari jendela.

Dia berdiri, menutup bukunya dengan dentuman pelan yang terasa seperti palu hakim yang mengetok vonis bagiku. Dia berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar mantap di atas lant** kayu. Setiap langkahnya membuatku ingin lari, tapi kakiku seolah tertanam di lant**.

Zayden berhenti tepat di depanku, membungkuk sedikit sehingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aroma parfumnya yang berbau kayu cendana dan hujan memenuhi indra penciumanku, mengaburkan logika yang tersisa.

"Kenapa berhenti?" tanyanya dengan suara rendah yang menggetarkan dadaku. Dia melirik layar ponselku yang masih menampilkan profil 'Zero'. "Bukankah kau yang memintaku untuk melindungimu di sektor utara?"

"Kau... kau tahu selama ini?" tanyaku dengan suara bergetar.

Zayden menegakkan tubuhnya, mema**kkan satu tangan ke saku celananya dengan gaya yang sangat acuh tak acuh, seolah-olah dia tidak baru saja meledakkan duniaku menjadi kepingan-kepingan kecil.

"Dua tahun itu waktu yang c**up lama untuk mengenali seseorang, Ara. Bahkan hanya dari cara mereka menekan tombol *reload*," dia menjawab datar, namun ada binar kemenangan di matanya. "Sayangnya, kau baru menyadarinya sekarang."

Tepat saat itu, Kak Maya memanggil dari ruang makan. "Zayden! Ara! Sini, makanan sudah siap. Kita harus bahas jadwal fitting baju!"

Zayden berbalik dengan tenang, seolah percakapan barusan hanyalah obrolan cuaca yang sepele. Dia berjalan menuju ruang makan tanpa beban, meninggalkanku yang masih terpaku dengan jantung yang berpacu liar.

Aku menatap layar ponselku yang meredup. Rahasia yang selama ini menjadi tempat perlindunganku kini telah berubah menjadi senjata yang dipegang oleh orang yang paling tidak kuinginkan. Zayden tahu segalanya. Dia tahu keluh kesahku tentang Kak Maya, dia tahu ketakutanku akan masa depan, dan dia tahu betapa aku membenci pertemuan keluarga seperti ini.

Duniaku yang terbagi dua—digital dan nyata—baru saja bertab**kan dengan dahsyat, dan aku sadar, pernikahan kakaknya bukan lagi satu-satunya drama yang harus kukhawatirkan. Kini, setiap gerak-gerikku akan berada di bawah pengawasan 'Zero' yang kini memiliki wajah, tubuh, dan senyum yang sangat berbahaya.

Aku melangkah menuju ruang makan dengan kaki lemas, menyadari bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi jarak aman di antara kami. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak tahu apakah aku mampu memenangkan misinya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca