Lampu-lampu kecil yang menghiasi taman belakang rumah Adrian berpijar temaram, memantul di permukaan kolam renang yang tenang. Namun, ketenangan itu tidak merambat sedikit pun ke dalam dadaku. Aku berdiri di bayang-bayang pintu kaca yang terbuka, memerhatikan sosok gadis yang sedang duduk meringkuk di bangku taman kayu.
Ara. Di dunia maya, dia adalah 'SlayerQueen' yang tak kenal takut, pemberi instruksi yang suaranya bisa menggetarkan nyali lawan dalam hitungan detik. Namun di sini, di bawah cahaya bulan yang pucat, dia tampak begitu rapuh. Bahunya merosot, dan jemarinya terus memilin ujung sweter kebesarannyaβkebiasaan yang selalu dia lakukan saat merasa terpojok, sebuah det**l yang tidak pernah bisa kulihat lewat kabel serat optik, namun kini terpampang jelas di depan mataku.
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin malam mengisi paru-paruku. Aku tahu aku tidak bisa menghindar lagi. Setiap kali matanya bertemu mataku saat makan malam keluarga tadi, aku bisa melihat badai kebingungan di sana. Dia mulai menyadari bahwa suara di balik headset-nya selama dua tahun terakhir adalah orang yang sama dengan pria yang kini berdiri di hadapannya sebagai calon adik ipar kakaknya.
Aku melangkah keluar. Suara gesekan sepatuku di atas ubin kayu membuatnya tersentak. Dia menoleh, dan untuk sesaat, aku melihat kilatan 'SlayerQueen' yang tajam di matanya sebelum kembali meredup menjadi Ara yang canggung.
"Zayden," bisiknya. Suaranya serak, berbeda dengan frekuensi jernih yang biasa kudengar di Discord.
"Dingin di luar sini, Ra," kataku datar, berusaha menyembunyikan getaran di suaraku sendiri. Aku berdiri di sampingnya, menjaga jarak satu meter. Jarak yang secara teknis sangat dekat, namun terasa seperti ribuan kilometer jika dibandingkan dengan keintiman kami di dalam gim.
Dia tidak membalas. Dia hanya menatap lurus ke depan, ke arah air kolam yang berkilau. "Sejak kapan?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya kecil, hampir tertelan angin malam.
Aku mengepalkan tangan di dalam saku celana. "Sejak kapan aku tahu itu kau?"
Ara mengangguk pelan. Dia akhirnya menoleh padaku, matanya menuntut jawaban jujur yang selama ini kusimpan rapat-rapat. "Tadi di ruang tamu, saat kau menyebutkan strategi *flanking* itu... itu bukan kebetulan, kan? Kau sengaja memancingku."
Aku menghela napas, menatap langit malam yang tanpa bintang. "Aku sudah tahu sejak tahun pertama kita mabar, Ra."
Kalimat itu meluncur begitu saja, lebih berat dari yang kubayangkan. Aku bisa merasakan tubuh Ara menegang. Dia bangkit berdiri dari bangkunya, menatapku dengan tatapan tak percaya yang membuat dadaku terasa seperti dihantam godam.
"Tahun pertama?" suaranya naik satu oktav, ada nada pengkhianatan yang kental di sana. "Kita mabar sudah dua tahun, Zayden. Maksudmu... sejak awal kita sering bicara, sejak aku curhat tentang dosenku yang menyebalkan, tentang mimpiku... kau sudah tahu siapa aku?"
"Ingat saat kau bercerita tentang kakakmu, Maya, yang baru saja diterima bekerja di firma hukum ternama?" tanyaku dengan suara rendah. "Malam itu, Adrianβkakakkuβpulang dengan wajah berseri-seri. Dia bilang dia baru saja jadian dengan rekan kerja barunya bernama Maya. Dia menunjukkan fotonya padaku. Di latar belakang foto itu, ada foto keluarga kecil di atas meja kerja Maya. Ada kau di sana, mengenakan toga SMA dan memegang buket bunga."
