Cahaya biru dari monitor setinggi dua puluh empat inci itu adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar Ara. Di luar, rintik hujan menghantam kaca jendela dengan irama yang monoton, seolah mengejek kesunyian yang menyelimuti dirinya. Ara duduk meringkuk di kursi gaming-nya, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran *mousepad* dengan gelisah.
Biasanya, jam sepuluh malam adalah waktu di mana dunianya menjadi hidup. Jam di mana suara bariton yang tenang itu akan menyapa melalui *headset*, melenyapkan segala penat dari tugas kuliah dan kecanggungan sosial yang ia alami sepanjang hari. Namun malam ini, daftar teman di pojok kanan bawah layarnya menunjukkan status 'Zero' sebagai *Offline*. Atau mungkin pria itu sengaja bersembunyi di balik mode *invisible*.
Ara menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Wajah Zayden yang dingin di ruang tamu sore tadi terus membayang. Bagaimana mungkin sosok sedingin es itu adalah orang yang sama dengan Zero yang selalu menenangkannya saat ia panik di tengah zona pertempuran?
"Lupakan dia, Ra. Dia cuma orang asing yang kebetulan punya suara mirip," gumamnya pada diri sendiri, meski ia tahu itu bohong besar. Getaran suara itu, jeda napasnya, hingga cara dia memanggil nama karakter Ara—semuanya terlalu identik.
Dengan gerakan kasar, Ara mengklik tombol *Find Match*. Ia tidak ingin menunggu Zero. Ia ingin membuktikan bahwa kemampuannya sebagai *shot-caller* tidak bergantung pada satu orang saja. Ia butuh distraksi. Ia butuh orang lain untuk mengisi kekosongan di saluran suaranya.
Satu menit kemudian, ia ma**k ke dalam lobi. Tiga orang asing sudah ada di sana.
"Halo? Ada yang pakai mik?" Sebuah suara cempreng dan berisik langsung memenuhi telinga Ara.
Ara meringis, menjauhkan sedikit *earcup* dari telinganya. "Ya, aku di sini," jawabnya singkat, berusaha menjaga nada suaranya tetap datar dan profesional.
"Wah, cewek! Oke, tenang aja, Nona manis. Gue bakal *carry* lo sampai menang. Ikutin aja arahan gue," sahut pemain lain dengan nada meremehkan yang kental.
Ara memutar bola matanya. Jika ini Zero, pria itu pasti akan langsung membungkam pemain seperti itu dengan statistik permainan yang g*** atau sekadar gumaman pendek yang menandakan ketidaksenangannya. Tapi malam ini, Ara sendirian.
Permainan dimulai. Map 'Shattered Skies' terpampang di layar. Ini adalah peta favoritnya dan Zero. Mereka tahu setiap sudut, setiap celah untuk bersembunyi, dan setiap titik buta lawan. Namun, baru lima menit berjalan, koordinasi timnya berantakan total.
"Ke arah jam dua! Ada musuh di balik pilar!" teriak Ara lewat interkom. Jarinya dengan lincah menekan tombol *ping* di peta.
"Sotoy lo! Mereka di depan!" balas si suara cempreng. Dia malah berlari konyol ke arah terbuka, dan dalam hitungan detik, karakternya tewas terjangan peluru lawan. "A****! Kok nggak ada yang *cover* gue sih? Cupu banget tim ini!"
Ara mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mulai mendidih di dadanya. Bukan karena kekalahan yang membayangi, tapi karena rasa frustrasi yang tak terbendung. Biasanya, ia tidak perlu berteriak. Ia hanya perlu memberikan satu kode singkat, dan Zero akan langsung berada di posisi yang tepat, menutupi celah kelemahannya tanpa perlu diminta.
Ia mencoba melakukan manuver *flanking* sendirian. Ia merayap di balik reruntuhan bangunan, menunggu saat yang tepat. Di kepalanya, ia bisa mendengar suara Zero: *“Sabar, Ra. Tunggu mereka lewat tangki bensin. Aku bakal ambil sudut kiri, kamu ledakkan dari kanan.”*
Insting itu masih di sana. Namun, saat Ara melompat keluar untuk melepaskan tembakan, tidak ada siapapun yang menutupi sisi kirinya. Ia terekspos. Sebuah tembakan *sniper* tepat mengenai kepala karakternya. Layar berubah menjadi abu-abu. *Game Over*.
Ara melepaskan *headset*-nya dan membantingnya ke atas meja. Suara plastik yang beradu dengan kayu terdengar nyaring di kamar yang sepi itu. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar dengan mata yang mulai memanas.
Ternyata, rasanya sesakit ini. Bermain dengan orang lain justru membuatnya semakin merindukan Zero. Bukan hanya kemampuannya, tapi kenyamanan yang mereka bagi. Cara Zero memahami ritme napasnya bahkan sebelum Ara mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan di antara mereka di dalam gim tidak pernah terasa canggung, melainkan penuh pengertian.
Kini, setiap detik yang ia habiskan di depan monitor hanya menjadi pengingat bahwa dunianya telah terbelah. Di satu sisi, ada Zero yang merupakan belahan jiwanya di dunia digital. Di sisi lain, ada Zayden, calon adik iparnya yang menatapnya seolah ia adalah gangguan yang tidak diinginkan dalam rencana pernikahan kakak mereka.
Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya yang tergeletak di samping keyboard. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal, namun Ara tahu siapa pemiliknya dari cara pesan itu ditulis.
*“Jangan main sama sembarang orang kalau kamu nggak mau kalah konyol kayak tadi. Kamu terlalu berisik saat panik.”*
Jantung Ara berhenti berdetak sesaat. Ia menyambar ponselnya dengan tangan gemetar. Pesan itu baru saja ma**k, tepat setelah ia keluar dari permainan.
Ia menoleh ke arah jendela yang gelap. Apakah Zayden memperhatikannya? Apakah pria itu menonton permainannya secara diam-diam? Rasa takut dan debar aneh bercampur aduk di dalam perutnya. Ia baru saja menyadari satu hal yang mengerikan: Zayden tidak hanya mengenali suaranya, tapi pria itu juga menguasai setiap jengkal kebiasaannya di dunia maya, dan ia tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi.
Ara mulai mengetik balasan dengan jari gemetar, namun jemarinya berhenti di atas layar saat menyadari bayangan seseorang di balik celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Seseorang baru saja berdiri di sana, mengawasinya dalam diam.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!