Lampu gantung di ruang tengah berpendar kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah berusaha menarikku kembali ke sudut ruangan yang gelap. Di sana, di meja makan yang dipenuhi tumpukan katalog vendor pernikahan, Adrian dan Maya tertawa kecil. Kakakku terlihat begitu tenang, begitu serasi dengan kakaknya Ara. Namun, di teras belakang yang remang-remang ini, duniaku terasa seperti sedang mengalami *glitch* parah yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan menekan tombol *refresh*.
Aku memandang punggung Ara yang kaku. Dia berdiri di dekat pagar pembatas, menatap kegelapan taman dengan bahu yang naik turun tidak teratur. Udara malam yang dingin menyusup lewat celah kemejaku, tapi tidak ada yang lebih dingin daripada tatapan yang dia berikan padaku lima menit yang lalu.
"Ra," panggilku pelan. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Di dunia *Zero Distance*, suaraku biasanya rendah dan penuh otoritas saat memberi komando *raid*. Di sini, suara itu terdengar pecah dan penuh keraguan.
Ara tidak berbalik. "Berhenti panggil aku dengan nama itu. Kamu bukan Zero. Zero nggak ada."
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada peluru kaliber besar di dalam gim. Aku melangkah maju satu tindak, c**up dekat untuk mencium aroma sampo stroberinya yang samar, namun c**up jauh agar dia tidak merasa terpojok.
"Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi aku nggak pernah bermaksud mempermainkanmu," kataku, berusaha mengatur napas. "Saat kita pertama kali mabar dua tahun lalu, aku bahkan nggak tahu kamu siapa. Aku cuma butuh seseorang yang nggak tahu siapa aku di dunia nyata."
Ara berbalik dengan cepat, matanya berkaca-kaca terkena pantulan cahaya lampu teras. "Dan setelah kamu tahu? Setelah kamu sadar kalau 'Rara' yang sering curhat soal kakaknya yang perfeksionis itu adalah adik dari calon ipar kakakmu sendiri? Kenapa kamu diam, Zayden?"
Nama asliku terdengar seperti kutukan di bibirnya. Aku mengepalkan tangan di samping tubuh. Bagaimana cara menjelaskannya? Bagaimana cara memberitahunya bahwa Zayden yang dia lihat sekarang—si kaku yang jarang bicara dan selalu terlihat bosan di acara keluarga—adalah topeng yang kupakai agar aku bisa bertahan hidup di bawah ekspektasi keluarga besar?
"Karena aku takut," aku mengaku, suaraku nyaris berbisik. "Di gim, kamu melihatku sebagai Zero. Kamu menghargai strategiku, kamu tertawa dengan sarkasmeku, dan kamu... kamu peduli padaku tanpa peduli apa nama belakangku. Kalau aku bilang aku Zayden sejak awal, kamu pasti akan menjauh. Kamu akan melihatku sebagai 'adik Adrian', bukan rekan mabarmu."
Ara tertawa, tawa pendek yang sarat akan kepahitan. Dia menghapus air mata yang hampir jatuh dengan punggung tangannya. "Jadi itu alasanmu? Ego? Kamu egois, Zayden. Kamu membiarkan aku membongkar semua rahasiaku, semua kelemahanku, sementara kamu duduk manis di balik layar sambil menontonku seperti pertunjukan sirkus."
"Bukan begitu, Ra! Aku juga memberitahumu segalanya!" aku memprotes, emosi mulai merayap naik. "Semua keluh kesahku soal tekanan di kantor, soal bagaimana aku merasa asing di rumahku sendiri... itu nyata. Aku nggak pernah bohong soal perasaanku."
"Tapi kamu bohong soal identitasmu! Itu fondasi dari semuanya!" Ara melangkah maju, telunjuknya menuding dadaku. "Setiap kali kita bicara lewat *voice chat* sampai subuh, setiap kali aku merasa kamu adalah satu-satunya orang yang memahamiku, kamu tahu persis siapa aku. Kamu melihatku di acara makan malam keluarga, melihatku kikuk dan bodoh, dan kamu diam saja! Apa kamu merasa hebat? Apa kamu tertawa di dalam hati setiap kali aku menyapa 'Kak Zayden' dengan sopan?"
"Aku nggak pernah tertawa," sahutku tajam, rasa sakit mulai menjalar di ulu hati. "Aku justru tersiksa. Setiap kali aku melihatmu dari jauh di acara keluarga, aku ingin sekali mendekat dan bilang, 'Hei, ini aku'. Tapi aku lihat betapa bumbungnya dinding yang kamu bangun di dunia nyata. Kamu nggak nyaman di sini, sama sepertiku. Aku hanya ingin kita punya satu tempat di mana kita bisa jadi diri sendiri, tanpa beban nama keluarga."
Ara menggeleng perlahan, langkahnya mundur menjauhiku. "Tempat itu sudah hancur sekarang. Kamu menghancurkannya, Zayden. Kamu membuat satu-satunya tempat amanku terasa seperti kebohongan besar."
"Ra, tolong, dengar dulu—"
"C**up." Dia memotong kalimatku dengan nada dingin yang belum pernah kudengar dari sosok 'Rara' di gim. "Jangan dekati aku lagi. Di dunia nyata, kita bukan apa-apa. Kita hanya dua orang asing yang kebetulan akan menjadi keluarga karena pernikahan kakak kita. Dan di gim... Zero sudah mati buatku."
Dia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu kaca, meninggalkanku mematung di tengah kesunyian malam yang mencekam. Aku ingin mengejarnya, ingin meraih tangannya dan memaksanya melihat bahwa di balik headset atau di depan matanya saat ini, orang yang mencint**nya—meski aku belum berani mengucapkan kata itu—tetaplah orang yang sama.
Namun, langkahku terhenti saat kulihat ponselnya yang tertinggal di kursi rotan. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi dari aplikasi gim kami. Sebuah pesan otomatis dari sistem: *“Your partner, Zero, is nearby. Connect now?”*
Aku mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Di dalam rumah, sayup-sayup terdengar suara Maya memanggil nama Ara, menanyakan soal pilihan warna undangan. Pernikahan itu tinggal beberapa bulan lagi. Rahasia ini bukan lagi sekadar rahasia antara dua pemain gim, melainkan bom waktu yang siap menghancurkan segalanya.
Aku menatap pintu kaca yang tertutup rapat. Jika Ara tetap memilih untuk menutup diri, maka keberadaanku di sisinya hanya akan menjadi duri. Namun, melihat sorot matanya yang terluka tadi, aku tahu satu hal: aku tidak bisa membiarkan Zero mati begitu saja, bahkan jika itu berarti aku harus mempertaruhkan posisiku di keluarga ini.
Tapi bagaimana caranya meyakinkan seseorang yang sudah kehilangan kepercayaan padamu sepenuhnya?
Suara Adrian memanggil namaku dari dalam, membuyarkan lamunanku. Aku mema**kkan ponsel Ara ke saku celanaku, merasakan getaran dingin dari benda itu. Permainan ini belum berakhir, tapi aturannya sudah berubah total. Dan kali ini, aku tidak punya strategi cadangan.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!