"Ara, tolonglah. Cuma hari ini saja. Kakak benar-benar harus bertemu dengan desainer interior untuk rumah baru nanti, dan Zayden sudah setuju untuk mampir ke percetakan undangan," suara Maya terdengar memelas, kontras dengan jemarinya yang sibuk memoles lipstik di depan cermin.
Aku meremas pinggiran bantal di sofa, berusaha mencari alasan logis untuk menolak. "Kenapa nggak Adrian saja, Kak? Kan itu pernikahan kalian."
"Adrian sedang ada rapat besar, Sayang. Zayden itu adiknya, dia punya selera yang bagus. Lagipula, kamu kan yang paling mengerti seleraku. Anggap saja ini latihan kalau nanti kamu yang menikah," Maya mengedipkan sebelah mata, lalu menyambar tas desainer-nya sebelum aku sempat memprotes lagi. "Dia sudah di depan. Jangan buat dia menunggu!"
Pintu apartemen tertutup dengan dentuman ringan, meninggalkanku dalam keheningan yang menyesakkan. Aku melirik ponselku yang tergeletak di atas meja. Biasanya, di jam seperti ini, aku akan memakai headset, ma**k ke dalam lobi gim, dan mendengar suara berat yang menenangkan itu berkata, *"Ready, Ra? Jangan lupa ambil sniper-nya."*
Tapi sekarang, pemilik suara itu berada di balik kemudi mobil di depan gedung apartemenku, tanpa perantara kabel dan tanpa identitas anonim.
Saat aku keluar dari lobi, mobil SUV hitam metalik itu sudah terparkir manis. Kaca jendela diturunkan perlahan, memperlihatkan profil samping wajah Zayden yang tajam. Rahangnya yang kokoh tampak kaku, dan tatapannya lurus ke depan.
"Ma**k," ucapnya singkat.
Hanya satu kata, tapi getarannya membuat bulu kudukku berdiri. Itu suara Zero. Suara yang selama dua tahun ini menjadi satu-satunya tempatku bercerita tentang dosen yang menyebalkan atau tentang betapa aku benci sayur kol. Namun, di sini, di bawah sinar matahari pagi yang terik, suara itu terasa asing dan dingin.
Aku duduk di kursi penumpang, menarik sabuk pengaman dengan gerakan kikuk yang membuat tanganku gemetar. Bau parfum *woody* yang maskulin memenuhi kabin mobil, membuatku merasa seolah-olah ruang pribadiku sedang diinvasi.
"Ke jalan Melati, kan?" tanyaku, memecah kesunyian yang mencekik.
Zayden hanya mengangguk kecil. Ia mulai menjalankan mobil dengan tenang. Selama perjalanan, tidak ada musik yang diputar. Keheningan ini jauh lebih berat daripada saat kami sedang melakukan *looting* di zona bahaya dalam gim. Di sana, keheningan berarti kewaspadaan. Di sini, keheningan berarti kecanggungan yang tak tertahankan.
Aku mencuri pandang ke arah tangannya yang memegang kemudi. Jemarinya panjang dan bersih, bergerak dengan presisi saat memutar setir. Aku teringat betapa lincahnya 'Zero' saat menekan tombol makro di *keyboard*. Apakah dia sedang memikirkan hal yang sama? Apakah dia juga merasa aneh melihat rekan timnya yang biasanya berisik lewat mikrofon sekarang hanya bisa menunduk sambil meremas ujung kaus?
"Maya bilang kamu yang akan memilih desain akhirnya," Zayden membuka suara setelah sepuluh menit perjalanan.
"Eh, iya. Kak Maya bilang dia percaya seleraku," jawabku terbata-bata. "Tapi kalau kamu punya pendapat lain, nggak apa-apa kok."
Zayden melirikku sekilas. Tatapannya dingin, tak terbaca. "Aku tidak punya selera untuk hal-hal yang bersifat seremonial seperti ini. Aku hanya mengikuti instruksi."
