Bau antiseptik yang menusuk hidung selalu berhasil membuat perutku mual, namun hari ini, rasa mual itu bukan berasal dari aroma bahan kimia rumah sakit. Rasa itu bersumber dari dalam diriku sendiri, menyebar dari ulu hati hingga ke tenggorokan. Aku berdiri di depan loket administrasi, meremas tas selempangku yang terasa jauh lebih berat dari biasanya. Di dalamnya, tersimpan selembar kartu hitam yang diberikan Arkan pagi tadi—sebuah kunci menuju keselamatan ibuku, sekaligus belenggu bagi jiwaku.
"Atas nama Ibu Sarah Putri, Sus," ucapku dengan suara yang sedikit bergetar.
Petugas administrasi itu menatap layar komputernya, keningnya berkerut. "Tagihannya sudah menunggak tiga minggu, Mbak Alya. Jika tidak segera dilunasi, fasilitas ruang ICU dan jadwal operasi katup jantungnya harus kami tunda lagi."
Aku tidak menjawab. Tanganku yang gemetar mengeluarkan kartu tersebut dan meletakkannya di atas meja marmer yang dingin. Petugas itu sempat tertegun melihat jenis kartu yang kuserahkan. Matanya beralih menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—mungkin kekaguman, atau mungkin kecurigaan tentang bagaimana seorang mahasiswi sepertiku bisa memiliki kartu kredit *limitless* milik konglomerat.
Bunyi *bip* dari mesin EDC terasa seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis padaku. *Selesai.* Semua biaya perawatan, obat-obatan terbaik, dan uang muka operasi telah terbayar lunas. Aku menerima kembali kartu itu dengan ujung jari yang dingin. Uang itu bersih, namun aku merasa tangan yang memegangnya telah berlumuran lumpur yang takkan pernah bisa diba**h.
Aku melangkah menuju ruang perawatan dengan kaki yang terasa seperti timah. Di balik kaca transparan ruang ICU, aku melihat Ibu. Tubuhnya yang dahulu hangat dan penuh pelukan kini tampak begitu ringkih di bawah selimut putih rumah sakit. Berbagai selang menusuk kulitnya yang pucat, dan irama jantungnya bergantung pada bunyi ritmis monitor yang membosankan.
Aku ma**k ke dalam, menarik kursi kayu ke samping tempat tidurnya. Aku menggenggam tangannya yang lemah, merasakan tekstur kulitnya yang kering.
"Ibu..." bisikku, suaraku pecah. "Operasinya akan dilakukan lusa. Ibu akan sembuh. Alya sudah dapat uangnya."
Aku ingin menangis, tetapi kelopak mataku terasa kering. Aku ingin menceritakan semuanya—tentang kontrak itu, tentang Arkan yang menatapku seolah aku adalah serangga yang patut diinjak, dan tentang bagaimana aku merendahkan harga diriku di ranjang pria itu demi detak jantungnya yang sedang kupantau di layar ini. Namun, aku hanya bisa diam. Kejujuran akan membunuhnya lebih cepat daripada penyakit jantung itu sendiri.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Dokter Handoko, spesialis jantung yang menangani Ibu, ma**k dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan.
"Kabar baik, Alya. Saya baru mendapat laporan dari administrasi. Dengan dana yang sudah ma**k, kami bisa memesan katup prostetik terbaik dari Jerman hari ini juga. Peluang keberhasilan operasi Ibu Sarah meningkat drastis."
Aku memaksakan sebuah senyum. "Terima kasih, Dok."
"Kamu hebat, Alya. Tidak banyak anak muda yang bisa mengusahakan dana sebesar itu dalam waktu singkat secara mandiri. Beasiswamu pasti sangat membantu, ya?" Dokter itu menepuk bahuku dengan ramah, sebuah gestur kebapakan yang membuat dadaku semakin sesak.
"Iya, Dok... ini semua hasil... kerja keras," jawabku getir. Kata 'kerja keras' terasa seperti duri di lidahku.
Setelah dokter pergi, kesunyian kembali menyelimuti ruangan. Aku menatap cermin kecil di sudut ruangan. Aku melihat sosok wanita berusia dua puluh satu tahun dengan mata yang kehilangan binar mudanya. Aku melihat tanda kemerahan samar di pangkal leherku—jejak obsesi Arkan yang tertutup kerah kemeja—yang seolah berteriak bahwa aku bukan lagi Alya yang dulu. Aku adalah properti milik Arkan Adiguna.
Aku mengeluarkan ponselku, bermaksud mencari hiburan atau sekadar mengalihkan pikiran. Namun, sebuah pesan singkat ma**k, menghancurkan ketenangan semu yang baru saja kubangun.
*Arkan: Supirku akan menjemputmu dalam tiga puluh menit. Jangan terlambat. Ada jamuan makan malam dengan kolega bisnisku, dan aku butuh 'pajangan' yang patuh.*
Aku meremas ponsel itu hingga buku-buku jariku memutih. Pajangan. Dia bahkan tidak sudi menyebut namaku. Baginya, aku hanyalah aksesori mahal yang bisa dipamerkan setelah ia bayar lunas.
Aku mencium kening Ibu lama, menghirup aroma sabun bayi yang biasa kugunakan untuk menyekanya. "Alya pergi dulu, Bu. Alya harus bekerja."
Saat aku melangkah keluar dari lobi rumah sakit, mobil hitam mewah sudah menunggu di depan lobi. Pintu terbuka secara otomatis, menyambutku ma**k ke dalam keheningan kabin yang dingin. Namun, saat aku baru saja duduk, mataku menangkap sebuah map cokelat yang tertinggal di kursi belakang, tepat di samping tempatku duduk.
Map itu terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah foto lama yang sudah menguning. Aku ragu sejenak, namun rasa ingin tahuku yang tajam sebagai calon dokter mendorongku untuk menarik kertas itu. Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat foto itu.
Itu adalah foto masa kecilku bersama Ayah. Namun, yang membuat darahku membeku adalah catatan kaki yang tertulis dengan tinta merah di belakang foto tersebut: *Target Utama: Hancurkan melalui putrinya. Mata dibayar mata, darah dibayar darah.*
Tanganku gemetar hebat. Jadi, semua ini bukan hanya tentang kontrak *sugar baby*? Arkan tidak hanya menginginkan tubuhku. Dia menginginkan kehancuranku karena sesuatu yang dilakukan Ayahku di masa lalu. Dan saat ini, aku baru saja memberikan kunci seluruh hidupku padanya melalui kartu hitam yang ada di tas ini.
Mobil mulai melaju, membawaku semakin jauh dari rumah sakit dan semakin dalam menuju sarang serigala yang telah menyiapkan jebakan maut untukku. Aku menatap keluar jendela, menyadari bahwa setiap detik detak jantung Ibu yang kubeli hari ini, harus kubayar dengan kepingan jiwaku yang akan dihancurkan Arkan malam ini.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!