Jemari tanganku bergetar hebat saat menyentuh pinggiran meja komputer. Headset yang biasanya terasa seperti mahkota kebebasan, kini tampak seperti ular berbisa yang siap mematuk. Aku menatap layar monitor yang masih menampilkan lobi permainan *battle royale* yang biasa kami mainkan. Di sudut kanan bawah, status 'Zero' menyala hijau. *Online.*
Hanya butuh satu klik untuk bergabung dalam timnya. Hanya butuh satu tarikan napas untuk mendengar suaranya yang berat dan menenangkan. Namun, sekarang, setiap kali aku membayangkan suara itu, yang muncul bukan lagi avatar ksatria berbaju zirah hitam, melainkan wajah dingin Zayden dengan tatapan matanya yang seolah bisa menembus kulitku.
Selama dua tahun, aku menelanjangi jiwaku padanya. Aku menceritakan betapa aku benci dibandingkan dengan Maya, betapa aku merasa seperti bayangan yang tidak terlihat di rumah ini, dan betapa aku takut pada masa depan. Dan selama dua tahun itu, dia mendengarkan. Dia tahu segalanya, sementara aku tidak tahu apa-apa.
"Br******," bisikku, suaraku pecah.
Aku menggerakkan kursor dengan sentakan kasar. *Unfriend.* Tidak, itu tidak c**up. *Block.*
Layar berubah sunyi. Dunia digital yang menjadi tempat persembunyianku kini terasa sempit dan menyesakkan. Aku mematikan paksa komputer hingga layarnya menghitam, memantulkan wajahku yang pucat dengan mata yang mulai memanas. Rasa malu itu datang bergelombang, mencekik paru-paruku. Dia melihatku menangis di dunia maya, sementara di dunia nyata, dia melihatku sebagai adik calon kakak iparnya yang kikuk dan tidak berguna. Dia menonton sandiwaraku dari barisan terdepan.
Ketukan di pintu kamarku membuatku terlonjak.
"Ara? Kamu di dalam?" Itu suara Maya. "Zayden dan Adrian datang membawa contoh undangan. Ibu minta kamu turun sebentar untuk membantu memilih skema warna."
Aku memejamkan mata rapat-rapat. "Aku pusing, Kak. Mau tidur."
"Ara, jangan tidak sopan. Cuma sebentar saja, ya? Zayden bahkan membawakan kopi kesukaanmu dari kafe bawah kompleks. Katanya dia ingat kamu suka *hazelnut latte* tanpa gula tambahan."
Tanganku mengepal di atas paha. Bagaimana dia bisa tahu det**l sekecil itu? Aku ingat pernah mengeluh pada Zero tentang kopi yang terlalu manis di kafe dekat kampus enam bulan lalu. Dia mencatatnya. Dia mengoleksi setiap fragmen informasiku seperti seorang kolektor yang sedang meneliti serangga di bawah mikroskop.
"Aku tidak mau kopi!" teriakku, lebih keras dari yang kumaksudkan.
Hening sejenak di balik pintu. Aku bisa membayangkan ekspresi bingung Maya. Dengan geram, aku menyambar sweter besar untuk menutupi piyamaku, lalu membuka pintu dengan sentakan. Aku harus mengakhiri ini. Aku tidak bisa terus bersembunyi jika dia terus-menerus menyusup ke ruang pribadiku.
Aku berjalan melewati Maya yang tertegun dan menuruni tangga dengan langkah lebar. Di ruang tamu, Adrian dan Zayden duduk di sofa panjang. Zayden mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, terlihat sangat tenangβterlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan kewarasanku.
Di atas meja, sebuah cup kopi masih berembun, diletakkan tepat di tempat aku biasa duduk.
"Ara, akhirnya kamu turun," sapa Adrian ramah. "Zayden bilang..."
"Bisa bicara sebentar? Di teras," potongku, mataku tertuju lurus pada Zayden. Tidak ada keraguan, tidak ada kegugupan introvert yang biasanya menghambatku. Amarah adalah bahan bakar yang luar biasa.
Zayden meletakkan ponselnya, matanya yang kelam menatapku tanpa ekspresi yang bisa kubaca. Dia berdiri perlahan, postur tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan yang mengintimidasi di bawah lampu ruang tamu. Tanpa kata, dia mengikutiku keluar ke teras samping yang sepi.
