Suara dentum pintu apartemen yang terbanting memecah kesunyian malam, mengejutkanku yang sedari tadi meringkuk di sofa ruang tengah sembari menghafal terminologi anatomi. Aku tersentak, menoleh ke arah lobi privat di mana Arkan berdiri dengan tubuh yang sedikit limbung. Ia tidak memakai jasnya. Kemeja putihnya yang biasanya licin tanpa cela kini tampak kusut, tiga kancing teratas terbuka, dan dasinya menggantung menyedihkan di leher.
Bau alkohol yang tajam menyerang indra penciumanku bahkan sebelum ia melangkah lebih dekat.
"Tuan Arkan?" aku berdiri, meletakkan buku tebal itu di atas meja.
Ia tidak menjawab. Tatapannya sayu, jauh dari kilatan tajam yang biasanya membuat nyaliku menciut. Ia mencoba melangkah, namun kakinya seolah kehilangan koordinasi, membuatnya nyaris terjatuh jika ia tidak segera bertumpu pada pilar marmer di dekatnya.
Naluri medisku mengambil alih. Aku berlari kecil menghampirinya, meraih lengannya yang terasa panasβterlalu panas untuk ukuran suhu tubuh normal. "Anda demam," gumamku, menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Kulitnya membara, berbanding terbalik dengan udara malam yang dingin di luar sana.
Arkan mendengus, mencoba menepis tanganku, namun gerakannya lemah. "Jangan sentuh aku, Alya," suaranya serak, berat karena pengaruh wiski dan kelelahan yang nyata.
"Anda tidak bisa berdiri dengan benar, Tuan. Biarkan saya membantu." Aku tidak memedulikan penolakannya. Aku melingkarkan lengannya di bahuku, merasakan beban tubuhnya yang berat menekan sisi tubuhku. Aroma maskulin kayu cendana yang biasanya mendominasi kini bercampur dengan aroma pekat *scotch* dan keringat dingin.
Dengan susah payah, aku membimbingnya menuju kamar utama. Setiap langkah terasa seperti perjuangan. Arkan sesekali bergumam tidak jelas, kata-kata yang terdengar seperti kutukan yang ditujukan pada duniaβatau mungkin pada diriku. Saat kami tiba di tepi tempat tidur *king size*-nya, ia ambruk begitu saja, menyeretku ikut terjatuh ke atas ka**r yang empuk.
Napasnya memburu. Aku segera bangkit dan mencoba melepaskan sepatu serta kaos kakinya. Aku melihat rahangnya mengeras, wajahnya yang tampan terlihat menderita dalam tidurnya yang setengah sadar. Tanpa banyak bicara, aku pergi ke dapur, mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil.
Kembali ke kamar, aku menemukan Arkan sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya, namun ia menggigil hebat. Aku duduk di tepi ka**r, membasahi handuk, lalu perlahan menyeka wajahnya. Garis-garis tegas di wajahnya perlahan melunak saat rasa dingin dari air itu menyentuh kulitnya.
"Kenapa Anda melakukan ini pada diri sendiri?" bisikku pelan, hampir tak terdengar.
Tanganku bergerak turun, membuka kancing kemejanya satu per satu untuk menyeka dada dan perutnya agar panas tubuhnya cepat turun. Saat kain lembap itu menyentuh kulitnya, Arkan tiba-tiba membuka mata. Matanya yang merah dan basah karena demam menatapku lurus, namun tidak ada kebencian di sana. Hanya ada kekosongan yang menyesakkan.
Ia menangkap pergelangan tanganku. Genggamannya tidak menyakitkan seperti biasanya, justru terasa seperti seseorang yang sedang tenggelam dan mencoba menggapai apa pun agar tetap terapung.
"Kenapa kau masih di sini?" tanyanya lirih. "Aku menghancurkan hidupmu. Aku mengikatmu seperti binatang peliharaan. Kau seharusnya meracuniku saat aku lemah seperti ini."
Aku terdiam, merasakan denyut nadinya yang cepat di bawah jemariku. "Saya seorang calon dokter, Tuan. Tugas saya menyembuhkan, bukan membunuh."
Arkan tertawa kecil, suara kering yang berakhir dengan batuk menyakitkan. "Kau terlalu suci untuk tempat seburuk ini, Alya. Dan itu membuatku ingin merusakmu lebih jauh lagi."
Ia menarik tanganku, memaksa telapak tanganku menempel pada dadanya yang bidang. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah sedang berlari dalam ketakutan. Untuk sesaat, dinding pertahanan yang selalu ia bangun tinggi-tinggi seolah retak. Di hadapanku bukan lagi CEO kejam yang terobsesi pada balas dendam, melainkan seorang pria yang hancur oleh masa lalunya sendiri.
"Hati ini..." Arkan bergumam, matanya mulai terpejam lagi karena pengaruh demam dan alkohol. "...terasa sangat berisik setiap kali kau menatapku dengan tatapan kasihan itu. Berhenti melakukannya."
Aku tetap diam, tidak menarik tanganku. Keheningan malam menyelimuti kami, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan napas Arkan yang mulai teratur. Aku terus mengompres dahinya, mengganti air yang sudah dingin dengan yang baru, memastikan suhu tubuhnya menurun.
Tanpa sadar, aku memperhatikan setiap det**l wajahnya. Bulu matanya yang panjang, lekuk bibirnya yang biasanya mengeluarkan kata-kata pedas, dan guratan luka kecil di sudut alisnya. Ada rasa sakit yang tersembunyi di balik kekejamannya, sebuah rahasia yang ia kunci rapat dalam b**nkas jiwanya. Dan malam ini, entah mengapa, aku merasa kunci itu sedikit longgar.
Menjelang dini hari, saat panasnya mulai mereda, Arkan menarik napas panjang dan berguling menyamping, masih memegang ujung bajuku dengan erat seolah takut aku akan menghilang. Aku baru saja hendak bangkit untuk menaruh baskom kembali ke dapur, ketika tangannya yang lain meraba saku jas yang tergeletak di lant**, menjatuhkan sebuah dompet kulit tua yang terbuka.
Sebuah foto usang terjatuh dari sana. Aku membungkuk untuk mengambilnya. Di foto itu, seorang pria dewasa yang sangat mirip dengan Arkan berdiri merangkul seorang wanita cantikβdan di antara mereka, ada seorang anak laki-laki kecil yang tersenyum lebar. Namun, bukan itu yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Di balik foto itu, terdapat tulisan tangan yang sangat kukenal. Tulisan tangan ayahku.
*"Hutang darah harus dibayar dengan darah, tapi harta ini adalah milik yang berhak."*
Tanganku gemetar. Kalimat itu bukan sekadar catatan biasa. Itu adalah pengakuan. Saat aku menoleh kembali ke arah Arkan yang masih terlelap, aku menyadari bahwa dendam yang ia bawa bukan hanya tentang kebencian, tapi tentang sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya yang baru saja aku sentuh ujungnya.
Aku melihat ke arah b**nkas besar di sudut kamar yang selama ini selalu ia larang untuk kudekati. Jika foto ini saja sudah mengandung rahasia seberat ini, apa yang sebenarnya tersembunyi di balik pintu baja itu?
Tiba-tiba, mata Arkan terbuka lebar. Ia tidak lagi tampak mengantuk atau mabuk. Tatapannya kembali tajam, sedingin es, menatap lurus ke arah foto yang sedang kupegang.
"Kau baru saja melewati batas yang tidak seharusnya kau sentuh, Alya," desisnya, suaranya kembali menjadi belati yang siap menikam.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!