The CEO's Wicked Inheritance: Kontrak dalam Dendam

Bab 1: Bab 1 - Mendapatkan uang deposit rumah sakit dalam semalam

Pengaturan Membaca

Dunia tidak runtuh dengan suara dentuman besar. Bagiku, ia runtuh dalam kesunyian sebuah amplop cokelat di atas meja Dekan.

Aku menatap barisan kata dalam surat itu sampai mataku terasa perih. *Beasiswa Akademik Unggulan atas nama Alya Putri: Ditangguhkan.* Alasannya klise, ada kesalahan administratif pada data donatur yayasan, namun bagiku, itu adalah vonis mati.

"Tapi, Pak, sisa semester ini hanya tinggal dua bulan. Saya tidak mungkin mencari biaya tambahan dalam waktu semalam," suaraku bergetar, meski aku berusaha keras menjaganya tetap datar.

Pak Dekan hanya membetulkan letak kacamatanya, tidak berani menatap mataku. "Saya minta maaf, Alya. Peraturan tetap peraturan. Jika tunggakan tidak dilunasi besok pagi, status kemahasiswaanmu akan dibekukan."

Aku keluar dari ruangan itu dengan lutut lemas. Lorong fakultas kedokteran yang biasanya terasa seperti rumah, kini tampak seperti labirin yang mencekik. Namun, semesta belum selesai menyiksaku. Ponsel di saku almamaterku bergetar hebat. Nama 'Rumah Sakit' berkedip di layar.

"Halo?"

"Nona Alya? Ibu Anda mengalami *cardiac arrest* sepuluh menit yang lalu. Kami berhasil melakukan resusitasi, tapi kondisinya kritis. Katup jantungnya gagal berfungsi total. Kita harus melakukan operasi penggantian katup malam ini juga."

Langkahku terhenti di tengah koridor. "Lakukan, Dok. Tolong lakukan apa saja."

"Masalahnya, Nona... biaya deposit untuk alat dan ruang operasi harus dibayar di muka. Lima ratus juta rupiah. Tanpa itu, pihak rumah sakit tidak bisa mengeluarkan izin penggunaan laboratorium kateterisasi."

Duniaku benar-benar gelap sekarang. Lima ratus juta. Bagiku, angka itu setara dengan membeli bintang di langit. Mustahil.

Aku berlari menyusuri jalanan Jakarta yang mulai diguyur hujan deras. Bau aspal basah bercampur dengan rasa asin air mata yang akhirnya jatuh. Di depan ruang ICU, aku melihat Ibu. Wajahnya yang dulu hangat kini sepucat kertas perkamen, dikelilingi oleh kabel-kabel hitam yang tampak seperti ular yang menghisap nyawanya. Bunyi *beep* dari monitor jantung itu adalah detak waktu menuju kematiannya.

Aku terduduk di lant** rumah sakit yang dingin, membenamkan wajah di antara lutut. Aku cerdas. Aku calon dokter. Tapi semua ilmuku tidak berguna tanpa tumpukan kertas bernama uang.

"Alya?"

Aku mendongak. Siska, teman lamaku yang berhenti kuliah tahun lalu, berdiri di depannya dengan tas bermerek dan aroma parfum mahal yang menusuk hidung. Ia menatapku dengan iba.

"Aku dengar soal ibumu. Kau butuh uang itu sekarang, kan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Aku hanya bisa mengangguk pelan, terlalu lelah untuk menjaga harga diri.

Siska merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam elegan dengan tulisan emas timbul: *The Penthouse - Private Club*.

"Ada seorang pria. Dia mencari seseorang yang... 'bersih', cerdas, dan tidak punya banyak drama masa lalu. Dia membayar bukan hanya untuk kecantikan, tapi untuk eksklusivitas. Jika kau setuju, deposit ibumu akan lunas malam ini juga."

Aku menatap kartu itu. Ini adalah jurang. Aku tahu jika aku melangkah, aku tidak akan pernah bisa kembali menjadi Alya yang dulu. Alya yang memegang teguh integritas, Alya yang membenci jalan pintas. Namun, saat kulihat suster berlari ma**k ke kamar Ibu dengan tabung oksigen tambahan, integritasku luruh bersama harga diriku.

"Apa yang harus kulakukan?" suaraku nyaris hilang tertelan isak.