Begitu pintu geser tertutup, aku berbalik dan meledak.
"Sejak kapan?" desisku. "Sejak kapan kamu tahu Zero itu aku?"
Zayden menyandarkan punggungnya pada pilar teras, melipat tangan di depan dada. "Sejak malam pertama Adrian mengajakku makan malam di rumah ini. Suaramu... tidak sulit untuk dikenali, Ra."
"Itu dua bulan yang lalu!" suaraku naik satu oktav, untungnya tertutup suara bising kendaraan di luar pagar. "Dua bulan, Zayden! Dan kamu tetap bertingkah seolah kamu tidak tahu apa-apa di gim? Kamu membiarkanku bercerita tentang... tentang betapa menyebalkannya pertemuan keluarga itu? Kamu menertawakanku di belakang, kan?"
"Aku tidak pernah menertawakanmu," katanya datar. Suaranya persis seperti di headsetβtenang, terkontrol, dan menyebalkan. "Aku justru ingin kamu merasa nyaman. Kalau aku memberitahumu saat itu, kamu pasti akan langsung menghilang. Seperti yang kamu lakukan tadi, memblokir akunku."
Aku tertawa sinis, mataku terasa perih. "Merasa nyaman? Kamu memata-mat** privasiku! Kamu membiarkan aku merasa punya teman bicara yang aman, padahal ternyata kamu adalah orang yang paling kuhindari di dunia nyata. Itu manipulasi, Zayden. Itu menjijikkan."
"Aku hanya mendengarkan, Ara. Apa yang salah dengan itu?"
"Semuanya salah!" aku melangkah maju, menusuk dadanya dengan telunjukku. "Semua rahasia yang kuceritakan pada Zero... itu bukan untuk konsumsi Zayden, adik Adrian yang sempurna dan dingin. Kamu merampas satu-satunya tempat persembunyianku. Kamu membuatku merasa te******* di rumahku sendiri!"
Zayden tidak mundur setapak pun. Dia justru menangkap jemariku yang masih menempel di dadanya. Genggamannya hangat dan kuat, kontras dengan udara malam yang mulai mendingin.
"Lalu apa bedanya?" bisiknya, menunduk agar mata kami sejajar. "Zayden atau Zero, aku adalah orang yang sama yang menemanimu begadang sampai jam tiga pagi saat kamu cemas menunggu hasil ujian. Aku orang yang sama yang membelamu saat rekan tim kita memakimu di *voice chat*. Apa identitas asliku benar-benar menghapus semua dukungan yang kuberikan?"
Aku menyentakkan tanganku lepas dari genggamannya. "Ya! Karena semuanya didasari oleh kebohongan. Kamu tahu siapa aku, tapi aku tidak tahu siapa kamu. Itu bukan pertemanan, itu eksperimen."
Aku berbalik, bersiap untuk ma**k kembali dan mengunci diri selamanya. Namun, kata-kata selanjutnya dari mulut Zayden membuat langkahku membeku di ambang pintu.
"Kalau begitu, mari kita buat adil," ucapnya pelan namun tajam. "Kamu merasa aku tahu terlalu banyak tentangmu? Oke. Tanya apa saja. Aku akan memberitahumu rahasia terburukku, rahasia yang bahkan Adrian pun tidak tahu. Tapi sebagai gantinya..."
Dia menjeda kalimatnya, berjalan mendekat hingga aku bisa mencium aroma parfum kayu dan kopi darinya.
"...kamu tidak boleh lari lagi. Jangan hapus aku dari duniamu, Ara. Baik di dalam layar, maupun di luar."
Aku menoleh, menatapnya dengan sisa-sisa amarah yang kini bercampur dengan ketakutan yang aneh. Di matanya, aku tidak melihat Zero yang bijak, tapi aku melihat seorang pria yang memiliki obsesi tersembunyi. Ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar jam tanganku, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
*Jangan cek ponselmu sekarang kalau kamu tidak mau Maya melihat apa yang kukirimkan semalam.*
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Apa lagi yang dia ketahui? Apa lagi yang dia simpan?
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!