Jawaban itu seperti siraman air es. Di dunia gim, Zero adalah orang yang paling peduli pada det**l. Dia yang selalu mengingatkanku untuk membawa *medkit* tambahan atau mengatur strategi sampai ke hal terkecil. Melihatnya begitu tak acuh di dunia nyata membuatku merasa seperti sedang berhadapan dengan orang yang benar-benar berbeda.
Sesampainya di percetakan, suasananya tidak menjadi lebih baik. Vendor tersebut menyuguhkan belasan katalog undangan dengan berbagai jenis kertas dan font yang membingungkan.
"Ini ada bahan *velvet* dengan cetak emas, atau mungkin ingin yang lebih minimalis dengan kertas *handmade*?" tanya staf percetakan itu dengan ramah.
Aku menatap tumpukan contoh itu dengan bingung. "Bagaimana menurutmu, Zayden?"
Zayden berdiri di sampingku, tangan kirinya ma**k ke saku celana. Ia menunduk sedikit untuk melihat contoh yang kutunjuk. Jarak kami sangat dekat, hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya. "Yang ini terlalu ramai," ucapnya sambil menunjuk desain *floral* yang rumit. "Terlalu banyak distraksi. Pilih yang garisnya tegas."
Aku terpaku. Itu adalah istilah yang sering ia gunakan saat kami memilih *skin* senjata. *'Pilih yang garisnya tegas, Ra. Biar fokusnya nggak pecah.'*
Aku menelan ludah, berusaha mengabaikan debaran jantungku. "Oke, kalau begitu yang ini saja. Kertasnya *broken white*, tulisannya pakai *emboss* perak."
"Pilihan bagus," sahutnya pelan.
Saat kami harus mengisi formulir det**l pesanan, aku kesulitan menulis karena tanganku masih sedikit gemetar. Tanpa diduga, Zayden mengambil alih pulpen dari tanganku. Jarinya sempat bersentuhan dengan kulitku selama sepersekian detik. Rasanya seperti tersengat aliran listrik yang membuatku refleks menarik tangan.
Zayden terhenti sejenak, menatap tanganku yang kini bersembunyi di balik punggung. Ada kilatan aneh di matanyaβsesuatu yang tampak seperti keraguan atau mungkin rasa bersalahβsebelum ia kembali fokus menulis di atas kertas.
Setelah urusan vendor selesai, kami kembali ke mobil. Aku merasa energiku habis terkuras hanya karena menahan napas terlalu lama. Aku bersandar pada kursi, menatap keluar jendela saat mobil mulai melaju kembali ke apartemenku.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Zayden tiba-tiba. Suaranya tidak sedingin tadi, ada nada sedikit provokatif yang sangat kukenali.
"Aku... aku memang pendiam kalau di luar," jawabku jujur, suaraku hampir tenggelam oleh deru mesin.
Zayden menghentikan mobil di lampu merah, lalu ia menoleh sepenuhnya ke arahku. Ia melepaskan satu tangannya dari setir dan bersandar pada sandaran kursinya.
"Tapi kamu tidak pernah diam kalau sudah memegang headset, kan, Ara?"
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku menoleh padanya dengan mata terbelalak. Dia tidak pernah memanggil namaku di dalam gim dengan nada seperti itu. Di sana, aku adalah 'Ra'. Di sini, aku adalah adik dari calon kakak iparnya.
"Kamu... kamu sudah tahu?" tanyaku dengan suara bergetar.
Zayden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk karakter *sniper* mini yang identik dengan karakter yang selalu kugunakan di gim. Ia meletakkannya di atas dasbor mobil, tepat di depanku.
"Aku sudah tahu sejak malam pertama kakakku membawaku ke rumahmu," ucapnya pelan, matanya kini mengunci mataku dengan intensitas yang membuatku sulit bernapas. "Hanya saja, aku penasaran berapa lama kamu akan terus berpura-pura tidak mengenalku."
Lampu berubah hijau, tapi Zayden tidak segera menjalankan mobilnya. Di tengah suara klakson yang mulai bersahutan di belakang kami, aku menyadari satu hal yang mengerikan: di dunia nyata, aku tidak punya tombol 'mute' untuk membungkam kebenaran yang baru saja ia lemparkan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!