Ara terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Dia seolah sedang menyusun kembali kepingan memori lama yang kini terasa ma**k akal namun menyakitkan.
"Aku bisa saja menganggap itu kebetulan," lanjutku, melangkah satu tindak mendekatinya. "Tapi kemudian kau bercerita tentang an****mu yang baru saja mati, seekor Golden Retriever bernama 'Muffin'. Di saat yang sama, Adrian bercerita bahwa pacarnya sedang sedih karena an**** adiknya mati. Namanya pun sama. Terlalu banyak kebetulan untuk dianggap sebagai ketidaksengajaan."
"Lalu kenapa kau diam saja?" Suara Ara bergetar, kali ini bukan karena dingin. "Kau membiarkanku mengoceh setiap malam. Kau mendengarkan semua rahasiaku, semua keluh kesahku sebagai 'Zero'. Kau membiarkanku merasa aman bercerita pada orang asing, sementara kau... kau hanya duduk di sana, menontonku seperti subjek penelitian?"
"Bukan begitu, Ra," aku mencoba meraih lengannya, tapi dia menghindar. Gerakannya yang cepat itu membuatku tersadar betapa besarnya jurang yang baru saja kubuat. "Awalnya aku bingung. Aku tidak tahu bagaimana caramu bereaksi jika tahu 'Zero' adalah adik dari pacar kakakmu. Aku takut kau akan berhenti bermain. Aku takut kau akan menghilang."
"Jadi kau memilih untuk membohongiku selama setahun lebih?" tuduhnya. Matanya mulai berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu taman. "Kau tahu betapa sulitnya bagiku untuk percaya pada orang lain? Di gim, aku merasa bisa menjadi diriku sendiri karena tidak ada tekanan identitas. Tapi ternyata, orang yang kusebut sahabat terbaikku itu hanya sedang memainkan peran."
"Aku tidak pernah berakting!" suaraku meninggi tanpa sengaja. "Semua yang kukatakan padamu sebagai Zero adalah jujur. Semua saran yang kuberikan, semua malam yang kuhabiskan hanya untuk menemanimu belajar lewat pangg***n suara... itu semua nyata. Aku hanya... aku hanya pengecut karena tidak berani memberitahumu siapa aku di dunia nyata."
Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba menembus dinding pertahanan yang kini dia bangun setinggi langit. "Aku takut jika kau tahu Zero adalah Zayden yang kaku dan membosankan ini, kau akan membenciku. Dan melihatmu sekarang... sepertinya ketakutanku terbukti."
Ara menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikanβcampuran antara amarah, kecewa, dan sesuatu yang jauh lebih dalam.
"Kau benar, Zayden," katanya dingin, suaranya kini setajam pedang yang biasa dia gunakan di medan tempur digital. "Kau memang pengecut. Kau membiarkanku te******* secara emosional di depanmu, sementara kau tetap memakai topengmu dengan sangat rapi."
Dia berbalik, hendak melangkah ma**k ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu kaca. Tanpa menoleh, dia menggumamkan sesuatu yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
"Besok adalah acara pertunangan kakak kita. Jangan harap aku bisa menatap matamu di depan mereka seolah tidak terjadi apa-apa."
Ara melangkah ma**k, meninggalkanku sendirian di kegelapan balkon. Aku terpaku, menyadari bahwa pengakuanku tidak memberikan kelegaan yang kuharapkan. Sebaliknya, rahasia itu kini telah meledak, menghancurkan jembatan tipis yang baru saja kami bangun di dunia nyata.
Besok, di depan seluruh keluarga besar yang tidak tahu apa-apa, aku harus bersandiwara. Dan yang paling menakutkan adalah, aku tidak tahu apakah Zero masih punya tempat di dunia Ara setelah malam ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!