***

Dua jam kemudian, aku berdiri di depan pintu kayu jati berukir di lant** paling atas hotel bintang lima paling mewah di Jakarta. Gaun sutra hitam pinjaman Siska terasa seperti kulit asing yang gatal di tubuhku. Tanganku gemetar saat menekan bel.

Pintu terbuka. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya kota dari jendela setinggi langit-langit. Aroma kayu cendana dan alkohol mahal menyeruak. Di sana, di balik meja kerja yang luas, seorang pria duduk membelakangiku. Bahunya lebar, terbungkus kemeja hitam yang pas di badan.

"Duduk," suaranya rendah, dingin, dan memiliki otoritas yang membuat bulu kudukku meremang.

Aku melangkah mendekat, duduk di kursi beludru di depannya. Jantungku berpacu begitu cepat hingga aku takut ia bisa mendengarnya.

Pria itu memutar kursinya. Namanya Arkan Adiguna. Aku mengenalnya dari majalah bisnisβ€”CEO muda jenius yang menghancurkan kompetitornya tanpa ampun. Namun, melihatnya secara langsung jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang sehitam malam menatapku, bukan dengan gairah, melainkan dengan penilaian yang tajam, seolah aku hanyalah selembar saham yang sedang ia timbang nilainya.

"Alya Putri. Mahasiswa kedokteran semester enam. IPK sempurna," Arkan membaca berkas di depannya, lalu menutupnya dengan bunyi *plak* yang keras. Ia menyandarkan punggung, menatapku dengan senyum miring yang tidak mencapai matanya. "Kau tahu kenapa kau ada di sini?"

"Saya butuh lima ratus juta rupiah malam ini juga, Tuan Adiguna," jawabku, berusaha keras menjaga suaraku tetap tegas meski jemariku meremas ujung gaun di bawah meja.

Arkan terkekeh, sebuah suara parau yang terdengar berbahaya. "Lima ratus juta hanya untuk satu malam? Kau terlalu menghargai dirimu tinggi, Nona Alya."

"Bukan untuk semalam," kataku cepat. "Untuk apa pun yang Anda inginkan. Sampai hutang itu lunas."

Arkan bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengelilingi meja, lalu berhenti tepat di depanku. Ia membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Aku bisa mencium aroma *mint* dan bahaya darinya. Jarinya yang dingin menyentuh daguku, memaksaku menatap matanya yang dipenuhi kebencian tersembunyi yang tidak kupahami.

"Apa pun?" bisiknya, jarinya bergerak turun ke leherku, menekan tepat di atas nadiku yang berdenyut kencang. "Bagaimana jika aku tidak ingin menyentuhmu? Bagaimana jika aku hanya ingin menghancurkanmu sampai tidak ada yang tersisa dari harga dirimu yang berharga itu?"

Aku menelan ludah, air mata menggenang namun kutahan. "Jika itu harga untuk nyawa ibu saya, maka hancurkanlah."

Arkan terdiam sejenak, kilat aneh melintas di matanyaβ€”antara kekaguman dan kemuakan. Ia menarik tangannya, lalu melemparkan selembar dokumen ke atas meja.

"Tanda tangani. Kontrak eksklusif. Kau milikku, Alya. Kau tidak boleh pergi, tidak boleh menolak, dan yang paling penting... kau tidak boleh jatuh cinta padaku."

Aku mengambil pulpen dengan tangan yang masih gemetar. Aku tidak membaca poin-poinnya lagi. Aku hanya melihat angka lima ratus juta yang tertera di sana. Dengan satu goresan tinta, aku menjual jiwaku pada i**** di depanku.

Arkan mengambil kembali kertas itu, lalu berjalan menuju b**nkas di sudut ruangan. Saat ia membukanya, aku melihat sekilas tumpukan berkas yang tidak asing. Di salah satu map tertulis sebuah nama: *Hadi Putra*β€”nama ayahku yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Kenapa Arkan memiliki berkas tentang ayahku?

"Jangan bergerak dari sana," perintah Arkan tanpa menoleh, suaranya kini terdengar jauh lebih kejam dari sebelumnya. "Permainan kita baru saja dimulai, Alya. Dan kau tidak akan pernah tahu betapa mahalnya harga yang harus kau bayar untuk uang ini."

Saat itu, di bawah temaram lampu *chandelier*, aku menyadari bahwa aku tidak sedang menyelamatkan nyawa ibuku. Aku baru saja ma**k ke dalam kandang predator yang telah menungguku selama belasan tahun.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca